
“Siapa yang kurang ajar membokongku!”
Pria itu berkata dengan wajah yang terlihat murka. Suasana menjadi hening, saat semua penyerang mengedarkan pandangan ke segala arah.
“Siapa yang Kau cari!”
Suara Chen An yang tiba-tiba telah berada di belakang pria yang menawan Qiu Ling itu, mengejutkan semua orang.
DUAGHH
PRAAKK
Dengan cepat, Chen An memberikan serangan mematikan ke arah kepala sosok bercadar yang hendak berbalik, untuk melihat siapa yang telah bertanya padanya.
Namun serangan Chen An membuat pandangan sosok bercadar itu, seketika menjadi gelap. Ia pun jatuh tersungkur dengan kepala yang retak. Qiu Ling menjerit keras melihat kepala pria itu berlumuran darah tak jauh darinya.
“Saudara Fang … Jaga Adik Ling baik-baik. Biar aku yang mengurus mereka.” Qiu Ling tertegun sejenak, mendengar kata “Adik” dari sosok pemuda yang tak dikenalinya
Mengetahui Chen An yang datang membantunya, Qiu Fang merasa sangat gembira. Ia pun segera melesat ke arah Qiu Ling bersama dengan Luan Hu, untuk melindungi adiknya yang terlihat shock.
Sementara itu, para penyerang yang melihat salah satu pemimpin mereka telah tewas, mulai dilanda ketakutan. Belasan orang diantaranya, mulai bergerak mundur.
Salah satu pemimpin yang masih hidup, masih terpana. Tak ingin percaya jika rekannya telah tewas dengan cara yang mengenaskan.
Kemarahannya pun menggelegak saat melihat Chen An menatapnya dengan dingin.
“Siapa Kau?! Berani sekali membunuh ketua kelompok Rantai Hitam!” Chen An hanya tersenyum sinis sebagai jawabannya. Ia menatap lekat sosok Pendekar Bumi tahap Akhir di depannya.
“Tak penting siapa Aku. Berani sekali kalian mengacau di kediaman Paman Qiu Feng. Kalian tak akan ku biarkan pergi dari sini dengan membawa nyawa kalian!”
Kekacauan yang terjadi di hadapannya saat ini, mengingatkan Chen An akan peristiwa kelam yang terjadi delapan tahun lalu. Dendamnya terhadap aliran hitam, seketika mendidih.
Ia bergerak dengan sangat cepat, sedetik kemudian jerit kematian dari para anggota kelompok Rantai Hitam mulai terdengar silih berganti.
__ADS_1
Sosok bercadar itu terbelalak, melihat puluhan anak buahnya bergelimpangan bersimbah darah, hanya dalam dalam waktu kurang dari satu menit.
Nyalinya menciut, melihat gerakan Chen An yang begitu cepat. Setiap kali pedang Chen An bergerak, dua tiga nyawa melayang. Hal yang membuat Sosok bercadar itu ketakutan lalu melesat melarikan diri dari tempat tersebut.
Ia melompati atap demi atap bangunan dan bergerak keluar dari kota Shanzui dengan kecepatan penuhnya. Masih terbayang di benaknya, bagaimana pemuda itu dengan mudah menghabisi anak.
Ia menghela nafas lega setelah melewati tembok pagar kota.”Akhirnya aku bisa selamat dan menyampaikan kematian adik Bun kepada Guru.”
Sosok bercadar itu memperlambat gerakan larinya yang menuju ke arah timur dari Kota Shanzui. Ia merasa telah berhasil lolos dari maut sampai Ia menyadari seseorang menghadang di depannya.
“Siapa Kau ….” Seandainya saat itu siang hari, maka akan terlihat jelas bagaimana mata sosok bercadar itu membelalak seolah hendak lepas dari rongganya.
“Bagaimana dia bisa ada di depanku? Kapan dia melewatiku?” Rasa herannya pun segera berakhir dan berubah menjadi rasa takut, karena Chen An mulai menyerangnya.
Bulan yang bersinar penuh malam itu, menjadi saksi hanya dengan lima kali serangan, Chen An telah membuat sosok bercadar itu tergeletak bersimbah darah.
“Akan ku beri kematian cepat padamu, tapi sebelum itu, katakan mengapa kalian menyerang Paman Qiu Feng?” Sosok bercadar itu, hanya menatap sinis kepada Chen An.
Ia berusaha membunuh dirinya dengan menghantam kepalanya sendiri. Namun, Chen an berhasil menotoknya. “Sudah kukatakan sebelumnya, kau tak akan mati mudah, jadi cepat jawab pertanyaanku!”
Lengan kirinya yang putus, terus mengeluarkan darah, membuat sosok bercadar itu tersiksa hebat dalam kesakitan. Mati belum hidup pun tak lama lagi, tapi sakitnya itu …
“Apakah Kau ingin kusiksa terlebih dahulu sebelum mati?” Senyum sinis Chen An yang diterangi cahaya bulan, terlihat jelas di mata sosok bercadar itu.
“Jangan! … Jangan siksa Aku. Baiklah akan ku katakan.” Melihat telapak tangan Chen An yang tiba-tiba mengeluarkan api, Sosok bercadar itu menjadi sangat ketakutan.
Ia lalu menjelaskan, bahwa dirinya dibayar mahal oleh seseorang, untuk merebut sebuah peta yang dimiliki oleh Gubernur Kota Shanzui itu. Peta itu berisi petunjuk tentang beradanya sebuah benda berharga.
“Siapa orang yang menyuruhmu? Katakan benda apa itu!” Tanya Chen An penasaran. “aku tidak tahu … benda … apa itu..” Suara sosok bercadar itu, mulai terbata-bata.
“Tolong … Akhiri penderitaanku.”
Merasa tak ada lagi informasi yang bisa Ia dapatkan, Chen An lalu mengakhiri hidup pemimpin kelompok Rantai Hitam itu dengan menginjak dadanya.
__ADS_1
Suara beberapa tulang dada yang patah, tertutup oleh jerit kematian sosok bercadar yang akhirnya tewas dengan mata melotot lebar.
Suara riuh di gerbang kota Shanzui yang berjarak seratus meter dari tempatnya berada, mengalihkan perhatian Chen An, yang baru saja memasukkan Pedang Kristal Siluman ke sarung di punggungnya.
Belasan orang dengan menunggangi kuda, datang menghampiri Chen An. Kelompok itu dipimpin oleh Komandan Chao yang segera melompat turun dari kudanya.
Setelah memberi hormat kepada Chen An, Ia lalu menyampaikan pesan dari Qiu Feng yang mengundang Chen An untuk singgah di kediamannya.
“Tuan Qiu Feng ingin berterimakasih dengan menjamu Anda dirumahnya.” Komandan Chao mengakhiri penjelasannya.
Chen An terdiam sejenak, Ia belum sempat berbincang dengan Qiu Ling yang kini telah menjadi gadis muda yang sangat jelita. Ia pun memutuskan menerima undangan itu, dengan menaiki kuda yang khusus dibawa untuknya.
Setibanya di kediaman Qiu Feng, Chen An menyadari adanya seseorang yang sedang mengawasi mereka. Ia pun segera melesat ke arah dimana bayangan itu berada.
“Siapa orang ini? Aku yakin dia tadi berada di sini mengawasi kami.”
Chen An mengedarkan pandangannya. Mencoba untuk mencari keberadaan sosok misterius bertopeng hitam, yang menghilang dengan cepat dari tempat tersebut.
“Peta apa sebenarnya yang dimiliki oleh Paman Feng? Hingga begitu banyak kelompok yang menginginkan peta tersebut.”
Benak Chen An dipenuhi pertanyaan saat Ia melesat turun ke halaman kediaman Qiu Feng. Qiu Fang baru keluar untuk menyambut Chen An, sempat melihat apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut.
“Saudara Pendekar … Ada apakah hingga tiba-tiba kau melesat ke atap bangunan itu?” Qiu Fang bertanya dengan hati-hati.
“Ada seseorang bertopeng hitam dengan kemampuan tinggi yang sedang mengawasi tempat ini. Perketatlah penjagaan. Oh iya dimanakan Paman Qiu?”
“Topeng Hitam!”
Komandan Chao dan Qiu Fang serta Luan Hu, berkata nyaris bersamaan setelah mendengar kata Topeng Hitam. Terlihat kecemasan dan ketakutan di wajah ketiganya.
Qiu Fang bahkan tidak menjawab pertanyaan Chen An, karena terlalu terkejut mendengar kata “Topeng Hitam” tersebut. Hal ini membuat dahi Chen An berkerut.
“Ada apa? Mengapa wajah Anda semua terlihat ketakutan?”
__ADS_1
######