
Chen An menghabiskan hidangan yang Ia pesan dengan santai. Ia tahu dirinya diikuti oleh salah satu orang yang tadi menjaga gerbang selatan kota itu.
Setelah membayar hidangan yang Ia santap Chen An membeli dua guci arak yang Ia bawa keluar dari rumah makan tersebut. Chen An memilih melewati sebuah gang yang sepi lalu melesat keudara dengan cepat.
“Hah! Kemana perginya pemuda tadi?!” Penjaga yang mengikuti Chen An terkejut saat Ia memasuki Gang kecil itu. Lalu mencoba berlari untuk menyusul Chen An yang Ia duga telah berbelok di ujung gang.
Namun pandangan matanya seketika menjadi gelap. Dan saat tersadar, Ia terkejut mendapati dirinya berada di sebuah hutan.
“Mengapa Kau mengikutiku?!” Chen An bertanya sambil tersenyum geli, melihat raut wajah penjaga itu yang terkejut dan tak bisa bergerak sama sekali, karena tubuhnya telah Ia totok.
“Jawablah sebelum kesabaranku habis!” mendengar ancaman Chen An, pria itu menjadi ketakutan dan segera menjelaskan mengapa Ia mengikuti pemuda itu.
Mendengar itu Chen An menjadi yakin jika Kota Wuhu telah dikuasai oleh para pendekar aliran hitam. Saat bertanya mengapa tidak terlihat satupun prajurit di kota Wuhu, Pria itu hanya terdiam dengan tatapan heran.
“Apakah Tuan Muda tidak mengetahui jika Kekaisaran Jian telah runtuh. Saat ini Sekte Tongkat Hitam yang menguasai sebagian besar wilayah Kekaisaran Jian.”
Chen An terkejut mendengar hal tersebut, Ia memutuskan untuk menuju ke Ibukota Kekaisaran Jian. Setelah pria itu menjelaskan letak dan arah menuju Ibukota Jianchang, Chen An menghabisinya dengan sekali serangan.
Chen An melesat tinggi ke udara, dan melayang ke arah barat laut sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh pria tadi.
Saat melewati sebuah hutan besar, mata Chen An yang selalu mengawasi situasi di bawahnya, melihat sebuah pertempuran yang tak seimbang.
Chen An segera melesat turun dan berdiri diatas sepucuk pohon, mengamati situasi pertarungan di mana belasan orang prajurit sedang dikepung oleh lebih dari seratus orang yang sepertinya adalah pendekar.
“Lindungi Putera Mahkota dengan nyawa kita!” Seorang pria bertubuh kekar yang sepertinya adalah pimpinan para prajurit elit itu, berteriak membangkitkan semangat anggotanya.
Delapan orang prajurit elit yang berada dalam posisi melingkar itu, segera membenahi posisi mereka. Di tengah lingkaran, terlihat seorang anak berusia sekitar dua belas, berusaha menahan tangis akan situasi yang sedang Ia hadapi.
Di sekitar tubuhnya, telah tergeletak lima jasad prajurit elit yang selama menjadi pengawalnya.
__ADS_1
Mendengar itu, Chen An segera mengetahui permasalahannya. Sedetik kemudian, terdengar jerit kematian dari puluhan orang yang berjatuhan dengan nyawa melayang.
Kurang dari sepuluh detik kemudian, para pendekar yang mengepung para prajurit itu telah tumbang dan hanya menyisakan satu orang yang adalah pemimpinnya.
Chen An yang muncul sesaat kemudian, menyeringai ke arah pria itu. Ia memang sengaja tidak membunuh pimpinan pendekar yang berada di tingkat pendekar Bumi Tahap Menengah itu.
Kedatangan Chen An dan apa yang telah dilakukannnya, membuat lutut pria itu menjadi bergetar hebat. Ia tidak menduga seratus orang anak buahnya, tewas dalam waktu yang begitu cepat oleh seorang pemuda yang pantas menjadi anaknya.
“Siapa Kau!? Berani sekali membunuhi Anggota Sekte Tongkat Hitam!” Setelah mengumpulkan kembali keberaniannya, pria itu berkata kepada Chen An seraya menghunuskan pedangnya.
“Sekte Tongkat Hitam? Jadi kau anak buah Hong Qi dan Cheng Kun. Katakan dimana Ketua kalian berada!” Wajah Chen An berubah menjadi bengis.
Aura membunuh yag sangat pekat, memancar dari tubuhnya. Delapan orang prajurit yang telah kelelahan, seketika jatuh tak sadarkan diri.
Komandan Prajurit Elit Kekaisaran Jian, segera meraih Tubuh Putera Mahkota yang telah tak sadarkan diri. Ia pun berniat meninggalkan tempat tersebut, setelah merasakan aura membunuh milik Chen An.
“Jangan takut komandan, Aku tidak akan menyakiti kalian.” Ucapan Chen An yang lembut, membuat Komandan prajurit itu megurungkan niatnya.
Pria yang mengaku sebagai Tetua Ke 23 Sekte Tongkat Hitam, melompat ke udara sambil menebaskan pedang ke arah kepala Chen An.
TRAKK
Pedang tersebut patah menjadi dua bagian saat menyentuh kepala Chen An. Tetua Ke 23 itu terkesiap kaget, hingga Ia terlambat menghindari cengkeraman tangan Chen An pada lehernya.
“Katakan di mana Ketua kalian Berada saat ini!” Pertanyaan Chen An hanya dijawab dengan seringai tipis oleh Tetua Ke 23.
”Bunuh saja Aku. Aku tahu kau akan tetap membunuhku sekalipun Aku memberitahu mu. Hahaha hek!” Suara tawa Tetua ke 23 itu terhenti, seiring dengan nyawanya yang melayang karena tulang lehernya remuk diremas oleh Chen An.
Setelah melemparkan jasad pria itu, Chen An melangkah mendekati Komandan Pasukan Elit itu yang kini menatap dirinya dnegan wajah yang ketauktan.
__ADS_1
“Jangan takut komandan, Aku bukan dari kelompok mereka. “Ah mengapa mereka tidur di sini?” Chen An mengeluarkan satu buah guci araknya.
Dengan arak dari guci, Ia membuat delapan orang prajurit elit itu segera tersadar dari pingsannya. Dengan santai Chen An lalu menegak araknya.
“Komandan … Siapa nama Anda? Benarkah anak itu Putera Mahkota Kekaisaran Jian?” Tanya Chen An seraya duduk di samping komandan pasukan dan menyodorkan guci araknya.
Dengan takut-takut komandan pasukan itu menerima guci dan menjawab pertanyaan Chen An. “Nama hamba Chang Bin. Benar Tuan Pendekar, beliau adalah Pangeran Jiang Fu, Putera mahkota Kekaisaran Jian. Terimakasih atas pertolongan Anda.”
Setelah meletakan tubuh Jiang Fu, Komandan Chang Bin segera berlutut di hadapan Chen An, diikuti oleh delapan orang anak buahnya.
Chen An menepuk bahu Komandan Chang dan memintanya untuk duduk kembali. Chen An lalu bertanya apa yang telah terjadi di Ibukota Kekaisaran Jian.
Komandan Chang lalu menjelaskan jika Sekte Tongkat Hitam telah mengambil alih Ibbukota dan Istana Kekaisaran.
Entah bagaimana caranya, Ketua Sekte Tongkat Hitam berhasil menghimpun puluhan ribu pendekar aliran hitam untuk menyerang Ibukota Kekaisaran dan menguasai kota-kota besar lainnya.
“Lalu apa yang terjadi dengan Yang Mulia Kaisar? Apakah beliau masih hidup?” Tanya Chen An. Terlihat kesedihan di wajah Komandan Chang Bin sebelum Ia menjawab pertanyaan Chen An.
“Aku tidak tahu pasti Tuan Pendekar, Mungkin Yang Mulia telah …” Komandan Chang tak mampu melanjutkan kalimatnya. Chen An pun memahami apa yang ingin Komandan itu katakan padanya.
Tiba-tiba Chen An bergerak dengan kecepatan yang terduga, saat melihat puluhan pisau terbang, menderu cepat ke arah mereka.
Delapan orang prajurit yang duduk cukup jauh dari Chen An, tak bisa menghindari serangan yang sangat cepat itu. Mereka tewas dengan belasan pisau yang menancap di tubuhnya.
Sesaat kemudian, tubuh delapan prajurit itu terlihat mengepulkan asap hitam dengan daging tubuh yang meleleh seolah terbakar.
“Boleh juga Kau anak muda, bisa menghindari serangan dari kami, Lima Hantu Pisau Iblis.”
Lima orang Kakek muncul dari beberapa arah, mengepung Chen An dan Komandan Chang yang mendekaptubuhPutera Mahkota dengan tubuh yang bergetar hebat mendengar nama Lima Hantu Pisau Iblis.
__ADS_1
@@@@@