
“Apakah Kau merindukan tanganku, Raja Elang Hitam.” Suara Chen An yang berubah serak serta rambut panjangnya yang kini berwarna merah, membuat Thio San menyadari muridnya telah dirasuki oleh Roh Pedang di tangannya.
“Huh … Kau pikir Kau bisa menghajarku seperti saat berada di Dunia kita? Saat ini, Kita sama-sama menjadi roh, kekuatan kita menjadi tidak berbeda jauh. Apakah Kau tidak menyadari hal itu?” Roh Raja Elang terkekeh.
“Raja Elang … Jangan banyak bicara lagi, Kita habisi saja bedebah ini.” Suara Serak dan berat lain yang merasuki tubuh Ruan Hu berkata seraya melesat dengan kecepatan bagai kilat ke arah Chen An.
Tombak Angin di tangan Ruan Hu, melesat ke arah kepala Chen An yang segera menggerakkan Pedang Bintang Merah untuk menangkis serangan cepat itu.
TRANG!!
BLAAMMM!!!
Thio San dan Cui Lan terpental jauh akibat benturan energi maha dahsyat yang juga menghancurkan tembok dan membunuh semua orang dalam radius seratus meter dari tempat tersebut.
Gedung Balaikota yang tadi berdiri tegak menjulang, kini telah sirna dari pandangan mata, menyisakan puing-puing yang berserakan dalam radius seratus meter.
Sedang tubuh Ruan Hu terpental puluhan meter ke udara dan berhenti setelah berada lima puluh meter dari tanah. Wajahnya terlihat terkejut dengan kekuatan yang kini dimiliki oleh Si Rambut Merah.
Sementara Raja Elang terperanjat kaget melihat hal tersebut. Hal ini di luar dugaannya. “Raja Yakut … Apakah Kau menyadari sesuatu?”
Zhi Hung menganggukkan kepalanya.”Jika Kau ingin kembali ke Dunia Kita, cepat tinggalkan tempat ini.” Raja Yakut yang merasuki Tubuh Zhi Hung, berkata seraya melesat ke udara, ke arah yang berlawanan dengan arah yang dituju oleh Chen An.
Roh yang dipanggil Rambut Merah, hanya bisa mendengus kesal, melihat dua orang lainnya melesat pergi dengan kecepatan tinggi.”Setidaknya Aku bisa menangkap satu dari sembilan orang yang selama ini ku cari.”
Sosok Roh Rambut Merah berkata dalam benaknya. Ia menatap tajam ke arah tubuh Ruan Hu yang berjarak lima meter di depannya. Saat ini keduanya sedang berada di udara.
“Sialan Kau Raja Yakut! Raja Elang Hitam!” Terdengar Suara dari mulut Ruan Hu yang menggerutu marah, setelah mengetahui dirinya menjadi jalan untuk mereka melarikan diri dari tempat tersebut.
“Raja Angin … Bersabarlah, setelah Aku menyegelmu ke dalam Mustika Bintang, Ku pastikan mereka akan menemani mu di dalam sana.”
“Mustika Bintang?! Bohong ! … Mustika itu sudah dihancurkan oleh Yang Mulia Kaisar Angin dan Delapan Kaisar lainnya, Saat terjadi pertempuran dahsyat di Dunia Sembilan Benua!” Raja Angin berteriak keras, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Benarkah begitu? Lalu mengapa Sembilan Kaisar mengirim Sembilan Raja ke dunia Ini? Bukankah kalian mencari mustika itu?” Pertanyaan itu membuat Roh Raja Angin termenung.
“Jadi begitu rupanya. Sayang sekali Raja Yakut dan Raja Elang Hitam tidak sempat mengetahui hal ini. Tapi, mengapa Sembilan Kaisar menugaskan kami untuk mencari sebuah Kitab bernama Kitab Dewa, jika tujuan sebenarnya adalah untuk menemukan Mustika Bintang?”
__ADS_1
Berbagai pertanyaan dalam benak Roh Raja Angin, membuatnya tidak menyadari jika Roh Rambut Merah telah melakukan sesuatu.
Dengan menggunakan kekuatan Mustika Bintang yang telah menyatu dengan tubuh Chen An, Roh Rambut Merah segera mengaktifkan Segel Roh-nya.
Tubuh Chen An kini diselimuti oleh cahaya putih, yang dipenuhi dengan bintang-bintang kecil berjumlah ribuan buah.
Sementara dari kedua telapak tangannya, muncul lingkaran cahaya putih yang berpusar dengan garis tengah mencapai dua meter.
“Tidak Mungkin!” Wajah pucat ditunjukkan oleh Roh Raja Angin saat menyadari kebenaran kata-kata Roh Rambut Merah tentang Mustika Bintang.
Raja Angin berusaha keras agar Ia tidak terhisap oleh Pusaran Segel Roh yang mulai menarik tubuh rohnya dengan sangat kuat.
Ia menggerakkan tongkatnya dan menciptakan Angin Tornado yang berputar dengan sangat cepat dari ujung tombak tersebut.
Gulungan angin tornado itu melesat ke arah pusaran cahaya putih tersebut. Namun Raja Angin terkejut setengah mati, saat Ia mendapati serangannya terhisap masuk ke dalam pusaran Cahaya putih itu.
Tubuh Rohnya perlahan-lahan mulai tertarik seiring dengan terhisapnya mata Tombak Angin ke dalam pusaran Segel Roh tersebut.
“Tidak! Hentikan!” Raja Angin berteriak seraya mengerahkan seluruh energi yang Ia miliki.
Pusaran Angin tornado semakin membesar. Mata Tombak Angin sedikit demi sedikit, menjauhi lingkaran cahaya dari Segel Roh.
Roh Rambut Merah menyeringai kesal, Ia melepaskan kekuatan besar yang membuat Raja Angin menjerit keras, sesaat sebelum Tubuh Rohnya terhisap ke dalam Segel Roh.
Tombak Angin lenyap dari pandangan mata dan Tubuh Roh Raja Angin perlahan keluar meninggalkan Tubuh Ruan Hu. Sesaat setelah kesadarannya kembali, Ruan Hu memekik keras.
“Toloooong!“
Tubuh Ketua Sekte Tombak Angin itu, meluncur jatuh dari ketinggian puluhan meter dan menghantam puing-puing bangunan di bawahnya.
BRAAAKKK
Tidak terdengar teriakan kematian Ruan Hu yang tewas seketika dengan tulang tubuh yang patah di beberapa bagian.
“Cepatlah kembali ke dalam pedang!” Chen An berkata pada Roh Rambut Merah. “Tunggu dulu … Aku ingin bertanya pada Raja Angin, tentang apa tujuan mereka sebenarnya di kirim ke Dunia ini?”
__ADS_1
“Aku tidak peduli dengan itu. Kembalilah ke dalam pedang!” Chen An berkata dengan suara yang sedikit meninggi.
“Huh … Seandainya saja kau tidak memiliki Mustika Bintang di tubuhmu, Kau tak akan pernah bisa mendapatkan kembali tubuh ini bocah sialan.”
Dalam benaknya, Roh Rambut Merah menggerutu kesal. Seandainya saja dirinya tidak di bawah perintah makhluk kejam dengan kekuatan bagai Dewa itu, mungkin Ia akan mengambil alih tubuh Chen An selama Rohnya berada di Dunia Asing ini.
Sesaat kemudian, asap merah keluar dari tubuh Chen An dan bergulung memasuki bilah Pedang Bintang Merah yang kembali berwarna putih, Sesaat kemudian.
Chen An segera memasukkan Pedangnya ke dalam Cincin Ruang. Ia perlahan melayang turun mendekati Thio San dan Cui Lan yang telah kembali mendapatkan kendali atas tubuhnya.
“Chen Cen … Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat murung? Apa karena dua orang lawanmu berhasil lolos?”
Chen An menggeleng pelan. “Tidak Guru, hanya saja Aku merasa ada sesuatu yang salah. Tapi aku sendiri tidak tahu apa itu.”
Thio San menghela nafas panjang, dahi Cui Lan berkerut saat teringat bahwa Ibunya tidak terlihat bersama Thio San. “Kakek … Dimanakah Ibuku berada saat ini?”
“Sebentar lagi Ia akan tiba di sini, sesuatu telah terjadi pada Sekte Pedang Perak.” Ucap Thio San seraya menghela nafas panjang.
“Apa!”
Informasi itu sangat mengejutkan Cui Lan, mengingat Ketua Sekte Pedang Perak adalah Kakeknya, Ayah dari Ibunya.
“Bagaimana dengan Kakek Shi Tong? Apakah Ia juga datang kemari?”
Thio San hanya menatap ke sebuah arah dimana Shi Ying telah tiba di tempat tersebut bersama puluhan anggota Sekte Pedang Perak.
“Ibu…!”
“Lan’er …. Kau …”
Shi Ying segera memeluk puterinya dengan sangat erat, air mata bahagia mengalir deras dari sudut matanya. Sejak kemarin Ia terus memikirkan puteri semata wayangnya itu.
“Syukurlah Kau telah kembali, Nak.” Shi Ying membelai rambut hitam Cui Lan yang kemudian menanyakan dimana Kakeknya. Dan apa yang terjadi pada Sekte Pedang Perak.
“Kakekmu telah tiada, Nak. Sekte Pedang Perak telah binasa.”
__ADS_1
Shi Ying kembali menangis, mengingat kematian tragis Ayahnya. Sedang Cui Lan terpaku dengan rasa sedih di hatinya dan juga kemarahan yang menggelegak.
@@@@@@@