Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
006:Menuju Selatan


__ADS_3

Fei Long lalu memberitahu Chen An bahwa mereka akan melakukan perjalanan ke arah selatan dalam waktu sebulan ini.


Jika tidak mengajak Chen An, Fei Long bisa lebih cepat tiba ditempat yang ingin Ia tuju. Dengan menggunakan teknik peringan tubuh, hanya butuh waktu satu minggu baginya untuk tiba di sana.


Keduanya pun melangkah menuju ke selatan setelah keluar dari gerbang Sekte sebelah barat.


Bocah berusia delapan tahun itu, memandang pilu ke tempat dimana dirinya dilahirkan yang kini telah hancur lebur.


Dendam membara di dalam hatinya, membuat Ia bertekad untuk berlatih menjadi lebih kuat lagi, demi membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya dan juga rekan-rekannya.


Panas dan hujan selalu mengiringi langkah mereka berdua. Walau masih berusia delapan tahun, Chen An memiliki tubuh sebesar anak berumur dua belas tahun.


Kekuatan tubuhnya tidak seperti anak seusianya. Hal itu karena Ia telah dilatih keras oleh sang Ayah sejak berumur lima tahun.


Sudah sejak beberapa bulan lalu Chen An mempelajari teknik peringan tubuh dari Ibunya. Penguasaannya pun telah mencapai tahap menengah, penguasaan tingkat kedua dari empat tahap penguasaan sebuah teknik.


Keempat tingkatan penguasaan itu adalah:


- Dasar


- Menengah


- Ahli


- Sempurna


Hanya saja Fei Long tidak menanyakan hal tersebut dan menganggap bahwa Chen An belum pernah belajar satu pun teknik beladiri.


Chen An memang tidak ingin pamer, karena ingin menuruti perkataan mendiang Ibunya. Sang Ibu selalu memberinya nasehat disela-sela istirahat dari latihan berat yang telah Ia jalani sejak tiga tahun lalu.


Satu minggu mereka berdua telah berjalan menuju ke arah selatan yang merupakan wilayah Kekaisaran Wei. Sudah dua kali penyakit gila Fei Long kambuh selama kurun waktu itu.


Sudah tiga kota dan dua desa yang mereka singgahi untuk mencari penginapan dan bermalam di sana.


Selama perjalanan, Fei Long sering memberi nasehat kepada Chen An terutama hal yang berkaitan dengan Dunia Persilatan.

__ADS_1


Saat perjalanan memasuki hari ke delapan, keduanya dikejutkan oleh suara pertarungan dan jerit ketakutan dari beberapa perempuan.


Hal itu sontak membuat Fei Long segera melesat ke arah suara dimana tiga puluh meter di depannya terdapat jalan yang menikung.


Chen An pun tak tinggal diam. Ia pun melesat dengan menggunakan teknik peringan tubuhnya, mengejar sang guru yang telah lima belas meter berada di depannya.


Setelah melewati tikungan, wajah Fei Long menunjukan kemarahan saat melihat puluhan orang sedang menyerang para pendekar yang sepertinya adalah pengawal rombongan pedagang itu.


Para pendekar yang berjumlah lima belas orang itu, terlihat mulai kewalahan menghadapi puluhan orang yang menyerang mereka dengan aura membunuh yang besar.


“Hentikan Serangan!” Fei Long berteriak dengan menggunakan tenaga dalamnya. Hingga suaranya menggelegar membuat mereka yang bertarung segera berhenti.


Jerit tangis para perempuan dan juga dua orang bocah kecil yang berusia sekitar lima dan tujuh tahun itu, segera saja ikut terhenti.


Tepat di saat itu, Chen An datang yang membuat Fei Long menjadi heran bagaimana Chen An bisa menyusulnya secepat itu.


Namun Fei Long segera mengabaikannya. Ia lalu melangkah mendekati kedua belah pihak yang kini telah mundur menjaga jarak satu sama lainnya.


“Kalian para perampok sialan! Cepat tinggalkan tempat ini atau kalian semua akan mati di tanganku.” Fei Long kembali membentak mereka setelah menyadari jika puluhan orang yang menyerang adalah para perampok.


“Hahahahaha … Kakek ompong dari mana yang sudah minta mati? Berani sekali bicara sombong di depan kami, Kelompok Serigala Hitam!”


Suara yang juga terdengar keras karena dialiri tenaga dalam, membuat Fei Long hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Sesaat kemudian, dua orang pria berperawakan tegap, melesat ke hadapan Fei Long dengan menunjukan sikap yang sombong.


Dari gerakannya, Fei Long bisa mengetahui jika kedua orang itu berada ditingkat pendekar Raja Tahap Puncak. Bukan lawan yang sulit baginya.


“Jadi kalian pemimpin para perampok ini?” Tanya Fei Long sambil tersenyum tipis.


“Hahahaha kakek bau sepertimu berani sekali menantang kelompok Serigala Hitam. Rasakan ini!”


Salah satu dari dua orang itu melompat setelah mencabut pedang di pinggangnya. Ia melompat dan menebaskan pedangnya ke arah leher Fei Long.


Dengan mudah Fei Long menghindari tebasan itu saat sejengkal lagi akan mengenai lehernya. Gerakannya yang begitu cepat membuat Pria itu terkejut.

__ADS_1


Belum sempat hilang rasa terkejutnya, Fei Long sudah kembali bergerak melepaskan pukulan kuat ke arah perut Pria itu.


Pukulan yang melesat sangat cepat itu, di luar dugaan lawan, sehingga dengan telak bersarang di perutnya.


BUGH


Tubuh pria itu terlempar lebih dari lima meter dengan darah yang menyembur keluar dari mulutnya. Ia jatuh ke tanah dan tak akan pernah bisa bangkit lagi karena nyawanya telah melayang.


Satu orang temannya yang awalnya terkejut melihat hal itu, kini berdiri dengan tubuh yang gemetar. Rasa takutnya lebih besar daripada rasa marah, membuat Ia segera melesat kabur meninggalkan tempat itu.


Fei Long hanya tersenyum tipis ketika melihat pria itu melesat pergi dengan wajah yang memucat.


Kepergian pemimpin mereka yang kini tinggal satu orang, membuat puluhan perampok lain segera kabur tunggang langgang meninggalkan tempat itu.


“Terimakasih Pendekar, Terimakasih telah menyelamatkan kami.” Seorang Pria berusia sekitar tiga puluh tahun, segera datang dan memberi hormat kepada Fei Long seraya mengucapkan terimakasih.


Fei Long hanya tersenyum tipis, Ia lalu menanyakan kemana tujuan mereka. Setelah mengetahui tujuan mereka satu arah dengannya, Fei Long pun akhirnya mau diajak melanjutkan perjalanan bersama menaiki kereta milik pria yang ternyata adalah bangsawan pemimpin rombongan itu.


“Sebentar aku harus membuang jasad orang itu biar tidak menimbulkan penyakit ke depannya nanti setelah tubuhnya membusuk.”


Tanpa menunggu Jawaban, Fei Long segera melesat setelah meraih kaki pemimpin perampok yang baru saja Ia bunuh dan membawanya pergi ke dalam hutan.


Tak sampai lima menit, Fei Long telah kembali. Ia lalu mengenalkan dirinya dan juga Chen An kepada pria Bangsawan itu.


Akhirnya Fei Long dan Chen An melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta kuda yang cukup mewah dan berukuran besar.


“Sesepuh Long … Ini Isteriku Rao Ji, Ini putera pertamaku Qiu Fang dan adiknya Qiu Ling.” Pria bangsawan yang bernama Qiu Feng itu memperkenalkan ketiga orang lain yang berada di dalam kereta besar itu.


Fei Long tersenyum dan Ia pun memperkenalkan dirinya kepada Isteri Bangsawan Qiu itu. Tak lupa Fei Long juga memperkenalkan Chen An sebagai muridnya.


Suasana akrab menghiasi perjalanan mereka hingga akhirnya mereka berpisah saat telah memasuki sebuah kota kecil yang bernama Lidong.


Fei Long menolak undangan Bangsawan Qiu Feng untuk menginap di rumahnya. Ia tak ingin lebih lama berurusan dengan mereka yang dari golongan bangsawan.


Fei Long dan Chen An akhirnya menemukan sebuah penginapan yang cukup bagus. Dan mereka segera memesan ruangan untuk menginap sebelum melanjutkan perjalanan esok hari.

__ADS_1


******


__ADS_2