Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
030: Pedang Bintang Merah


__ADS_3

Tangan raksasa dari tanah itu segera bergerak mendekat, berusaha menangkap gagang pedang raksasa. Namun hal lain yang terlihat kemudian, membuat Thio San kembali terkesiap.


“Chen Cen … Apa yang terjadi dengan mu?” di hadapan Thio San terlihat sosok Chen An berselimutkan cahaya putih yang sangat menyilaukan, keluar dari dalam reruntuhan goa dengan aura kekuatan yang bukan miliknya.


Aura hangat dan menyejukkan dari tubuh Chen An, merembes hingga puluhan kilometer jauhnya, membuat penduduk yang panik menjadi tenang, demikian juga dengan para siluman.


Aura itu juga membuat tubuh Thio San bergetar. Menekan tubuhnya dengan sangat kuat, sehingga tak mampu lagi bertahan di udara.


Setelah kakinya menjejakkan tanah, Thio San bisa melihat kedua tangan raksasa dari tanah itu, telah mencengkeram pedang raksasa berbilah merah, yang terus meronta hendak melepaskan diri.


Namun setelah kemunculan Chen An dan sebuah bola cahaya putih yang menyelimuti Shi Ying dan Cui Lan, pedang raksasa berbilah merah itu seketika berhenti meronta.


Wujudnya perlahan mengecil dan terus mengecil hingga akhirnya kembali ke ukuran semula. Pedang berbilah merah itu juga berubah warna, menjadi keperakan seperti umumnya pedang biasa.


Hanya saja ukiran berbentuk bintang berwarna merah di pangkal bilah, bersinar memancarkan cahaya merah. Saat Chen An menjulurkan tangannya, pedang itu melesat ke arah pemuda tersebut.


Chen An menatap sejenak pedang tersebut sebelum memasukkan ke dalam sarung Pedang Kristal Siluman di punggungnya. Saat pemuda itu berbalik menghadap ke arahnya, Thio San pun terkesiap.


Warna putih pada bola mata Chen An, telah berubah hitam. Sedang bulatan yang seharusnya hitam, berganti dengan warna keemasan yang berkilau terang.


Thio San menelan ludahnya, saat dalam setengah kedipan mata, tubuh Chen An telah berada satu setengah meter di depannya.


Aura kuat dari tubuh pemuda itu, membuat lututnya menjadi goyah, pundaknya seolah tertekan beban seberat puluhan ton. Ia pun jatuh berlutut di hadapan muridnya sendiri.


“Aku berbicara dari tempat yang sangat jauh dengan telepatiku, dari dunia yang berbeda dari duniamu ini. Aku memberi mu tugas untuk menjaga dan membuat bocah ini menjadi lebih kuat lagi. Ada tugas besar yang menanti bocah ini di duniaku. Kelak Ia akan ku jemput setelah kekuatannya cukup untuk memasuki duniaku. Apakah kau bersedia?”

__ADS_1


Dengan cepat, Thio San menganggukkan kepalanya. Kata-kata tegas dan berwibawa dari mulut Chen An, tak mampu untuk ia tolak, meskipun penasaran apa tugas besar muridnya itu.


“Terimakasih atas kesanggupanmu. Aku tahu kau penasaran siapa diriku, kelak kau akan mengetahuinya. Aku tidak bisa terlalu lama mengendalikan tubuh bocah ini dengan telepatiku. Tubuhnya masih sangat lemah. Aku tak ingin membuatnya hancur meleleh. Katakan padanya, hati-hati saat menggunakan Pedang Bintang Merah itu. Aku pergi dulu.”


Setelah berkata demikian, Aura kekuatan itu tiba-tiba menghilang. Tubuh Chen An terkulai lemas dan jatuh tak sadarkan diri. Bola cahaya yang menyelimuti tubuh Shi Ying dan Cui Lan, juga sirna.


Untuk sesaat suasana menjadi hening. Thio San mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Ia hanya bisa menghela nafas panjang seraya memandangi tempat tersebut yang telah berubah total.


Dengan energi qi-nya, Ia segera membuat Chen An tersadar. Pemuda itu terlihat kebingungan saat bangun dan melihat di sekelilingnya.


“Guru … Apa yang telah terjadi? Kemana Pedang ku?” Tanya Chen An yang segera berdiri dengan was-was.


Ia tak tahu harus menjawab apa, ketika bertemu dengan Sang Guru dan bertanya kemana Pedang Kristal Siluman yang diwariskan kepadanya.


Chen terkesiap kaget, saat Thio San mengatakan pedang yang Ia cari, telah berada di punggungnya. Ia terlihat girang untuk sesaat, namun segera mencabut kembali pedangnya, ketika teringat pedang itu tadi bersatu dengan pedang Nirwana.


Setelah Thio San menceritakan apa yang tadi terjadi, Chen An hanya bisa terdiam. ”Siapa adanya orang itu, Aku juga tidak tahu sama sekali Guru.”


“Bibi Ying! … Adik Lan!” Chen An melesat ke arah kedua perempuan yang sedang tergeletak tak sadarkan diri. “Chen An lalu mengalirkan energi qi-nya untuk membuat kedua orang itu tersadar.


Beberapa saat setelah tersadar, Shi Ying dan Cui Lan terbelalak saat melihat ke sekeliling mereka.


Ketika Cui Lan bertanya dimana pedang Nirwana, Chen An hanya menjelaskan secara garis besar bahwa pedang di punggungnya itu adalah pedang perpaduan dari kedua pedang mereka.


“Bagaimana itu bisa terjadi, An Gege? Lalu bagaimana aku menjaga diri jika pedang warisan ayah tiada lagi?” Tanya Cui Lan sedih dengan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Shi Ying mendekati puterinya. “Lan’er … Keberadaan Pedang Nirwana telah membuat sekte kita hancur. Ayah dan paman-pamanmu juga menjadi korbannya. Kurasa lebih baik pedang itu menghilang atau dipegang oleh An’er saja.”


“Adik Lan … Kurasa benar sekali apa yang dikatakan bibi Ying. Aku berjanji akan mencari pedang lain yang tak kalah hebatnya untukmu.” Chen An menghibur Cui Lan yang akhirnya tersenyum menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa waktu kemudian, Shi Ying mengatakan bahwa Ia akan kembali ke sekte Pedang Perak bersama dengan Cui Lan. Sektenya itu berada di sebelah timur Ibukota Kekaisaran Wei, sepuluh hari perjalanan berkuda dari Sekte Pedang Nirwana.


“Bibi … Aku akan menemani bibi kembali ke Sekte Pedang Perak. Tapi sebelum itu, Aku dan Guruku harus mendatangi sebuah tempat tak jauh dari tempat ini. Apakah Bibi bersedia menunggu kami?”


Shi Ying menganggukkan kepalanya, terlihat senyum di bibir Cui Lan yang merasa senang akan melakukan perjalanan bersama Chen An walau hanya beberapa hari saja.


“Chen Cen, menurutku mereka sebaiknya ikut saja. Terlalu berbahaya meninggalkan mereka berdua menunggu di tempat ini.” Thio San berkata menuruti insting dan pengalamannya.


“Tapi Guru … Untuk tiba di tempat yang ditunjukkan dalam peta itu, kita harus menempuh jalur atas. Tak apa-apakah jika mereka mengetahui teknik itu.” Tanya Chen An sambil menunjuk ke udara, saat kata “Atas” Ia ucapkan.


Baik Shi Ying maupun Cui Lan, tak mengerti sama sekali maksud perkataan Chen An. Thio San hanya terkekeh. “Kurasa mereka bisa menyimpan rahasia kita Chen cen. Bukankah begitu Nona Shi Ying?”


Semburat merah, terlihat di pipi Shi Ying saat Thio San menyebutnya “Nona”. “Nyonya, bukan Nona, Guru.” Kata Chen An yang tertawa geli bersama bersama Chui Lan.


“Ah maaf … Lidahku suka salah bicara jika berhadapan dengan perempuan.” Thio San berkilah. “Ayo kita berangkat sekarang.”


Setelah berkata demikian, Thio San mengembangkan kedua telapak tangannya ke arah Shi Ying dan Cui Lan. Energi tak kasat mata, membuat kedua perempuan itu terkejut.


Thio San melesat ke udara seraya membawa tubuh kedua perempuan itu yang terlihat kaget sekaligus panik, saat tubuh mereka ke angkat ke udara hingga setinggi tiga puluh meter.


Chen An segera menyusul dan melayang di dekat Cui Lan yang sedang ternganga, melihat pemuda itu juga bisa terbang layaknya seekor burung.

__ADS_1


########


__ADS_2