
Patriark Hou Lubai sedang termenung di ruang pribadinya. Ia kembali menatap surat dari Tianchang, yang meminta cucunya untuk dijadikan selir ke dua puluhnya.
Hou Ying adalah cucu perempuan satu-satunya Patriark Klan Pasir Sakti itu. Ayah Hou Ying bernama Hou Bei. Dia adalah Putera pertamanya yang tewas saat Hou Ying masih berusia empat tahun.
Dua tahun kemudian, Ibu Hou Ying dikabarkan menghilang setelah mencoba membalas dendam atas kematian Sang Suami.
Ia dikabarkan telah dibunuh oleh sosok yang juga membunuh Hou Bei. Saat sedang sekarat, tubuh Ibu Hou Ying dilemparkan ke dalam sungai besar dan berarus deras.
“Ying’er … Kenapa nasibmu begitu malang Nak. Maafkan Kakek yang tak berguna dan tak mampu melindungi mu dari kekejaman Kaisar Tianchang.”
Patriark Hou Lubai hanya bergumam lirih, mencoba meredam perih atas ketidak berdayaannya. Kemampuannya sebagai ketua Klan Pasir Sakti, terpaut jauh dengan Tianchang.
Ingin rasanya Ia mencari keberadaan Leluhurnya, sekaligus pendiri Klan Pasir Sakti yang bernama Hou Jie. Namun Ia sendiri tak tahu di mana leluhurnya itu berada.
Klan Pasir Sakti bukan termasuk dalam sepuluh Klan terbesar dan terkuat di Dunia Atas. Jumlah anggotanya pun kurang dari sepuluh ribu orang. Melawan kehendak Kaisar Tianchang, bagaikan seekor semut yang melawan gajah.
Saat termenung memikirkan nasib cucunya itu, seorang Tetua Klan datang dengan raut wajah panik. “Ada Apa Tetua Bao..?”
“Patriark … Aku tidak bisa menjelaskannya, Anda sebaiknya keluar dan liat sendiri terowongan cahaya Hijau aneh yang tiba-tiba muncul di atas wilayah kita?”
Tetua Bao berkata dengan cepat, secepat gerakan Hou Lubei yang melesat keluar dari ruangannya. Matanya melotot lebar melihar terowongan cahaya hijau sebesar rumah, berada di atas wilayah kekuasaan mereka.
“Tetua Bao, bawa dua puluh orang di level lima ke atas dan segera susul aku!” Perintah Hou Lubei yang segera melayang ke ujung cahaya hijau itu.
Sesaat kemudian, datang tiga puluh orang Anggota Klan Pasir Sakti yang memiliki kemampuan tinggi dan sepuluh orang diantaranya menjabat Tetua Klan.
Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar, tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi kemudian. Mereka hanya bisa menatap Ketua Klan yang sedang termenung, mencoba mencari tahu lorong cahaya apa sebenarnya yang ada di hadapannya itu.
Sudah setengah jam mereka menunggu, belum satu pun makhluk yang keluar dari lorong cahaya hijau itu. Patriak Hou Lubei memutuskan untuk meninggalkannya dan menugaskan seseorang untuk mengamatinya dari jauh.
Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kemunculan seorang pemuda dengan pakaian yang telah compang camping. Sobek di hampir di seluruh bagiannya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa mengukur Kultivasi bocah ini. Apakah dia telah berada di Ranah Semi Abadi juga? Mustahil semuda ini telah mencapai level setinggi itu.”
Patriark Hou Lu Bei hanya diam mematung, demikian juga tetua dan anggota Klan Pasir Sakti. Namun mereka telah bersiaga untuk bergerak, ketika mendapat perintah dari Patriark Klan mereka.
Chen An yang sedang menunggu Gurunya Thio San, memutuskan untuk berbicara dengan mereka. Namun, tubuh gurunya telah terlihat lebih dulu.
Chen An segera melesat ke arah Sang Guru ketika menyadari jika gurunya telah terkulai pingsan dengan jubah yang sobek sama seperti dirinya.
Chen An segera mengalirkan sejumlah besar energi dari Mustika Bintang untuk menyembuhkan luka gurunya yang tersadar beberapa saat kemudian.
“Aah … aroma udara yang berat ini… Dunia Atas. Akhirnya Aku kembali juga keDUnia kelahiranku. Hahahahahaha….” Thio San tertawa terbahak-bahak menggunakkan energi qi di level Enam Ranah Dewa Semi Abadi.
Tawa itu membuat tiga puluh orang tersentak kagetdansegera melindungi telinga mereka dengan energi qi. Belum cukup untuk meredam sakit itu, mereka menggunakan tangan untuk menutupinya.
Patriark Hou Lubei tersentak kaget, kekuatan sosok tua yang baru muncul itu, mengingatkan dirinya pada kekuatan murid Tianchang yang bernama Cai Lung.
Thio San menghentikan tawannya, setelah melihat wajah ketakutan dari puluhan orang yang mengepung mereka. Ia menekan batu hijau pada artefak dan membuat lorong cahaya hijau itu kembali menghilang.
“Anda memasuki wilayah Klan Pasir Sakti tanpa izin. Seharusnya Kami yang … “ ucapan Hou Lubei terputus karena perkataan Thio San yang mengejutkannya.
“Klan Pasir Sakti … Ah ternyata berada di wilayah selatan. Di mana Si Hitam Hou Jie … apakah dia sudah mampus.” Tanya Thio San yang mengenali pendiri Klan Pasir Sakti, beberapa ratus tahun lalu.
“Jaga ucapan Anda Tuan …!” Hou Lubei terlihat marah mendengar Kakek leluhur sekaligus pendiri Klan Pasir Sakti, dihina seperti itu.
“Hohoho … Jangan marah dulu. Hou Jie sudah seperti adikku sendiri. Dia tiga tahunlebih muda dari ku. Di mana Si Pasir Hitam Sakti itu sekarang berada.”
Perkataan Thio San kembali mengejutkan Hou Lubei. Julukan Kakek leluhurnya itu hanya dirinya dan anggota Klan saja yang mengetahuinya.
“Namaku Thio San, Aku adalah murid Luo Tianyi. Aku dan Guruku hadir saat Hou Jie meresmikan berdirinya Klan Pasir Sakti ini sekitar tujuh atau delapan ratus tahun lalu. Apakah dia masih hidup?”
Semua orang saling berpandangan. Sementara Hou Lubei mulai bergetar tubuhnya, saat mendengar nama Luo Tianyi.
__ADS_1
Belum sempat Ia menjelaskan keberadaan Jasad Kakek Leluhurnya itu, sebuah awan hitam kecil melayang-layang mendektai mereka.
Semua mata ternganga melihat awan kecil itu yang ternyata adalah kumpulan pasir hitam berjumlah sangat banyak. Pasir Hitam itu, sesaat kemudian berkumpul dan perlahan membentuk wujud seorang kakek yang kulitnya hitam seperti arang.
“Thio San …Kau …Masih hidup?!”
“Hou Hitam … Syukurlah kau belum mampus. Eh Kenapa Kau bertanya begitu?”
“Jangan Panggil Aku Hitam dong … Nanti kupanggil kau … mmmmpphhh” Thio San bergerak cepat menutup mulut Sosok yang tak lain adalah Hou Jie itu.
“Sssstt … Pemuda itu adalah muridku. Jangan sampai Kau sebutkan panggilanmu padaku. Bisa-bisa Ia mengikuti jejakku.” Ucap Thio San berbisik lirih.
Hou Jie, berjuluk Si Pasir Hitam Sakti hanya terkekeh geli. “Eh sebaiknya Kau ganti dulu jubahmu. Terong mu sudah keriput. Jangan dipamerkan pada mereka yang masihmuda-muda.”
Thio Sa tersentak kaget, Ia pun segera mendekap bagian bawah perutnya. “Aih kenapa tak bilang dari tadi!” Thio San menggerutu sambilmengeluarkan sebuah jubah lain dari cincin ruangnya.
“Aku saja baru datang, kenapa Kau menyalahkan Aku!” Hou Jie membela dirinya dengan suara yang terdengar kesal.
Sementara Hou Lubei terlihat berkaca-kaca matanya. Di saat Ia membutuhkan Sang Kakek, tiba-tiba sosok yang diduganya telah meninggal itu, datang menunjukkan dirinya.
“Leluhur… terima hormat kami!” tiga puluh orang lain segera mengikuti Hou Lubei yang berlutut seraya memberi hormat.
“”Bei’er … Cepat siapkan jamuan dan ruang untuk mereka berdua!” Hou Jie berkata yang membuat Hou Lubei segera melayang turun bersama tiga puluh orang terkuat dari klannya.
Sementara Chen An sedang berbicara dengan Roh Rambut Merah. Hal itu Chen An lakukan karena Ia tidak bisa mengetahui di Ranah dan level apa, kekuatan sosok kakek yang bernama Hou Jie itu.
“Orang itu berjuluk Pasir Hitam Sakti? Apakah dia orang yang sama dengan sosok penguasa Benua Batu ratusan tahun lalu?” Roh Rambut Merah berkata yang membuat Chen An kesal mendengarnya.
“Aku memanggilmu karenaingin bertanya, mengapa malah Kau yang bertanya?!”
@@@@@
__ADS_1