
Saat Ia membuka matanya, Chen An mendapati tubuhnya telah terikat ke sebuah pohon besar dengan tali yang melilit sekujur tubuhnya. Hal yang sama terjadi pada Cui Lan, yang masih belum sadar sejak dirasuki makhluk roh itu.
Sebenarnya mudah saja bagi Chen An untuk melepaskan ikatan tali tersebut, namun banyaknya orang yang berkumpul, membuat Ia bertanya-tanya mengapa dirinya diperlakukan demikian.
Setidaknya ada sepuluh orang pria dan wanita berada di depan Chen An. Mereka membawa alat-alat yang biasa digunakan oleh para petani.
Seorang Pria bertubuh besar, menghampiri Chen An sambil membawa Pedang Nirwana. “Anak muda! Katakan padaku apakah kau yang telah membakar lahan pertanian kami?!”
Chen An tersentak kaget, Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati lahan pertanian di depannya yang memang terlihat habis terbakar.
“Maafkan Aku Tuan, Aku tidak sengaja melakukannya.” Chen An pun menjelaskan bahwa Ia akan mengganti seluruh kerugian tersebut.
“An Gege … Apa yang terjadi? Di mana Kita?” Cui Lan yang baru tersadar, segera bertanya saat mendapati situasi mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.
“Mengganti kerugian kami? Sepeserpun Kau tak memiliki uang, dengan apa kau mengganti kerugian kami, Hah!” Pria itu membentak marah. Cui Lan pun akhirnya memahami apa yang telah terjadi.
Menyadari jubahnya telah digeledah, Chen An pun menjadi kesal. Ia mengerahkan sedikit tenaga dalamnya dan memutuskan seluruh tali yang mengikat tubuhnya.
Pria itu tersentak kaget, demikian juga dengan para penduduk lainnya. Apalagi setelah melihat Cui Lan juga memutuskan tali yang mengikat tubuhnya dengan sangat mudah.
“Paman … Apakah uang ini cukup untuk mengganti seluruh kerugian itu?” Chen An memasukkan tangannya ke dalam jubah dan mengeluarkannya kembali, setelah mengambil sepuluh koin emas dari Cincin Ruangnya.
Sontak mata sepuluh orang petani itu melotot lebar. Bagi petani penggarap seperti mereka, memiliki satu keping koin emas bukanlah hal mudah.
Melihat mereka diam saja, Chen An mengambil kembali sepuluh koin Emas. “Apakah dua puluh keping emas ini cukup? Ambillah Paman dan bagi rata untuk semuanya!”
Sepuluh orang petani itu tiba-tiba berlutut, mereka tidak menduga akan memiliki dua keping koin emas yang satu kepingnya senilai seratus keping Uang Perak atau seribu keping Uang Perunggu.
Cui Lan yang merasa lapar, segera mengambil koin emas itu dan membagikannya sama rata. Ia pun meminta kembali Pedang Nirwana dari pria bertubuh besar itu.
Para petani itu mengucapkan terimakasih dengan wajah yang sangat ceria, bahkan salah satu petani perempuan, mengambil sesuatu dari balik keranjang yang Ia bawa.
“Nak … Ambillah Batu Giok warisan Leluhur ku. Kami sudah tua dan tak memiliki keturunan sama sekali. Lebih baik batu giok ini ku wariskan pada orang baik seperti dirimu.”
__ADS_1
Chen An terlihat jengah, Ia terpaksa menerima giok merah tersebut, karena perempuan tua itu memaksanya.
Saat telapak tangannya bersentuhan dengan batu Giok Merah itu, Chen An tersentak kaget. Namun Ia segera bersikap biasa saja, setelah memasukkan batu itu ke balik jubahnya.
Chen An dan Cui Lan meninggalkan lahan pertanian itu, diiringi lambaian tangan para penduduk desa yang tadi mengikat mereka.
Chen An kembali mengambil Batu Giok merah, saat mereka telah sangat jauh dengan lahan pertanian yang terbakar ketika terjadi pertarungan semalam.
“Ah … Mengapa Giok ini menghisap energi qi-ku?” Chen An segera membuat batu tersebut menghilang dari tangannya dan menyimpan di cincin ruang dimensi.
Ia sedikit khawatir dengan apa yang batu giok itu lakukan terhadap dirinya, Ia berencana menunjukkan batu tersebut setelah bertemu dengan guru keduanya, Thio San.
Dalam rasa herannya melihat apa yang dilakukan oleh Chen An, Cui Lan segera mengajukan pertanyaan pada pemuda tersebut.
”An Gege … Bagaimana caramu menghilangkan batu giok itu?”
Setelah mendengar penjelasan Chen An, Cui Lan termenung diam. Menyadari beberapa hari ini, Ia mengalami hal-hal di luar nalarnya.
Chen An menjelaskan semua yang terjadi, sambil terus berjalan menuju Kota Zhaodong yang sudah terlihat di kejauhan. Sementara Cui Lan seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya.
“Kontrak Darah?! Jadi itu bukan sekedar mimpi!” Cui Lan terkejut mendapati hal yang selama ini Ia anggap mimpi, ternyata adalah kenyataan yang sebenarnya.
“Tapi mengapa Aku tidak bisa terbang seperti An Gege? Bagaimana caraku menggunakan kekuatan Roh Phoenix Api itu?” Tanya Cui Lan semakin penasaran. Chen An sendiri tertegun, karena Ia juga tidak mengetahui caranya.
Setelah menggunakan ingatan Xiang Long, Chen An menyuruh Cui Lan mencabut Pedang Nirwana dan segera mengalirkan tenaga dalamnya ke pedang tersebut.
Seperti yang di duga oleh Chen An, Tubuh Cui Lan tersentak kaget saat merasakan sebuah energi besar, mengalir merasuki tubuhnya.
“Ada apa Kau membangunkan Aku, Tuan Puteri? Ku lihat tidak ada lawan yang harus dibinasakan.” Suara seorang perempuan, menggema di kepala Cui Lan.
Setelah meredam rasa terkejutnya, Cui Lan lalu menanyakan bagaimana caranya agar Ia bisa menggunakan kekuatan Phoenix Api yang sangat dahsyat itu.
Roh Phoenix Api mengatakan jika Cui Lan cukup mengalirkan tenaga dalam pada gagang pedang Nirwana. Setelah itu, Cui Lan harus membiarkan Ia mengendalikan tubuhnya.
__ADS_1
Banyak hal yang dijelaskan oleh Roh Phoenix Api kepada Cui Lan. Penjelasan Roh itu berakhir setelah mereka berjarak lima puluh meter lagi dari Gerbang Barat Kota Zhaodong.
“Apakah terjadi sesuatu di Kota ini? Mengapa prajurit penjaga gerbang ini, semuanya memiliki kemampuan Pendekar Bumi.”
Bukan hanya Chen An yang menyadari hal tersebut. Cui Lan yang kini berada di Tingkat Pendekar Bumi Tahap Menengah, juga menyadari.
Ini sedikit aneh baginya, karena biasanya para prajurit memiliki kemampuan di Tingkat Pendekar Pemula hingga Pendekar Ahli Tahap Dasar.
“An Gege … Apakah Kau menyadari sesuatu yang ganjil?” Cui Lan berbisik pada Chen An yang kemudian menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
“Tetaplah bersikap biasa, seolah kita tidak mengetahuinya. Apakah Kau sudah bisa menyembunyikan kemampuanmu yang sebenarnya?”
Chen bertanya demikian dengan suara yang dipelankan, karena jarak mereka dengan gerbang kota, kurang dari sepuluh meter lagi.
Cui Lan balas menganggukkan kepala. Chen An lalu meminta kepada gadis itu untuk menyembunyikan kemampuannya di Tingkat Pendekar Raja.
“Berhenti! Tunjukkan Plakat Identitas kalian!”
Seorang pendekar Tingkat Bumi Tahap Akhir yang sepertinya adalah pemimpin pasukan itu, mengulurkan tangannya untuk meminta Plakat Identitas keduanya.
Mata Pendekar itu menatap tajam ke arah Pedang di tangan Cui Lan. Melihat dari gagang pedang yang memiliki ukiran indah itu, Ia mengetahui jika pedang di tangan gadis belia itu adalah pedang pusaka.
“Pendekar Raja Tahap Dasar telah memiliki sebuah pedang pusaka? Ini jarang terjadi, Siapa gadis ini sebenarnya?”
Dalam benaknya, pemimpin pasukan penjaga gerbang itu segera menyusun sebuah siasat, untuk bisa mendapatkan Pedang di tangan Cui Lan.
Sementara itu, Chen An mengulurkan tangan untuk menyerahkan Plakat identitas miliknya, sebagaimana yang mereka pinta.
Saat Pemimpin Pasukan Penjaga Gerbang itu mengambil plakat identitas miliknya, Chen An tiba-tiba tersentak dan firasat buruk segera memenuhi benaknya.
Gelang yang melingkar di tangan kanan pria itu, adalah gelang dari tubuh ular hitam sebesar ibu jari, yang Ia awetkan dengan teknik khusus dari ingatan Xiang Long. Gelang yang Ia hadiahkan untuk gurunya, Fei Long.
##########
__ADS_1