Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
027: Kekejaman Chen An


__ADS_3

Keheranan Chen An terjawab satu menit kemudian, terlihat tiga orang yang berjubah sama persis, berjalan sambil melihat tanah dimana terdapat tetesan darah yang sudah mengering.


Di bahu dua orang yang bertubuh lebih besar, terlihat sebuah golok besar dan kapak yang tak kalah besarnya.


Ketiganya berhenti saat berjarak lima meter lagi dari Thio San dan Chen An. “Chen Cen kau saja yang bicara sama mereka …?” Thio San lantas duduk santai di atas batu yang tadi diduduki oleh Chen An.


Salah satu dari tiga orang yang rata-rata berusia sekitar lima puluhan tahun itu, segera melangkah lalu bertanya kepada Chen An.


“Anak muda … Apakah kalian berdua yang menghuni goa ini?” Chen An mengangguk. “Ada apa paman bertiga mengunjungi tempat Kami?”


“Setelah melihat tetesan darah di sepanjang jalan ke arah sini, sepertinya orang yang kami cari berada di tempat ini. Apakah kau melihat dua orang perempuan melewati tempat ini?”


Tanya salah satu orang tersebut dengan sikap yang terlihat ramah. Berbeda dengan dua orang rekannya yang terlihat sudah gusar.


“Benar Paman … Mereka berdua ada di dalam. Apakah salah satu dari ketiga paman ini, yang membuat Ibu gadis itu terluka?” Tanya Chen An yang berharap mereka menjawabnya dengan kata iya.


“Kami terpaksa melukainya, karena dia melawan saat kami akan menangkapnya. Suaminya terpaksa kami bunuh karena tidak mau menyerah. Bisakah kau membiarkan kami menangkap mereka.”


Tanya sosok itu yang memancarkan aura kekuatan pendekar Langit Tahap Dasar untuk mengintimidasi Chen An.


Bagaimana pun juga, lelaki itu tidak ingin gegabah saat bersikap kepada Chen An. Mengingat hanya seorang pendekar saja yang mampu bertahan hidup di dalam Hutan Siluman.


“Kakak …. Kau masih saja suka bertele-tele. Bocah! Serahkan kedua perempuan itu atau kami terpaksa bertindak kasar padamu.”


Satu orang rekannya berkata sambil menurunkan kapak besar yang Ia bawa.


“Jadi Kalian rupanya yang telah membunuh Paman Cui San dan melukai Bibi Shi Ying?” Aura kemarahan Chen An seketika meledak, membuat ketiga orang itu segera waspada. “Bertindak kasar padaku? Lakukanlah jika kau mampu!”


“Bocah sombong! Matilah Kau” Sosok yang memegang kapak, segera melesat dan mengayunkan kapaknya ke arah kepala Chen An dengan tujuh puluh persen kekuatannya.


TRANG!


DUAGHH


“APA!!”


Dengan cepat Chen An mencabut Pedang Kristal Siluman dan menahan serangan Kapak besar itu. Ia melesatkan tendangan sangat cepat dan kuat ke arah perut lawan yang terbuka tanpa pertahanan.

__ADS_1


Tubuh besar pria itu, terpental belasan meter dengan Kapak yang terlepas dari tangannya. Sementara pandangannya menjadi gelap, sebelum tubuhnya berhenti membentur sebuah pohon besar.


Kedua rekannya terlalu terkejut dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Kejadian itu benar-benar di luar dugaan keduanya.


Kemarahan dan rasa jerih menjadi satu, saat mendapati adik termuda mereka, telah tewas dengan organ perut yang hancur.


“Kau!! Kau harus membayar kematian Adik Kami!!” Di puncak rasa sedih dan jerihnya, kedua orang itu berbalik menjadi sangat marah dan berani.


“Kakak … Kita gunakan jurus terkuat yang kita miliki dengan kekuatan penuh. Lebih baik mati di sini daripada tidak bisa membalas kematian adik.”


Setelah berkata demikian, Ia mengalirkan seluruh kekuatannya yang membuat golok besar di tangannya, memancarkan aura yang mencekam.


Sementara Sosok tertua dari ketiga orang itu, mengalirkan sembilan puluh persen tenaga dalam, ke arah kedua telapak tangannya hingga mengepulkan asap dingin.


“Boleh juga golok orang itu, Tapi Pedang Chen Cen benar-benar kuat.” Sekali lihat, Thio San bisa menilai kualitas senjata keduanya.


Di sisi lain, sorot mata Chen An berubah menjadi sangat kejam, saat menyadari sosok pria dengan tapak tangan yang berasap itu, adalah orang yang telah melukai Bibi Shi Ying.


Chen An mengalirkan seratus kristal qi, ke arah kedua lengannya yang berbeda. Tepat saat kedua orang lawannya melesat dengan serangan cepat dan mematikan.


TRANG


Kedua orang itu terpental beberapa meter ke belakang, saat Chen An menangkis tebasan golok dan serangan tapak ke arahnya.


“Kakak …!” Pria yang memegang golok terlihat menciut nyalinya. Kedua telapak tangannya masih belum berhenti bergetar, setelah benturan senjata dengan Chen An.


Sementara Sang Kakak, terlihat diam saja. Sebenarnya Ia sedang dalam situasi yang jauh lebih berbahaya.


Pusaran energi dingin di tubuhnya sedang kacau balau, setelah telapak tangannya berbenturan dengan Tinju Chen An yang berhawa sangat panas.


Chen An sendiri sedang sibuk menetralisir racun dingin yang menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Namun dari ketiganya, Ia yang lebih dulu berhasil menguasai diri.


Chen An kembali mengalirkan energi qi ke arah kedua lengannya. Ia berinisiatif untuk menyerang lebih dulu. Namun langkahnya terhenti saat melihat senyum salah satu diantara mereka.


“Kau memang hebat bocah, Tapi kami belum menyerah.” Setelah berkata demikian, Ia menelan sebutir pil kecil berwarna merah. Hal yang sama dilakukan oleh Sang Adik.


“Pil apa yang mereka minum?” Chen an bertanya dalam benaknya. Namun sesat kemudian, Chen An merasakan aura kekuatan kedua orang lawannya meningkat drastis.

__ADS_1


ARGGGHH ARRRRGGHH


Kedua orang itu berteriak bersamaan, melepaskan aura yang melampaui kekuatan Pendekar Langit Tahap Akhir. Chen An mendapati mata kedua orang itu berubah menjadi semerah darah.


Thio San yang semula terlihat santai, tersentak kaget melihatnya. Ia ingin berkata sesuatu kepada Chen An, namun semua sudah terlambat.


Kedua orang itu melesat sangat cepat ke arah Chen An yang sudah bersiap dengan jurus Hujan Seribu Pedang. Saat kedua lawannya sedang berada di udara, puluhan energi pedang menderu sangat cepat ke arah keduanya.


JLEEB DUAAR


JLLEB DUUAR


Masing-masing dari tubuh keduanya, tertusuk lebih dari lima energi pedang secara bersamaan. Energi pedang tersebut meledak satu detik setelah menancap di tubuh lawan.


Chen An hanya memandangi kabut darah dan serpihan daging serta kepala dua orang lawannya, yang terpenggal berlumuran darah.


Ia lalu menggerakkan tangannya, membuat serpihan daging serta kedua kepala dan jasad lawan yang masih utuh, mengambang di udara.


Setelah Chen An mengibaskan tangannya, semua benda yang melayang itu, terlempar ke dalam sungai selebar dua puluh meter yang berada tak jauh dari goa tersebut.


“Aaah sayang sekali … “ Thio San yang terlambat untuk mencegah serangan Chen An, hanya bisa menarik nafas panjang.


Sepertinya, Ia mengenali pil merah yang tadi diminum oleh kedua orang itu. Pil itu adalah pil yang sering dibuat oleh Tan Hu, saat masih berada di Dunia Atas.


Pil yang bisa meningkatkan kekuatan seseorang, hingga dua atau tiga level lebih tinggi dari kekuatan aslinya. Pil itu dibuat dari Inti Mutiara Beast.


Semakin tua usia Beast itu, semakin tinggi pula khasiat pil tersebut.”Tapi di Dunia ini tidak ada Makhluk Beast. Darimana Ia mendapat mutiara… Ah Siluman … Jadi begitu rupanya.”


Ingatan Thio San kembali ke masa hampir seratus tahun lalu, saat ia berada di sebuah hutan besar yang porak-poranda dan menemukan ribuan jasad siluman.


Kini Ia baru menyadari, bahwa dari mutiara siluman-siluman itu, Tan Hu membuat Pil Darah Iblis yang tadi digunakan oleh kedua orang lawan Chen An.


“Guru … Apa yang sedang guru pikirkan?” Pertanyaan Chen An membuat lamunan Thio San buyar seketika.


“Tidak ada .. Hanya saja Aku ingin segera menuju tempat yang ditunjukkan dalam peta peninggalan guruku itu. Tapi tidak mungkin kita meninggalkan kedua orang itu di sini bukan?”


Thio San lalu menambahkan, agar Chen An menanyakan mengapa ketiga orang tadi, memburu Ibu dan Anak itu. “Sepertinya mereka berdua memiliki sesuatu yang berharga yang diinginkan oleh ketiga orang itu.”

__ADS_1


########


__ADS_2