Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
031: Mengambil Cincin Ruang


__ADS_3

Kekaguman Cui Lan semakin dalam pada Chen An, setelah mendengar penjelasan pemuda itu, tentang kemampuan melayang di udara yang belum pernah terbayangkan olehnya maupun sang Ibu sekalipun.


Setelah beberapa menit melayang dengan cepat di udara, mereka akhirnya tiba di bagian selatan Hutan Siluman yang tak ada lagi penghuninya.


“Benarkah tempat ini yang ditunjukkan dalam peta itu Chen Cen?” Chen An menerima peta dari Gurunya. Lalu mengamati dengan seksama sebelum memastikan keberadaan sebuah jurang.


“Benar Guru … Tetapi di mana Jurang itu berada? Sedari tadi aku tak melihatnya.” Chen An mengedarkan pandangannya lebih jauh lagi.


Cui Lan dan Shi Ying pun berlaku sama, melihat ke bawah mereka dan hanya menemukan dedaunan dari ujung pepohonan yang menjulang puluhan meter tingginya.


Cui Lan menemukan pucuk pepohonan yang terlihat sedikit lebih rendah dari pucuk pepohonan lain. Ia baru mendapat info dari Chen An jika peta itu dibuat ratusan tahun lalu.


“An Gege … Apakah tidak mungkin, jika jurang itu sekarang ditumbuhi pepohonan yang telah besar dan menjulang sangat tinggi seperti pepohonan ini?”


“Ah Benar juga …Kita hanya perlu mencari sekelompok pepohonan yang ujung tertingginya lebih rendah dari yang lainnya.” Jawab Chen An antusias, memuji kecerdasan berpikir Cui Lan.


“Mungkin jurangnya berada di bawah pepohonan yang itu.” Cui Lan menunjuk ke arah pepohonan yang tadi dilihatnya.


Chen An tersenyum, lalu meminta izin kepada gurunya untuk memeriksa bagian bawah pepohonan itu. Ia melesat bagai seekor elang memburu mangsa, setelah melihat anggukan kepala Thio San.


Chen An mengamati dengan teliti permukaan tanah di bawah pepohonan, yang pucuknya terlihat lebih rendah dari pepohonan lainnya itu.


“Ah … Ternyata benar di sini tempatnya. Tepi Jurang ini telah ditumbuhi pohon-pohon besar sehingga tidak terlihat lagi dari atas.”


Chen An menemukan sebuah jurang kecil yang tidak begitu luas dan dalam. Rimbunnya pepohonan membuat suasana di tepi jurang itu menjadi remang-remang.


Chen An mencabut Pedang Bintang Merah, mengalirkan lima puluh kristal qi pada bilahnya. Dengan menggunakan jurus Hujan Seribu Pedang, Ia akan menebas belasan pohon di tepi jurang tersebut.


Seet seeet Whusss whuss

__ADS_1


“Apa!”


Chen An terkesiap, melompat ke sana kemari demi menghindari energi pedang yang tadi Ia lesatkan ke arah pepohonan itu.


Suara belasan pohona di belakangnya yang tumbang karena tertebas energi pedang, membuat Thio San dan yang lainnya menjadi khawatir.


“Chen Cen! Apa kau baik-baik saja.” Terdengar teriakan Thio San dengan menggunakan energi qi nya.


“Tidak Guru! Kemarilah!” Teriak Chen An yang masih kebingungan, mengapa energi pedangnya tadi bisa berbalik arah.


Thio San datang dengan membawa Cui Lan dan Shi Ying. Chen An lalu menjelaskan apa yang terjadi pada gurunya.


Setelah menurunkan kedua perempuan itu di atas sebuah batang pohon yang telah tumbang, Thio San melayang mendekati Chen An.


“Tidak salah lagi, ini adalah jurang tempat guru menyembunyikan Cincin Ruangnya. Ada segel pelindung yang sangat kuat menutupi jurang ini.”


Thio San lalu mengerahkan energi qi pada telapak tangannya dan mengarahkan pada mulut jurang. Setelah lebih dari seribu kristal qi Ia alirkan, sesuatu yang belum pernah Chen An lihat, muncul di mulut jurang tersebut.


Hanya Thio San yang bisa membaca dan memahami apa makna di balik aksara itu. Yaitu sebuah petunjuk tentang bagaimana menemukan cincin ruangnya. Serta pesan sang guru mengenai isi Cincin Ruang Dimensi tersebut.


Tulisan itu perlahan-lahan memudar dan hilang beberapa detik kemudian. Thio San lantas mengerahkan kembali ratusan kristal qi tepat ke tengah mulut jurang. Sedetik kemudian, selarik cahaya melesat ke dasar jurang.


Sesaat kemudian, terjadi ledakan kecil di dasar jurang sedalam tiga puluh meter itu. Thio San tersenyum saat melihat sebuah benda berkilau yang melayang di tengah cahaya.


Dengan sekali sentak, Cincin ruang dimensi itu segera berpindah ke tangan Thio San yang begitu bahagia mendapatkannya.


“Akhirnya … Aku bisa kembali Ke duniaku! Hahahahahaha…” Tawanya meledak sangat kuat, menggaung ke seluruh Hutan Siluman.


Sesaat kemudian, Thio San meneteskan darah pada cincin itu yang membuat cincin itu bercahaya. Setelah pendaran cahaya di cincin itu meredup, Thio San segera memeriksa isinya.

__ADS_1


“Ah … Banyak sekali sumber daya langka dan berharga di dalam Cincin Ruang Guru. Pusaka pun tak kalah banyaknya. Yang mana Artefak Teleportasi itu?” Thio San Asik berbicara dalam benaknya sendiri.


Ia terus mencari Artefak yang bisa membuatnya kembali ke Dunia Atas, seraya mengingat-ingat bentuk artefak yang membuatnya gurunya berada di Dunia Bawah ini.


“Bukankah ini Pedang Nirwana? Kenapa pedang ini bergerak sendiri?” Thio San dikejutkan dengan melayangnya pedang Nirwana ke hadapannya.


“Sepertinya Ia ingin keluar dari cincin dimensi ini, ada apakah gerangan?” Walau tak menemukan jawabannya, Thio San mengeluarkan pedang Sang Guru dari dalam Cincin ruangnya.


Hal tak terduga terjadi setelah pedang itu berada di luar dimensi cincin. Ia melesat keluar dari sarung pedang dan melesat ke udara, memancarkan cahaya Putih yang menyilaukan mata.


Aura mencekam segera memenuhi udara dalam radius ratusan meter dari bilah Pedang Nirwana. Entah apa yang terjadi, semua orang sedang kebingungan.


Thio San hanya bisa menduga, jika Roh Ratu Beast penghuni pedang gurunya itu sedang marah, karena ratusan tahun terkurung dalam ruang dimensi cincin Sang Guru.


Hal tak terduga kembali terjadi, Pedang itu melesat ke arah Cui Lan, lalu perlahan berhenti dengan gagang pedang berada tepat di dada Cui Lan yang panik karenanya.


Pedang itu seolah meminta gadis itu untuk menggenggam gagangnya. Cui Lan yang juga menyadari hal itu, menatap ke arah Thio San.


“Raihlah … Mungkin pedang itu memang berjodoh dengan mu.” Thio San berkata yang membuat Cui Lan menjadi percaya diri untuk meraihnya.


Saat kedua tangannya telah menggenggam gagang pedang, Cui Lan terlihat tersentak kaget. Merasakan aliran energi yang sangat besar merasuki tubuhnya.


Besarnya energi dari roh penghuni pedang, membuat kesadaran Cui Lan menghilang. Tubuh gadis itu dikuasai sepenuhnya oleh Roh Ratu Phoenix Api Putih.


Terdengar tawa yang melengking, membuat Shi Ying menjadi cemas, melihat kondisi puterinya. Ia segera meminta penjelasan dari Thio San yang masih belum menyadari situasi akan menjadi sangat berbahaya itu.


“Tenanglah Nyonya Shi Ying… Roh itu ingin berkomunikasi dengan kita menggunakan tubuh puterimu.”


Ucapan Thio San itu membuat tawa Cui Lan terhenti seketika. Ia menatap tajam ke arah Thio San, dengan bola mata yang berwarna putih dengan bulatan hitam yang telah berganti warna seperti warna api.

__ADS_1


“Siapa yang ingin berkomunikasi dengan kalian?! Aku menyukai aroma tubuh gadis ini dan akan ku tempati selamanya. Hingga Aku berhasil menjadi penguasa Dunia bawah ini. ”


#########


__ADS_2