
AARGGGHHH
Lang Bao berteriak keras memancarkan kekuatan yang membuat Thio San hanya terkekeh. “Cuma segitu kekuatanmu?!”
Dalam waktu kurang dari satu detik, wajah Thio San telah berjarak sejengkal lagi dari wajah Lang Bao yang membelalak lebar karena terkejut.
Dengan panik, Ia melesatkan tinju ke arah wajah lawan. Namun di luar dugaannya, serangan kuat itu hanya mengenai udara kosong.
CREEPP
Perbedaan kekuatan yang jauh, membuat Thio San dengan mudah menangkap leher Lang Bao dari belakang. “Lemah tapi bergaya sok hebat!”
KREEEKK
Suara leher yang patah, terdengar setelah Thio San menyelesaikan kalimatnya. Semua orang tercengang melihat tubuh Lang Bao yang terkulai jatuh tak bernyawa.
Antara marah dan jerih, Nenek Obat menatap tak percaya ke arah Thio San. Sosok yang selama ini Ia buru, ternyata memiliki kekuatan yang berkali-kali lipat darinya.
“Chen Cen … Mengapa mereka masih hidup?”
Thio San berkata setelah melihat ratusan anggota Sekte Tengkorak Putih, terdiam dengan wajah pucat, mengetahui pemimpin mereka sudah binasa.
Chen An melesat turun dan berhenti di udara, setelah berada dua puluh meter dari tanah. Hal itu membuat Nenek Obat dan lainnya tercengang, berbeda dengan anggota Sekte Tengkorak Putih.
Ratusan orang serentak melompat turun dari kuda mereka dan duduk berlutut. “Ampuni kami Tuan, Kami berjanji akan bertobat.” Thio San hanya menyeringai mendengar ucapan mereka.
“Aku sudah banyak melihat orang seperti kalian. Bertobat untuk tidak berbuat jahat lagi di saat seperti ini, tapi sebelas dari sepuluh orang akan mengulanginya lagi. Chen Cen! Cepat habisi mereka dan sisakan satu orang saja.”
Mendengar suara lantang Thio San, semua anggota Sekte Tengkorak Putih, sontak bersujud memohon pengampunan.
Sesaat kemudian, suara riuh jerit kematian terdengar memenuhi udara. Tubuh mereka tertembus hingga ke punggung, oleh tanah berbentuk runcing yang dibuat oleh Chen An dengan jurus dari Kitab Dewa.
Hanya satu orang yang tersisa hidup. Tubuhnya bergetar hebat dengan keringat yang membasahi tubuh, melihat seluruh rekannya telah binasa.
Komandan Prajurit Kota Suzhao, Leng Xue, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beberapa kali Ia menelan ludahnya, sebelum terdengar suara Chen An yang memanggilnya.
Leng Xue segera melompat turun, komandan prajurit yang berada ditingkat Pendekar Raja Tahap Dasar itu, terburu-buru menghampiri Chen An yang telah berada di tanah dan berdiri di depan satu orang yang masih hidup tadi.
“Komandan … Mungkin Anda bisa menanyai dia terkait situasi Kota Shuzao saat ini? Habisi saja setelah Anda selesai.” Chen An berkata lirih di dekat telinga komandan Leng Xue.
Chen An melangkah mendekati gurunya tepat saat Nenek Obat tiba di dekat Thio San. “Saudara Thio … Aku …” Suara Nenek Obat terputus, karena Ia bingung harus berkata bagaimana.
“Terimakasih telah menyelamatkan Aku berkali-kali. Maafkan Aku karena selama ini selalu berprasangka buruk pada Anda.” Setelah menemukan kata-katanya, Nenek Obat akhirnya mengatakan kalimat yang ditunggu oleh Thio San.
“Tak Apa, semua sudah berlalu. Du Tianyi … Apakah kau tahu dari mana gelang yang berada di tangan kananmu itu? Serta cerita yang berkaitan dengannya?”
__ADS_1
“Gelang ini warisan dari kakek buyutku, Tentu saja Aku tahu cerita itu. Gelang ini adalah gelang yang menjadi tanda persaudaraan leluhurku dengan seseorang yang mengajarinya ilmu pengobatan tingkat tinggi yang ku warisi dan ku jaga sampai saat ini.”
Nenek Obat akan bertanya, namun matanya terbelalak lebar saat Thio San memunculkan gelang yang sama persis dengan miliknya.
“Kakek Buyutmu bernama Du Fang bukan? Dia adalah Adik Angkatku. Kami bersumpah darah dengan kedua gelang ini sebagai tanda persaudaraan kami.”
Nenek Obat Du Tianyi tersurut mundur dua langkah, karena begitu terkejut mendengar perkataan Thio San. “Tidak mungkin! Kakek Buyutku sudah meninggal dua ratus tahun lalu. Siapa Kau sebenarnya?”
“Tiannyi! Apa Kau sudah pikun sehingga terlupa catatan dalam Kitab Alkemi Dasar tentang usia seseorang yang kultivasinya telah mencapai Ranah Dewa Semi Abadi?”
Du Tiannyi tertegun sejenak, sebelum akhirnya menjatuhkan diri dan bersujud kepada Thio San. “Leluhur … Mohon Ampuni kelancanganku.”
Semua orang tercengang kaget dengan apa yang dilakukan perempuan berjuluk Nenek Obat itu. “Fang Gege … Kenapa Nenek bersujud seperti memohon ampun?” Tanya Qiu Ling.
Qiu Fang tidak menjawab, Ia menarik tangannya adiknya untuk melompat turun dari tembok pagar kota dan mendekati Nenek mereka yang sedang berlutut di hadapan Thio San.
“Nenek … Ada apa..”
“Diam dan cepatlah berlutut kepada Kakek Leluhur kalian!”
Perkataan Qiu Fang terputus karena bentakan dari Neneknya. Keduanya segera berlutut dan memberi hormat kepada Thio San.
“Ternyata kau keturunan Adik Du Fang. Pantas saja Kau memiliki bau tubuh dan tubuh istimewa seperti dirinya. Hahahahaha…. “
Mendapati kenyataan itu, Thio San tertawa senang.
Dengan Cepat Qiu Fang menganggukkan kepala, walau Ia masih belum mengerti, mengapa Neneknya menyuruh Ia dan Qiu Ling memanggil dengan sebutan “Kakek Leluhur”
Chen An hanya tersenyum ke arah Qiu Fang yang sebentar lagi akan menjadi Adik Seperguruannya.
AARGGGHH!
Terdengar jerit kematian tak jauh dari tempat mereka berada. Anggota Sekte Tengkorak Putih yang diinterogasi oleh Komandan Leng Xue, tergeletak tewas dengan leher yang nyaris putus.
“Komandan Xue apakah Anda mendapat informasi tentang Kota Suzhao?” Tanya Chen An yang segera dijawab oleh Komandan Leng Xue.
“Benar Tuan Pendekar, Kota itu saat ini berada dalam kekuasaan Sekte Pedang Bayangan. Mereka telah menindas rakyat. Tuan Pendekar Tolong Selamatkan keluargaku yang masih tertinggal di sana.” Leng Xue berlutut dengan mata berkaca-kaca.
Chen An terenyuh mendengar perkataan komandan Leng Xue yang pipinya telah dialiri air mata. Terbayang kembali olehnya saat menyaksikan pembantai yang terjadi di Sekte Tangan Suci delapan tahun silam.
“Baiklah Komandan Xue.” Chen An berpaling ke arah Thio San.
“Guru Aku akan mendatangi kota Suzhao untuk membebaskan kota itu dari cengkeraman Para penjahat. Apakah Guru akan ikut denganku?”
“Tidak Chen Cen … Aku akan berada di kota ini untuk beberapa waktu, sambil mulai mengajari Fang-Fang dasar-dasar pengobatan. Pergilah… Selamatkan penduduk kota itu. Eh… Kau urus dulu mayat mereka.”
__ADS_1
“Baik Guru.”Chen An segera melayang ke udara setinggi dua puluh meter. Setelah memindahkan ratusan kuda yang mereka tunggangi ke tempat yang berbeda dengan menggunakan energi qi-nya, Chen An segera menggunakan teknik Dewa Bumi.
Semua orang, kecuali Thio San terpana dengan apa yang mereka lihat. Tanah dimana mayat-mayat itu berada, perlahan bergerak turun, sementara tanah di sekelilingnya, bergerak naik membentuk tembok yang tinggi.
Setelah mayat-mayat itu berada sepuluh meter di bawah permukaan tanah, tembok tanah yang tinggi itu perlahan runtuh dan menimbunnya.
Sesaat kemudian, tanah di depan Gerbang Timur Kota Zhaodong kembali seperti sediakala. Selain Thio San dan Cui Lan, semuanya terbengong melihat apa yang Chen An lakukan.
“Aku tak akan percaya hal ini jika hanya mendengar ceritanya saja.” Shi Ying berkata kepada Cui Lan yang sedang menatap Chen An yang membawa Komandan Leng Xue melayang di udara menuju Kota Suzhao.
“Ibu … Aku akan menemani An Gege …” Tanpa menunggu jawaban Ibunya, Cui Lan meminta Roh Phoenix Api Putih untuk merasuki dirinya. Sesaat kemudian, Tubuh Cui Lan melayang ke arah yang dituju oleh Chen An.
“Apa!” Qiu Ling terkesiap kaget melihat Cui Lan bisa melayang di udara dan mengejar Chen An. Ia merasa cemburu dan iri karena Cui Lan memiliki kemampuan tinggi sehingga bisa pergi bersama pemuda yang telah mengisi hatinya itu.
“Kakek Leluhur … Aku Mohon Pada Kakek untuk menjadikan Aku murid Kakek juga.” Ucap Qiu Ling dengan suara bergetar menahan tangis, karena merasa telah kalah bersaing dengan Cui Lan.
Nenek Obat yang memahami apa yang terjadi pada cucunya, segera berlutut memohon kepada Thio San yang tengah menatap Qiu Ling, sambil mengelus jenggot putihnya.
“Baiklah … “ Thio San menghela nafas panjang, Ia menatap Chen An yang kini terlihat seperti titik hitam di kejauhan sana.
@
“Sepertinya Anda sudah terbiasa Komandan Xue, bagaimana kalau ku percepat perjalanan kita.” Chen An berkata demikian setelah melihat wajah Komandan Leng Xue terlihat mulai tenang.
Awalnya Leng Xue sangat panik, karena melayang di ketinggian seratus meter tanpa berpegangan apapun. Ia bahkan dalam posisi merangkak saat Chen An tadi mengangkatnya ke udara dengan energi qi-nya.
“Tidak Tuan Pendekar … Seperti ini saja kita akan cepat sampai. Aku …” Komandan Leng Xue tak berani mengatakan jika perutnya terasa sangat mual.
Chen An dan Cui Lan hanya tersenyum tipis, mereka terpaksa menaikkan kecepatan melayang dengan perlahan-lahan agar Leng Xue tidak menyadarinya.
DI kejauhan terlihat asap mengepul dari sebuah desa kecil. Setibanya di atas desa tersebut, darah Chen An mendidih. Ia segera melesat turun, membuat Leng Xue ketakutan hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Desa tersebut sedang diserang oleh sekelompok orang yang jumlahnya sekitar dua puluh orang. Mereka sedang menjarah dan telah membunuh beberapa orang penduduk pria.
Sementara tujuh orang lain, terlihat sedang berusaha menggagahi beberapa perempuan. Tanpa bertanya apapun, Cui Lan melesat menyerang mereka dengan Pedang.
Jeritan penduduk yang berusaha lari berganti dengan jerit kematian sua puluh orang itu. Chen An dan Cui Lan tak menyisakan satu pun diantara para penjahat itu hidup.
Setelah menyarankan mereka untuk mengungsi ke kota Zhaodong, Chen An kembali melesat ke arah Kota Suzhao seperti arahan Komandan Leng Xue yang telah kembali tersadar.
Selang beberapa saat kemudian, mereka melihat sebuah kota berjarak satu kilometer lagi. “Tuan Pendekar … Apakah Kita akan memasuki Kota Suzhao dari gerbang barat itu?”
“Tentu saja tidak, Komandan Xue. Kita akan lewat atas saja.”
Saat berada di atas kota Suzhao, Komandan Leng Xue mengarahkan Chen An ke tempat di mana rumahnya berada. Wajah komandan itu pucat pasi saat menyaksikan rumahnya telah rata dan seperti habis terbakar.
__ADS_1
“Tidak! AAARGGH” Komandan Leng Xue menjerit histeris. Ia menyadari, Isteri dan Puteranya tidak selamat dalam tragedi itu.
@@@@@