
Thio San tersentak kaget, Shi Ying menjadi pucat pasi. Sementara Chen An menjadi geram mendengar hal tersebut. “Apa maksudmu berkata begitu? Cepat keluar dari tubuh Adik Lan!”
Roh Phoenix Api Putih hanya tertawa sinis mendengar ucapan Chen An.”Hihihihi … tak salah jika gadis ini sangat menyukaimu. Kau terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya. Aku jadi iri melihat kemesraan kalian berdua.”
Raut wajah roh itu terlihat berubah sedih, seolah menyimpan sebuah kegetiran dalam hidupnya. Ia lantas melayang ke udara untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Mau Kemana Kau!” Chen An melesat menghadangnya. Thio San pun segera melesat di depan muridnya.
”Chen Cen menjauhlah, bawa serta ibu gadis ini dalam radius seratus meter. Cepat menjauh! Kau tidak akan mampu melawan kekuatannya.”
Tentu saja Chen An terperangah mendengar bentakan dari sang guru. Namun begitu, Ia segera melesat ke udara dan membawa Shi Ying menjauhi keduanya hingga berjarak lebih dari seratus meter.
BLAAMMMM
Suara ledakan besar disertai gemuruh segera terdengar, saat Chen An baru saja hendak menenangkan Shi Ying yang telah menangis sedih.
Belum tiga hari Ia kehilangan Sang Suami, kini Ia akan kehilangan puteri semata wayang mereka. Dengan harap cemas, Ia berdoa agar Thio San mampu mengalahkan roh yang memasuki puterinya.
Sosok yang diharapkan mampu mengembalikan puterinya itu, terlihat melesat ke udara, menghindari tebasan pedang dari Roh Phoenix Api Putih.
Thio San tidak menduga bahwa Roh Siluman itu begitu kuat. Serangannya begitu cepat dan mematikan. Ia terpaksa mengeluarkan tombak pusaka dari cincin ruangnya untuk mengimbangi serangan Roh Phoenix Api Putih.
Setelah menggunakan Tombak Penghancur Gunung, Thio San yang tadi terdesak, kini bisa mulai mengimbangi lawannya. Namun pertarungan yang seimbang itu, tidak berlangsung lama.
“Apa!” Thio San melesat mundur saat mendapati tubuh Cui Lan yang dirasuki Roh Ratu Beast Dunia Atas itu, mengobarkan Api putih yang sangat panas.
Pepohonan dalam radius seratus dari tubuh gadis itu, mulai mengering dan perlahan terbakar dan menyala semakin besar. Beruntung Chen An membawa Shi Ying ke udara, berjarak seratus meter lebih dari tubuh Cui Lan berada.
Apa yang dilihat oleh Thio San saat ini, mengingatkan dirinya pada peristiwa ratusan tahun lalu, saat Ia masih berada di Dunia Atas.
__ADS_1
Saat itu, Sang Guru berhasil menaklukkan dan menyegel roh Ratu Beast itu dengan mengurungnya dalam Pedang Nirwana.
“Sayang sekali …Aku tak mampu menyegel roh ini. Andai saja Aku memiliki kekuatan setinggi guru, mungkin aku bisa mengalahkannya.”
Dari jarak lima puluh meter, Thio San berkata dengan suara lirih. Ia lalu melesat ke arah Chen An dan Shi Ying berada.
Sementara area hutan yang terbakar, telah menjadi sangat luas. Asap membumbung tinggi di udara.
“Maafkan Aku Nyonya Shi Ying, Kekuatan roh itu telah meningkat pesat, aku bukan lawannya.”
Shi Ying menangis histeris, Ia tak kuasa mendapati kenyataan tersebut. Sehingga kesadarannya menghilang yang membuat Thio San segera melesat menyambarnya.
Chen An terlihat sangat sedih, Ia menyesali situasi dimana dirinya tidak berdaya sama sekali. Kesedihannya itu bertambah, saat melihat tubuh Cui Lan melayang cepat, meninggalkan mereka dan menuju ke arah selatan.
“Guru … Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan. ”Tanya Chen An sedikit panik. Thio San hanya bisa menghela nafas panjang.
Setelah berkata demikian, Thio San menyerahkan tubuh Shi Ying pada Chen An. Lalu Ia melesat ke arah hutan yang terbakar dan semakin meluas itu. Ia mengeluarkan ledakan energi qi untuk memadamkan api tersebut.
Namun sentakan energi itu, tidak mampu memadamkan api, walau Thio San melakukannya beberapa kali. Hal itu membuat Chen An berinisiatif membantunya.
“Guru, mungkin teknik yang kumiliki bisa memadamkan kobaran api itu.” Chen An membuat Tubuh Shi Ying melayang ke arah Thio San yang segera menyambutnya.
“Bagus jika begitu, Aku ingin melihatnya Chen Cen.”
Chen An segera melesat mendekati area kebakaran itu, Ia menggunakan teknik Dewa Bumi Jurus Tinju Dewa Bumi. Tanah bergetar setelah Chen An mengalirkan delapan puluh persen energi qi dalam tubuhnya.
Sebuah bongkahan tanah berbentuk kepalan tinju berukuran sangat besar, muncul dari permukaan tanah. Thio San tersentak kaget saat mengetahui jurus yang Chen An gunakan.
“Tinju Dewa Bumi? Tidak salah lagi itu adalah jurus dari Kitab Dewa. Bagaimana Chen Cen bisa menguasai jurus dari Kitab yang melegenda itu?”
__ADS_1
Kekaguman Thio San bertambah, saat Chen An mengendalikan kepalan tangan raksasa itu untuk menghantam kobaran api putih itu. Setiap area kobaran api yang terkena hantaman Tinju Dewa Bumi, seketika menjadi padam.
Setengah jam kemudian, seluruh api putih itu, benar-benar padam. Menyisakan asap-asap kecil yang mengepul dari berbagai tempat. Chen An terlihat sangat kelelahan, ketika melayang menghampiri Gurunya.
“Chen Cen makanlah dan segeralah kau serap khasiat Buah Hitam ini.” Chen An menangkap buah berwarna hitam legam yang dilempar oleh gurunya.
Buah itu diambil Thio San dari Cincin Ruang milik gurunya. Buah langka yang harganya sangat mahal, mencapai jutaan keping emas.
Saat selesai menelan satu gigitan buah yang bagian dalam dan bijinya juga berwarna hitam itu, Chen An tersentak merasakan energi yang sangat besar mengalir dari dalam perutnya.
Ia segera melesat ke sebuah batu besar untuk menyerap khasiat buah Hitam itu. Thio San pun mengikuti Chen An dan meletakkan tubuh Shi Ying di batu lain.
Thio San merenung sambil menatap wajah sayu Shi Ying yang masih tak sadarkan diri. Rasa aneh kembali menjalari tubuhnya, membuat Ia memutuskan untuk menolong wanita itu sebelum kembali ke Dunia Atas.
#
Saat Roh Phoenix Api Putih merasuki tubuh Cui Lan dan mengerahkan kekuatannya, di sebuah tempat berjarak seratus kilometer lebih dari Hutan Siluman, terlihat sosok seorang tua, tersentak dari meditasi panjang yang telah Ia lakukan.
Ia berdiri dan melesat keluar dari goa setelah membuka segel pelindung. Ia ingin memastikan aura kekuatan itu, benar-benar aura kekuatan yang Ia kenali.
“Tak salah lagi, ini Aura Phoenix Api Putih. Aura San Gege juga berada di dekatnya, Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Pedang Nirwana Guru bisa berada di tangannya? Bukankah Pedang itu berada di tangan Ketua Sekte Pedang Nirwana?”
Sosok itu, yang tak lain adalah Tan Hu terlihat merenung. Ia pun menjadi kesal dan memanggil muridnya dengan mengirim suara dari jarak jauh.
Suara itu terdengar di sebuah ruangan berjarak seratus meter, dimana Bayangan Angin dan Ketua Dua, sedang berbincang dengan kedua Wakil ketua yang sedang terluka, ketika melawan Chen An.
“Ini … Suara ini suara Ketua Satu! Ketua Dua cepatlah Anda kesana, Jangan sampai Ketua Satu Marah dan menghukum kita semua.” Bayangan Angin menyadari ada kemarahan dalam suara Ketua Satu mereka.
########
__ADS_1