
Setelah menyelesaikan tugas membantu Maung Rekso dan Sado untuk membuat para pesaing Kanjeng ibu saling beradu, Ki Wiryo dan Asih segera menyusul ke kediaman Kanjeng ibu.
Namun amukan para musuh Kanjeng Ibu benar-benar semakin beringas mungkin karena sadar akan kubah pelindung yang semakin melemah.
Asih dan Ki Wiryo lantas duduk di depan kubah itu di penghujung gang rumah Kanjeng Ibu.
Sebab jika mereka menerobos masuk, di rasa tak akan bisa menggunakan kekuatan mereka, sebab mereka adalah orang asing. Sedangkan Disa dan Wiwit yang pernah berhubungan dengan keluarga itu tak memiliki kesulitan seperti mereka telah di terima, namun pada kenyataannya mereka berdua malah menghianati majikan mereka karena berusaha keluar dari jerat iblis yang mereka ikatkan.
Mau tak mau Ki Wiryo akhirnya menguatkan kubah di kediaman Kanjeng ibu, bukan untuk melindungi sang pemilik rumah, namun untuk melindungi Disa dan yang lainnya yang di rasa masih di dalam sana.
Hingga Asih memberitahu Ki Wiryo jika Disa dan Wiwit nekat meninggalkan raga mereka, dan pergi mencari Sumarni hanya dengan Sukmanya, dia menggunakan mata batin yang di lihatnya lewat Sado.
Asih melihat istana sang Tuan yang ramai akan pertarungan sengit, mereka berusaha menerobos ruang utama sang Iblis, namun masih terhalang, inderanya mencari-cari keberadaan sosok Disa dan Wiwit lewat Sado namun nihil, Asih menebak jika Sado tak bersama mereka.
Asih menembus melihat keadaan kediaman kanjeng ibu dengan mata batinnya, dia bergidik ngeri di mana kediaman itu di penuhi mahluk-mahluk yang cukup menyeramkan baginya, sepertinya para abdi dari Tuan mereka pikir Asih.
Ki Wiryo yang melihat kegelisahan Asih, lantas memintanya untuk menyusul keduanya, dan meminta Asih untuk meninggalkan raganya di sini, agar dia bisa menjaganya, Asih mengangguk, dia lantas bersemedi dan Sukma itu telah keluar dari raganya, Ki Wiryo membuka secelah kubah yang dia buat untuk menaungi kubah Kanjeng ibu yang mulai retak, Asih melesat memasuki rumah kanjeng ibu.
Namun dia terpaku, saat melihat mahluk-mahluk itu tengah mengerubungi sebuah ruangan, seperti ingin mendobrak masuk.
Asih lantas menyingkirkan mereka, dan ia tahu jika raga Disa dan Wiwit ada di dalam sana bersama penghuni lainnya.
Dia tak memiliki waktu lantas melintasi halaman belakang di mana sekarang dia melihat jika ada sebuah pintu penghubung, pantas Disa dan Wiwit memilih meninggalkan raga mereka sebab tak memungkinkan mereka untuk mencari keberadaan musuhnya melintasi alam ghaib dengan raga manusia mereka.
Asih melesat masuk, menyusuri lorong gelap hingga sampai di istana iblis yang ramai sekali mahluk tengah bertarung, dia memanggil Sado, tak lama Sado berada di hadapannya, dan melesat melewati para mahluk mengerikan dengan mengangkat tubuh Asih.
Setelahnya mereka di hadang oleh penjaga lain, Sado meminta Asih untuk mencari keberadaan Disa dan wiwit ke arah yang dia tunjuk, sedang Sado akan mengurus para penjaga agar tak mengejar Asih.
Sementara pertarungan antara Sumarni, Disa dan Wiwit masih berlangsung sengit.
Serangan yang di lakukan mereka sebenarnya berhasil melukai Bu Sumarni, bahkan tangan dan kakinya telah terpisah di buatnya, meski leher Bu Sumarni yang menjadi sasaran tak kunjung mendapat kesempatan untuk di lukai apa lagi di penggal.
Namun karena ajian yang di miliki Bu Sumarni membuat bagian tubuh yang terpisah menyatu kembali saat menyentuh bumi, dan luka-luka akibat tebasan senjata Wiwit secara ajaib kembali ke sedia kala tanpa luka.
Dengan cahaya waktu yang sudah pendek dan meredup, membuat sukma Disa dan Wiwit semakin melemah, kekuatannya seperti tertarik oleh raga yang menginginkan sukmanya kembali.
"Kalian pikir bisa mengalahkanku," ucap Sumarni congkak.
"Manusia sombong!! Pantas saja iblis betah bersemayam." Wiwit naik darah, menyerang kembali tanpa henti dengan tenaga yang tersisa untuk segera menuntaskan, dia loncat ke arah Bu Sumarni bagaikan macan, Wiwit melayang menerjang, tubuhnya kini di atas kepala Bu Sumarni siap untuk menebas leher. "Manusia laknat!"
Namun kecepatan mahluk seperti perwujudan Bu Sumarni yang sekarang, membuat pergerakannya cepat melebihi kegesitan Wiwit. Di ayunkannya kuku tajam di jari jemarinya mengarah ke jantung Wiwit yang melintas di atas tubuhnya.
Tatapannya menunjukan kemenangan, mulutnya menyeringai.
Creeb!! ....
Lima kuku tajamnya menusuk dada sang lawan.
Badan Wiwit terpental ke tiang penyangga istana, membuat senjata kuku macannya jatuh ke kolam berwarna pekat, akibat dorongan yang dilakukan Disa yang melesat menggantikan posisinya.
Bruuk!! ....
Disa terjatuh di hadapan Bu Sumarni dengan kondisi dadanya yang masih tertancap kuku. Kejadian inilah yang membuat raga Disa menyemburkan darah segarnya ke arah Tia dan Yanti.
"Wiwit!! Disaa!!" teriak asih yang baru datang lalu menghampiri, dia terpaku diam membisu melihat kondisi kedua sahabatnya yang kini terlihat tidak berdaya. "Kalian harus kembali, cahaya tubuh kalian sudah meredup."
__ADS_1
Bu Sumarni menikmati keadaan ini, dia menginjak dada Disa tanpa menarik kukunya. Untuk mengoyak isi tubuh sang lawan agar merasakan kesakitan perlahan.
Asih melesat kearah Bu Sumarni yang masih menginjak tubuh Disa, namun tubuh Asih di dorong dua mahluk jenis penjaga yang baru bergabung. Mahluk itu ternyata milik Kanjeng Ibu dan Wulan.
"Manusia-manusia bodoh, Aauuuuuu!!" auman khas srigala dia dengungkan, pertanda perintah kematian segera di laksanakan. "Bersiaplah kau Disa, menerima kematianmu dan sebentar lagi, Bagas adikmu, HAH!!"
Karena mendengar tanda auman itu, dari arah istana sang Tuan, keluar para pengabdi yang berada di bawah kendali Bu Sumarni, dan segera melesat siap melaksanakan perintah. Dengan membawa tongkat iblis pencabut nyawa yang sangat runcing, menyebar kesegala penjuru siap untuk mengakhiri hidup mereka-mereka yang sudah di tandai.
.
.
.
Waktu yang sama di tempat berbeda, kondisi orang-orang yang memiliki tanda merah di dahi, setelah Bu Sumarni mengaum memerintahkan para pencabut nyawa suruhannya.
*
Bagas mengambil seutas tali, kejanggalan pertama yang dia lakukan dikala malam hari dan saat orang tuanya baru beranjak akan tidur. Bagas berjalan perlahan dengan tatapan mata yang kosong menuju kusen pintu kamarnya dengan ragu namun seperti terbelenggu. Di ikatkannya tali itu di kayu ventilasi pintu, dengan menggunakan kursi dia berdiri.
Dia hendak mengalungkan tali itu di lehernya.
Pengabdi Bu Sumarni melesat menghampiri, mengayunkan tongkat iblis pencabut nyawanya dan ....
.
.
**
Sedangkan Tia yang hendak menutup luka yang menganga di dada Disa yang terus mengeluarkan darah, terperangah. Dengan ekpresi wajah terkejut dengan tetesan air mata, namun matanya kini terbelalak, luka di dada Disa kembali merapat dan hanya menyisakan darah di luarnya.
"Hah!" Tia tak percaya, di usap-usapnya darah yang tersisa di setiap tetesan darah di sekujur tubuh Disa untuk memastikan luka itu masih ada. "Tuhan, Engkau Maha segala pengabul kemustahilan ... Engkau tunjukan saat ini, dengan mata kepala saya sendiri."
Tia memeluk Disa dengan menangis histeris sebagai rasa sukur, teringat akan dosa-dosa yang telah di lalui, masih saja Tuhan sudi mendengar do'a hambanya yang Dia kehendaki.
Yanti yang ikut menyaksikan keajaiban itu ikut terisak dan mengusap punggung Tia yang sesenggukan.
"Mati juga kan? dasar keras kepala!" tebak Fatmah dengan menghentakan tali di tangannya yang sedikit lagi akan terlepas. 'Sebentar lagi kalian yang akan mati' batin Fatmah yang melihat Tia dan Yanti yang sedang membelakangi dirinya.
Di luar para pencabut nyawa suruhan Bu Sumarni menunggu, bersiap untuk menebas ketiga wanita yang memiliki tanda ....
.
.
***
Dengan raut wajah lelah akibat kantuk yang mendera, Yuda mengendarai mobil yang dia kemudikan dengan kecepatan tinggi di malam hari. Hingga tanpa sadar dia terlelap dalam kemudi.
Mobilpun belok kekiri menuju arah pembatas, dimana terdapat jurang disana.
Pengabdi berwajah seram melesat mengejar arah mobil yang tergelincir, dimana Yuda sedang mengemudikannya, dan dia pun mengayunkan tongkat iblis itu ....
.
__ADS_1
.
****
Pak Jarwo yang kondisinya memang sedang tidak sehat, saat itu terpaksa harus di larikan ke rumah sakit, akibat darah yang di muntahkan membuat keluarganya panik. Hingga ruang IGD yang menjadi ruang pertama untuk menyambutnya, akan menjadi saksi jika ini kesempatan terakhir dalam hidupnya untuk bernapas.
"Gimana dok!" ucap sang istri menanyakan keadaan suaminya dengan kepanikan yang nampak di wajahnya. "Apa suami saya baik-baik saja?"
"Berdo'a saja, penyakitnya belum bisa terdeteksi," ucap sang Dokter lantas membuka kaca matanya untuk sekedar mengucek matanya. "Namun jantungnya semakin melemah."
Tit ... tit ... tit ....
Hanya suara alat pendeteksi jantung yang menjadi pengharapan dalam bisikan, penanda kabar kondisi pak Jarwo saat ini yang terbaring koma tak sadarkan diri.
Mahluk tak di undang muncul dari langit-langit ruangan, dan bersiap mengayunkan tongkat iblis pencabut nyawa.
.
.
*****
Sementara Joko dan Ari frustasi karena beberapa hari tidak memiliki kegiatan, dengan bisikan setan mereka memilih untuk mengisi waktu santainya dengan minum minumaan keras untuk menghilangkan penat, sebab sudah beberapa hari toko kanjeng Ibu tutup.
Mereka berjalan di jembatan yang melintasi sungai yang lumayan dalam.
"Jok, kita sama hewan tuh beda ... orang hidup kalau cuma kerja, kerja, kebo juga kerja," ucap Ari dengan menyandarkan tubuhnya di pagar jembatan. "Kalau manusia hidup cuma nyari makan ... monyet juga bisa."
"Terus yang membedakan kita dengan hewan apa?" tanya Joko.
"Kita harus bermanfaat bagi orang lain."
Ari naik ke pagar pembatas jembatan dan berdiri di sana, dan dia berteriak, "Aku manusia tidak bergunaa!!"
Joko yang kesadarannya sudah hilang akibat pengaruh minuman beralkohol, mengikuti apa yang di lakukan Ari.
Joko dan Ari tenggelam akibat terjatuh karena tubuh mereka yang tidak bisa mengatur keseimbangan karena mabuk.
Dua mahluk pencabut nyawa ikut menyelami air sungai, menghampiri Joko dan Ari yang tenggelam dengan tenang, tanpa gerakan, tanpa gaya, tanpa napas yang mereka lupa ....
Hampir semua kondisi para pekerja dan pengikut yang memiliki tanda merah, dalam keadaan siap di jemput kematian, baik yang terikat kontrak ghaib, atau hasil tipu daya Bu Sumarni dalam uang pemberian yang di mantrai sebagai mahar kematian.
Bahkan Pak Wahyu yang baru tersadar dari pengaruh ilmu Wiwit ... kembali tak sadarkan diri. Dengan tatapannya yang kosong, dia menapakan kedua kakinya di pinggir sumur yang berada di belakang rumahnya. Dia berdiri menatap lubang sumur dalam kegelapan. Suara burung malam terdengar menakutkan, mengiringi apa yang akan terjadi malam ini.
Mahluk pencabut nyawa menyeringai, dengan senang hati dia akan segera mengakhiri pengikut bertanda merah di dahi.
Di ditebaskannya senjata mematikan ke arah leher, dan ....
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1