
Tiga hari yang harus di jalani Wulan untuk puasa mutih sudah berlalu, dia selalu memberontak dengan apa yang keluarganya lakukan, hingga akhirnya dia pasrah, karena keadaan tubuh yang memang membutuhkan sebuah asupan, walau itu hanya berupa bubur tanpa rasa dan segelas air putih, Wulan mau tak mau tetap memakannya.
Sedang keluarga kanjeng ibu, dari awal mereka selalu merasa iba terhadap Wulan, ini lah potret kebahagian semu yang harus mereka hadapi. Mereka harus mendengar jeritan ketidak berdayaan keluarga mereka yang harus menanggung beban sebagai seorang penerus perjanjian.
Tak ada yang menyenangkan dari sebuah perjanjian dengan Iblis, mereka harus terus menerus merasa was-was, berpikir bagaimana bisa tetap memberikan apa yang Tuan mereka mau.
Hari ini kanjeng ibu harus meninggalkan Wulan sendirian di rumah itu, rumah yang akan menjadi saksi, dimana perjanjian keluarga mereka akan turun kepadanya.
Kanjeng ibu masuk ke mamar Wulan, terlihat putri bungsunya sedang menyandar di kepala ranjang, memandang ke arah jendela dengan tatapan kosong. Hati seorang ibu itu pilu, namun dia tetap memasang wajah datarnya di depan sang putri.
Kanjeng ibu duduk di tepi ranjang dekat dengan kaki Wulan, barulah Wulan menoleh saat sebuah sentuhan membelai kakinya, lamunannya terusik, namun saat dia melihat jika sang ibu yang datang menemuinya, dia menangis dengan sangat pilu.
Tak ada tenaga yang tersisa untuk sekedar berteriak kepada sang ibu, dia ingin sekali mengatakan serentetan kata-kata untuk bertanya ada apa dengan dirinya, mengapa harus seperti ini.
"Wulan ... Ibu sama yang lainnya pamit pulang ya? Kamu baik-baik di sini, nanti tujuh hari mendatang kami akan datang lagi menjenguk Wulan ya?" Sembari mengusap pipi sang putri.
Wulan terkejut jika dirinya akan di tinggalkan di tempat mengerikan ini seorang diri, walau tiga hari kemarin pun dia sama sekali tak melihat keberadaan keluarganya, namun dia selalu bertanya kepada Sri apa keluarganya masih ada, dan Sri selalu berkata bahwa mereka masih di sini.
Namun sekarang dengan begitu mudahnya sang ibu berkata akan meninggalkan dirinya seorang diri, Wulan tak sanggup, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangkit dan berlutut di hadapan sang ibu, dia meletakan kepalanya di pangkuan sang ibu, memohon ampun, meminta untuk serta di bawa pulang oleh keluarganya, namun sang ibu hanya bergeming, dia menatap lurus kedepan dengan raut wajah yang tak dapat Wulan baca.
"Bu, Wulan mohon, jangan tinggalin Wulan di sini, Wulan mau ikut pulang Bu." Tangisnya histeris, namun sang ibu hanya tersenyum sembari membelai rambutnya.
"Wulan kamu belum melakukan ritualnya, kamu akan di temani Sri di sini, jangan memberontak, itu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri ya Nak?" pinta sang Ibu yang membuat hati Wulan sakit, dia merasa bagaimana sang ibu bisa setega itu mengatakan bahwa dia harus menerima semua perlakuan itu, terlebih sosok astral yang pernah menyeretnya benar-benar membuat dia ngeri berada di sana.
"Ngga Bu, Wulan ngga mau ... Wulan takut Bu." Dia terus memohon berharap sang ibu akan iba terhadap dirinya.
__ADS_1
Kanjeng Ibu bangkit, membiarkan Wulan jatuh tersimpuh, dia tak mengatakan apapun dan lebih memilih untuk meninggalkan Wulan begitu saja.
Wulan yang lemah, menyeret tubuhnya, berharap bisa menggapai tubuh sang ibu, dia terus berteriak, memanggil sang ibu, namun tak mendapatkan respon.
Keluarga yang lain, mendengar tangisan pilu Wulan hanya bisa terisak, apalagi Mita, dia sungguh tak tega, namun dia tak berani bertanya lebih jauh.
Dia merasa jika keluarga suaminya menyimpan sebuah misteri yang sangat mengerikan, dia masih ingat sosok mahluk yang berdiri di depan pintu saat itu, hingga membuatnya ketakutan dan tak sadarkan diri, Mita berharap bisa segera pergi dari rumah itu.
Kanjeng ibu di antar oleh Ki Brasta dan Sri hingga ketempat parkir mobil mereka, suara Wulan sudah tak terdengar. Mereka semua lantas berpamitan diri.
Wulan ternyata tak sadarkan diri, dia lantas di angkat oleh seorang abdi laki-laki untuk di tidurkan di ranjangnya.
Tak lama Wulan siuman, dia sudah di tunggu oleh Sri di hadapannya dengan sebuah nampan yang tergeletak di meja.
Siang ini menu makanan Wulan sudah bukan bubur tanpa rasa, di nampan itu sudah berisi nasi dan berbagai lauk yang menggiurkan, beserta buah-buahan yang menyertainya.
Sri melihat arah pandang Wulan dan berkata, "lapar?" masih dengan senyuman.
Wulan menatap Sri datar, sudah pasti dirinya kelaparan, apa dia sedang menggodanya, batin Wulan.
Sri lantas mengambil nampan itu dan meletakannya di pangkuan Wulan, membiarkan gadis itu memakan makanannya sendiri.
Wulan sempat melirik Sri, hidangan yang menggoda di hadapan, membuatnya tak menghiraukan Sri.
Dengan rakus, Wulan langsung memakan daging yang terlihat sangat menggiurkan itu, tanpa menggunakan sendok dan garpu, namun saat kunyahan kesekian kalinya, Wulan merasa jika daging yang dia makan di rasanya tak enak, Wulan lantas melihat daging yang masih di genggamnya, betapa terkejutnya dia saat melihat jika daging yang sedari tadi dia santap ternyata daging mentah, Wulan segera mengembalikan daging itu kepiringnya, dan melihat jika tangannya pun masih berlumuran darah daging segar itu.
__ADS_1
Wulan menjerit histeris, dia menyingkirkan nampan yang berada di pangkuannya, Sri yang berdiri di depan ranjangnya, tersenyum miring.
Wulan merogoh-rogoh tenggorokannya, berharap bisa memuntahkan daging itu, saat Wulan melihat air di mejanya dia segera meminumnya, namun lagi-lagi, baru setengah gelas ia teguk, dia segera menyemburkannya kembali, saat bau anyir tercium dari gelas yang ternyata berisi darah segar.
Wulan benar-benar histeris, ingin sekali dia memuntahkan makanan itu namun tak bisa, dia menggapai-gapai Sri yang berada di depannya berharap belas kasian darinya.
Sri mendekat, dia kembali duduk di pinggir ranjang, mengahadap ke arah jendela saat berkata.
"Anda kenapa Nona? Kenapa membuang makanan lezat yang anda idam-idamkan itu?" ucapnya tanpa melihat ke arah Wulan.
"Kau gila! kenapa kau memberiku makanan menjijikan seperti itu!" pekiknya.
"Makanan seperti apa maksud Nona?" Mereka lantas melihat kearah lantai dimana terdapat makanan dan minuman yang tadi Wulan lempar.
Wulan terkejut, dia mengucek kedua matanya, berharap apa yang dia lihat tak salah.
Di lantai kayu itu, ada nasi dan lauk daging normal seperti yang pertama Wulan lihat, dan air yang menggenang itu juga hanya air putih biasa, tapi Wulan merasa jika tadi, makanan yang dia rasakan benar-benar daging mentah, dan air darah.
"Fokuskan pikiran anda, jangan sampai anda tertipu oleh imajinasi anda sendiri, anda harus terus berlatih itu, agar bisa segera meninggalkan tempat ini, matikan semua indera anda, itu saran saya." Sri lantas bangkit meninggalkan Wulan seorang diri.
Itu hanya delusi yang di ciptakan oleh Sri, namun suatu saat Wulan akan benar-benar memakan makanan seperti itu, itulah simbol dari pesugihan ini, dimana bisa diartikan jika mereka memakan jatah harta turunan mereka kelak.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...