Pesugihan

Pesugihan
Para Penjaga


__ADS_3

"Kalau begitu, kita hajar keroconya dulu," ucap Wiwit dengan memandang lubang rusak pada pintu, yang tembus ke dalam akibat kuatnya tendangan yang dia lakukan.


Wiwit hendak mengamati, merapatkan pandangannya, membuktikan firasatnya, benar saja, di dalam kamar bu Sumarni terdapat beberapa penampakan yang menyeramkan, lalu Wiwit menyandarkan tubuhnya di dekat pintu, matanya menerawang, lalu menatap Disa penuh pengharapan.


Dia menjelaskan bahwa setiap keluarga kanjeng Ibu, memiliki dua penjaga, untuk pertahanan dan menyerang.


"Yang di kamar adalah mahluk-mahluk penjaga penghuni rumah ini," ucap Wiwit mengingat masa-masa saat dirinya mengurus Mariska. "Yang hitam legam itu perewangannya Bu Sumarni, mungkin kamu juga sudah tau."


Disa mengangguk, lantas mengikuti apa yang di lakukan Wiwit untuk melihat, namun ucapan Wiwit membuat dia mengurungkan niatnya, dengan kembali fokus pada penjelasan temannya itu.


"Yang bertanduk satu, mereka para penjaga keluarga kanjeng Ibu," sambung Wiwit menimbang kekuatan lawan yang dulu di takutinya. "Dan yang bertanduk dua bermahkota, sudah tentu dia penjaganya kanjeng Ibu."


Wiwit tak mengerti, mengapa sebagian penjaganya mereka tinggalkan di ruangan bu Sumarni.


Rupanya bu Sumarni hanya membawa para penjaga jenis penyerang, dan memerintahkan para penjaga jenis bertahan untuk tinggal dan memperkuat kubah yang sedang melemah.


Disa pun mengintip dengan penasaran, yang membuatnya segera mendekatkan wajahnya di lubang yang di buat oleh Wiwit. Menurutnya salah satu cara untuk menghilangkan rasa takut, yaitu dengan membuktikan rasa penasarannya, itulah manusia.


Dengan hati-hati dan perlahan ... tatapannya mulai menyisir ruangan, detak jantungnya mulai terdengar bersautan, seperti bertanya 'ada apa?'. Namun Disa hanya mampu menjawab dengan suara hembusan napasnya saja.


Whussh!! ....


Nampak sosok wajah mahluk menyeramkan, yang muncul mendadak beradu pandang dengan bola mata Disa yang terbelalak, karena melihat akan kengerian wajah di hadapannya.


Mahluk itu penuh darah yang menetes dari tanduknya dan mulut yang menganga dengan gigi-ginya yang runcing berlendir, serta kedua kornea merah mahluk itu bergerak ke pusat kelenjar matanya secara bersamaan membuatnya terlihat sangat menakutkan, meski wajahnya menunjukan wajah imut dengan mengkerut.


Bhussh!! Tangan berkuku panjang, menerobos lubang itu hendak mencengkram leher Disa yang diam terpaku.


Wiwit mencekal tangan mahluk itu, dan berusaha menariknya, namun beberapa mahluk didalam berusaha menahan tarikan itu.


"Mundur Disa!" teriak Wiwit.


Amung yang baru hadir tak tinggal diam, membantu Wiwit dengan menarik mahluk itu keluar, sontak membuat dua mahluk yang saling berpegangan itu terhempas keluar menembus pintu.


Wiwit mengeluarkan senjatanya yang menyerupai bentuk kuku macan.


Amung yang menggenggam erat tangan sang mahluk, cahaya biru menyerupai tali hingga melilit kuat di tangan sang mahluk.

__ADS_1


Sontak mahluk itu melengkingkan suaranya, menahan sakit akibat kekuatan Amung.


Slash! ... Wiwit menebas tubuh mahluk itu dengan senjatanya di tangan, "aku bukan yang dulu," gumamnya.


Mahluk itu berubah jadi debu dengan suara menangis pilu tanda merasakan sakit yang teramat sangat. Dan meninggalkan jejak serbuk abu di genggaman Amung.


Amung yang masih kesulitan menahan tolakan dari medan magnet pada kubah kanjeng Ibu melepas genggamannya lalu terhempas.


Abu itu pun berhamburan terbang tertiup angin yang masuk lewat jendela. Sementara mahluk satunya merasa takut, posisinya tersudut, nyalinya menciut, membuatnya lenyap seketika akibat tebasan kedua yang di lakukan Wiwit.


"Kalau memang penjaga, kenapa di musnahkan?" tanya Disa dengan posisi masih terduduk dan bersandar di dinding di hadapan kamar Bu Sumarni.


"Mereka mahluk suruhan iblis, jika yang di jaga membelot dari ikatan perjanjian, dia malah akan membinasakannya," jawab Amung yang kembali hadir, namun masih merasakan tubuhnya goyah. "Kita tumpas dulu yang ada, memperkecil kemungkinan jumlah korban, jika kita gagal."


Pantas saja Nyonya Mariska tidak bisa berbuat apa-apa, pikir Disa.


Disa masih terduduk menyaksikan kejadian itu. "Wit, sepertinya aku tidak bisa lagi menggunakan cawan itu," ucapnya ragu, sebab Amung tidak selalu ada di sisinya saat dirinya berada di kubah itu, seperti selalu terpental ke luar kubah.


"Kamu pasti bisa Disa," Wiwit berjongkok mensejajarkan dirinya, menatap mata Disa, dan menyentuh kedua bahu Disa. "Mengalir saja, tak perlu takut cawan itu pecah, dan berdo'a pada Tuhan."


Disa bangkit, menghapus bulir keringat di dahi, menyingkiran rasa lelah yang dia alami, berharap pada Tuhan dengan wajah menengadah, memohon jika Tuhan sudi mengeyahkan keraguan yang kini menghinggapinya.


Disa lantas merapalkan mantra. Disa masih bingung, mengapa kali ini cawannya belum bisa terbuka.


"Sejatinya watak iblis itu pecundang, menyerang dalam diam, mengalir di nadi bersama darah, dan merasuk merusak pikiran, mendiami hati sanubari yang penuh benci, mendekat saat kita takut, berlari saat kita berani," jelas Wiwit dengan menghela napasnya.


"Mereka memanfaatkan sifat lupa manusia, menusuk dari belakang saat lengah, berkhianat bila di percaya. Dan mahluk yang berada di dalam ... mereka jenis penjagaan, nggak bakal menyerang duluan, paling juga menampakan diri hanya untuk menakut-nakuti."


Disa teringat kejadian pada dirinya dan Yanti, yang selalu di ganggu dengan penampakan mahluk mengerikan, ternyata mahluk ini pikirnya.


Disa masih berusaha memejamkan mata, namun rapalan mantra yang di ajarkan ki Wiryo tak kunjung membuahkan hasil.


"Sepertinya kita harus hentikan dulu, mahluk yang tersisa sangat kuat, kita tak bisa melawannya tanpa kekuatanmu, Dis," keluh Wiwit pada dewi penolongnya, sebab Amung juga selalu terhempas keluar, yang membuat cawan penampung ilmu Disa tak bisa terbuka.


"Kita kembali ke Tia, mencari cara baru, menyelesaikan masalah ini," tambah Wiwit sambil berlalu.


Sesampainya di kamar Yanti, Fatmah masih terlihat ketakutan menghadapi situasi yang tidak dia mengerti, gerak-geriknya membuat Wiwit risih.

__ADS_1


"Saya kembali ke kamar dulu, Yan," ucap Fatmah.


"Iya mba, saya juga mau ke dapur mengambil makanan," jawab Yanti yang belum mengerti bahwa majikannya menganut pesugihan. Yang dia tau Disa dan Wiwit saat ini sedang melakukan pengusiran mahluk ghaib karena terlihat kelelahan.


Lantas Disa mengambil Putra yang terlelap di pangkuan Fatmah yang hendak keluar dari kamar Yanti, dan Tia menutup pintu.


"Gimana Dis?" tanya Tia.


"Tenang Ya, kita berdo'a," ucap Disa dengan mengusap rambut Putra.


"Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan."


Disa terpejam, berharap cawannya bisa berpungsi, tanpa mantra, tanpa barisan kata-kata yang ki Wiryo ajarkan, hanya sebaris do'a dengan bahasa yang dia mengerti.


Tuhan, tak sekalipun aku meminta selain kepada-Mu ...


Do'a ku saat sulit, Kau kirim aku pekerjaan,


Do'a ku saat sakit, Kau tunjukan padaku seorang penyembuh,


Do'a ku saat terancam, Kau hadirkan Amung.


Gumam Disa sambil terus mengusap Putra, dan membayangkan adiknya Bagas. Wiwit yang menyaksikan usaha Disa pun lantas tersenyum.


Dengan masih terpejam Disa memohon ...


"Tuhan, selamatkan mereka yang tidak berdosa," ucapnya lirih.


Disa berusaha menghubungi Wiwit dengan batinnya, 'Wit, cawawanku sudah terisi, tangkap Putra."


Di lemparkannya Putra yang masih terlelap, dengan sigap Wiwit meraih putra yang melayang dari pangkuan Disa.


Brakk!! ...


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2