
Selang beberapa saat kemudian, Hao Yan dan Hao Jie serta Wakil Komandan Dao Fan kembali mendatangi tempat tersebut. Dao Fan terbelalak mendapati jika bangunan Balaikota telah rata dengan tanah.
Semua orang menatap tak percaya pada apa yang mereka lihat. Puluhan mayat tergeletak diantara puing-puing bangunan yang berada dalam radius seratus meter dari pertarungan Chen An tadi.
“Ah Sayang sekali … Bagaimana caraku bisa memberi kabar ke Istana dengan cepat.”
Dao Fan terlihat sedih, karena burung merpati yang ingin Ia gunakan mengirim, pastinya sudah binasa tertimpa reruntuhan bangunan itu.
“Tuan Pendekar … Apakah para penjahat itu sudah mati semua?” Tanya Hao Yan ingin memastikan keamanan dirinya dan juga keluarganya.
“Tuan Hao … Sepertinya mereka yang masih hidup telah pergi. Namun kota ini sangat lemah dari segi keamanannya. Karena tidak ada lagi prajurit yang menjaga kota ini.”
Wakil Komandan Dao Fan setuju dengan perkataan Chen An. Karena hal itu pula, Ia meminta bantuan Chen An dan para pendekar lainnya, untuk tetap berada di kota Zhaodong hingga Ia kembali dari ibukota kekaisaran.
Chen An menyetujui hal tersebut, mengingat tiga puluhan orang dari Sekte Pedang Perak, kini tidak tahu harus tinggal dimana.
“Mengenai itu, Aku bisa membantu mereka, Pendekar Muda. Tapi maukah para pendekar ini membantu kami terlebih dahulu? Menjaga Keamanan adalah langkah pertama untuk membenahi kota ini.”
Chen An terdiam sejenak.”Bibi Ying … Bagaimana dengan penawaran Tuan Hao? Kurasa ini akan menjadi kerjasama yang bagus bukan?”
Shi Ying terdiam sejenak, Ia bisa melihat ambisi dan maksud dari Hao Yan. “Bangsawan Hao ini ingin memimpin kota dan menjadikan kami sebagai penjaga keamanannya. Kurasa tak ada pilihan lain yang bisa kami ambil.”
Shi Ying berpikir demikian, karena Ia menyadari, mereka membutuhkan tempat tinggal. Namun Ia ingin tempat baru bagi anggota Sekte Pedang Perak, tidak berada di dalam kota.
Saat Ia mengutarakan hal tersebut kepada Hao Yan, Bangsawan itu lantas menyetujuinya. Ia memberikan tanah seluas satu li yang berjarak satu kilometer di sebelah timur Kota Zhaodong.
Kruccuk krucuuk
Suara perut Cui Lan yang telah sangat lapar, terdengar cukup keras, membuat suasana hening itu sontak berderai tawa. “Ah Maafkan Aku Adik Lan …Aku terlupa tujuan kita memasuki kota ini adalah untuk mencari sebuah kedai.”
Chen An hendak beranjak pergi, membawa Cui Lan yang wajahnya telah memerah karena suara perutnya tadi.
“Tunggu Pendekar muda, semua kedai hari ini sepertinya tutup semua. Izinkan Aku menjamu Anda semua di kediamanku.”
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban, Hao Yan menyuruh Hao Jie untuk segera kembali ke rumah dan memerintahkan para pelayan menyiapkan hidangan.
@
Sudah tiga hari Chen An berada di kota tersebut, Ia menunggu Gerbang Timur yang luluh lantak, selesai dibangun kembali. Demikian juga dengan gedung Balaikota yang sedang dibangun atas perintah Bangsawan Hao.
Sedangkan, Wakil Komandan Dao Fan sudah sejak tiga hari lalu pergi ke Ibukota Kekaisaran, untuk melaporkan peristiwa tragis yang menimpa Kota Zhaodong.
Mungkin besok atau dua hari lagi Ia kembali dengan membawa ratusan prajurit baru untuk menjaga kota Zhaodong.
Suatu malam, Chen An terlihat sedang berdiri di atap sebuah bangunan tinggi, memandangi jutaan bintang di langit yang hitam.
Benak pemuda itu sedang dipenuhi oleh berbagai fikiran tentang apa yang telah Ia alami selama beberapa hari terakhir.
Berita kematian Guru Fei Long yang pergi tiga tahun lalu untuk mencari murid pertamanya, adalah hal yang membuatnya sangat sedih saat ini.
Sosok yang telah membesarkannya sejak tragedi yang membuat Ia kehilangan Ayah dan ibunya, dikabarkan tewas di tangan Ketua Dua Kelompok Topeng Baja.
Chen An mengesampingkan puluhan pertanyaannya berkaitan dengan Dunia Atas dan Dunia Sembilan Benua, yang baru Ia ketahui setelah tubuhnya dirasuki oleh Roh Penghuni Pedang Bintang Merah.
“Chen Cen … Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”Suara Guru Keduanya, tiba-tiba terdengar tepat di belakang Chen An.
Chen An mengangguk seraya menghela nafas panjang, sebelum akhirnya mengutarakan apa yang Ia pikirkan tadi. Thio San tersenyum tipis lalu mengatakan sesuatu yang membuat Chen An terkejut.
“Jika Aku tidak salah menduga, Ketua Satu kelompok pembunuh itu adalah Adik Seperguruanku yang bernama Tan Hu.”
“Bagaimana guru bisa menduga seperti itu?” Tanya Chen An bersemangat.
“Itu karena Pil Darah Iblis yang digunakan oleh para pendekar itu, hanya adik Tan Hu yang bisa membuatnya.” Jawab Thio San dengan mata menatap langit malam.
Ia menjelaskan jika adiknya itu orang yang sangat ambisius terhadap harta dan Tahta Kekuasaan.
Tidak menutup kemungkinan, Ia ingin menjadi penguasa di Dunia Bawah ini dengan merekrut anggota sebanyak mungkin dari berbagai sekte dan kelompok di kekaisaran Wei dan Jian serta dua kekaisaran lainnya.
__ADS_1
Kelompok atau sekte yang menolak bergabung dengannya, akan Ia basmi seperti yang dialami oleh Sekte Pedang Nirwana dan Sekte Pedang Perak.
Thio San mengakhiri penjelasannya, Ia menatap bimbang ke arah muridnya itu, seolah berada dalam dilema.
“Chen Cen … Ada hal yang ingin guru sampaikan padamu.” Thio San menelan ludahnya. Untuk sesaat Chen An diselimuti rasa penasaran. “Apakah Guru akan segera kembali ke Dunia Atas?”
Gelengan kepala dari Sang Guru, membuat Chen An mengerutkan dahinya. “Ah Aku tak punya keberanian untuk mengatakan padamu, lain kali saja aku jelaskan.”
Thio San melayang meninggalkan Chen An yang sedang keheranan dengan sikap Sang Guru yang tak biasanya seperti itu. “Apa yang ingin dikatakan oleh Guru? Mengapa Ia bersikap aneh seperti itu?”
“An Gege! … An Gege! Di mana kau?!”
Saat Chen An memikirkan sikap Thio San yang terlihat tidak seperti biasanya, suara Cui Lan terdengar memanggilnya dari bawah.
Chen An melompat turun dan mendapati Cui Lan tengah bersama Hao Jie yang selalu mendampingi gadis tersebut, setiap keluar dari kediaman bangsawan Hao.
Terlihat kecemburuan Hao Jie saat Chen An tiba di tempat itu.”Tuan Muda Hao.” Chen An memberikan salam pada Hao Jie yang segera membalasnya dengan terburu-buru.
“Adik Lan, ada apa Kau mencari ku?” Cui Lan mengabaikan pertanyaan Chen An, Ia lantas berkata kepada Hao Jie bahwa ia ingin berbicara berdua saja dengan Chen An.
Dengan wajah lesu, Hao Jie meninggalkan kedua muda-muda itu. Chen An menyadari apa yang sedang dirasakan oleh putera bangsawan Hao itu. Kecemburuan.
“Sepertinya, Tuan Muda Hao menyukai dirimu adik Lan.” Ucap Chen An sambil mensejajarkan langkah dengan Cui Lan yang tertawa kecil mendengar ucapannya.
“Begitukah? Tapi Aku sudah menyukai orang lain. Sayangnya orang itu terlalu sulit untuk ku raih.” Ada kesedihan dalam suara Cui Lan.
“Siapa orang yang beruntung itu? Kenapa Kau berkata demikian?” Tanya Chen An penasaran.
Belum sempat Cui Lan menjawab, lonceng tanda bahaya menggema ke seluruh kota Zhaodong yang masih sepi saat di malam hari itu.
Ketegangan menyelimuti seluruh hati ribuan penduduk kota, setelah Lonceng itu berbunyi dan terdengar ke seantero Kota Zhaodong.
@@@@@@
__ADS_1