Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
011: Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Lima Tahun Kemudian


Chen An bukan tidak menyadari kedatangan belasan siluman buaya sepanjang lima meter, yang mendekati dirinya.


Namun di saat seperti ini, akan menjadi sangat berbahaya baginya jika menghentikan proses penyerapan energi dalam buah Pir Ungu itu.


“Ah … Aku ceroboh sekali. Seharusnya Aku tadi duduk di atas batu besar itu.” Kepanikan mulai menyelimuti hati Chen An.


Namun sesaat kemudian Ia tersenyum, ketika terlintas ingatan Xiang Long yang mampu membuat lawannya pingsan, hanya hanya dengan mengerahkan aura pembunuhnya saja.


Chen An lalu mulai mengerahkan aura tersebut. Namun, ia harus menelan ludah pahit, karena dirinya belum memiliki aura pembunuh sedikitpun.


“Ah Sial …!” Belasan siluman buaya itu semakin mendekati dirinya dan kini berjarak kurang dari sepuluh meter saja. “Apa yang harus kulakukan?!”


Dalam kepanikan bocah berusia delapan tahun itu, kembali melintas ingatan Xiang Long. Hal itu membuat Chen An segera melakukan gerakan aneh dengan memutar kedua tangannya dengan cepat.


Energi dari buah pir ungu itu, ia kumpulkan menjadi satu titik di telapak tangan kanannya. Lalu Ia mengarahkan telapak tangan itu ke arah belasan siluman buaya di depannya.


Karena belum pernah melakukan hal itu sebelumnya, energi qi di dalam tubuhnya ikut terbawa ke arah titik tersebut. Dan Chen An pun tidak menyadarinya.


BLAAAR


Mata Chen An melotot lebar, takjub dengan apa yang telah terjadi di hadapannya.


Bukan hanya belasan Siluman Buaya itu yang terbunuh dengan tubuh tercerai berai, tetapi , tetapi cahaya putih yang keluar dari telapak tangannya, membuat air sungai terangkat ke udara hingga setinggi lima meter.


Bukan hanya itu, pepohonan di seberang sungai, juga terlihat bertumbangan hingga seluas beberapa meter dari tepi sungai yang selebar dua puluh meter itu.


Namun sesaat kemudian, rasa sakit di tulang dan ototnya, membuat pandangan Chen An menjadi gelap. Rasa sakit yang teramat sangat itu, tak mampu di tahan lagi olehnya.

__ADS_1


“An’er apa yang terjadi denganmu!?” Fei Long yang kembali karena mendengar suara ledakan dahsyat tadi, menjadi panik ketika menemukan Chen An telah tergeletak tak sadarkan diri.


Setelah memastikan muridnya tidak mengalami luka serius, Fei Long mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Menatap potongan tubuh Siluman Buaya berserakan di mana-mana.


“Apakah An’er yang melakukan semua ini? Tidak Mungkin! Pasti ada orang lain yang menolongnya dan ia pingsan karena terkena imbas dari energi orang yang menolongnya itu.”


Benak Fei Long dipenuhi pertanyaan, saat mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Mencoba mencari keberadaan seseorang, yang mungkin bersembunyi di sekitar tempat itu.


“Siapa sebenarnya yang menolong An’er? Hanya seorang Pendekar Tingkat Langit Tahap Akhir yang mampu melakukan hal seperti ini. Siapa dia?”


Fei Long kembali mendekati Chen An karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaan dalam benaknya.


Lalu Ia mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Chen An untuk membuatnya segera tersadar.


“Aahhh … Guru! Kau sudah kembali!?” Chen An yang sudah kembali tersadar, merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat Ia beranjak duduk.


“An’er apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua itu? Siapa orang yang menolongmu?”


“Seorang Kakek berjubah biru? Apakah Ia tidak menyebutkan namanya?” Chen An menggeleng pelan mendengar pertanyaan itu.


Fei Long tidak terus mengejarnya, Ia lalu membantu Chen An untuk kembali ke dalam goa dan beristirahat di sana. Kemudian Fei Long kembali meninggalkan goa dan memasuki hutan untuk memetik Buah Pir Ungu.


Sementara di dalam goa, Chen An sedang merenungi apa yang baru saja terjadi. Ia kemudian bermeditasi untuk meredakan rasa sakit di tulang dan otot tubuhnya dengan teknik yang diketahuinya dari ingatan Xiang Long.


“Ah Sepertinya akan butuh waktu lama bagiku untuk bisa menguasai seluruh teknik dalam ingatan Tuan Xiang Long ini.” Chen An lalu memandang ke tumpukan kitab yang harus Ia pelajari dengan bimbingan gurunya.


**


Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Saat ini, Fei Long tengah menatap takjub ke arah Chen An yang sedang melompat dari satu pucuk pohon ke pohon lain dengan peringan tubuhnya yang telah jauh di atas peringan tubuh yang Fei Long miliki.

__ADS_1


Chen An tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan tubuh yang tegap. Jika orang melihatnya, mereka tidak akan percaya jika pemuda itu masih berusia tiga belas tahun.


Tinggi tubuh Chen An, kini setinggi Fei Long. Ia terlihat seperti seorang pemuda berusia delapan belas atau dua puluh tahun. Hanya saja wajah polosnya, yang menunjukkan jika dirinya masih sangat muda.


“Ah … Membosankan sekali latihan ini. Namun bagaimanapun juga, Aku harus menyembunyikan kemampuan melayangku dari guru.” Chen An tersenyum tipis mengingat apa yang telah dicapainya selama lima tahun terakhir ini.


Yang Fei Long ketahui tentang pencapaian latihan muridnya itu, hanya separuh dari pencapaian Chen An yang sebenarnya.


Beberapa diantara yang diketahui oleh Fei Long adalah Tulang tubuh Chen An yang telah mencapai Tulang Besi Tua dan Otot tubuhnya yang telah mencapai tingkat Otot Putih Muda.


Selain kedua pencapaian yang luar biasa itu, Segala teknik yang dimiliki oleh Fei Long telah dikuasai dengan tingkat Penguasaan Sempurna oleh Chen An. Bahkan Chen An pun telah menguasai Jurus Hujan Seribu Pedang dengan tingkat Penguasaan Mahir.


Hanya jurus-jurus yang berada dalam Kitab Dewa saja yang belum Fei Long ajarkan kepada Chen An. Hal itu karena Fei Long masih terus berusaha mempelajari teknik-teknik dari kitab tersebut.


“Sial!... Lima tahun Aku mempelajari Kitab ini, tapi satu teknik pun belum bisa Aku pahami dengan benar!”


Fei Long yang sedang membuka Kitab Dewa, segera menutup kitab itu dan menyimpannya ke balik jubah, saat Chen An melompat turun dari pucuk sebuah pohon.


“Guru! … Apakah kitab yang baru Guru baca adalah Kitab Dewa?” Tanya Fei Long seraya tersenyum. Fei Long mengangguk dan terdiam sejenak.


“Benar An’er … Sepertinya hari ini saatnya bagiku untuk menyerahkan Kitab dari Yuan Shi ini kepadamu. … Terimalah.”


Fei Long menyerahkan Kitab Dewa yang segera diterima oleh Chen An dan lantas membuka halaman demi halaman dari kitab tersebut.


“Ada apa? Kenapa dahimu berkerut?” Tanya Fei Long saat mendapati Raut wajah Chen An yang berubah.


“Guru … Kitab ini hanya berisi setengah dari Kitab Dewa yang sesungguhnya. Sebagian yang lain, bukan merupakan isi dari Kitab Dewa yang asli.”


“Bagaimana Kau tahu hal tersebut?!” Dahi Fei Long berkerut heran mendengar ucapan Chen An. Seingatnya, kitab itu belum pernah sekalipun berpindah tangan darinya.

__ADS_1


“Aih … Aku keceplosan lagi… “ Chen An menghela nafas panjang, menatap tulisan dalam kitab tersebut dengan seksama.


******


__ADS_2