Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
003: Rencana Hong Qi


__ADS_3

Hong Qi berhasil menyusul Jie Kang dan Ding Yao, beberapa saat kemudian Cheng Kun dan dua orang tetua sekte pun tiba di tempat tersebut.


“Bagaimana? Apakah kalian menemukan jejak Si Gila Fei Long itu?” Tanya Hong Qi.


“Kami tidak menemukannya Ketua Hong, Ia menghilang tanpa jejak sama sekali.” Jie Kang menjawab pertanyaan Hong Qi.


“Sebaiknya kita berpencar ke arah empat penjuru angin besok kita cari informasi ke beberapa kota yang berada di sekitar gunung ini. Besok pagi kita berkumpul kembali di Puncak Huashan.” Cheng Kun mengemukakan idenya.


Hong Qi pun setuju dengan sang adik, Ia memilih arah ke barat. Cheng Kun memilih ke arah utara. Sedangkan Ketua Jie Kang bersama tetuanya menuju ke timur.


Ketua Ding Yao dan tetuanya menerima bagian ke arah selatan. Beberapa jam lagi hari akan berganti malam. Mereka pun memutuskan untuk segera bergerak.


Dengan Ilmu peringan tubuh mereka, hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menuruni Gunung Huashan.


Sehingga saat hari telah menjadi petang, masing-masing dari mereka telah berada di sebuah kota kecil yang memang berada di Empat arah mata angin dengan Gunung Huashan sebagai titik tengahnya.


Sepanjang malam, masing-masing dari mereka menyusuri kota yang mereka temui. Berusaha mencari Informasi apakah mereka melihat seorang kakek dengan ciri-ciri yang Fei Long miliki.


Namun hingga malam telah mencapai puncaknya, tidak satu pun informasi mereka dapatkan tentang keberadaan Fei Long. Hal itu membuat masing-masing memutuskan untuk istirahat.


Keesokan paginya, puncak gunung Huashan kembali di datangi oleh Ke enam orang pendekar dari aliran Hitam itu.


Mereka terkejut saat tidak mendapati ke empat mayat yang mereka tinggalkan kemarin. Tidak terlihat jejak adanya hewan buas yang mendatangi tempat di mana ke empat mayat itu berada.


Mereka pun akhirnya menyebar dalam radius kurang dari satu kilometer dari tempat mereka berada saat ini, untuk mencari keberadaan ke empat mayat itu.


Namun setelah tengah hari, tidak satu pun dari mereka yang menemukannya.


“Siapa yang membawa mayat ke empat orang itu? Mungkinkah itu Fei Long?”


Hong Qi bertanya yang entah ditujukan kepada siapa.


“Jika itu Fei Long, kita pasti sudah bertemu dengannya saat kembali ke puncak gunung ini”. Cheng Kun menjawab pertanyaan Kakak Seperguruannya.


Hong Qi pun menjadi geram, setelah mengetahui tak satupun dari mereka mendapat informasi tentang keberadaan Fei Long maupun ke empat mayat itu.


Ia memutuskan untuk kembali ke sektenya dan akan mendatangi Sekte Tangan Suci demi melampiaskan kekesalannya terhadap Yuan Shi.


Cheng Kun pun menyetujui hal tersebut, mereka akhirnya menuruni Gunung Huashan, menuju ke arah timur untuk kembali ke sekte mereka masing-masing.


Setelah satu hari menempuh perjalanan pulang ke sektenya, Sekte Tongkat Iblis, Hong Qi langsung memerintahkan para tetua sekte untuk mengumpulkan seluruh anggota mereka yang berada di tingkat pendekar Ahli dan Raja.


SekteTongkat Iblis adalah sekte aliran hitam yang memiliki ribuan anggota. Mudah saja bagi Hong Qi, untuk mendapatkan pasukan yang terdiri dari seribu Pendekar Ahli dan seratus Pendekar Raja dan Lima Pendekar Bumi.


Dengan Kekuatan sebesar itu tidak mudah bagi sekte lain untuk mengimbangi kekuatan Sekte Tongkat Iblis.


Karena SekteTongkat Iblis memang merupakan sekte aliran hitam terkuat di Kekaisaran Jian saat ini.

__ADS_1


Tanpa menjeda waktu, pagi harinya Ketua Hong Qi dan Cheng Kun segera memimpin seribu lebih anggota Sekte Tongkat Iblis untuk menyerbu Sekte Tangan Suci.


Sekte Tangan Suci adalah salah satu sekte besar yang berada di kekaisaran Jian. Walau bukan yang terkuat, sekte tersebut cukup disegani karena keberadaan Yuan Shi.


Yuan Shi adalah satu dari belasan Tokoh dunia Persilatan Kekaisaran Jian yang berhasil menembus tingkat Pendekar Langit.


Namun berita tentang tewasnya Yuan Shi saat ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja.


Bahkan mungkin Sekte Tangan Suci sendiri belum mengetahui tentang hal ini. Sekte Tangan Suci berada di sebelah utara Gunung Huashan.


Untuk tiba di sana, mereka hanya butuh waktu tiga hari perjalanan kaki. Tentu saja hal itu bisa lebih cepat lagi ketika mereka adalah rombongan pendekar.


Seorang dikatakan pendekar Ahli apabila telah memiliki beberapa teknik dasar dengan penguasaan mahir.


Beberapa teknik tersebut adalah Ilmu peringan tubuh yang mampu mencapai ketinggian lima hingga tujuh meter saat melompat ke udara.


Sehingga perjalanan ke Sekte Tangan Suci berhasil ditempuh oleh Kelompok Sekte Tongkat Iblis dalam waktu satu setengah hari saja dengan berlari menggunakan Ilmu peringan tubuh mereka.


Apalagi mereka berlari tidak mengikuti jalan yang biasa digunakan, tetapi melewati hutan mendaki bukit dan menuruni banyak lembah, yang merupakan jalan pintas.


Setelah jarak mereka kurang dari lima kilometer, Hong Qi memerintahkan mereka untuk beristirahat selama beberapa jam di dalam hutan tersebut.


Dalam selang waktu itu, mereka gunakan untuk memulihkan tenaga dalam yang telah terkuras selama dalam perjalanan. Mereka menggunakan sumber daya berupa buah-buahan yang memiliki efek tinggi terhadap pemulihan tenaga dalam mereka.


Rencana Hong Qi, ia akan mulai menyerang beberapa jam setelah hari berganti malam. Karena pada waktu itulah penjagaan sekte biasanya melemah.


“Keanehan bagaimana?” Hong Qi balik bertanya. Cheng Kun hanya menggaruk kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Kakak seperguruannya.


“Keanehannya, kemana mayat mereka dan siapa yang membawa mayat mereka berempat.”


“Bukannya Si Fei Long yang melakukan hal itu? Karena tidak mungkin mayat-mayat itu bisa bergerak sendiri bukan? Sudahlah .. Kau jangan terlalu banyak berpikir adik Cheng hahahaha.”


Hong Qi berkata sambil menepuk bahu Cheng Kun. Ia sangat memahami jika Cheng Kun seorang yang jenius, bukan hanya dalam hal beladiri saja, tetapi juga dalam hal siasat dan strategi.


Jenius Yang Licik, itulah julukan Hong Qi kepada adik seperguruannya itu. Namun begitu, loyalitas Cheng Kun padanya, sangat tinggi.


Hal itulah yang membuat Cheng Kun merasa sangat sayang pada adik seperguruannya yang semasa kecil pernah Ia selamatkan nyawanya.


“Kakak … Sebaiknya kita menyerbu Sekte Tangan Suci saat hari baru berganti malam, tapi jangan terlalu malam.”


Cheng Kun lalu menjelaskan alasannya mengapa Ia berkata seperti itu. Kabar kematian Yuan Shi, bisa jadi telah di dengar oleh Ketua Sekte Tangan Suci, Chen Bun. Hal itu tentu akan membuat mereka menjadi waspada.


“Kakak … Biarkan Aku yang menghadapi Chen Bun. Sudah lama Aku ingin membunuhnya. Dengan kekuatanku sekarang, aku yakin bisa mengalahkan dia.”


Cheng Kun terlihat bersemangat saat mengatakan hal itu kepada Hong Qi.


“Hahaha … Adik Cheng apakah Kau masih ingin memiliki Chi Lin? Kau masih mencintai perempuan itu rupanya.”

__ADS_1


Cheng Kun terlihat memerah wajahnya. Ia hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan Hong Qi.


Hong Qi pun tak menolak keinginan Adik Seperguruannya itu. Ia pun segera memerintahkan salah satu Tetua yang memiliki kemampuan di Tingkat Pendekar Bumi untuk segera bersiap.


*


“Terimakasih telah menyelamatkan aku, Tuan Muda Bei.” Ucap Tetua Sekte Tangan Suci yang menemani Yuan Shi dalam pertarungan di puncak Huashan, tiga hari yang lalu.


Ia masih terbaring diatas dipan bambu yang berada di dalam sebuah gubuk kecil, berjarak lima kilometer dari tempat dimana Sekte Tangan Suci berada.


Sosok yang dipanggil Tuan Muda Bei adalah seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun. Ia adalah Cucu Yuan Shi, bernama Yuan Bei.


Kedua orang tua Yuan Bei, telah tewas saat menjalankan sebuah misi yang penting. Saat itu, Yuan Bei barus berusia lima tahun.


“Tak masalah Paman Xian Hu, Paman telah membantuku mendapat setengah Teknik dari Kitab Dewa. Lalu siapakah yang memiliki Kitab Dewa itu sekarang Paman?”


Tatapan tajam Yuan Bei, sempat membuat Xian Hu bergidik. Ia menyadari hasrat membunuh dari pemuda belasan tahun yang berambisi memiliki Kitab Dewa.


Ia memang tetua yang dipercaya oleh Yuan Shi untuk menjaga ruang rahasia di mana Kitab itu disimpan.


Namun karena tidak bisa menolak keinginan Yan Bai yang Ia rawat sejak berusia lima tahun, Ia terpaksa mengkhianati kepercayaan Yuan Shi dengan menyalin isi Kitab Dewa tersebut.


Namun baru setengahnya Ia berhasil menyalin isi Kitab Dewa itu, Yuan Shi mengambil Kitab tersebut. Lalu membawa kitab itu bersamanya, selama beberapa bulan melakukan latihan tertutup.


“Mengapa Kau diam saja Paman?” Tatapan Yuan Bei semakin tajam, saat ia bertanya demikian.


Xin Hu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjelaskan apa yang Ia ketahui tentang Kitab yang diinginkan oleh pemuda yang sudah ia anggap seperti puteranya sendiri.


BRAK!


Yuan Bei terlihat kesal, Ia menghantam salah satu dinding gubuk kecil itu hingga membuatnya berlubang besar.


“Sial! Kenapa Kakek menyerahkan Kitab Dewa pada orang gila itu? Arggghhh!” Xin Hu terdiam melihat kekesalan Yuan Bei yang tengah melangkah keluar gubuk.


Ia memilih diam, tidak mengutarakan sebuah rahasia yang hanya dirinya yang mengetahuinya. Rahasia tentang Kitab yang diserahkan kepada Fei Long.


“Jika yang diberikan kepada Fei Long adalah bagian pertama dari Kitab Dewa, lalu dimanakah Guru Yuan Shi menyembunyikan setengah bagian yang terakhir?”


Xin Hu bergumam lirih saat menyadari Yuan Bei telah pergi meninggalkan tempat tersebut. Sesaat kemudian Xin Hu terbatuk dan memuntahkan darah segar berwarna hitam dari mulutnya.


“Racun …?!” Wajah XIn Hu terkejut bukan kepalang, Ia lalu memeriksa bumbung bamboo yang telah Ia minum setengah isinya.


“Tuan Muda Bei kenapa Kau begitu kejam pada orang yang telah merawat dan menganggap dirimu sebagi puteranya…? Mengapa …?”


Xin Hu kembali terbatuk sebelum akhirnya jatuh tergeletak di tanah, tepat di samping dipan. Hal terakhir yang Ia lihat sebelum kembali tak sadarkan diri adalah sebuah guci kecil yang tergeletak di bawah dipan itu.


****************************

__ADS_1


__ADS_2