Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
052: Pertarungan 4 Kultivator II


__ADS_3

Tan Hu kembali menghilangkan tubuhnya. Sempat melintas kecurigaan di benaknya, saat melihat ketenangan yang ditunjukkan oleh Kakak Seperguruannya itu.


“Dia terlihat tenang sekali, cara apa yang akan dia gunakan untuk mengatasi kehebatan Jubah Emas yang bisa membuat tubuhku menjadi tak kasat mata dan menyembunyikan aura kekuatan penggunanya?”


Dengan perlahan dan hati-hati, Tan Hu melayang turun dan berhenti setelah berada sepuluh meter di bawah Kaki Thio San.


Ia lantas mengeluarkan Kapak Iblis dan bersiap membelah tubuh Kakak seperguruannya itu dari bawah.


Thio San yang sedang memejamkan matanya, hanya tersenyum tipis. Ia menggunakan rahasia yang diajarkan mendiang gurunya, Jurus Nadi Angin, Dengan Jurus itu, Thio San bisa mengetahui pergerakan seekor lalat, sekalipun berjarak tiga puluh meter dari tubuhnya.


Walau Ia bisa mengetahui posisi Tan Hu, Namun Thio San tidak mengetahui jika adik seperguruannya itu, telah memegang sebuah senjata.


“Mengapa Guru tidak mengeluarkan pedangnya?”


Chen An yang masih belum memulai pertarungannya dengan Yuan Bei, sempat melihat posisi Tan Hu. Namun, Ia tersentak oleh aura yang tak asing saat Yuan Bei mencabut pedangnya yang berbilah hitam.


“Pedang itu? Bukankah pedang Ketua Sekte Gagak Hitam? Bagaimana bisa berada di tangan Kakak Bei?”


BLAM


Suara menggelegar terdengar dari arah pertarungan antara Tan Hu dan Thio San. Terlihat tubuh Tan Hu terpental jauh akibat tendangan Thio San.


Tubuhnya terlempar dan berhenti setelah menghantam pepohonan di bawahnya dan membuat bagian sisi selatan Hutan Siluman porak-poranda hingga radius puluhan meter.


Di saat bersamaan, Yuan Bei tengah dirasuki oleh Roh Penghuni Pedang Elang Hitam, membuat matanya berubah menjadi hitam semuanya dengan rambut panjangnya yang berdiri tegak. Sosoknya berubah menjadi sangat menyeramkan.


Tubuh Chen An tersentak saat ia mendengar suara perempuan yang Ia kenali sebagai suara Mei Lin. “Sepertinya Kau butuh bantuanku. Dengan kekuatan yang kau miliki saat ini, kau bukan lawan Raja Elang Hitam, sekalipun Ia dalam wujud rohnya.”


“Tidak! … Aku tidak ingin tubuhku dikendalikan oleh Bangsa Roh lagi.” Chen An menolak dengan tegas walau Ia tidak memahami sepenuhnya perkataan Mei Lin.


“Dasar pemuda sombong! Kau pikir siapa yang membantumu hingga kau bisa melihat tubuh lawan Gurumu tadi hah?! Ya sudah kalau begitu, Aku mau tidur lagi …?”


“Eh tunggu Nona Lin … Jika kau bisa membantu tanpa mengendalikan tubuhku, Aku bisa menerimanya.” Chen An berkata terburu-buru dalam benaknya.


Namun tidak terdengar jawaban dari gadis tersebut, membuat Chen An merasa menyesal telah berlaku kasar terhadap Mei Lin.


Tanpa Chen An melakukannya, Pedang Bintang Merah tiba-tiba bergerak sendiri, keluar dari Cincin Ruangnya.”Rambut Merah … Kau sudah siap?” Suara Mei Lin kembali terdengar di kepala Chen An.


“Sudah Tuan Puteri …” Suara Roh Rambut Merah terdengar sopan, menunjukkan jika dirinya berada di bawah perintah Mei Lin. Perlahan, Bilah Pedang Bintang Merah pun berubah dari berwarna putih menjadi semerah darah.


“Kau Sudah siap Chen Cen …” Ucap Mei Lin dengan nada suara yang terdengar serius.


“Siap apa?” Tanya Chen An keheranan.


“Siap-siap untuk mati! “ Suara ketus Mei Lin membuat Chen An terkejut, sementara Roh Rambut Merah terkekeh berat. “Bersiaplah menerima sedikit energi dariku, akan terasa sedikit sakit, tapi hanya sesaat saja.”


Belum sempat Chen An meng-iyakan, tubuhnya tersentak seiring dengan mengalirnya energi dalam jumlah besar ke sekujur pembuluh darahnya.


“AARRRGGGGGHHHHH!!!!”

__ADS_1


Chen menjerit keras, merasakan sakit luar biasa saat energi dari Mei Lin merasuki jaringan otot dan tulangnya.


Aura sangat kuat segera memancar dari tubuh Chen An, membuat Tan Hu dan Thio San tersentak kaget dan melesat saling menjauhi satu sama lainnya.


Mereka memandang Chen An dengan mata membelalak lebar.”Kekuatan macam apa ini?” Tan Hu tak bisa menyembunyikan getaran suaranya. Seumur hidupnya, ini kali ketiga Ia merasa jerih melihat kekuatan lawannya.


AARGGGHHH!


Sesaat kemudian, Aura kuat lain yang mencekam, memancar dari tubuh Yuan Bei yang seiring hilangnya asap hitam yang tadi bergelung di kedua lengannya.


Tubuh Yuan Bei diselimuti aura merah kehitaman. “Tidak Kusangka, kekuatanku meningkat pesat jika berada di tubuh manusia yang memiliki energi qi.”


Suara Yuan Bei terdengar menjadi serak dan berat. Kekuatannya saat ini, tak berbeda jauh dengan kekuatan Tan Hu dan Thio San yang berada Di Ranah Dewa Semi Abadi level ke lima.


Tan Hu sedang terpana menyadari perubahan kekuatan muridnya. “Sebesar itukah kekuatan Roh Pusaka itu? Kekuatan Bei’er bisa meningkat puluhan kali lipat. Akan sekuat apakah Aku jika menggunakan kekuatan Roh Pusaka Kapak Iblis ini?”


BLAAAMMM


Pertanyaan Tan Hu tak menemui jawaban, karena tubuhnya dan Thio San terhempas puluhan meter karena ledakan energi yang muncul akibat benturan dua senjata dari Dunia Sembilan Benua itu.


Suara dentuman yang menggelegar, terdengar beberapa kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Radius kerusakan yang terjadi jauh lebih besar saat Chen An dan Yuan Bei memulai pertarungan mereka.


Beberapa kali Tubuh Yuan Bei terpental hingga lebih dari dua puluh meter. Jurus Pedang Angin yang Chen An gunakan, terlalu kuat bagi Roh Raja Elang yang mengendalikan tubuh Yuan Bei.


Raja Elang Hitam kembali melesatkan tubuh Yuan Bei hingga berjarak sepuluh meter dari tubuh Chen An. “Jurus Apa yang Kau gunakan tadi Rambut Merah!”


Chen An hanya tersenyum tipis. “Yang Kau lawan bukan Roh Rambut Merah. Tapi Aku, Sang Pemilik tubuh ini.”


Roh Raja Elang Hitam menggerakkan tangan Yun Bei ke atas kepala, lalu memutar pedang dengan sangat cepat.


Seketika awan bergulung dan berputar sejauh seratus meter dari ujung pedang itu. Angin sangat kencang menderu memasuki pedang dari segala arah.


Semakin lama gumpalan awan itu, semakin besar dan perlahan bergerak turun dengan bagian bawah yang mengerucut hingga akhirnya menyentuh ujung pedang.


Percikan Petir mulai muncul secara perlahan, lalu membesar dan terus semakin besar hingga dari ujung pedang di tangan Yuan Bei melesat puluhan petir hingga setengah Li (mil) jauhnya.


Pepohonan atau bebatuan yang terhantam petir itu, hancur menjadi debu dan menimbulkan kobaran api. Sementara Tan Hu dan Thio San, terlihat berjibaku menghindari sambaran petir yang nyasar ke arah mereka.


Karena percikan petir semakin besar dan jauh, Tan Hu dan Thio San melesat menjauh dengan arah berlawanan. Kini keduanya berada setengah Li jauhnya dari kedua pemuda yang sedang bertarung hidup dan mati itu.


Chen An tercengang dengan apa yang dilihatnya, dalam ingatan Xiang Long sekalipun, Ia belum pernah menyaksikan kekuatan sebesar ini.


Bletak!


“Wajahmu terlihat bodoh saat seperti itu, di dunia ku nanti, Kau akan menyaksikan kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari yang Kau lihat saat ini.”


Suara Mei Lin kembali terdengar di kepala Chen An. “Bagaimana Aku melawan Jurusnya.” Tanya Chen An was-was.


“Jangan khawatir, petir itu tak akan mampu membunuhmu. Jika tubuhmu terkena petirnya, paling buruk hanya berubah warna menjadi gosong. Berusahalah agar tidak mengenai wajah tampanmu itu … Hihihihi..”

__ADS_1


Chen An hanya menelan ludahnya, sementara Roh Raja Elang Hitam telah selesai dengan persiapan jurusnya. “Matilah Kau Bocah!”


JEDEAAAAAR!!


BUMMM!!


Puluhan Petir itu tiba-tiba bersatu padu membentuk sebuah petir raksasa yang kemudian melesat sangat cepat ke arah tubuh Chen An.


Terlambat sedetik saja, Tubuh Chen An akan terhantam Petir super besar itu. Walau tubuhnya tidak terkoyak, setidaknya rasa sakit yang luar biasa akan dirasakan olehnya.


BLAAAAARRRRRRR


Petir besar itu, menghantam sebuah bukit berjarak satu Li dari tempat tersebut. Bukit besar itu hancur dengan tanah yang berhamburan ke udara, menerbangkan pepohonan yang hangus terbakar.


Thio San dan Tan Hu sendiri terpana dengan mulut yang ternganga lebar melihat hal tersebut.


“Boleh juga Kau bocah!” Terlihat kekesalan di Wajah Yuan Bei saat Roh Raja Elang Hitam tersadar dari rasa terkejutnya, karena melihat begitu cepatnya Chen An menghindari serangan kuat darinya.


Petir-petir besar kembali melecut dari pusaran awan dan memasuki Pedang Elang Hitam, Chen An segera bersiap dengan Jurus dari Teknik Dewa Angin, jurus Pedang Angin Level ketiga atau yang terkuat.


Saat Chen An mengangkat pedang ke udara, Angin pun segera terhisap ke dalam bilah pedangnya.


Bahkan pusaran awan hitam yang berputar mengerucut itu, terlihat porak-poranda akibat daya hisap dari Pedang Bintang Merah yang begitu kuat.


Menyadari hal tersebut, Roh Raja Elang Hitam segera melesatkan dua energi petir yang besarnya setengah dari petir yang Ia lesatkan sebelumnya.


Chen An pun tak kalah cepat, Ia lalu menebaskan Pedang Bintang Merah Ke udara kosong di depannya.


Sebuah energi berbentuk pedang dengan panjang lebih dari sepuluh Meter dan lebar bilahnya mencapai dua meter, melesat keluar menghadang dua buah petir yang melesat dari Pedang di tangan Yuan Bei.


SHUUT


JEDAR JEDAR


BLAAAAAMMMM


Ledakan energi yang sangat besar sekali,


membuat tanah berguncang hingga radius dua kilometer lebih. Semua benda yang ada dalam radius tiga ratus meter dari pusat ledakan, hancur menjadi debu yang berwarna hitam.


Tubuh Yuan Bei dan Chen An masih belum terlihat dari posisi dimana Thio San dan Tan Hu berada. Karena kepulan asap hitam membumbung setinggi puluhan meter dan menutupi tubuh keduanya.


Pusaran Awan Hitam yang mengerucut pun terlihat porak-poranda dan kembali menyebar ke segala penjuru.


Suasana menjadi tegang bagi kedua saudara seperguruan itu, membuat keduanya perlahan melayang mendekat ke arah murid mereka masing-masing.


Saat jarak mereka kurang dari seratus meter lagi, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh dua teriakan kuat yang membuat debu-debu itu terhempas hingga memperlihatkan kedua pemuda yang kini jarak tubuh keduanya begitu dekat.


Bilah Pedang Bintang Merah berada dalam genggaman tangan Kiri Yuan Bei, sedangkan bilah Pedang Elang Hitam berada dalam genggaman tangan kiri Chen An.

__ADS_1


Bukan itu yang membuat Thio San dan Tan Hu tertegun dengan apa yang mereka lihat.


@@@@@


__ADS_2