Pesugihan

Pesugihan
Menyembuhkan Diri


__ADS_3

Sepeninggal Disa, rumah Kanjeng Ibu kembali seperti sediakala.


Para pembantu kembali ke pekerjaan mereka masing- masing.


"Yan, nanti kamu pindah kamar sama mbak Fatmah ya?" ucap Mita ingin kembali menikmati kamar seorang diri.


"Iya," jawab Yanti singkat, toh memang dia tak ingin tidur di kamar sendirian.


Mita pun kembali ke kamar Putra. Hendak mengajak main anak majikannya.


.


.


.


Sumarni kembali ke kamarnya, dia memilih merebahkan dirinya dengan tidur terletang dan tangan bertumpuk di atas perut.


Kanjeng ibu masuk ke kamar Sumarni, untuk melihat keadaan kuncennya itu, Kanjeng ibu menghela nafas dan memilih berdiri di depan jendela.


Kamar Sumarni sangat gelap, hanya sedikit cahaya yang nampak dari sinar yang melawati hordeng putih itu.


Kanjeng ibu lantas bertanya, "Kamu kenapa Sum?"


Sumarni pun bangkit duduk dan membuka syal yang ada di lehernya, seketika kepalanya sengklek karena tulang lehernya patah. Akibat pertarungan dengan Amung.


Tanpa melihat ke arah Sumarni, Kanjeng ibu pun berkata, "siapa yang melukai kamu sampai seperti itu?"


"Amung," ucap Sumarni singkat. Lantas merebahkan kembali tubuhnya yang terluka itu.


"Sepertinya kau akan meninggalkan kami, untuk menyembuhkan lukamu," ucap Kanjeng ibu, sambil berbalik ke luar kamar kuncennya itu.


Sumarni tak menjawab, dia masih memejamkan matanya. Tak lama, pintu lemarinya terbuka nampak seseorang keluar dari sana dengan merangkak, tubuhnya hitam legam, tangan dan kakinya sangat panjang, lantas ia menaiki ranjang tempat Sumarni berbaring.


Mahluk mengerikan itu mulai menjilati luka yang ada di lehernya, dengan lidah panjangnya.


.

__ADS_1


.


.


Tak lama, Sumarni mendatangi ruang baca tempat dimana Kanjeng Ibu menghabiskan seharian waktunya.


"Saya akan pulang untuk mengobati luka, semoga tak lama, saya ijin pamit Kanjeng Ibu," ucapnya.


Kanjeng ibu pun mengangguk sembari tersenyum, bukan dokter yang di perlukan oleh seseorang seperti kuncennya itu, bahkan orang awam bisa pingsan jika melihat keadaan Bu Sumarni, dimana lehernya yang patah itu ia masih bisa berjalan.


Ilmunya memang cukup tinggi, abdinya terhadap Tuan mereka menjadikanya di percaya memiliki ilmu yang di berikan oleh Tuan mereka, dengan syarat yang tak mudah pastinya.


Awal pertama dia menjadi kuncen, ia menggantikan bapaknya, dia harus memakan janin secara mentah-mentah, dimana itu adalah janin dari rahimnya sendiri, dia memang gila.


Dia rela mengandung hanya untuk mendapatkan janin untuk ia santap, setelahnya dia harus bertapa di dalam gua selama satu purnama, dan setelah selesai dia harus rela merendam tubuhnya di kubangan darah kerbau.


Semua ritual itu dia lakukan dengan arahan dari kuncen-kuncen lainnya, hingga akhrinya dia di beri ilmu oleh Tuan, dan menjadi abdi kuncen Tuan mereka, salah satunya dia tak mudah mati, tapi hati nuraninya sebagai manusia yang perlahan-lahan mati, karena dia orang yang tak segan menghabisi orang hanya untuk menambah kesaktian ilmunya.


Sumarni selalu menandai para pekerja yang bekerja di kediaman majikannya, setelah mereka pergi, tak lama pasti mereka tewas, sebagi tumbal untuk ilmunya sendiri, mereka tewas dengan sangat wajar jika manusia awam yang melihat, tapi jika orang yang memiliki ilmu tinggi mereka akan tau jika para mayat mati akibat sebuah santet.


Sumarni berada di sebuah bis menuju tempatnya bertapa, dimana Tuan mereka tinggal.


Sumarni tiba saat tengah malam, tak ada alat penerangan yang dia bawa, bukan seperti pendaki, tapi dia lah sang kuncen yang tak memerlukan hal seperti itu untuk menempuh tempat yang ia tuju.


Saat sampai di sebuah pohon besar di tengah hutan itu, Sumarni diam berdiri dengan kedua telapak tangan menangkup di depan dada, sambil mengucapkan mantra, dunia dimensi lain terbuka, itu hanya sebuah pohon besar jika mata manusia yang melihatnya, tapi itulah gerbang istana sang Tuan.


Dia sudah di sambut oleh para abdi dalem istana, semua berbentuk manusia, Sumarni berjalan melewati lorong-lorong kamar, menuju sebuah aula besar yang berada di tengah-tengah.


Di aula tersebut terdapat kolam dan patung berkepala manusia tetapi bertelingan anjing, dan bermoncong seperti anjing, patung itu pun memiliki taring yang sangat panjang, memiliki ekor, kakinya bertapak kuda, dengan mulut yang menganga.


Sumarni membuka syal yang menutupi lehernya, dan kepalanya langsung sengklek patah, dia pun membuka seluruh pakaiannya, dia masuk dan merendam tubuhnya, ke dalam kolam berisi darah itu, semua tubuhnya terbenam sempurna.


Tubuh Sumarni hancur lebur menjadi di dalam kolam itu, karena tubuhnya itu akan di sempurnakan kembali


Tiba-tiba dari dalam mulut sang patung keluar air mancur darah, tapi darah itu tak keluar dari dalam kolam, dan itu adalah darah Sumarni yang sedang memproses kembali tubuhnya.


.

__ADS_1


.


Tiga hari dia berendam di kolam darah itu untuk menyembuhkan dirinya, setelah selesai Sumarni bangun dengan tubuh berlumuran darah, namun lama kelamaan darah itu hilang dari tubuhnya.


Sumarni bangkit dari kolam dengan bentuk yang sangat mengerikan dimana kakinya kembali berbentuk seperti kuda dan wajahnya bermoncong anjing, sama persis seperti rupa si patung.


Setelah itu berjalan meninggalkan kolam dan perlahan-lahan wujudnya kembali ke bentuk manusia normal.


Dia sudah di sambut oleh seorang abdi, yang membawa pakaiannya.


Sumarni mengambilnya dan langsung mengenakannya, beliau akan menghadap Tuan nya, karena sudah di beri izin untuk mengobati lukanya.


Lehernya sudah tersambung kembali, tubuhnya sudah seperti semula.


Sumarni berjalan ke arah singgasana Tuan nya, dia berhenti jauh dari tempat Tuannya.


Gelap gulita di depannya hanya ada sebuah kelambu transparan berwarna merah yang menghalanginya dan tempat sang Tuan.


Dimana hanya terlihat sorot mata merah yang di pancarkan oleh Tuannya.


Sumarni duduk bersimpuh, mengucapkan terima kasih karena sang Tuan bersedia membantu mengobati lukanya.


Hanya geraman yang terdengar menggelegar dari arah sang Tuan, di mana sang Tuan berkata bodoh kepada Sumarni, karena dirinya bertindak gegabah karena tak meminta persetujuannya dahulu saat akan melawan Amung.


Sumarni tau jika dia sudah menyinggung Tuannya, dia berjanji akan memikirkan cara untuk menyingkirkan Disa dan Amung.


Sumarni pun pamit undur diri, dia harus segera pergi dari sana untuk kembali mengawasi pengabdi sang Tuan.


Dia tak ingin berlama-lama meninggalkan sang pengabdi karena dia merasa Mariska pasti akan senang atas kepergiannya, andai dia memiliki ilmu menghilang dia pasti sudah sampai sekejap mata di rumah Kanjeng ibu, sayangnya dia tak memiliki kemampuan itu, dia hanya bisa bergerak cepat tapi tak bisa menghilang.


Sumarni kembali keluar dari istana menuruni lereng gunung ini, sekarang pun tengah malam, dia akan sampai di jalan raya esok pagi, sekarang dia harus melewati pemukiman desa untuk menaiki Bis tujuannya kembali ke kota.


Saat berjalan memasuki Desa, banyak warga yang heran melihatnya keluar dari dalam hutan pagi-pagi buta seperti ini, namun Sumarni tak ambil pusing, dia segera memesan tiket untuk bis tujuannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2