Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
034: Rumah Hiburan Teratai Biru


__ADS_3

Setelah menjejakkan kakinya di tanah, Chen An menyembunyikan kemampuan beladirinya, sehingga Ia terlihat seperti pemuda kampung biasa yang tidak memiliki tenaga dalam sama sekali.


“Rumah Hiburan Teratai Biru”


Wajah Chen An menunjukkan rasa heran, setelah membaca tulisan besar yang terpampang di atas pintu bangunan megah itu.


“Hiburan macam apakah yang mereka sajikan? Aku sangat penasaran sekali.” Chen An melangkah mendekati pintu besar yang dijaga oleh dua orang pria bertubuh tinggi dan besar.


Sekali lihat, Chen An mengetahui jika kedua orang itu adalah pendekar Tingkat Raja tahap Puncak. ”Sepertinya Rumah Hiburan ini bukan milik saudagar biasa.”


Dua orang penjaga, tersenyum sinis ke arah Chen An yang melangkah mendekati mereka. Baru kali ini keduanya melihat pemuda belasan tahun dan mengenakan jubah biasa-biasa saja, hendak memasuki Rumah Hiburan Elite itu.


“Permisi Tuan … ” Chen An menyapa keduanya, Ia bermaksud meminta izin untuk memasuki bangunan tersebut.


“Pergilah! … Rumah Hiburan ini bukan tempat untuk orang sepertimu!” Salah diantara mereka, membentak Chen An yang hanya tersenyum mendengarnya.


Chen An mengeluarkan dua keping emas dari Cincin Ruangnya. Dari ingatan Xiang Long cara itu Ia dapatkan, dan ternyata terbukti sangat efektif.


Kedua orang itu terbelalak, dengan cepat salah satu diantara mereka menyambar koin emas itu.


“Silakan masuk Tuan Muda.” Dengan membungkuk hormat, keduanya mempersilakan Chen An memasuki bangunan tersebut.


Chen An melangkah memasuki bangunan megah tersebut. Di dalam ruangan itu, terlihat beberapa putera bangsawan dan dua hingga tiga orang pelayan sekaligus pengawalnya, sedang bermain judi dengan berbagai jenis permainan.


Chen An melangkah mendekati sebuah toko yang memajang berbagai arak dengan kualitas yang bagus dan harga yang sangat mahal.


Telah ada tiga pelanggan di toko tersebut, seorang putera bangsawan dan dua orang pengawalnya.


Toko itu dijaga dua orang perempuan yang ternyata adalah golongan pendekar. Kemampuan keduanya berada di Tingkat Raja Tahap Dasar dan Menengah, sama seperti pemandu permainan judi lainnya.


Kedua pendekar perempuan itu tersenyum malas, saat bertanya kepada Chen An. Sekalipun pemuda itu berwajah tampan, namun melihat jubah yang dikenakan adalah jubah biasa, keduanya tidak antusias untuk melayaninya.


Chen An menyadari hal tersebut. “Aku minta Arak di guci yang kecil itu.” Chen AN menunjuk sebuah guci arak berukuran kecil yang terdapat label harganya.

__ADS_1


“Apakah Anda yakin akan membeli arak termahal di Kota ini? Kami akan mengambilnya jika Anda membayarnya terlebih dahulu.” Ucap salah satu pelayan dengan tatapan tak percaya.


Putera bangsawan dan dua orang temannya, tertawa kecil. Karena seharusnya pembayaran dilakukan setelah pelanggan selesai meminum arak tersebut.


“Saudara … Apakah Kau memiliki uang sebanyak itu? Tuan Kami saja berpikir dua kali untuk membelinya. Apakah Kau sudah mabuk sebelum memasuki gedung ini?”


Salah satu dari dua pengawal Putera Bangsawan itu, berkata dengan pandangan yang menghina ke arah Chen An.


Chen An hanya tersenyum tipis, Ia memasukkan tangan ke balik jubahnya. Tentu saja Ia tidak ingin membuat mereka curiga, ketika memunculkan lima puluh keping emas dari cincin ruangnya.


Chen An menyodorkan Koin emasnya. Kedua pelayan itu terkejut ketika Chen An meminta dua guci arak termahal di toko mereka. Sementara, pemuda yang tadi berkata padanya, seketika terdiam kaget.


Pelayan itu segera mengambil dua guci arak termahalnya dan memberikan kepada Chen An dengan penuh hormat dan sedikit rasa malu.


“Tuan Muda … Satu guci ini untuk anda. Dari perkataan teman Anda tadi, sepertinya Anda belum sempat mencoba arak terbaik di kota ini. Terimalah… sebagai tanda perkenalan kita.”


Chen An memberikan satu buah Guci kecil itu kepada ketiga orang yang terdiam kehabisan kata. Seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Ketiganya tidak menduga, jika pemuda yang terlihat miskin itu, bisa membeli dua guci arak termahal di kota mereka, bahkan memberikan salah satu gucinya, kepada orang yang belum dikenalnya.


Setelah terlepas dari rasa terkejut mereka, dua orang pengawal putera bangsawan itu, meradang marah seraya mendekati Chen An yang masih terlihat santai.


“Bukankah sudah ku katakan, Arak itu sebagai tanda perkenalan? Apakah itu menghina?” Chen menegak arak dalam guci yang telah Ia buka tutupnya.


Kedua orang itu terlihat sangat kesal, melihat Chen An memejamkan mata untuk menikmati lezatnya arak tersebut dengan cara yang sedikit berlebihan.


“Benar-benar arak terlezat yang pernah kuminum. Terimakasih araknya Saudara…Ah kita belum saling berkenalan. Namaku Hao Jie, bagaimana Aku harus memanggilmu?”


Kedua pengawal Hao Jie terkejut, mendapati tuannya telah berubah sikap. Keduanya segera mendekati Hao Jie yang mengedipkan matanya.


Keduanya segera mengerti rencana Tuan Muda mereka yang terkenal akan kelicikan dan kecerdasannya itu. Mereka pun segera meminta maaf dan memanggil Chen An dengan sebutan Tuan Muda.


“Panggil saja Aku Chen Cen, Tuan Muda Hao. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Hao Jie segera menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Aku baru pertama kalinya datang ke sini, Hiburan apakah yang paling di digemari di tempat ini?” Tanya Chen An sambil memesan dua guci arak yang sama dan membayarnya lunas.


Dua orang pengawal itu terlihat senang dan menjadi kagum akan kecerdasan Tuan Muda mereka yang berhasil menjilat pemuda yang dianggap lugu dan bodoh itu.


Hao Jie segera menjelaskan bahwa tak lama lagi, hiburan utama akan segera dimulai, yaitu hiburan tari yang mampu membuat mereka yang melihatnya, ingin segera menikah bagi yang lajang.


“Ku dengar malam ini, ada seorang penari baru yang sangat cantik dan muda akan tampil menjadi hiburan penutup. Apakah Tuan Muda Chen tertarik untuk melihatnya.”


Walau terkejut, Chen An bisa menutupinya. Ia segera mengangguk dan mengajak ketiganya untuk menyaksikan hiburan utama itu.


Dengan lihainya, Hao Jie pura-pura menolak ajakan Chen An karena Ia baru saja kalah berjudi, membuat uangnya telah habis tak tersisa.


Chen An yang sedari tadi menyadari dirinya sedang di manfaatkan, hanya tersenyum. Yang Ia butuhkan saat ini adalah beberapa teman, agar penyelidikannya bisa berjalan sesuai rencana.


Sesaat kemudian, suara menggema seorang perempuan terdengar jelas di seluruh ruangan yang berada di tiga lantai bangunan tersebut.


Ia memberi tahu pengunjung rumah hiburan itu, bahwa pertunjukkan utama malam ini, akan segera di mulai.


Puluhan orang berduyun-duyun menaiki lantai tiga, lantai di mana pertunjukan itu akan dilaksanakan. Chen An mengajak Hao Jie dan kedua pengawalnya untuk masuk bersama. Tentu Saja semua biaya masuk Chen An yang menanggung.


Lima menit kemudian, Chen An dan Hao Jie serta dua pengawalnya, telah mendapat tempat yang lurus dengan panggung besar di depan mereka.


Setidaknya ada seratus pria yang berada di dalam ruangan tersebut. Suara hiruk-pikuk pun terhenti seketika, saat suara tabuhan musik pengiring mulai terdengar.


Mata Chen An melotot lebar mendapati dugaannya ternyata benar. Gadis penari baru itu adalah Cui Lan, yang tubuhnya sedang dikendalikan oleh Roh Phoenix Api Putih.


“Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Roh Phoenix itu dengan menari seperti itu?” Dahi Chen An berkerut.


Sikap Chen An yang merasa was-was itu, berbeda jauh dengan Hao Jie dan para pria lainnya. Mereka sedang bersorak riang melihat Cui Lan mulai menari dan meliukkan tubuhnya.


Saat Cui Lan melemparkan salah satu selendang yang Ia pakai, suasana semakin menjadi riuh. Saat itulah Chen An menyadari sesuatu.


Mata Cui Lan kembali berubah putih, seiring dengan menyebarnya sebuah energi tak kasat mata, yang membuat Chen tersentak kaget dan segera mengalirkan energi qi untuk melindungi matanya dari terpaan energi tersebut.

__ADS_1


######


__ADS_2