Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
051: Pertarungan Empat Kultivator


__ADS_3

Saat Ia melayang di udara, Chen An kembali merasa heran dengan kecepatan melayanganya. Dengan kekuatan yang sama, dulu kecepatan tidak sebesar seperti saat ini.


Bahkan Chen An optimis bisa mengimbangi kecepatan gurunya Thio San, yang berada di Ranah Semi Abadi Level Lima.


Dengan kecepatan yang dua kali lipat dari sebelumnya, Chen An berhasil menemui kedua orang itu tepat di tepi Hutan Siluman bagian Selatan. Jauh dari kota Zhaodong.


Tan Hu mengerutkan dahinya, mendapati Chen mampu melayang setara dengan kecepatan maksimal yang mampu Ia lakukan.


Belum sempat mereka saling berkata, terdengar suara yang membuat Chen An menjadi senang. “Adik Tan … Ratusan tahun Aku mencarimu, akhirnya Kau berani keluar dari persembunyianmu.”


Tan Hu hanya tersenyum dan membalikkan badan untuk melihat Kakak seperguruannya yang sejak lima ratus tahun lalu tidak pernah bertemu dengannya.


“Kakak San … Senang bertemu denganmu. Kau sedikit berubah, berubah keriput dan tua Hahahaha…”


Thio San mengerutkan dahinya, melihat penampilan Tan Hu yang sedikit berbeda. Selain mengenakan jubah, Tan Hu juga mengenakan sebuah kain berwarna kuning keemasan yang menutupi punggungnya.


Selain itu, sikap percaya dirinya yang tinggi, berbeda jauh dengan terakhir kali mereka bertemu, saat sebelum Adik dan Gurunya terlempar ke Dunia Bawah. Hal ini membuat Thio San menjadi waspada.


“Adik Tan … Kau masih bisa tertawa di depanku? Tak Kusangka kau bisa begitu setelah pengkhianatan yang Kau lakukan hingga membuat Guru harus terluka parah dan menemui ajalnya.”


Tangan Thio San terkepal kuat. “Adik Tan terimalah hukuman dariku atas pengkhianatanmu terhadap Guru!”


Thio San melesat dengan cepat, setelah mengalirkan energi dalam jumlah besar ke arah kedua telapak tangannya. Tan Hu hanya menyeringai sesaat sebelum mengibaskan jubah kuningnya.


“Apa!”


Thio San berseru kaget, mendapati tubuh Tan Hu tiba-tiba saja lenyap dari pandangan matanya. Yuan Bei tersenyum senang sambil menatap sinis ke arah Chen An yang sedang terkesiap melihat kejadian itu.


DUAAGHH AARGGGHHHH


Tubuh Thio San meluncur deras saat punggungnya terkena tendangan Tan Hu yang tiba-tiba muncul dan telah berada di belakangnya.


Tubuh Thio San membentur tanah, membuat tanah itu berlubang besar dan melesak ke dalam hingga beberapa meter. Chen An segera melesat, untuk menolong Sang Guru.


“Guru … Apakah Kau …”


“Hoeek!”


Thio San memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya. Ia segera berdiri, setelah menarik nafas panjang dan mengalirkan energi qi ke arah punggungnya yang terasa sangat sakit.


“Tak Kusangka Kekuatannya telah berada di Level Lima Ranah Dewa Semi Abadi. Namun teknik apa yang baru Ia gunakan itu, sungguh aku tidak menduganya sama sekali.”


Thio San berkata seraya memandang Tan Hu yang masih berada di udara.


“Guru … Apa Kau baik-baik saja?” Tanya Chen An yang sedikit khawatir melihat pertarungan tadi.

__ADS_1


“Tenanglah, Aku baik-baik saja.” Thio San kembali melesat ke udara yang kemudian diikuti oleh Chen An.


“Jadi teknik itu yang membuat Kau keluar dari persembunyianmu selama ini?” Tanyanya sambil menatap Tan Hu tajam.


Tan Hu hanya tersenyum tipis. “Tentu saja bukan, kemampuan tadi, hanya salah satunya saja. Aku telah menguasai beberapa teknik baru, yang ku yakini akan bisa membunuhmu, Thio San.”


“Baiklah Aku tak akan segan lagi untuk membunuhmu murid durhaka!” Thio San mengalirkan delapan puluh persen energi qi di tubuhnya.


Udara berfluktuasi hebat, saat Tan Hu tak mau kalah dengan mengalirkan energi qi yang sama besarnya. Tanah pun mulai bergetar dan berguncang saat keduanya telah siap untuk memulai pertarungannya.


BLAAAM


Suara benturan dua lengan berkekuatan besar, menggelegar memenuhi udara. Keduanya saling bertukar serangan dengan jarak dekat hingga puluhan kali.


Setiap anggota tubuh mereka bertemu, dentuman keras terdengar diikuti oleh Fluktuasi udara yang semakin lama semakin kuat.


Jurus-jurus yang digunakan oleh keduanya memiliki kesamaan, pertarungan itu kian sengit. Chen An menarik nafas dalam dengan wajah yang tegang saat tubuh Tan Hu kembali menghilang.


Thio San segera menebarkan sebungkus bubuk putih di sekitar tubuhnya hingga radius lima meter. Hal itu membuatnya bisa mengetahui dari arah mana Tan Hu akan menyerangnya.


Sementara terjadi sesuatu pada kedua bola mata Chen An. Bola matanya kini berwarna putih semua.


Karena rasa khawatirnya, Chen An mengalirkan energi qi ke seluruh tubuhnya, berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sang Guru.


Namun, tanpa Ia sadari, hal itu membuatnya bisa mengetahui keberadaan Tan Hu dan melihatnya dengan jelas. “Awas Guru! dia berada di sebelah kirimu!”


Saat itulah ketiga orang itu menyadari perubahan yang terjadi pada kedua bola mata pemuda itu.”Chen Cen … Teknik apa yang kau gunakan hingga bisa melihat dia?”


Chen An terlihat kebingungan sendiri. Ia pun melesat untuk menghampiri gurunya. Kecepatan Chen An, mengejutkan kedua orang kultivator di Ranah Dewa Semi Abadi itu.


“Bocah ini … Kekuatannya berada di Ranah Surgawi Level Puncak, tapi kecepatan geraknya bisa mengimbangi kecepatan kami di Ranah Dewa Semi Abadi? Bagaimana bisa terjadi?”


Tan Hu yang tubuhnya masih tak terlihat oleh Thio San dan Yuan Bei, tiba-tiba melesat ke arah Thio San dengan tangannya yang terkepal serta diselimuti oleh cahaya kemerahan.


Thio San terlambat menyadari hal tersebut. Kepalanya nyaris saja terhantam tinju Tan Hu, jika saja Chen An terlambat sedetik saja menarik tangannya.


“Kurang Ajar kau Bocah! Jangan ikut Campur urusan kami!” Hanya Suara Tan Hu yang bisa di dengar oleh Thio San.


“Chen Cen … Mundurlah dia bukan lawan sepadan bagimu.” Chen An yang mengkhawatirkan Gurunya, segera menolak. “Tidak Guru, kita hadapi bersama, Guru tidak bisa melihatnya bukan?”


“Tadi Aku memang tidak bisa melihatnya, tapi aku menemukan cara lain untuk menghadapinya. Menjauhlah!”


Chen An terpaksa menjauhi gurunya dengan hati yang was-was. Yuan Bei yang sedari tadi diam segera berkata kepada Chen An.


“Chen An …Sepertinya Kau tak ingin kehilangan Gurumu untuk kedua kalinya, sehingga Kau berani mencampuri urusan mereka.”

__ADS_1


Tentu saja Chen An terkesiap kaget. “Dari mana Kau tahu jika Guruku Fei Long telah tiada? Siapa Kau sebenarnya?”


“Hahahahaha …” Yuan Bei tertawa lantang.


“Kau sama saja bodohnya dengan Paman Chen Bun… Aku Yuan Bei, Cucu Kakek Yuan Shi. Chen An, cepat serahkan Kitab Dewa yang asli kepadaku, jika tidak, maka Kau akan bernasib sama dengan Gurumu Fei Long.”


“Kau …. “Chen An terkejut mendapati kenyataan tersebut. “Jadi Kau yang telah membunuh Guruku? Mengapa kau lakukan hal itu?” Suara Chen An berubah menjadi dingin.


Yuan Bei hanya tersenyum tipis, “Dia tidak mau memberitahuku di mana Kitab Dewa yang asli, yang diserahkan oleh Kakek Ku padanya, saat terjadi pertarungan di puncak Huashan Delapan tahun lalu.”


Tentu saja Chen An terkejut mendengarnya. “Bukankah Kitab Dewa yang asli ada padamu? Jika tidak, dari mana Kau bisa menguasai Teknik Dewa Angin.”


Sesaat Yuan Bei terdiam, mendapati jika Kitab Dewa yang diserahkan oleh Kakeknya ternyata setengah palsu. “Sulit bagiku untuk percaya jika Kitab Dewa yang berada di tangan mu bukan Kitab Dewa yang asli.”


Chen An terpaksa mengeluarkan salinan Kitab Dewa dari Cincin Ruangnya. Ia telah menguasai sepenuhnya ketiga Teknik yang berasal dari Kitab Dewa yang sebenarnya.


“Ambillah dan periksa sendiri!” Chen An membuat Kitab itu melayang ke arah Yuan Bei. Perlahan, Chen An teringat tentang masa kecilnya, di mana Yuan Bei pernah menolongnya saat Ia terserat arus sungai.


Yuan Bei meraih Kitab dari Chen An dan memeriksanya. Ia pun menyadari jika isi Kitab tersebut, setengahnya palsu. Ia mengenali tulisan itu.


“Kurang ajar, ternyata Paman Xian Hu telah mengkhianati Aku. Ia juga menyalin Kitab Dewa yang lain dan diberikan kepada Kakek. Beruntung Aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri.”


Karena kesal telah di tipu oleh Xian Hu, Tetua Sekte Tangan Suci yang menjadi kepercayaan Kakeknya, Yuan Bei Lantas menghancurkan kitab dari Chen An tersebut.


“Ternyata kita sama-sama ditipu oleh Tetua Xian Hu dan Kakekku. Chen An … Apakah Kau tahu siapa yang membunuh kedua orang tuamu?”


Chen An menggeleng pelan, dadanya berdegup kencang.”Kakak Bei … Apakah Kau mengetahui pembunuh kedua orang tua ku? “


“Tentu saja … Yang membunuh Ayahmu adalah Cheng Kun, Adik seperguruan dari Hong Qi, Ketua Sekte Tongkat Hitam. Merekalah yang telah membinasakan Sekte Tangan Suci delapan tahun lalu.”


Chen An terdiam seribu bahasa. Ia sangat berterimakasih kepada Yuan Bei, karena telah memberitahu siapa yang membunuh Ayah dan Ibunya.


“Adik Chen … Kita berasal dari satu Sekte yang sama, Bagaimana jika Kau bekerjasama dengan ku? Aku akan membantumu menghabisi Hong Qi dan Cheng Kun.”


“Maaf Kakak Bei … Aku memang sangat berterimakasih padamu karena telah memberitahuku, siapa orang yang telah membunuh kedua orang tuaku. Tapi … Kau juga telah membunuh Guru Fei Long yang merawatku sejak usia delapan tahun. Hutang nyawa harus dibayar nyawa.”


Chen An mengeluarkan Pedang Bintang Merah dari Cincin ruangnya. Sementara Yuan Bei masih mencoba untuk membujuk Chen An.


“Haruskah kita bertempur hidup dan mati? sementara Aku pernah menyelamatkan nyawamu saat dulu kau terseret arus Sungai?”


Chen An tersedak nafasnya sendiri, Ia terdiam mendengar perkataan Yuan Bei. “Apa yang harus kulakukan? Aku berhutang nyawa pada Kakak Bei, tapi dia telah membunuh Guru Fei yang menolong dan membesarkan Aku.”


Saat Chen An sedang dalam dilema, terdengar bentakan keras dari Tan Hu. Rupanya kedua orang itu, belum memulai pertarungan, karena tertarik untuk mendengarkan percakapan murid mereka.


“Thio San … Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka. Mari Kita selesaikan urusan kita.” Tan Hu yang telah memperlihatkan tubuhnya, menyeringai ke arah Thio San.

__ADS_1


“Aku telah siap dari tadi, Tan Hu!”


@@@@@


__ADS_2