
“Tuan Pendekar… Benarkah sosok yang anda lihat tadi mengenakan topeng hitam?” Tanya Luan Hu dengan suara bergetar.
“Benar Paman … Apakah Paman mengenalinya?”
Luan Hu menghela nafas panjang, Pengawal Pribadi Gubernur Qiu Feng itu memandang Komandan Chao dan Qiu Fang. Keduanya pun mengangguk, mengizinkan Luan Hu untuk menjelaskannya.
“Tuan Pendekar … Orang yang bertopeng tadi, kemungkinan besar adalah anggota kelompok pembunuh nomor satu dan sangat ditakuti di Kekaisaran Wei ini. Kelompok Pembunuh Topeng Baja.”
Chen An tidak terkejut mendengar penjelasan tersebut. Dari raut wajah mereka, Ia sudah menduganya. Tiba-tiba terdengar suara Qiu Feng yang baru keluar dari pintu depan.
“Fang’er … Kenapa kau tidak membawa masuk Pendekar yang telah menyelamatkan kita?” Chen An berbalik dan mendapati sosok yang delapan tahun lalu sempat bertemu dengannya.
Qiu Feng menatap tajam wajah Chen An. “Benarkah kau murid Tuan Fei Long seperti yang dikatakan oleh Fang’er?” Tanyanya pada Chen An yang tengah memberi salam.
“Benar Paman … Apakah Paman lupa denganku?” Qiu Feng tertawa lebar. “Kalau tidak salah namamu adalah … “
“Chen An … Benarkah kau Kakak Chen An?” Suara Qiu Ling yang baru datang, memotong kalimat Qiu Feng. Sedang Qiu Fang menepuk jidatnya, karena Ia tidak mengingat sama sekali nama tersebut.
“Ternyata Kau adalah Adik Chen …” Qiu Fang tersenyum lebar. “Nanti saja bicaranya … Mari masuk dahulu, kami telah menyediakan hidangan untuk mu.”
Qiu Feng merengkuh pundak Chen An seperti anaknya sendiri, seraya berjalan memasuki kediaman besar tersebut.
Hati Chen An merasa hangat, ingatannya pun melayang ke masa dimana Ia pernah diperlakukan seperti ini oleh mendiang Ayah dan Ibunya.
“Awas belekan! Hehehehe…” Qiu Fang berlari menjauh, menghindari pukulan Qiu Ling yang kepergok olehnya, sedang menatap Chen An dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Setelah menyantap hidangan pada jamuan di tengah malam itu, mereka pun berbincang-bincang seputar peristiwa yang baru saja terjadi.
Dari perbincangan tersebut, Chen An bisa mengetahui bahwa kelompok Topeng Baja, memiliki pemimpin yang misterius dan sangat tinggi kemampuannya.
Dua tahun lalu, pemimpin kelompok pembunuh tersebut pernah hendak membunuh Kaisar. Namun berhasil digagalkan setelah bertarung ratusan jurus dengan lima orang pengawal pribadi Sang Kaisar.
__ADS_1
Chen An sedikit tertegun, saat mengetahui jika kelima pengawal pribadi Kaisar berada pada tahap Akhir Pendekar Langit.
Seseorang yang mampu mengimbangi serangan lima orang Pendekar Langit tahap Akhir, adalah musuh yang berbahaya.
“Ada berita yang menyebutkan bahwa Ketua kelompok Topeng Baja, telah mencapai tingkat Pendekar Surgawi. Ia mampu membuat tanah bergerak dan membentuk sebuah kepalan tinju sebatas siku.”
Informasi dari Luan Hu, membuat Chen An menghentikan niatnya untuk menegak arak dalam cawan di tangannya yang telah terisi penuh.
“Benarkah informasi itu Paman?”
Luan Hu membenarkan perkataannya. Hal itu membuat Chen An bertanya-tanya dalam benaknya, tentang salinan Kitab Dewa miliknya.
“Teknik yang digunakan oleh orang itu, jika tidak salah adalah jurus Tinju Dewa Bumi. Mungkinkah Kitab Dewa yang Asli berada di tangannya?”
Chen An bertanya demikian dalam benaknya. Suasana hening itu, dipecah oleh pertanyaan Qiu Feng.
“An’er … Apakah ada sesuatu yang menganjal dalam benakmu?” Chen An segera tersadar dan Ia pun teringat informasi yang Ia terima dari pimpinan kelompok Rantai Hitam.
“Paman Feng …. Tadi Paman berkata, tidak tahu mengapa mereka mengincar paman bukan?” Qiu Feng menganggukkan kepalanya.
“Aku mendapat sedikit informasi dari ketua Kelompok Rantai Hitam bahwa mereka mengincar peta yang dimiliki oleh Paman.”
Dahi Qiu Feng berkerut. “Peta …? Peta apa yang mereka cari? Aku hanya memiliki Peta Kekaisaran Wei. Apakah mereka mengincar peta itu?”
Kini Chen An yang termenung setelah mendengar jawaban Qiu Feng.
“Kurasa bukan peta itu, Paman. Yang mereka cari adalah peta lain, Peta harta Karun.”
“Peta Harta Karun??! Tidak An’er … Aku tidak memiliki peta semacam itu.” Qiu Feng berkata sambil menggelengkan kepalanya berulangkali. Semua orang terdiam karena kebingungan dengan informasi yang baru Chen An sampaikan.
“Sejak kapan mereka mulai mengincar paman?” Tanya Chen An yang berusaha menyelidiki sesuatu hal. “Kalau tidak salah, sudah sejak sebulan yang lalu.” Jawab Qiu Feng dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
Chen An menghela nafas, kemudian Ia bertanya apakah ada sebuah surat yang diterima atau barang misterius yang Qiu Feng terima sejak dua bulan terakhir ini.
Setelah mengingat-ngingat segala peristiwa yang terjadi selama dua bulan terakhir, Qiu Feng lalu memerintahkan Qiu Fang untuk mengambil buntalan milik mendiang adiknya.
Adik Sepupu Qiu Feng yang bernama Qiu Lang, dua bulan yang lalu mendatangi kediamannya saat tengah malam. Ia datang dengan tubuh yang bersimbah darah karena terluka parah.
Qiu Lang tidak sempat menjelaskan apa yang terjadi. Karena tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah, Ia harus tewas setelah tak sadarkan diri selama satu hari satu malam.
“Buntalan ini adalah satu-satunya barang peninggalannya. Selain sebuah jubah, terdapat sebuah kotak aneh. Kotak itu terbuat dari batu dan kami tidak bisa membukanya.”
Mata Chen An berubah berbinar-binar. “Kotak dari batu? Jangan-jangan ….” Chen An segera berdiri dan meminta izin untuk membuka buntalan itu.
Setelah mengeluarkan jubah berwarna biru tua, Chen An menemukan sebuah kotak batu berwarna hitam di bawah lipatan jubah tersebut.
“Tidak salah lagi… Ini adalah Artefak Harta. Bagaimana bisa benda ini berada di Dunia Bawah?” Berdasar ingatan Xiang Long di kepalanya, Chen An bisa mengenali kotak hitam yang panjangnya sejengkal tangan orang dewasa itu.
Qiu Feng, Qiu Fang, Luan Hu dan komandan Chao, hanya bisa berdiam diri melihat Chen An yang dian dan sedang memeriksa batu tersebut. Benak keempat orang itu, dirasuki rasa penasaran yang teramat besar.
“Artefak Harta ini disegel dengan sangat kuat, yang bisa melakukannya hanya Kultivator pada Ranah Alam Surgawi level lima ke atas.” Dalam benaknya, Chen An berkata demikian.
“Paman Feng … Bolehkah Aku mencoba membuka kotak batu ini.”
Qiu Feng pun menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Di raut wajahnya terlihat harapan besar, berharap Chen An bisa membuka kotak tersebut dan menguak misteri yang terdapat di dalamnya.
Mata semua orang terbelalak lebar, saat melihat Chen An membuat Kotak batu itu mengambang di udara setinggi dua meter dari lantai. Keempat orang itu pun, segera menjauh darinya.
Chen An memejamkan matanya, untuk mengalirkan seluruh energi qi di dalam tubuhnya.
Lima ratus kristal qi, perlahan terkumpul pada kedua telapak tangan Chen An yang kini memancarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan.
******
__ADS_1