Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
007: Tiba di Tujuan


__ADS_3

Setelah semalam menginap, keesokan harinya Fei Long dan Chen An melanjutkan perjalanan mereka.


Satu minggu pun telah berlalu, sejak hari mereka bertemu dengan perampok yang menyerang Bangsawan Qiu Feng dan rombongan dagangnya.


Sejak mengetahui bahwa Chen An telah menguasai Teknik Peringan Tubuh yang setara dengan pendekar Raja tahap Dasar, Fei Long lalu menempuh perjalanan dengan menggunakan teknik peringan tubuh masing- masing.


Saat melewati sebuah jalan di tepi sebuah hutan, keduanya tiba-tiba mendengar suara pertarungan. Dengan peringan tubuh mereka, keduanya segera tiba di sebuah tempat, dimana terjadi pertarungan yang tak seimbang dalam hal jumlah.


“Pertarungan yang tidak adil dalam jumlah, sepertinya mereka yang mengeroyok adalah para pendekar Aliran Hitam.”


Fei Long berkata setelah Ia dan Chen An berjarak tiga puluh meter dari tempat dimana terjadinya pertarungan itu. Darah Chen An seperti bergolak ketika mendengar kata Aliran Hitam.


Hal itu karena kebencian dan dendamnya pada mereka yang berasal dari aliran Hitam. Karena orang-orang dari aliran itulah yang telah membunuh kedua orang tuanya.


Terlihat oleh mereka, tujuh orang sedang bertarung dengan sengitnya. Seorang Pria berusia sekitar empat puluhan tahun lebih, sedang bertahan dari serangan tiga orang.


Pria itu bersama seorang perempuan cantik yang sedang bertarung dengan dua orang lawan dengan kemampuan beladirinya yang berada di tingkat pendekar Raja. Sedangkan kemampuan pria itu sendiri, berada di Tingkat Pendekar Bumi.


“An’er, segeralah segera dekati anak kecil itu dan ajak Ia menjauh dari arena pertarungan.”


Setelah berkata demikian kepada Chen An, Fei Long pun segera melesat masuk ke dalam kancah pertarungan dan membantu sepasang suami isteri itu.


Jika dibiarkan, maka isteri pria itu akan kalah, karena kedua lawannya memiliki kemampuan di tingkat pendekar Bumi Tahap Dasar.


Kedua lawan perempuan itu, terlihat sengaja menahan serangan mereka. Entah apa sebabnya mereka berdua bertindak seperti itu, Fei Long tentu saja tidak ingin mengetahuinya.


Melesatnya Fei Long ke arah dua orang yang mengeroyok perempuan itu, membuat arus pertarungan menjadi berubah. Dengan cepat Fei Long mendesak mundur kedua orang itu.


Sementara itu, Chen An mendekati anak perempuan yang berusia sekitar enam tahun. Setiba di dekatnya, Chen An bisa melihat jika anak itu sedang menangis.


“Adik, jangan menangis. Ayah dan ibu mu akan baik-baik saja. Ayo kita sedikit men..” Chen An tak bisa melanjutkan kata-katanya, karena Ia melihat sebuah pisau melesat ke arah anak perempuan itu.


“Lan’er … Awas!” Pria yang sedang di keroyok itu berteriak, namun sepertinya sudah terlambat. Pisau itu menderu sangat cepat ka arah leher puterinya.

__ADS_1


Namun, diluar dugaan semuanya, Chen An yang ingin melindungi anak perempuan itu, secara reflek mengulurkan lengannya untuk menahan laju pisau itu.


CREEP.


Pisau itu pun menancap dengan ujung pisau yang menembus lengan Chen An. Fei Long terkejut dan menjadi marah saat melihat lengan muridnya mengeluarkan darah cukup banyak.


“Kalian benar-benar kejam!” Fei Long segera melesat dua kali lebih cepat. Ia yang semula enggan untuk membunuh mereka karena tidak mengetahui permasalahan di antara kedua pihak itu, kini menjadi sangat marah.


Tinju Si Gila segera Ia gunakan, beberapa saat kemudian jerit kematian mulai terdengar saat satu kepala lawannya pecah akibat terkena Tinju kuat dari Fei Long.


Satu orang lawannya segera hendak lari, namun Fei Long melompat menghadang pria tersebut.


Langsung saja Fei Long memberikan tinju ke arah dada si pria itu yang membuatnya tewas dengan beberapa tulang iga patah menjadi beberapa bagian.


Ketiga temannya terkesiap saat melihat kedua rekannya tewas dengan mudah oleh seorang kakek yang kini sedang menatap marah ke arah mereka sebelum akhirnya melesat mendatangi ketiganya.


Pertarungan dua lawan tiga pun segera terjadi. Fei Long yang sudah sangat marah, dengan cepat menjatuhkan seorang lawan dan membuatnya tewas dengan mata melotot lebar.


Sementara Sang Pria berhasil menebas leher lawannya hingga hampir putus. Satu lawan yang tersisa, terlihat gemetar saat Fei Long mulai menyerangnya.


“Dari kelompok mana kau berasal? Dan mengapa menyerang me...” Ucapan Fei Long terhenti karena tiba-tiba melesat sebuah pisau kecil berwarna perak, menembus leher pria itu yang membuatnya jatuh terkulai dengan leher berwarna biru.


Fei Long segera melesat ke arah darimana pisau itu berasal. Namun dua buah pisau melesat sangat cepat ke arah mematikan yang membuat Fei Long terpaksa bersalto di udara untuk menghindarinya.


Saat kembali menjejakkan kakinya di tanah, Fei Long tidak bisa menemukan keberadaan orang yang menyerangnya. Ia lalu melesat ke arah sebuah pohon di mana kedua pisau itu tertancap.


“Hmmm Kelompok Pisau Perak?! … Tak Kusangka di kelompok itu ada seorang yang memiliki kemampuan tinggi.” Fei Long berkata dalam benaknya setelah memeriksa kedua pisau beracun itu.


“Pisau Beracun?! … An’er?!”


Wajah Fei Long seketika memucat saat menyadari pisau itu beracun dan segera teringat jika Chen An telah terluka akibat pisau itu. Ia pun melesat ke tempat di mana Chen berada.


Saat tiba di dekat Chen An, Fei Long menarik nafas lega, melihat luka di tangan kiri anak itu telah dibalut oleh kain kecil yang tadi dilihatnya melingkar di leher anak perempuan yang dilindungi oleh Chen An.

__ADS_1


Ia lalu memeriksa pisau yang ternoda darah dan kekhawatirannya menghilang setelah mendapati pisau itu tidak beracun.


“Terimakasih Sesepuh atas bantuan Anda dan cucu Anda …” Pria itu menangkupkan kedua tangannya di dada. Lalu Ia mengenalkan siapa dirinya.


Pria bernama Chui San itu, segera mengenalkan Isterinya yang bernama Shi Ying dan puterinya yang cantik itu bernama Chui Lan. “Bagaimanakah Aku harus memanggil Sesepuh?” Tanyanya pada Fei Long.


“Namaku Fei Long dan muridku ini bernama Chen An. Bagaimana kondisi kalian?” Setelah mendapat jawaban dari Chui San dan isterinya yang baik-baik saja, Fei Long lalu mengajak Chen An untuk melanjutkan perjalanan.


Mereka pun akhirnya berpisah, Chui Lan melambaikan tangannya pada Chen An yang sempat menoleh ke arahnya. “An Gege … Semoga kita bisa bertemu lagi, kelak di suatu hari di masa depan.”


***


Satu minggu kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah hutan yang berada di wilayah kekuasaan Kekaisaran Wei.


“Hutan ini bernama Hutan Siluman, karena sebagian besar wilayah hutan ini dihuni oleh bangsa siluman.” Mendengar adanya siluman di hutan itu, Chen An pun menjadi bergidik takut.


“Jangan takut, selama kau membawa bungkusan bubuk belerang ini, siluman jenis apapun tak akan ada yang berani mendekati dirimu.”


Chen An mengangguk setelah menerima bungkusan kain kecil dan menggenggamnya dengan erat. Lalu Ia melompat mengikuti Sang Guru yang telah melesat lebih dulu dengan peringan tubuhnya.


Dua Jam kemudian, mereka telah tiba di tengah-tengah wilayah Hutan Siluman. Fei Long berhenti di tepi sebuah sungai besar dan tersenyum setelah melihat sebuah goa di seberang sungai yang sebagian lubangnya tertutupi oleh semak belukar.


“Itulah Goa tempat tinggal kita, di tempat ini aku akan melatihmu. Bagaimana dengan luka mu? Apakah masih mengeluarkan darah?”


“Tidak Guru, darahnya sudah berhenti menetes dan sakitnya juga sudah berkurang.” Jawab Chen An yang menatap goa di seberang sungai.


Saat hendak mengajak Chen An untuk menyeberangi sungai, Fei Long tiba-tiba merasakan aura membunuh dari dalam sungai yang membuatnya segera waspada.


“Aura siluman di tingkat Pendekar Raja? Tak ku sangka, sungai yang kutinggalkan sejak puluhan tahun lalu ini, kini telah dihuni siluman ikan berusia seratus tahun.”


Seperti yang Fei Long duga, air sungai beriak dan berpusar dengan hebat sebelum akhirnya siluman itu menunjukkan kepalanya yang besar.


“Siluman Ikan Lele? Hmm sepertinya malam ini kami akan makan lezat” Gumam Fei Long seraya mengalirkan tenaga dalamnya ke arah kedua telapak tangannya yang telah terkepal.

__ADS_1


------------------------O-----------------------


__ADS_2