
Merasakan Aura Iblis mengepung Tuannya, Roh Rambut Merah segera memberi isyarat pada Chen An untuk mengeluarkan Pedang Bintang Merah.
Chen An segera mengeluarkan Pedang berbilah merah itu, tepat saat puluhan Hewan Siluman berbagai jenis muncul di dekatnya dengan mata yang menyala merah.
Roh Rambut Merah, segera mengeluarkan aura membunuhnya. Hal itu membuat langkah ribuan siluman itu terhenti dan perlahan bergerak menjauhi Chen An.
“Aura ini … Aura milik Si Rambut Merah, bagaimana dia bisa berada di Dunia ini? Apa yang dia cari di sini?” Sosok misterius yang mengendalikan ribuan siluman itu, sempat menelan ludahnya.
“Aku harus segera kembali ke Dunia Sembilan Benua untuk memberi tahu Kaisar Shi Wang jika Si Rambut Merah juga berada di Dunia ini.” Sosok itu sepertinya merasa jerih, setelah merasakan aura kekuatan Roh Rambut Merah.
Sebelumnya, Ia sempat merasakan aura kekuatan yang kuat dari tempat ini, saat Chen An sedang bertarung dengan Cai Lung. Ia memutuskan mendatanginya, berharap mendapatkan informasi dari salah satu diantara mereka.
Saat tiba di tempat yang ternyata sebuah hutan dan dihuni oleh ribuan siluman, Ia memutuskan untuk mengendalikan siluman-siluman itu agar menangkap Chen An untuk Ia mintai informasi secara paksa.
Namun, tidak Ia duga sama sekali akan merasakan Aura kekuatan milik Sosok yang dikenal dengan sebutan “Si Pembantai” Di Dunia Sembilan Benua.
Ia pun memilih untuk meninggalkan Dunia ini, setelah mengetahui keberadaan Si Rambut Merah. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari Cincin ruangnya, yang segera Ia aliri energi qi dalam jumlah yang besar.
Setelah memunculkan sebuah lingkaran cahaya besar yang berlubang di bagian tengahnya. Setelah mengeluarkan dua buah sayap burung sepanjang dua meter dari punggungnya, sosok itu segera melesat memasuki lubang cahaya tersebut.
Setelah tubuh Manusia Bersayap hitam itu menghilang, warna merah pada mata seluruh hewan siluman ikut menghilang. Hal itu membuat ribuan siluman lari tunggang langgang, saat merasakan aura membunuh dari Rambut Merah.
“Aura tadi jika tidak salah adalah Aura milik Raja Burung Gagak. Mengapa dia berada di dunia ini? Apa yang sedang dicari oleh Manusia Suku Hewan?”
Roh Rambut Merah bergumam, tepat setelah Chen An selesai mengobati Gurunya yang masih belum tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
“Manusia Suku Hewan? Rambut Merah apa maksudmu berkata seperti itu? Tolong jelaskan tentang Dunia Sembilan Benua padaku.” Chen An yang sempat mendengar kata terakhir dari Rambut Merah, Ia pun segera bertanya karena penasaran.
“Apakah Tuan Puteri tidak menjelaskan tentang Dunia Sembilan Benua pada Anda, Tuan Chen?” Tanya Roh Rambut Merah dengan suara keheranan.
“Kalau sudah kenapa Aku bertanya padamu!” Chen An menjawab dengan suara yang terdengar kesal. Roh Rambut Merah terkekeh geli, sebelum akhirnya memulai penjelasannya.
Disebut Dunia Sembilan Benua karena di dunia itu terdapat sembilan benua besar yang dihuni oleh Suku Manusia yang berbeda-beda. Setiap Benua dikuasai oleh seorang Kaisar yang memiliki kultivasi paling tinggi dan terkuat di sukunya.
Dirinya dan Mei Lin berasal dari Suku Manusia Angin yang berada di Benua Angin. Disebut Manusia Angin karena manusia Di Benua itu memiliki kemampuan untuk mengendalikan Angin.
Seorang Manusia Suku Angin yang Tingkat Kultivasinya telah mencapai Ranah Dewa, dapat mengubah elemen tubuhnya menjadi berbentuk seperti angin tornado.
Semakin tinggi kultivasinya, semakin besar angin tornado yang bisa mereka buat dan semakin besar pula daya hancurnya. Selain itu, lama atau sebentarnya mereka bisa berada dalam wujud Angin, juga ditentukan oleh Tingkat Kultivasi yang telah mereka capai.
“Di Benua Kami, terdapat Aturan yang melarang pernikahan antar suku, tetapi banyak yang melanggarnya. Salah satunya adalah Orang Tuaku.” Rambut Merah Terdiam sejenak.
Chen An terlihat takjub mendengar perkataan Roh Rambut Merah. “Lalu bagaimana dengan Mei Lin? Apakah dia juga sama dengan mu?”
“Hampir sama, namun berbeda. Ayah Tuan Puteri Mei Lin, berasal dari Klan Dewa yang disebut sebagai Dewa Angin, sedangkan Ibunya adalah seorang Puteri Kaisar Benua Angin terdahulu.”
Penjelasan Roh Rambut Merah cukup mengejutkan Chen An. “Pantas saja Kau terlihat takut padanya, rupanya dia adalah seorang Puteri Dewa.” Ucap Chen An yang segera disanggah oleh Rambut Merah.
“Bukan karena itu saja, tetapi lebih pada kekuatannya yang sangat mengerikan. Bahkan Dewa Angin sendiri terpaksa turun tangan untuk menghentikan kekejaman Tuan Puteri Mei Lin yang ingin menguasai Dunia Sembilan Benua Ratusan tahun lalu.”
Chen An mengangguk, kemudian bertanya mengapa Mei Lin menjadi sekejam dan berambisi sebesar itu. Namun suara Thio San yang telah tersadar, membuatnya berhenti berbicara dengan Roh Rambut Merah.
__ADS_1
Setelah memasukkan kembali Pedang Bintang Merah ke dalam Cincin Ruangnya, Chen An segera bertanya pada gurunya, yang sedang terheran dengan kondisi tubuhnya saat ini.
“Chen Cen … Apa yang telah terjadi pada Guru? Kenapa Tubuh Guru terasa lebih ringan dan lebih bugar? Di mana kita sekarang?”
Thio San melemparkan pertanyaan beruntun yang membuat Chen An menggaruk kepalanya seraya tersenyum.
Setelah menjelaskan apa yang terjadi, Thio San tentu saja terkejut bahagia. Pasalnya, setelah hampir saja mati, Kultivasinya saat ini justru meningkat dan telah berada di Level Puncak Ranah Dewa Semi Abadi.
Chen An mengajak Gurunya untuk segera kembali ke Kota Zhaodong. Ia ingin segera berpamitan kepada Cui Lan dan Lainnya. Saat ini, Chen An ingin kembali Kekaisaran Jian untuk mencari Hong Qi dan Cheng Kun.
“Chen Cen … Mengapa Kau terburu-buru? Adakah sesuatu yang membuatmu mengambil keputusan itu?” Tanya Thio San saat keduanya mulai melayang di remangnya malam.
“Benar Guru … Tapi Aku tidak bisa mengatakannya kepada Guru saat ini. Aku akan memastikan sesuatu hal terlebih dahulu.” Dahi Thio San mengerut. Sedikit heran dengan jawaban muridnya.
“Chen Cen … sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu dari Guru. Benarkah begitu?” Tanya Thio San menyelidik.
“Guru … Aku akan mengatakannya nanti, saat kita berdua telah berada di Dunia Atas. Saat ini Aku ingin mengunjungi Kekaisaran Jian untuk mencari Hong Qi dan Cheng Kun. Guru boleh ikut dengan ku kesana.”
Walau masih penasaran, Thio San akhirnya menelan ludahnya dan berhenti untuk bertanya lebih lanjut.
“Jika begitu rencana mu, sebaiknya Aku tinggal di Kota Zhaodong untuk melatih Ling’er dan Fang’er terlebih dahulu. Kau selesaikan saja urusan mu di Kekaisaran Jian. Aku akan sampaikan kepada mereka tentang kepergianmu ke sana.”
Chen An terdiam sejenak. Ia pun memutuskan untuk berangkat ke kekaisaran Jian saat ini juga. Setelah berpamitan pada Sang Guru, Chen An melesat ke arah utara, tempat dimana Kekaisaran Jian berada sekaligus tanah kelahirannya.
Chen An melayang perlahan dan mengeluarkan Pedang Bintang Merah, untuk melanjutkan perbincangan berbincang sebelumnya dengan Roh Rambut Merah.
__ADS_1
@@@@@