
“Mengapa mereka bertiga belum kembali?”
Seorang pria tua bertanya pada dua rekannya yang lain. Ketiganya sedang berada di ruang kerja Gubernur Kota Zhaodong, yang terletak di lantai dua bangunan tersebut.
“Ketua Hu, sedari tadi kau terlihat cemas. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?” Satu orang rekannya bertanya, seraya meneguk arak di tangannya.
“Apakah Kau mengkhawatirkan Tetua Gu?” Tanya satu rekannya yang lain. Sosok yang dipanggil Ketua Hu mengangguk. Dia adalah Ruan Hu, Kakak Ruan Gu sekaligus Ketua Sekte Tombak Angin.
Dua orang lainnya terkekeh setelah mengetahui apa yang membuat rekan mereka terlihat cemas seperti itu. Keduanya adalah Zheng Yin, Ketua Sekte Gagak Hitam sekaligus Kakak dari Zheng Yun.
Satu orang yang lain adalah Zhi Hung, Ketua Sekte Kapak Iblis. Kakek berusia seratus tahun lebih itu, sedang mengelus sebuah Kapak besar dengan bentuk dan ukiran yang berbeda dengan kapak yang biasa terlihat. Ukiran itu berbentuk sebuah batu permata berwarna hitam dan putih.
“Ketua Hung, benarkah berita yang beredar jika kapak mu itu bukan kapak buatan manusia di dunia ini?” Tanya Zheng Yin.
Ketua Sekte Gagak Hitam itu, sedang mencoba mengalihkan kekhawatiran Ruan Hu yang masih terdiam memandang atap bangunan di kota Zhaodong.
Mendengar pertanyaan Zheng Yin, Zhi Hung tersenyum bangga. Lalu Ia menceritakan kisah turun temurun di dalam keluarganya. Kisah tentang Kakek Buyutnya yang bernama Zhi Long.
“Benar Ketua Yin, konon Kakek Buyutku mendapatkan kapak itu, saat tengah malam ketika Ia bermeditasi di sebuah puncak bukit.”
Zhi Yung melirik ke arah Ruan Hu yang sepertinya mulai teralihkan perhatiannya.
“Saat itu, Ia merasakan aura mencekam muncul dari langit. Saat membuka matanya dan melihat ke atas, Ia terkejut melihat sembilan kobaran api besar di langit. Salah satu kobaran api itu, jatuh ke tanah yang berjarak satu kilometer dari tempatnya berada.”
Terlihat keterkejutan di wajah Ketua Zheng Yin dan Ketua Ruan Hu.
“Mengapa wajah kalian seperti itu?” Zhi Hung yang kini menjadi keheranan. “Jangan-jangan .. senjata kalian itu, juga salah satu dari sembilan kobaran api yang dilihat oleh Kakek Buyut ku waktu itu.”
Zhi Hung berdiri dari duduknya, saat kedua rekannya menganggukkan kepala.
“Benar Ketua Hung, ceritamu sama persis dengan cerita turun temurun dari Leluhur Sekte Gagak Hitam. Kisah ini hanya diketahui oleh mereka yang menjadi Ketua saja.”
Zheng Yin mencabut pedangnya yang juga berbilah hitam, sama persis seperti yang dimiliki oleh Zheng Yun. Yang membedakan adalah adanya ukiran seekor Burung Elang Hitam pada bilah pedang Zheng Yin.
__ADS_1
Ruan Hu pun tak mau kalah, Ia menarik tombak sepanjang satu meter setengah dan menunjukkan ukiran pada gagang tombak tersebut, ukiran yang berbentuk pusaran angin tornado.
“Apakah ini kebetulan saja? Tiga dari sembilan kobaran api saat itu, adalah senjata yang kita pegang saat ini. Mungkinkah enam kobaran api lainnya juga senjata seperti yang kita miliki ini?” Tanya Zhi Hung penasaran.
“Bisa jadi begitu … Tapi dari manakah sebenarnya senjata-senjata ini berasal?” Tanya Ruan Hu yang telah memiliki pertanyaan itu, sejak dirinya diangkat menjadi ketua Sekte Tombak Angin.
BUUUMMM!
Sebuah ledakan menggelegar, yang membuat lantai bangunan dua itu, ikut bergetar juga. Suara Ledakan berasal dari sisi timur kota Zhaodong.
“Bukankah tadi lonceng yang berbunyi tanda berbahaya, berasal dari gerbang barat? Mengapa kini terjadi ledakan di sebelah timur? Ada apa sebenarnya?”
Ruan Hu yang sedari tadi cemas pada adiknya Ruan Gu, segera akan beranjak meninggalkan ruangan.
“Tunggu Ketua Hu, jangan gegabah. Bisa jadi yang datang menyerang adalah pendekar-pendekar dari pihak kekaisaran.” Zhi Hung berkata yang membuat kedua rekannya segera menatapnya.
“Ketua Hung, Apakah menurutmu rencana Ketua Topeng Baja telah bocor? Kita baru saja merebut kota ini tadi pagi. Kurasa, yang datang bukan dari pihak Kekaisaran.”
ARGGHH ARGHHH
Belum sempat Zheng Yin menjawab, terdengar teriakan keras dari halaman bangunan tersebut.
“Serangan!”
“Ada Serangan!”
Teriakan beberapa orang pendekar yang berjaga di depan bangunan Balaikota itu, membuat ketiga orang Ketua Sekte saling berpandangan.
Ketiganya segera melesat menuruni bangunan, ketika suara pertarungan dan jerit kematian mulai terdengar dari halaman.
Saat tiba di halaman, ketiganya mendapati belasan anak buah mereka tergeletak bersimbah darah. Sementara seorang pemuda dan seorang gadis, sedang bertarung melawan anggota sekte mereka bertiga. Keduanya adalah Chen An dan Cui Lan yang telah tiba di Balaikota.
Terlihat juga belasan orang yang mengenakan seragam biro pengawalan kota Zhaodong, bersiaga di belakang bersama dengan seseorang yang mengenakan seragam prajurit Kekaisaran Wei.
__ADS_1
“Hentikan pertarungan! Mundur semua!”
Suara menggelegar dari Zhi Hung dengan menggunakan tenaga dalamnya yang tinggi, membuat pertarungan yang tak seimbang dalam jumlah itu, sontak berhenti.
“Biro Pengawalan Elang Putih! Berani sekali kalian mengacau di sini setelah Ketua Utama kalian kuhabisi!” Zhi Hung terlihat geram, saat mendapati masih tersisa belasan orang dari Biro Pengawalan Kota Zhaodong itu.
“Jangan menyalahkan mereka! Akulah yang membunuh anak buahmu dan seluruh penjaga Gerbang Barat kota ini.” Chen An berkata demikian, karena tidak ingin Biro Pengawalan Elang Putih, menjadi sasaran kemarahan sosok di depannya.
“Apa!”
Ruan Hu terbelalak kaget. Firasat buruk yang menyelimuti benaknya, ternyata menjadi kenyataan.
“Lancang! Bocah ingusan seperti dirimu berani berbohong padaku! Mulutmu harus diberi pelajaran!”
Zheng Yin yang sebenarnya juga khawatir terhadap adiknya, segera melesat sangat cepat ke arah Chen An dengan mengembangkan telapak tangan kanannya.
Ia ingin menampar mulut bocah belasan tahun itu, agar tidak sembarangan berbicara. Namun, apa yang terjadi, membuat matanya terbelalak lebar, demikian juga dengan Ruan Hu dan Zhi Hung.
PLAK
Serangan cepat Zheng Yin, dengan mudah di tahan oleh Chen An. Kemudian pemuda itu memberikan serangan balik yang tak kalah cepatnya dari serangan Zheng Yin tadi.
DUAGH!
Tendangan Chen An berhasil di tangkis oleh Ketua Sekte Gagak Hitam itu, membuat tubuh Zheng Yin harus terpental beberapa meter, akibat kuatnya tendangan yang Chen An lesatkan.
“Hati-hati, Pemuda ini bukan pendekar biasa. Ia bisa menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya.” Setelah terlepas dari rasa terkejutnya, Zhi Hung berkata pada Ruan Hu dan Zheng Yin yang tak masih percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Saat melihat kemampuan yang Chen An tunjukkan di tingkat Pendekar Bumi Tahap Puncak, Zheng Yin tak percaya sama sekali jika kelompok yang dipimpin oleh Adiknya, Zheng Yun, Ruan Gu dan Wang Jun telah terbunuh.
Namun kini, Ia mulai menyadari jika apa yang dikatakan oleh Chen An, bisa jadi adalah kenyataan yang sebenarnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ruan Hu.
@@@@@
__ADS_1