Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
047: Dewi Obat


__ADS_3

Qiu Ling memeluk Sang Nenek dengan air mata yang berurai. Nenek tersebut sepertinya sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada putera tunggalnya, Qiu Feng.


Melihat sosok nenek itu, Thio San hanya menghela nafas. “Ruwet nih urusan. “ Thio San lantas melesat ke udara, hal yang membuat semua orang ternganga melihatnya, kecuali Chen An.


“Tua Bangka! … Jangan pergi kau … Urusan kita belum selesai.” Sang Nenek berteriak marah. Bertahun-tahun Ia mencari Thio San dan saat bertemu dengannya, Kakek itu justru pergi sebelum urusan mereka selesai.


“Chen Cen … Jika urusanmu telah selesai di sini, temui Guru ditempat yang ada di Peta Artefak Harta.” Terdengar Suara Thio San walau tubuhnya telah berada satu Li jauhnya dari tempat tersebut.


“Siapa yang bernama Chen Cen?!” Karena masih kesal, Sang Nenek berteriak marah sambil mengedarkan pandangannya. Ia ingin melampiaskan kemarahannya pada murid Thio San.


Chen An hanya bisa menggaruk kepalanya. Di saat bersamaan, Bangsawan Hao dan beberapa orang berpakaian militer Kekaisaran Wei, keluar dari dalam bangunan.


“Aku yang bernama Chen An, Nenek.”Chen An membungkuk sambil memberikan hormatnya dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.


“Huh … Jadi Kau murid Kakek Peot itu?” Tanya Sang Nenek menatap Chen An dengan penuh kemarahan. “Benar Nenek … Mengapa Nenek …”


Chen An yang penasaran ada permasalahan apa Gurunya dengan Nenek itu, segera bertanya. Namun, bukan jawaban yang Ia dapatkan, melainkan sebuah serangan kuat yang mematikan.


“Nenek! Jangan …!” Qiu Ling berteriak kaget melihat Neneknya menyerang pemuda yang pernah menolong keluarganya dari usaha pembunuhan.


Namun, Nenek tersebut tidak menghentikan serangannya, membuat Chen An terpaksa melompat ke udara, setelah menghindari serangan cepat tersebut. Ia berhenti di udara pada ketinggian sepuluh meter dari tanah.


Semua orang, kecuali Qiu Feng dan Qiu Ling, kembali ternganga melihat apa yang Chen An lakukan. Beberapa orang bahkan mengusap matanya, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Bocah ini kemampuannya sangat tinggi, tapi mengapa tadi Ling’er melarangku menyerang dia…?” Sang Nenek yang telah tersadar dari terkejutnya, menatap Chen An yang berada di udara.


“Nenek … Jangan bertarung dengan An Gege. Dia Pemuda baik yang pernah menolong ayah dan kami semua dari rencana pembunuhan Kelompok Topeng Baja.”


Perkataan cucunya, membuat Si Nenek terkejut. Ia menatap Chen An dengan wajah yang terlihat bersalah.”Maafkan Aku anak muda. Turunlah! Aku ingin bertanya padamu.”

__ADS_1


Chen An melesat turun dan berada di depan Qiu Ling dan Sang Nenek. “Apakah yang ingin Nenek tanyakan? Ada permasalahan apa Nenek dengan Guruku?” Ucap Chen An tanpa menurunkan kewaspadaannya.


Sang Nenek terdiam seraya menunduk, Ia tak ingin semua orang ditempat itu mengetahui permasalahannya dengan Thio San.


“Sudahlah lupakan hal itu, Apakah Kau tahu maksud perkataan Gurumu tentang Ia menemukan Tubuh yang bisa mewarisi Ilmu Alkemisnya? Apa yang Ia maksud dengan Alkemis itu?”


Menggunakan ingatan Xiang Long di kepalanya, Chen An menjelaskan secara detail yang dimaksud dengan alkemis.” Ku rasa, Kakak Fang memiliki tubuh istimewa dalam bidang pengobatan.”


Dahi Sang Nenek berkerut.”Apa maksudmu dengan tubuh istimewa?”


“Aku mencium aroma obat dari tubuh Guru, demikian juga dengan Tubuh Kakak Fang, Aku pernah membaui aroma obat di tubuh Kakak Fang saat … Saat kami berlatih tanding…”


Qiu Fang tersenyum, Ia semakin bersimpati kepada Chen An yang tidak mengatakan peristiwa sebenarnya, saat dulu Chen An memaksanya berjanji, untuk tidak membocorkan kemampuan melayangnya.


Di saat itu pula, Qiu Fang juga menyadari jika Chen An membaui aroma obat-obatan yang keluar dari tubuhnya.


Sang Nenek menghela nafas panjang.


Dengan bahan obat langka tersebut, Qiu Fang berhasil disembuhkan. Namun dari tubuhnya keluar aroma obat-obatan dan hal itu terjadi di saat-saat tertentu saja.


“Saat Fang’er merasa ketakutan atau panik, aroma obat akan memancar keluar dari tubuhnya. Kurasa Kau membuatnya panik saat berlatih tanding.”


Chen An tersedak ludahnya sendiri, seraya menatap Qiu Fang yang segera ikut berbicara. “Serangan Adik An sangat cepat Nek … Aku menjadi panik karenanya…”


“Benarkah begitu?” Tanya Nenek Dewi Obat sambil menatap tajam cucunya itu. “Eh … tentu saja benar Nenek… Fang’er mana berani berbohong pada Nenek” Ucap Qiu Fang sambil merajuk dan mulai memijat bahu Sang Nenek.


“Kau ini … Selalu saja merajuk kalau Nenek sedang Marah… Sama saja seperti … Ayahmu….” Suasana seketika berubah sedih, saat terucap kata ayah.


Qiu Ling kembali terisak, Nenek Obat segera memeluk kedua cucunya. Ketiganya Larut dalam kesedihan, karena telah kehilangan orang yang sangat mereka sayangi.

__ADS_1


Suasana hening yang terjadi beberapa saat itu, dipecahkan oleh suara dari Bangsawan Hao yang berkata seraya melangkah mendekati Chen An.


“Pendekar Chen … Bagaimana situasi di Gerbang Barat? Apa yang terjadi?”


Chen An lalu menjelaskan tentang ribuan pengungsi yang berasal dari Kota Shanzui serta belasan desa yang di sekitar kota tersebut.


Chen balik bertanya siapa orang-orang yang mengenakan seragam militer Kekaisaran Wei itu. “Apakah Mereka pasukan bantuan dari Ibukota?”


“Bukan … Mereka adalah pasukan penjaga Kota Suzhao yang tersisa setelah diserbu oleh Kelompok Pendekar dari beberapa Sekte Aliran Hitam.”


Hao Yan menjelaskan jika seratus orang dari seribu penjaga Kota Suzhao, berhasil melarikan diri dengan membawa serta Gubernur Lin Dong dan keluarganya.


Mereka menuju ke Kota Zhaodong yang berada di selatan, karena wilayah utara telah berhasil dikuasai oleh kelompok pemberontak yang berasal dari pendekar aliran hitam.


“Bagaimana mengurus para pengungsi ini? Cepat atau lambat, Kota Zhaodong ini akan diserbu lagi oleh mereka.” Chen An bertanya yang membuat Bangsawan Hao mengajaknya masuk ke dalam bangunan.


“Mari masuk ke dalam, ada beberapa ruangan kami yang masih kosong dan bisa Anda tempati bertiga.” Bangsawan Hao berkata kepada Nenek Obat setelah mendengar penjelasan Chen An tentang jati diri ketiganya.


“Terimakasih Tuan Hao, Maaf merepotkan Anda.” Nenek Obat membalas penghormatan Hao Yan seraya mengikuti mereka masuk ke dalam sebuah ruangan besar.


Di dalam ruangan tersebut, ada beberapa orang yang masih duduk dengan wajah yang terlihat letih dan pucat. Mereka adalah Bangsawan Lin Dong bersama isteri dan puteranya, serta seorang gadis yang tak kalah cantik dari Cui Lan maupun Qiu Ling.


Di kursi yang lain, terlihat seseorang dengan bahu kirinya dibalut oleh kain yang ternoda rembesan darah. Dia adalah Lu Bei, pengawal pribadi bangsawan Lin Dong.


Di Sisi yang berbeda, terlihat Shi Ying dan Cui Lan, yang segera berdiri ketika melihat Chen An datang.


“An Gege … Kau Baik-baik Saja bukan?” Tanyanya dengan suara yang terdengar khawatir.


“Tentu dia baik-baik saja, An Gege bukan pendekar sembarangan.” Suara yang sedikit ketus terdengar dari Qiu Ling yang entah mengapa, merasa kesal terhadap sikap Cui Lan.

__ADS_1


“Aku tidak bertanya padamu, mengapa Kau yang menjawab?!” Cui Lan yang mendengar gadis seusianya itu memanggil Chen An dengan kata-kata “An Gege”, berkata dengan nada yang tak kalah Ketusnya.


@@@@@


__ADS_2