Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
025: Kisah Thio San


__ADS_3

Keduanya berhenti melayang. Kecurigaan kembali muncul di benak Kakek obat. Sedangkan Chen An sedang dilanda kebimbangan besar yang membuatnya diam, tidak menjawab pertanyaan itu.


“Apakah Aku harus memberitahunya jika benda yang Ia cari berada di tanganku? Bagaimana jika dia adalah sosok Tan Hu itu sendiri?” Dalam benaknya, Chen An berkata demikian.


“Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku Chen Cen! Kenapa Kau diam saja!” Bentak Kakek Obat yang sedang dirasuki rasa penasaran tingkat dewa.


Menyadari kekesalan Kakek Obat dan juga perbedaan kekuatan yang jauh diantara mereka, Chen An memutuskan untuk memberitahu hal tersebut. Namun Ia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.


“Kakek Obat … Benarkah Kakek bukan Sosok Tan Hu itu sendiri? Karena Aku belum mengetahui nama kakek yang sebenarnya. Jika kakek mau menyebutkan nama Kakek, Akan ku beritahu dimana Arte..”


CREP!


Ucapan Chen An terhenti karena lehernya, telah dicengkeram oleh Kakek Obat yang membuatnya sangat terkejut, karena begitu cepatnya Kakek itu bergerak.


“Lihat baik-baik Identitasku ini!”


Tiba-tiba muncul sebuah Plakat identitas yang bertuliskan kata “Thio San” di tangan kanan Kakek Obat itu. Plakat itu terlihat sangat berbeda dengan plakat yang Chen An miliki.


“Katakan dimana Kau melihat Artefak Harta itu?” Tanya Thio San sambil melotot lebar dan mengeraskan cengkeramannya. Chen An pun segera mengambil Artefak Harta itu dari balik jubahnya.


Wajah Thio San seketika berubah ceria, Ia menyambar Artefak itu dan melepaskan leher Chen An, yang nafasnya sudah terasa sesak, hingga membuatnya terbatuk sesaat kemudian.


“Dari mana Kau mendapatkan Artefak Harta milik Guruku ini?” Tanya Thio San yang langsung dijawab dengan cepat oleh Chen An.


Thio San Hanya mengangguk mendengar penjelasan Chen An. Sudah lama Ia menyelidiki keberadaan Artefak Harta milik Sang Guru, yang diberikan kepada murid Ketiganya.


Murid ketiganya itu adalah manusia dari Dunia Bawah, yang menolong Sang Guru saat baru tiba di Dunia Bawah dalam kondisi yang setengah hidup.


Hal itu Thio San ketahui, setelah tiga ratus tahun lebih Ia mencari keberadaan sang Guru. Ia berhasil menemukan tulang belulang gurunya itu, berada di dalam sebuah goa yang berada di Daratan Timur.

__ADS_1


Daratan itu berada di seberang lautan yang sangat luas di sebelah timur wilayah Kekaisaran Wei ini.


Dari surat tersegel yang ditujukan padanya itulah, Thio San mengetahui jika Sang Guru memiliki seorang murid dari Dunia Bawah. Muridnya itu berada di tempat yang kini menjadi wilayah Kekaisaran Wei.


Sepertinya Guru Thio San, sengaja menyembunyikan Cincin Ruang Dimensi miliknya, di tempat yang berbeda dan berjarak ribuan kilometer dari jasadnya.


Satu-satunya petunjuk keberadaan Cincin itu adalah Peta yang tersegel di dalam Artefak Harta yang dititipkan kepada muridnya yang bernama Xie Han.


Namun Thio San gagal bertemu dengan Xie Han karena pria itu telah mengasingkan diri, tanpa satupun anak atau cucunya yang mengetahui di mana Ia berada.


Seratus tahun kemudian, Thio San menemukan Xie Han. Namun sosok itu telah menjadi tulang belulang. Sejak itulah, terputus informasi Thio San dalam mencari jejak keberadaan Artefak Harta itu.


“Empat Ratus tahun lebih aku mencari Artefak ini. Keinginanku untuk kembali ke Dunia Atas, tinggal selangkah lagi. Hahahahaha … Terimakasih Chen Cen!”


Chen An yang masih terkejut mendengar empat ratus tahun lebih Thio San mencari Artefak Harta itu, kembali dikejutkan dengan pelukan erat dari Kakek Obat itu.


“Maafkan Aku Chen Cen. Aku terlalu senang telah mendapatkan Artefak ini.” Thio San segera melepaskan pelukannya. Ia memandang heran ke arah Chen An yang sedang terengah-engah nafasnya.


“Tubuhmu lemah sekali, tulang mu pun masih sangat rapuh. Sepertinya Jumlah kristal qi mu masih kurang dari seribu buah. Benar bukan?”


Walau terkejut mendengar perkataan Kakek Obat Thio San, Chen An segera mengangguk sebagai jawabannya. Saat ingin bertanya sesuatu, Thio San telah berkata yang membuatnya membelalakkan matanya.


“Bagaimana jika kau menjadi muridku saja Chen Cen … Masa hidup seribu tahun yang ku miliki, hanya tersisa kurang dari seratus tahun lagi. Kemampuan pengobatan dan Kultivasiku, belum ada yang mewarisinya. Apakah Kau bersedia menjadi muridku?”


“Seribu tahun? Apakah Kultivasi Kakek Obat berada di Ranah Dewa Semi Abadi?” Tanya Chen An dengan suara yang terdengar kagum.


“Benar … Aku berada di level tiga dari sembilan level Ranah Dewa Semi Abadi. Atau tiga tingkat di atas Ranah yang kau capai saat ini, Ranah Surgawi Level Dasar.”


Chen An menelan ludahnya, Ia tahu persis betapa hebatnya Kultivator Ranah Semi Abadi. Hal itu Ia ketahui dari ingatan Xiang Long yang terbunuh oleh Tianchang yang memiliki kultivasi Ranah Dewa Semi Abadi Level tujuh.

__ADS_1


“Kau belum menjawab pertanyaanku, Apakah Kau bersedia menjadi muridku?” Tanya Thio San untuk kedua kalinya.


Dengan cepat Chen An menjawabnya, bahwa Ia ingin menjadi lebih kuat lagi. Dan untuk itu, Ia membutuhkan seorang Guru sekuat Kakek Obat Thio San ini.


Thio San terkekeh, lalu mengeluarkan sebuah mangkuk dari Cincin Ruang yang tersemat di jari manis tangan kanannya. Lalu sebuah guci berisi arak pun Ia keluarkan dan mengembalikanya setelah mengisi penuh cawan tersebut.


Thio San mengedipkan mata, ujung jari telunjuknya seketika tergores dan mengeluarkan darah yang segera Ia teteskan ke dalam cawan.


Chen An pun menggores jari telunjuk kanannya hingga berdarah, kemudian meneteskan darah itu ke cawan yang sama.


Setelah membuat tetesan darah mereka bercampur dengan arak di dalam cawan besar itu, Thio San menegak lebih separuh isinya dan hanya sedikit menyisakan untuk Chen An.


“Kenapa sedikit sekali bagianku?” Gerutu Chen An dalam benaknya.


Setelah menegak arak itu hingga habis, Chen An menyadari mengapa Thio San menyisakan sedikit sekali untuknya. “Arak terlezat yang pernah ku minum, Guru apakah araknya masih ada lagi?”


“Itu arak terakhir yang ku miliki, Arak terlezat yang ku beli dari kota Lindong.” Jawab Thio San yang lalu mengajak Chen An untuk membawanya ke tempat tinggalnya selama di hutan siluman.


Setibanya di depan goa yang selama ini menjadi rumahnya, fajar telah menyingsing. Suasana di depan goa masih cukup gelap. Chen An hendak segera masuk setelah membuat telapak tangannya mengeluarkan bara api yang cukup besar.


Thio San tersenyum melihat muridnya itu menunjukkan kemampuannya yang umum dimiliki oleh Kultivator Ranah Langit.


“Tunggu Chen Cen … Ada orang yang terluka di dalam goa ini?!”


Penciuman Thio San yang tajam, bisa merasakan adanya tetesan darah bercampur air, berada di tanah di bawah kaki mereka.


Chen An terkesiap, Ia justru melesat masuk karena yakin jika orang di dalam goa adalah Fei Long, Sang Guru yang telah tiga tahun belum kembali.


######

__ADS_1


__ADS_2