Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
073: Firasat Cheng Kun


__ADS_3

Entah kenapa, hari ini Cheng Kun kembali teringat sosok perempuan yang sangat Ia cintai, Chi Lin. Sosok perempuan yang lebih memilih tewas bersama suaminya daripada harus hidup bersamanya.


“Chi Lin … Kemewahan dan kekuasaan yang kumiliki saat ini, seharusnya bisa engkau nikmati seandainya Si keparat Chen Bun itu tidak hadir dalam kehidupan kita.”


Cheng Kun berkata demikian, saat Ia merasa semua yang telah Ia capai hari ini, adalah sebuah kesia-siaan belaka. Ia memandangi singgasana Kekaisaran Jian, yang beberapa hari terakhir menjadi tempat duduknya.


BUMM


Sebuah ledakan kuat dari arah timur, mengejutkan Cheng Kun seiring dengan memancarnya aura kekuatan sangat besar yang jauh di atas kekuatan yang Ia miliki.


“Aura sekuat ini, mungkinkah milik Si Tan Hu itu? Jika benar, berarti kekuatanku setelah memakan Buah Iblis ini akanjauh lebih besar darinya seperti dugaan Kakak Hong…”


Walau sempat tertegun, Cheng Kun kembali menjadi tenang. Mengingat khasiat buah dari Pohon Iblis yang telah mereka tanam beberapa tahun lalu.


Cheng Kun pun kembali teringat saat Ia menumpahkan darah bayi ke empat puluh dan menyiramkannya di bawah pohon Apel yang sejak pertama kali di tanam, selalu di siram dengan darah bayi setiap satu bulan sekali.


Saat darah bayi ke empat puluh itu di siramkan ke pohon dan diiringi oleh suara Hong Qi yang membacakan sebuah mantera, terjadi perubahan pada daun dan juga batang pohon apel ungu itu.


Kulit pohon itu berubah menjadi seperti kulit manusia, sementara daunnya menjadi berwarna hitam dengan lima buah yang berwarna semerah darah.


“Ah kenapa aku teringat semua hal di masa laluku pada hari ini?” Cheng Kun sedikit heran dengan situasi yang Ia alami. Namun suara ledakan kembali terdengar dan semakin dekat dengan istana tempatnya berada.


Sesaat kemudian, muncul tiga orang yang dikenal dalam dunia persilatan Kekaisaran Jian sebagai Tiga Tongkat Hantu Darah. “Wakil Ketua … Biar Kami yang mengurus para pengacau itu.”


Tanpa menunggu jawaban Cheng Kun, tiga orang Tetua Sekte Tongkat Hitam segera melesat keluar dari bangunan utama. Cheng Kun masih terdiam, Ia menyadari jika ketiga orang itu bukanlah lawan bagi sosok seperti Tan Hu.


Ia pun bergegas melayang ke udara untuk mengejar ketiga Tetua Sekte itu dan mencegahnya menyerang lawan. Namun Saat Ia tiba, matanya terbelalak dua orang Tetua itu telah tewas dengan kepala yang berlumuran darah.

__ADS_1


Sementara satu orang Tetua lagi, lehernya sedang dalam cengkeraman seorang pemuda yang jubahnya terlihat telah berlumuran oleh percikan darah.


Saat melihat ke sekelilingnya, Ia baru menyadari jika mayat-mayat yang tergeletak bukan mayat prajurit, tetapi mayat dari anggota sektenya.


KRAK


Suara leher yang patah, menyadarkan Cheng Kun dari rasa terkejutnya. Ia menatap tajam pemuda itu, yang sedang menatap dirinya dengan tatapan membunuh.


“Siapa Kau anak muda? Kemampuanmu boleh juga bisa mengalahkan Tiga Tongkat Hantu Darah dengan begitu mudahnya. Apakah kau mau bergabung dengan Sekte Tongkat Hitam?”


Pemuda yang tak lain adalah Chen An, menyeringai mendengar ucapan sosok lelaki di depannya. “Sekte Tongkat Hitam ya … memangnya Kau siapa berani mengajakku bergabung dengan sekte pimpinan Ketua Hong.”


Chen An ingin memastikan siapa sosok yang sedang Ia hadapi, sehingga Ia berkata seperti itu. “Hahahaha … Sepertinya Kau telah mengenal Kakak Seperguruanku. Apakah Dia tidak menyebutkan jika memiliki adik seperguruan yang bernama Cheng Kun? Akulah orangnya.”


Dengan bangga Cheng Kun berkata demikian, Ia tidak menyadari perubahan tawa Chen An yang lepas, karena merasa telah menemukan salah satu dari dua orang yang menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya.


“Apa Maksudmu? Siapa orang tuamu?!” Cheng Kun mulai waspada dan Ia pun menyadari sesuatu setelah menatap lekat wajah pemuda di depannya itu.


Belum sempat Cheng Kun menyuarakan dugaannya, tiba-tiba Ia merasakan tubuhnya seolah menjadi kaku. Ia pun menjadi panik, sesaat setelah mampu menggerakan tangannya. Ia dan pemuda itu telah berada jauh di luar kota Jianchang.


“Siapa Kau sebenarnya? Aku yakin kau tak akan membiarkan Aku mati tanpa mengetahui siapa orang yang telah membunuhku dan alasannya bukan?”


Chen An sempat tertegun heran melihat sikap yang ditunjukkan oleh Cheng Kun yang memang pandai bersiasat itu.


Saat bertanya demikian, Cheng Kun diam-diam mengambil satu Buah Iblis miliknya dan segera menelan buah sebesar ibu jari kaki orang dewasa itu.


Dalam satu kali gerakan tadi, Ia menyadari jika pemuda dihadapannya adalah lawan yang sangat kuat. Karena tak mungkin menang dengan kekuatan biasa, Ia memutuskan untuk menggunakan kekuatan Iblis yang berada dalam Buah Iblis itu.

__ADS_1


“Dengarkan baik-baik. Aku adalah Chen An. Putera dari Chen Bun Ketua Sekte Tangan Suci yang Kau dan Kakak seperguruanmu hancurkan beberapa tahun lalu.”


Cheng Kun justru tertawa mendengar ucapan Chen An. “Putera Chi Lin rupanya. Hahahaha… “ Cheng Kun tertawa tanpa terkendali bersamaan dengan mulai bereaksinya Buah Iblis di dalam tubuhnya.


Aura Cheng Kun yang terus meningkat dari Ranah Surgawi hingga terus melewati Ranah Dewa dan mulai memasuki Ranah Dewa Semi Abadi, membuat Chen An menjadi heran.


Namun semakin menguatnya Aura Iblis di sekitar tempat itu, membuat Chen An menduga jika Cheng Kun mungkin telah menelan Pil Darah Iblis.


Dugaan Chen An tidak sepenuhnya salah, perlahan tubuh Cheng Kun mengalami perubahan dari kulit tubuhnya yang mulai berwarna kemerahan hingga tumbuh dua buah tanduk di kepalanya.


Mata Cheng Kun pun telah berubah menjadi semerah darah. Hal yang mengingatkan Chen An pada sosok Cai Lung, manusia dari Dunia Atas yang Ia habisi beberapa waktu lalu.


Namun perubahan tubuh yang terjadi pada Cheng Kun berbeda dengan yang terjadi pada Cai Lung, demikian juga dengan aura kekuatannya yang mulai memasuki Ranah Dewa Abadi.


Sesaat kemudian tubuh Cheng Kun membesar hingga setinggi lima meter hal yang membuat Chen An segera mengerahkan kekuatannya hingga muncul lingkaran cahaya di belakang kepalanya.


Dua aura besar itu, memancar hingga puluhan Li jauhnya. Membuat Hong Qi dan Bayangan Angin yang sedang menunggu Yuen Bei selesai menyerap khasiat buah Iblis, tersentak kaget.


“Maafkan Aku Tuan Bayangan Angin , sepertinya Adikku sedang dalam masalah besar! Aku harus segera menemuinya. Sampaikan hal ini pada tuan Anda.”


Tanpa menunggu jawaban Bayangan Angin, Hong Qi melesat keluar dan segera melayang menuju ke ibukota Jianchang. Sementara Yuan Bei Keluar dari ruangannya dengan tersenyum lebar.


“Ketua … Bagaimana dengan kekuatan Anda? Apakah telah pulih kembali.” Tanya Bayangan Angin yang sangat penasaran. “Bukan hanya pulih paman, kekuatanku pun jauh lebih besar dari sebelumnya.”


Bayangan Angin terlihat senang, lalu menanyakan rencana Yuan Bei selanjutnya. “Kita susul Ketua Hong Qi, kita lihat apakah dia dan adiknya atau Chen An yang akan menang. Yang pasti kita akan ambil keuntungan dari pertarungan mereka.”


Yuan Bei tertawa kecil, lalu melesat keluar bersama Bayangan Angin untuk mengejar Hong Qi yang telah beberapa Li jauhnya dari mereka.

__ADS_1


@@@@@


__ADS_2