
“Kita lihat dulu pertarungan mereka. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuan pemuda itu.” Jawabnya rekannya dengan santai.
Rekannya yang bertanya tadi, mengangguk setuju. Ia juga penasaran terhadap pemuda yang masih begitu belia, tapi telah memiliki kekuatan setinggi mereka.
Bukan hanya Chen An saja yang menyadari kedatangan dua orang di atas bangunan itu. Kelima lawannya juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan Chen An.
“Kita habisi dulu pemuda ini secepatnya! Serang!”
Secara bersamaan, kelima orang itu bergerak menyerang Chen An dengan senjata masing-masing serta jurus terkuat yang mereka miliki.
Pertarungan mereka pun terjadi dengan sengitnya. Walau diserang dengan bertubi-tubi, Chen An mampu menghindari setiap serangan lawan dan sesekali membalasnya.
Andai saja energi qi-nya tidak terkuras habis, mungkin Chen An sudah membunuh satu atau dua orang lawannya. Jurus-jurus dari Kitab Dewa, akan sangat berbahaya jika menggunakan energi qi.
Pertukaran serangan telah mencapai puluhan kali. Situasi terasa semakin mencekam, bagi siapa saja yang melihatnya.
“Lima orang pendekar Tingkat Langit tahap Menengah tidak mampu merobohkan seorang pemuda belasan tahun? Aku tak akan percaya jika tak melihatnya sendiri.” Ucap salah satu sosok di atas atap itu.
“Sudahi kekaguman mu. Ayo kita masuki pertarungan itu.” Rekannya yang lain berkata seraya melesat turun. Rekannya pun segera mengikutinya.
Kedatangan dua orang itu, membuat pertarungan terhenti secara tiba-tiba. Komandan Chao tersenyum ceria, saat mengenali kedua orang yang baru datang itu.
“Tuan Pang Hu, Tuan Shao Jie … Beruntunglah Anda telah datang ke kota Shanzui ini.” Kedua orang itu mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Komandan Chao.
Chen An menarik nafas lega saat mengetahui kedua orang itu berada di pihak mereka. Hal sebaliknya terjadi pada ke lima Anggota Kelompok Langit Dua.
“Ketua kita telah tewas, salah satu diantara kita harus ada yang selamat dari sini dan memberitahu kepada Ketua Dua tentang hal ini. Adik ketujuh, pergilah kami akan menahan mereka untukmu.”
Sosok yang dipanggil Adik ketujuh awalnya menolak, namun karena keempat kakaknya yang lain memaksanya, Ia pun terpaksa melesat meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Melihat satu orang hendak meninggalkan tempat itu, Chen An segera bergerak untuk menghadangnya. Namun gerakannya dihadang oleh dua orang lawan.
Melihat itu, Pang Hu dan Shao Jie pun bergerak membantu. Pertarungan tiga lawan empat pun tak terelakkan. Namun pertarungan kali ini berlangsung dengan cepat.
Sosok yang melawan Pang Hu, harus mengakui kehebatan lawannya yang satu tahap di atas kekuatannya. Belum dua puluh kali pertukaran serangan, dadanya telah terhantam tapak lawan.
Hal itu membuatnya roboh ke tanah dengan dada yang berlubang membentuk sebuah telapak tangan. Sementara Chen An telah berhasil menebas putus leher salah satu lawannya.
“Jurus Pedang yang hebat. Aku belum pernah melihat jurus ini sebelumnya. Dari Sekte mana dia berasal?” Pang Hu berkata demikian dalam benaknya, setelah melihat Chen An menghabisi lawan terakhirnya.
Di saat bersamaan, Shao Jie berhasil membunuh lawannya dengan tendangan kuat yang membuat kepala lawannya retak dan tergeletak bersimbah darah.
“Terimakasih Sesepuh, telah datang membantuku.” Chen An menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda penghormatan.
“Siapa namamu anak muda? Dan dari sekte mana kau berasal?” Pang Hu bertanya dengan tatapan kagum pada Chen An. Dalam benaknya, Ia menyadari jika ia bertarung dengan pemuda itu, sulit baginya sekalipun untuk bisa menang.
“Namaku Chen An Sesepuh, Aku tidak berasal dari sekte manapun. Aku hanya dilatih oleh Guruku Fei Long.”
“Apakah Sesepuh berdua mengenal Guruku? Sudah tiga tahun ini Aku tidak bertemu dengannya. Saat ini aku sedang mencarinya.”
Suasana menjadi tegang saat tiba-tiba Pang Hu dan Shao Jie mengerahkan tenaga dalamnya. Aura kekuatan keduanya, membuat Chen An terkejut dan segera waspada.
“Kebetulan sekali kami bertemu denganmu, bocah! Gurumu telah membunuh puluhan murid kami dengan brutal. Kami akan membunuhmu untuk membalas dendam!” Kemarahan terlihat jelas dalam suara Pang Hu.
Bagai disambar petir, semua orang terkejut mendengar hal tersebut. Komandan Chao ternganga, tak menduga sama sekali akan apa yang sedang terjadi.
Sementara Luan Hu, Qiu Fang dan Gao Shu terlihat kebingungan. Di saat itulah Qiu Feng yang keluar dari dalam rumahnya, setelah pengawal memberitahu pertempuran telah berakhir.
“Ah Tuan Pang Hu, Tuan Shao Jie… Selamat datang di Kota Shanzui. Maafkan saya yang tidak menyambut anda berdua dengan benar.”
__ADS_1
Qiu Feng tentu saja mengenali kedua orang Pengawal Pribadi Kaisar tersebut. Pang Hu dan Shao Jie menarik kembali kekuatannya, demi menghormati Gubernur Kota tersebut.
“Urusan kita belum selesai bocah!” Chen An hanya diam saja, saat Pang Hu dan Shao Jie melewatinya, mengikuti langkah Qiu Feng yang pura-pura tidak mengetahui masalah diantara mereka.
Qiu Feng telah mendengar perkataan keras Pang Hu dengan jelas. Tentu saja Ia tak bisa membiarkan kedua pihak saling bertarung. Karena mereka telah sama-sama berjasa kepadanya.
Sementara Chen An hanya berdiri diam, termenung dengan berita yang baru saja Ia dengar.
“Mengapa Guru melakukan perbuatan keji itu? Apakah penyakit gila guru kambuh lagi? Dimana Guru sekarang berada?” Berbagai pertanyaan itu, membuat Chen An menjadi pusing.
Ia memutuskan meninggalkan kediaman Qiu Feng untuk menenangkan dirinya. Qiu Fang yang hendak mendatangi Chen An, hanya diam terkejut saat pemuda itu melesat dengan cepat melompat ke atas atap dan menghilang di balik kegelapan malam.
Chen An mendatangi sebuah kedai dan membeli dua guci besar yang berisi arak. Setelah itu, Chen An melesat ke arah selatan, ke sebuah hutan kecil, tempat sebelumnya Ia bertarung dengan Bayangan Angin dan yang lainnya.
Saat tiba di tempat itu, Chen An melihat puluhan serigala sedang memakan potongan tubuh anggota Kelompok Langit Dua.
Chen An melihat pedang yang tadi digunakan oleh Wakil Ketua Dua dan mengambilnya. Lalu Ia melesat masuk ke dalam hutan kecil tersebut.
Di atas dahan sebuah pohon yang besar dan tertinggi, Chen An duduk bersandar sambil menegak araknya. “Aaah … Akhirnya aku bisa mendapatkan suasana tenang, rasanya seperti berada di Hutan Siluman saja.”
Chen An diam memandangi bulan yang bersinar penuh. Pikirannya melayang pada saat-saat ia bersama kedua orang tuanya yang telah tewas.
Dendamnya kembali membara untuk mencari siapa yang telah membantai habis keluarga dan sektenya delapan tahun lalu.
Karena kemarahannya, Ia pun melemparkan guci yang hampir habis isinya dengan sembarangan.
PRAAAKKK!!!
Suara itu tidak terdengar sebagaimana seharusnya. Chen An menunggu cukup lama untuk mendengar suara tersebut. Saat itulah Ia menyadari ada orang lain selain dirinya di tempat tersebut.
__ADS_1
########