Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
001: Pertarungan di Puncak Huashan


__ADS_3

Suara bising terdengar dari Puncak Gunung Huashan, saat pagi baru saja menggantikan sang malam.


Pagi yang dingin itu, harus ternodai oleh suara pertarungan dari lima orang Kakek yang memiliki kemampuan sangat tinggi.


Dari pertukaran serangan yang terjadi, cepatnya gerakan dan juga kekuatan yang digunakan, menunjukan jika mereka berlima berada di tingkat Pendekar Langit.


Walau bukan tingkatan tertinggi dalam hal ilmu beladiri, tapi saat ini Pendekar Langit adalah tingkatan tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia.


Tingkatan beladiri seorang pendekar terbagi dalam delapan tingkatan utama yaitu:


- Pendekar Pemula


- Pendekar Ahli


- Pendekar Raja


- Pendekar Bumi


- Pendekar Langit


- Pendekar Surgawi


- Pendekar Dewa


- Pendekar Dewa Suci


Masing-masing tingkatan terbagi dalam tiga tahapan yaitu dasar, menengah dan puncak.


Namun keterbatasan sumber daya dan Kitab teknik tenaga dalam, menjadi sebab dua tingkatan terakhir, tidak mampu dicapai oleh para pendekar saat ini.


Namun tersiarlah kabar jika beberapa tahun lalu ditemukan salah satu Kitab Legenda yang telah menghilang sejak lima ratus tahun lalu.


Kitab itu berisi tentang teknik mengolah tenaga dalam dan juga teknik pedang, tombak dan beberapa senjata lain yang merupakan teknik tingkat tinggi.


Dan yang memiliki kitab tersebut adalah satu dari lima Kakek yang sedang bertarung pagi ini di puncak Gunung Huashan, gunung yang berada di wilayah Kekaisaran Jian.


Kakek itu bernama Yuan Shi, Ia adalah Sesepuh Sekte Tapak Suci. Satu dari lima sekte aliran putih terkuat yang berada di Kekaisaran Jian.

__ADS_1


Yuan Shi berusia hampir seratus tahun, namun wajahnya terlihat sama seperti ke empat orang Kakek lainnya yang berusia tiga puluh tahun lebih muda darinya.


Dari empat kakek yang adalah para sesepuh dan pelindung dari beberapa sekte itu, dua diantaranya berasal dari Aliran Hitam. Satu kakek lainnya berasal dari aliran putih.


Sedang satu orang yang lain adalah seorang kakek tak bersekte. Ia satu-satunya kakek yang tidak membawa teman satu pun.


Keempat kakek yang lainnya, mengajak salah satu dari Tetua Sektenya masing- masing untuk ikut mereka di pertarungan yang telah mereka sepakati sebelumnya.


Pertarungan itu diadakan untuk memilih siapa yang berhak atas Kitab Pusaka yang bernama Kitab Dewa.


Siapa yang berhasil menang dalam pertarungan itu, akan menjadi pemilik dari Kitab Dewa yang legendaris itu.


Ke empat orang Tetua Sekte yang sedang melihat pertarungan itu, tidak berhenti berdecak kagum, melihat teknik-teknik tingkat tinggi yang sedang beradu di depan mata mereka.


Keempat Tetua Sekte itu, memiliki kemampuan beladiri yang hampir sama, yaitu di tingkat Pendekar Bumi Tahap Dasar.


Melihat pertarungan yang berada satu tingkat di atas kemampuan yang mereka miliki, bukanlah hal yang bisa dilihat setiap harinya dalam hidup mereka.


Pertarungan yang semakin lama semakin dahsyat itu, memaksa keempat Tetua Sekte itu harus menjauhi arena pertarungan.


Energi dari pukulan yang begitu kuat, sangat berbahaya bagi nyawa mereka. Apalagi saat kelima orang itu menggunakan senjatanya masing-masing.


Hal ini karena Kuan Yu lebih senang jika Kitab Dewa itu berada di tangan Yuan Shi, daripada harus berada di tangan tiga orang lainnya.


Ketiga orang itu, dua diantaranya adalah tokoh aliran hitam yang sangat kejam. Dan sekte yang mereka lindungi adalah sekte yang sering menindas penduduk kekaisaran Jian maupun sekte lain yang lebih kecil.


Sementara satu kakek lain adalah sosok yang dikenal sebagai tokoh aneh.


Kadang Ia bertindak kejam terhadap pendekar aliran putih, walau seringkali Ia menghabisi Pendekar dari Aliran Hitam dengan brutal.


Kemampuan Yuan Shi yang tinggi membuatnya masih mampu bertahan hingga pertarungan itu telah berlangsung hampir delapan jam.


Saat matahari telah bergulir ke arah barat sejak dua jam lalu, Yuan Shi dan Kuan Yu mulai terdesak hebat.


Kelima Kakek itu telah mengalami luka luar maupun luka dalam yang tidak ringan. Membuat tenaga dalam mereka hampir terkuras habis.


Di saat itulah, muncul dua orang yang dikenali mereka sebagai tokoh nomor satu Aliran Hitam Kekaisaran Jian, sosok licik dan kejam bernama Hong Qi.

__ADS_1


Ia datang bersama adik seperguruannya yang bernama Cheng Kun, yang terkenal sangat licik dan termasuk dalam sepuluh besar Pendekar terkuat Aliran Hitam.


“Hahaha … Aku datang di saat yang tepat rupanya.” Hong Qi seketika berkata dengan tenaga dalamnya yang sangat tinggi.


Kelima kakek yang telah bertarung habis-habisan itu, segera menghentikan serangan mereka masing-masing.


Wajah mereka terlihat berubah, ada kemarahan yang tersirat dan juga rasa was-was karena datangnya Hong Qi dan Cheng Kun.


Sebenarnya Hong Qi lah yang menantang Yuan Shi dan sepakat untuk melakukan pertarungan di puncak Gunung Huashan ini.


Namun karena tidak datang di waktu yang ditentukan, maka berdasar kesepakatan, Ia tidak boleh ikut dalam perebutan Kitab Pusaka itu.


Tetapi kalimat yang baru mereka dengar, bukanlah kalimat yang bisa mereka terima. Karena Hong Qi menunjukkan bahwa Ia akan ikut dalam pertarungan tersebut.


“Apa maksudmu dengan kedatangan yang tepat? Bukankah Kau sendiri yang mengusulkan siapa yang pagi tadi tidak ada di puncak Huashan ini, maka Ia tidak boleh ikut serta dalam pertarungan untuk menentukan siapa yang berhak memiliki Kitab Pusaka Dewa ini!”


Yuan Shi segera berkata dengan suara yang terdengar marah. Mereka berlima saat ini hampir kehabisan tenaga dalam, setidaknya kurang dari dua puluh persen saja tenaga yang tersisa di tubuh mereka saat ini.


“Oh ya? … Apakah Aku pernah berkata begitu? Seingatku Aku tidak mengatakannya hahahaha …” Hong Qi tertawa terbahak-bahak.


“Dasar Licik … Kalian aliran hitam memang tak punya malu dan harga diri!” Kuan Yu yang kesal segera membentak Hong Qi.


Dua orang Kakek yang berasal dari aliran hitam, tentu saja tersinggung mendengar hal tersebut.


Keduanya lalu melangkah menghampiri Hong Qi dan berkata yang membuat Kuan Yu dan Yuan Shi terkejut mendengarnya.


“Ketua Hong Qi … Untunglah Kau segera datang, kami berdua hampir kehabisan tenaga. Tugas kami untuk menguras tenaga mereka sudah selesai bukan?”


“ Terimakasih saudara Jie Kang dan Saudara Ding Yao biar aku yang menghabisi mereka bertiga.”


Hong Qi segera mencabut tongkat pusaka yang terselip di pinggangnya, setelah Ia berterimakasih kepada kedua orang yang ternyata adalah sekutunya itu.


Tongkat berwarna hitam legam itu, adalah tongkat yang terkenal di dunia persilatan Kekaisaran Jian sebagai Tongkat Iblis Pencabut Nyawa.


Sudah tak terhitung tokoh aliran putih yang terbunuh oleh tongkat tersebut. Hal yang membuat Yuan Shi dan Kuan Yu menjadi waspada dengan hati yang cemas.


Namun hal itu tidak terjadi pada kakek yang tak memiliki sekte itu. Dia tetap tersenyum walau merasakan aura membunuh, terpancar kuat dari tubuh Hong Qi.

__ADS_1


******


__ADS_2