
Setelah turun gunung, mereka mendatangi kediaman Ki Wiryo yang berada di tengah rumah-rumah penduduk kaki gunung. Suasana sejuk dan nyaman mereka rasakan saat menginjakan kaki di teras rumah yang terbuat dari kayu.
"Mba Yanti!" teriak anak kecil yang berparas rupawan, guratan wajahnya menandakan bahwa ketampanan kelak akan dia sandang.
Dia berlari memeluk pengasuhnya yang sangat dia rindukan, lalu menyalami tangan Yanti, Tia, Wiwit dan Asih, membuat Disa yang di salami terakhir terkagum-kagum atas perubahan sikap Putra selama 40 hari dalam asuhan keluarga Ki Wiryo.
Putra yang menyalami Disa terakhir, tak segera melepaskan tangannya, dengan raut wajah sedih, pemikiran polosnya berkata dengan terbata-bata, "Mba Disa, Ibu Putra, minta, Putra, bilang, terima kasih."
Disa terkesiap, mengingat penjelasan Wiwit tentang penjaga Wulan dan Kanjeng Ibu yang lenyap. Mungkin peluang Mariska untuk selamat sangat kecil.
Dia terenyuh, di dekapnya Putra erat-erat, hingga air matanya terus berjatuhan dalam isakan. Pikirannya selalu tertuju pada kebaikan Mariska, dari saat sekolah dulu hingga sampai dia menjadi majikannya sekarang.
"Kenapa mba Disa nangis? Ibu Putra juga bilang, Putra harus belajar agama, biar bisa do'ain Ibu, biar Ibu tenang."
Disa kembali memeluk Putra erat, di ikuti Tia dan Yanti, mereka menagisi Putra, Asih dan Wiwit mengusap punggung mereka dalam suasana mengharukan.
Ki Wiryo menemui mereka, tatapan mata Disa tertuju pada dahinya Ki Wiryo yang berwarna emas, seperti penjaga Kanjeng Ibu pudar menjadi serbuk emas.
'Apa pun yang sudah si gariskan Tuhan, ternyata cara dan usahanya lah yang menjadi pembeda,' batin Disa menerka bahwa emas itu lambang kekayaan, dia memetik pelajaran dari kisah tentang cara mendapat kekayaan yang berbeda, dari Ki Wiryo dan keluarga Kanjeng Ibu.
.
.
Mereka mengetahui kabar semua keluarga Kanjeng Ibu terkini dari penjelasan Ki Wiryo. Mereka menyempatkan diri berziarah ke tempat pemakaman keluarga Kanjeng Ibu, dimana tujuan utamanya untuk mengunjungi pusara Nyonya Mariska. Dengan di antar Ki Wiryo, sebelum mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing.
Pemakaman mereka di urus oleh keluarga Mariska yang masih belum mengetahui sisa keluarganya yang lain, dan masih berharap mereka selamat.
Tempat pemakaman yang sangat mewah, mereka bisa mengunjunginya saja sudah merasa beruntung tanpa bisa berharap pembaringan terakhir mereka berada disana, berkalang tanah merah, beratapkan marmer import, di kamar peti kayu kwalitas nomor satu, bergelarkan rumput yang selalu hijau dan di rawat, luasnya pun melebihi kebun kakek Disa di kampung.
Tetap saja, penghuninya hanya bisa terbujur kaku.
Yang beruntung tertidur untuk menunggu, yang pedih karena siksa hanya bisa merasa bahwa datangnya kiamat terasa lama.
Mereka masuk gerbang tanpa kendala, meski penjagaan ketat dan prosedur harus mereka lewati. Semua berjalan mulus, tentunya atas bantuan Ki Wiryo baik administrasi, perizinan maupun sedikit di bumbui ilusi.
Setelah di arahkan petugas, mobil besar nan mewah menerobos masuk, sehingga mereka terlihat pantas mengunjungi pemakaman, yang rata-rata di huni oleh keluarga kaya raya.
Merekapun turun, suasana horor kembali terasa oleh Disa, meski hanya sejenak. Disa melangkah mendekati nisan yang bertuliskan Mariska dan sebelahnya Wulan. Angin dingin menerpa wajah dan mengibaskan rambutnya, dia sejenak manjatkan do'a di ikuti yang lainnya.
Lalu pandangan matanya menyisir tertuju pada nisan-nisan Keluarga besar Kanjeng Ibu. Udara panas terasa di kulit, akibat matahari saat ini mendadak berubah, menjadi tidak bersahabat. Lalu Disa berdo'a untuk mereka semua.
__ADS_1
Duarr! ...
Suara petir menggelegar, cuaca yang sedari tadi cerah kini telah berangsur berubah. Matahari kini tertutup awan yang mulai menghitam, suasana menjadi gelap seketika.
Mereka bergegas pulang, karena gerimis yang tak di undang, sudah turun menusuk bumi.
"Ki, pulangnya lewat rumah Kanjeng Ibu, ya?" pinta Disa untuk sekedar melihat untuk terakhir kalinya.
Sampai di kediaman kanjeng ibu, mereka hanya menatap deretan rumah kanjeng ibu yang nampak lebih mencengkam.
Mereka turun dari mobil, namun hanya berdiri di depan gerbang.
"Dis, suasana rumah Kanjeng Ibu sekarang terlihat angker, ya? ucap Tia, bulu halus di tangan dan tengkuknya mulai meremang.
Disa hanya terdiam, mendapat cekalan erat tangan Tia dan Yanti.
Tak lama berselang, seseorang keluar dari kediaman kanjeng ibu, ketua RT di kota itu. Dia lantas menghampiri Disa dan mantan para pekerja di kediaman kanjeng ibu.
Ada seseorang yang datang bersama Pak RT, dia adalah pak Arya winangun dan seseorang dengan setelan jas dan tas kantoran.
"Ada perlu apa ya kemari?" tanya pak RT.
"Maaf Pak, kami hanya ingin mengucapkan bela sungkawa. Semoga keluarga yang di tinggalkan di beri kesabaran," ucap Ki Wiryo, dan di jawab ucapan terima kasih oleh Ayah Mariska.
Dalam perjalanan Ki Wiryo berkata pada Disa, "Biarkan saya yang merawat Putra, nyawanya masih dalam bahaya jika di beri kan kepada keluarganya. Saya tidak akan melenyapkan asal usulnya, suatu saat saya akan beritahu siapa sebenarnya dia."
Disa berpikir mungkin itu lebih baik, sebab dia tak tau apa yang terjadi dengan keluarga majikannya, baginya itu masih sebuah misteri.
Ki Wiryo mengantar mereka pulang dan hendak berkunjung ke kediaman keluarga Fatmah.
.
.
.
Beberapa bulan pun berlalu, lima wanita akan bertemu untuk sekedar melepas rindu. Dan juga melaksanakan amanat Ki Wiryo yang menyuruh mereka berlima mengurus padepokan yang dia miliki di sebrang pulau, dan membantu membesarkan Putra dan anak-anak Fatmah.
Padepokan pun mereka tangani, pertumbuhannya maju pesat, dan mampu menampung banyak anak asuh dan mengembangkan usaha-usaha yang lain untuk membantu roda ekonomi warga sekitar.
.
__ADS_1
Disa melihat dalam istana sang Tuan, namun ruangan seperti aula itu seperti baru pertama dia lihat, singgasana megah, dengan sosok sang Tuan di bawah redupnya sinar. Dan para abdi yang berjejer dengan bermacam hidangan dan buah.
Deg ... Disa terkesiap.
Keluar dari arah lorong sosok yang sebagian Disa kenal, dimana lehernya terkalungi rantai yang saling terhubung. Sosok itu adalah Kanjeng Ibu, Tuan Hanubi, Bu Sumarni, Fatmah, sementara beberapa lainnya, dia tidak mengenalnya. Di mana mereka adalah orang tua kanjeng Ibu yakni Fadmasari dan Subroto.
Sedangkan Mariska berlalu dengan melayang ke arah angkasa menggandeng Wulan, mereka tersenyum dan menunduk, sebagai tanda ucapan terima kasih.
Tininit ... tininit ... tininit ....
Disa terbangun, lantas meraih sumber suara yang berada di nakas untuk segera di matikan, lalu mengucek matanya.
Disa merenungi mimpi itu, dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke pasar.
Disa turun dari kendaraan inventaris milik padepokan Ki Wiryo, di temani Tia dan membawa Putra untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di padepokan.
Disa melihat iring-iringan pengantin baru. Dia kaget dengan apa yang dia lihat. Iringan itu berjalan dengan memunggungi, dan Disa seperti mengenal sosok itu.
Sepasang pengantin dan ibu paruh baya, tangannya menggandeng seorang ibu yang sedang mengandung.
Pengantin pria menoleh ke arah Disa lalu Putra, tatapannya langsung tertunduk dengan raut wajah sedih, dan memilih memalingkan muka dan menaiki mobil pengantin yang mengantar rombongan mereka berlalu.
"Tuan Irwan?" Disa bergumam.
"Apa Dis?" tanya Tia.
Disa hanya diam dan terpaku.
Kematian iblis di dunia itu suatu kemustahilan, karena Tuhan membuat mereka hidup sampai kiamat. Iblis hanya hilang, dia akan kembali dan terlahir di jiwa-jiwa yang baru.
Tidak hanya dalam jiwa-jiwa yang tidak mengenal Tuhan.
Namun ....
Kaya, miskin, pandai, pandir, lemah, kuat, rendah, ataupun bermartabat, para ahli kitab, ahli filsafat, para pemuka agama, atau pun para penguasa ... iblis tetap akan terlahir dalam jiwa-jiwa mereka, jika ...
Ada setitik KESOMBONGAN dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ke Epilog ....