Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
028: Penjelasan Shi Ying


__ADS_3

Chen An mengangguk dan hendak memasuki goa. Di saat bersamaan, Cui Lan dan Ibunya, Shi Ying terlihat melangkah keluar dari dalam goa.


Untuk sesaat, kedua makhluk berjenis lelaki itu, terpana akan kecantikan dua makhluk berkulit seputih salju yang tersinari oleh Sang Mentari pagi.


“Adik Lan benar-benar sangat cantik … Aih mengapa jantungku tiba-tiba berdebar kencang?”


“Sudah ribuan kali aku bertemu perempuan cantik, tapi mengapa baru sekarang aku merasa yang ini sangat berbeda?” Dalam benaknya Thio San bertanya pada dirinya sendiri.


“Kakek … Terima kasih atas pertolongan Anda, sehingga aku masih bisa melihat matahari pagi di hari ini.”


Shi Ying menundukkan badan, seraya menangkupkan kedua tangan yang terkepal di depan dada, memberi hormat pada Thio San yang menjadi kikuk melihatnya.


“”Kakek?! Ah tidak … Itu sudah kewajibanku menolong orang yang membutuhkan.” Jawab Thio San dengan cepat.


Sebutan kakek dari Shi Ying padanya, menyadarkan Thio San bahwa mereka semua pantas menjadi cucunya.


Sementara Cui Lan dan Chen An masih saling menatap, lalu keduanya tersenyum jengah satu sama lainnya. “An Gege … Maaf sapu tangan mu menjadi kotor seperti ini. Aku akan mencucinya dulu.”


Dengan pipi bersemu merah, Cui Lan lalu berlari ke arah sungai untuk mencuci sapu tangan merah muda tersebut. “Adik Lan ….”


Shi Ying tersenyum melihat kekhawatiran di mata Chen An, sesaat sebelum pemuda itu mengejar Cui Lan. Tentu saja Chen An khawatir karena hutan ini adalah hutan tempat para siluman bermukim.


“Adik Lan … Hati-hati! Sungai ini dihuni oleh siluman berbahaya.” Chen An mengingatkan Cui Lan yang sudah berada di tepi sungai, sedang mencuci saputangan.


Darah Shi Ying yang menempel pada saputangan itu, luntur terkena air dan mengundang beberapa siluman ikan gigi pisau mendatanginya ke permukaan.


Lima ikan siluman sepanjang satu meter, yang melihat tangan Cui Lan tergantung di atas air, segera melesat untuk menggigitnya.


Cui Lan tentu saja terkejut dengan perkataan Chen an, Ia segera hendak pergi dari atas batu di tepi sungai itu, namun lima ikan siluman telah berada sangat dekat dengannya.


Chen An yang merasakan ada lima siluman ikan di dekat Cui Lan, segera mengibaskan tangannya.


Serangkum energi melesat masuk ke dalam air, membuat air sungai terangkat ke udara bersama lima ekor ikan yang tubuhnya telah terpotong menjadi beberapa bagian.

__ADS_1


Cui Lan segera melompat menjauhi batu itu dan Ia menjejakkan kakinya, sejauh dua meter dari tempat Chen An berdiri.


“An Gege … Terimakasih. Kau telah menyelamatkan ku berkali-kali. Bagaimana caraku untuk membalas budi ini?” Cui Lan tertunduk malu.


Gadis berusia lima belas tahun itu, terkenang kembali peristiwa delapan tahun lalu. Saat Pemuda tampan di depannya itu, merelakan tangannya tertancap pisau demi menyelamatkan dirinya.


“An Gege … bolehkah Aku melihat bekas luka tanganmu yang dulu?” Tanya Cui Lan yang segera dijawab oleh Chen An dengan menarik jubah di bagian lengan kirinya.


Cui Lan mendekat dan mengamati bekas luka itu dengan seksama. “An Gege … Apakah kau selalu membawa sapu tangan ini?”


“Tentu saja, Adik Lan. Karena sapu tangan itu ingin ku kembalikan padamu. Selama ini, Aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengan mu. Tak Kusangka, Kau telah menjelma menjadi gadis tercantik yang pernah ku lihat selama ini.”


Semburat warna merah segera menghiasi wajah Cui Lan yang segera tertunduk malu. Chen An sendiri terlihat kikuk. Ia tidak bisa menahan diri dan berkata yang membuat dirinya sendiri menjadi malu.


Cui Lan mendekati Chen An, meraih tangan kanan sosok penolongnya, lalu meletakkan saputangan yang masih basah itu.


“Aku ingin An Gege menyimpan saputangan ini. Andai Aku mati karena musuh-musuh ayah yang terus mengejar kami. Aku sudah ikhlas, karena langit telah mempertemukan aku dengan orang sebaik An Gege.”


Chen An menggenggam tangan kanan Cui Lan, mencoba memberi dukungan agar gadis yang baru saja kehilangan sosok ayah itu, tidak menjadi rapuh jiwanya.


“Itu … “


“Sampai kapan Kau akan memegangi tangannya… Chen Cen!” Perkataan Thio San membuat kalimat Cui Lan terputus.


Kedua muda-muda itu tersentak kaget seraya melepaskan pegangan tangan mereka dengan wajah yang terlihat malu. Shi Ying hanya tersenyum saat melangkah mendekati keduanya.


“An’er …Gurumu juga bertanya hal yang sama padaku. Aku yang akan menjawab pertanyaan mu dan juga gurumu. “ Shi Ying lalu duduk di atas sebuah batu besar. Cui Lan pun segera berdiri di dekat Sang Ibu.


“Semua peristiwa tragis ini, bermula dari datangnya surat dari Ketua Dua Kelompok Topeng Baja, sebulan lalu.” Shi Ying mengawali jawabannya.


Suaminya Cui San adalah Ketua Baru Sekte Pedang Nirwana, menggantikan ketua lama sekaligus pendiri sekte dan Guru Suaminya, yang telah meninggal karena usia tuanya.


Cui San baru lima bulan menjadi ketua Sekte Pedang Nirwana, saat surat dari Ketua Dua Topeng Baja, datang sebulan yang lalu diantar oleh sosok yang menyebut dirinya sebagai Bayangan Angin.

__ADS_1


Dalam surat itu, Ketua Kelompok Topeng Baja, mengajak Cui San untuk bergabung dengannya untuk membentuk sebuah Kekaisaran Baru yang diberi nama Kekaisaran Langit Bawah.


Kelompok Topeng Baja, memberi waktu satu bulan bagi Chui San untuk memutuskan apakah akan bergabung atau tidak dengan Kelompok Topeng Baja.


Sebagai Sekte Aliran Netral, Sekte Pedang Nirwana memilih untuk tidak bergabung dengan kelompok pembunuh nomor satu di Kekaisaran Wei itu.


Keputusan besar itu, Chui San ambil setelah bermusyawarah dengan lima orang adik seperguruannya yang juga adalah Tetua Sekte Pedang Nirwana.


Dengan menolak bergabung bersama Kelompok Topeng Baja, mereka menyadari bahwa telah menjadi lawan dari kelompok tersebut.


Saat kemarin utusan dari kelompok Topeng Baja datang meminta jawaban, ternyata mereka telah membawa lima orang pendekar Tingkat Langit Tahap Dasar.


Lima orang tersebut berasal dari dua Sekte Aliran Hitam yang telah bergabung dengan Kelompok Topeng Baja. Dua orang dari Sekte Pisau Perak dan tiga orang dari Sekte Naga Hitam.


Dua orang dari Sekte Pisau Perak telah menjadi musuh bebuyutan Chui San sejak Ia masih muda. Kedua orang itu berhasil dibunuh oleh Chui San adik seperguruannya yang terluka parah akibat pertarungan tersebut.


Hal itu membuat tiga orang dari Sekte Naga Hitam, dengan mudah mengalahkan Chui San dan lima orang adik seperguruannya. Dengan tewasnya keenam orang itu, maka binasalah Sekte Pedang Nirwana.


Beruntungnya, sebelum tewas, Chui San telah memberikan Pedang Nirwana kepada Cui Lan, puterinya. Chui San juga menyuruh Shi Ying dan Cui Lan untuk segera meninggalkan sekte Pedang Nirwana.


Namun saat hendak pergi bersama sang Ibu, orang terkuat dari ketiga orang Tetua Sekte Naga Hitam, berhasil melukai Shi Ying dengan jurus Tapak Racun dinginnya.


Chui San yang tak ingin mati sia-sia, beradu serangan demi menyelamatkan Isteri dan puterinya. Hal itu membuat Cui San harus tewas di tangan orang yang tadi telah Chen An bunuh.


Keduanya terpaksa menceburkan diri ke dalam jurang. Di mana di bawah jurang itu, terdapat sungai yang membawa mereka tiba di Hutan Siluman ini.


Selama berada di sungai, tak ada satu pun siluman yang berani mendekati mereka. Padahal, sepanjang sungai tersebut, dipenuhi berbagai jenis siluman yang berbahaya.


Hal ini membuat Chen An menjadi bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi. Sementara Thio San sedang berpikir keras.


“Kekaisaran Langit Bawah? Yang memberi nama ini sepertinya mengetahui bahwa ada kekaisaran Langit di Dunia atas. Pedang Nirwana yang dimaksud perempuan ini, apakah Pedang Nirwana milik Guru Atau kebetulan saja namanya sama?”


#########

__ADS_1


__ADS_2