Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
078: Menggunakan Artefak Dimensi


__ADS_3

Setelah hampir satu jam melayang dengan kecepatan tinggi, Chen An akhirnya tiba di wilayah Sekte Tongkat Hitam.


“Suara pertarungan...? Aura kekuatan ini milik Guru.” Chen An segera melesat turun dan berhenti di atap sebuah bangunan tertinggi di tempat itu.


Ia mengamati situasi di bawah dengan menyipitkan matanya. Mendapati Sang Guru, Thio San sedang membantai belasan orang anggota Sekte tersebut dengan mudahnya.


Setelah membunuh orang terakhir, Thio San melesat ke arah Chen An dengan wajah yang terlihat sedikit kesal. “Guru …. Ada apa? Kenapa Guru menyerang mereka?”


Setelah menghela nafas, Thio San pun lalu menceritakan bahwa Ia sedang mencari Chen An dan bertanya pada salah satu orang yang ternyata adalah Anggota Sekte Tongkat Hitam.


“Aku hanya bertanya pada mereka, Apakah Kau sudah tiba di tempat ini dan telah membunuh Hong Qi. Eh mereka malah marah dan menyerangku. Ya terpaksa Aku habisi sekalian. Chen Cen … Apakah Kau sudah berhasil membalaskan dendammu?”


“Sudah Guru, Hong Qi dan Cheng Kun telah kuhabisi. Aku kemari karena ingin menemukan Kitab Raja Iblis yang dimiliki oleh Hong Qi dan disembunyikan di suatu tempat rahasia. Sayang sekali, Guru tidak menyisakan satu orang pun untuk ditanyai.”


“Aahh ….” Thio San terlihat menyesal. Chen An mengeluarkan Pedang Bintang Merah, memberikan kesempatan Roh Rambut Merah untuk mencarinya sendiri.


Setelah keluar dari cincin ruang, Pedang Bintang Merah melesat dari satu bangunan ke bangunan lain dengan sangat cepat.


“Apakah kau yakin Roh penghuni pedang itu akan menemukan apa yang dia cari? “ Tanya Thio San.


“Entahlah Guru, Aku hanya bisa berharap demikian. Oh iya … Ada apa Guru mencariku…? Bukankah Guru ingin melatih Kakak Fang dan Adik Ling? ”


“Aku sudah mengajari teknik-teknik dasar dan menengah. Akan butuh waktu lumayan lama bagi mereka untuk bisa di tahap penguasaan sempurna. Karena itu Aku memutuskan untuk kembali dulu ke Dunia Atas? Bagaimana, Apakah Kau mau ikut?”


“Tentu saja guru… Kapan kita berangkat ke sana?” Chen An terlihat bersemangat. Sementara Thio San sendiri terlihat sedikit ragu. Hal yang membuat Chen An mengerutkan dahinya dengan tatapan heran.


“Aku merasa … Sesuatu tengah terjadi pada keluargaku di Dunia Atas. Entahlah … tiba-tiba Aku merasakan kerinduan terhadap mereka dan tanah kelahiranku.”


Tepat saat Thio San menyelesaikan perkataannya, Pedang Bintang Merah melesat mendatangi mereka yang gagangnya segera digenggam oleh Chen An.

__ADS_1


“Tuan … Aku tidak menemukan Kitab Raja Iblis, tapi Aku menemukan sebuah ruangan yang tersegel dan berhawa Iblis. Saat Aku menerobosnya masuk, segel itu hancur dan aku melihat sebuah kotak yang telah terbuka. Sepertinya di dalam kotak itu pernah ada sebuah Kitab. Tetapi telah ada yang membuka kotak itu dan mengambil isi di dalamnya.”


Chen An termenung mendengar penjelasan Roh Rambut Merah, Ia menduga jika Kitab Raja Iblis telah diambil oleh Yuan Bei atau sosok pemuda misterius yang tubuhnya tak kasat mata itu.


“Apakah mungkin Kitab itu telah diambil oleh Yuan Bei?” Tanya Chen An pada Roh Rambut Merah.


“Kurasa begitu tuan, segel berhawa iblis itu, tidak akan rusak jika dilewati oleh orang yang memiliki energi berhawa Iblis juga.”


Perkataan Rambut Merah, membuat Chen An berpikir keras. Karena Ia merasa yakin jika Yuan Bei telah kembali kehilangan kultivasinya, setelah kekuatan Iblis terhisap oleh Segel Sembilan Dewa yang Ia lepaskan.


“Mungkin itulah sebabnya, Yuan Bei tidak terlihat lagi dan mungkin sembunyi di suatu tempat rahasia.” Ucap Chen An. Detik itu Ia menyesali kenapa tidak membunuh Yuan Bei, setelah hawa energi iblis menghilang dari tubuhnya.


Ia lebih memilih mengejar Hong Qi terlebih dahulu, setelah itu kemudian akan mencari tahu bagaimana Yuan Bei bisa memiliki kekuatan Iblis tersebut, dengan jalan menginterogasinya.


Namun datangnya sosok pemuda misterius yang tubuhnya bisa berubah menjadi asap itu, mengacaukan rencananya cukup baik.


“Guru … Apakah kepergian ke Dunia Atas tidak bisa kita tunda dahulu? Aku ingin mencari Yuan Bei terlebih dahulu.” Mendengar pertanyaan itu, Thio San memejamkan matanya sejenak.


“Baiklah Guru … Kita berangkat sekarang.” Chen An pun akhirnya setuju untuk berangkat bersama Sang Guru ke Dunia Asalnya.


Thio San tersenyum senang, Ia lalu mengeluarkan Artefak Pemindah Dimensi dari Cincin Ruangnya. “Chen Cen … Alirkan energi qi mu hingga batu warna Hijau itu menyala terang.”


Chen An menerima Artefak itu dan segera mengalirkan energi qi-nya dalam jumlah besar. Hanya butuh dua ribu Kristal qi untuk membuat batu hijau itu menyala.


Setelah menyala, Thio San lalu memgangi Artefak tersebut bersama dengan Chen An. Setelah menekan batu berwarna hijau yang kemudian jatuh dan masuk ke bagian dalam Artefak, melesat sebuah cahaya hijau yang sangat menyilaukan mata.


Cahaya itu berhenti pada ketinggian lima puluh meter di udara. Setelah meletakan Artefak di tanah, Guru dan Murid itu melesat bersamaan memasuki Lingkaran cahaya hijau yang telah membesar dengan garis tengah mencapai lima meter.


Dengan Energi qi-nya, Chen An menarik kembali Artefak Pemindah Dimensi itu, tepat sebelum tubuhnya terhisap oleh energi sangat besar.

__ADS_1


Keduanya terhisap sangat kuat dan melaju di dalam sebuah lorong cahaya dengan kecepatan tertinggi yang pernah Chen An lakukan.


“Chen Cen jangan gunakan kekuatanmu, biarkan energi Artefak ini yang bekerja!” Thio San berteriak panik, memperingatkan Chen An yang baru saja mengalirkan energi qi-nya.


“Kenapa tidak bilang dari tadi Guru!” Chen An yang terkejut, berusaha menarik kembali energi qi-nya. Namun semua itu terlambat.


Tubuhnya terhisap semakin kuat dan membuat Ia terpisah dari Sang Guru yang tertinggal semakin jauh seiring berjalannya waktu.


Entah berapa lama keduanya berada di dalam lorong waktu tersebut. Yang pasti dari perjalanan pindah dimensi ini, Chen An mengetahui sebuah cara yang ingin dicobanya, nanti setelah tiba di Dunia Atas.


Chen An menatap tajam ke arah lorong cahaya hijau di depannya yang seolah tak memliki ujung tersebut. Ia lalu menengok ke belakang, untuk mengetahui sang Guru berhasil menyusulnya.


Saat kembali menatap ke depan, terlihat di ujung lorong cahaya hijau itu muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan mata.


Chen An terpaksa memejamkan matanya. Sesaat kemudian, Ia merasakan hembusan angin sangat kencang yang membuatnya segera membuka mata.


“Ah …. Hampir saja!”


Chen An segera mengalirkan energi qi, agar bisa mempertahankan tubuhnya tetap di udara. Ia menunggu kedatangan Sang Guru di ujung cahaya hijau.


Chen An mengedarkan pandangan matanya dan Ia terkejut mendapati dirinya telah dikepung oleh puluhan orang yang memiliki pakaian yang sama.


Mereka semuanya melayang di udara dan menatap Chen An dengan tatapan tajam seolah melihat makhluk asing, karena jubah yang Chen An gunakan telah sobek hampir di semua bagiannya.


“Siapa Mereka? Mengapa telah berada di ujung Lorong Cahaya ini?” Tanya Chen An dalam benaknya. Ia kembali menatap mereka yang rata-rata kekuatannya berada di Ranah Dewa mulai dari level lima hingga sembilan.


Hanya satu orang yang kekuatannya berada di Ranah Dewa Semi Abadi level tiga. Seorang Kakek yang mengenakan jubah merah bermotif kuning keemasan.


“Kenapa Guru lama sekali? Apakah Ia terjebak macet??”

__ADS_1


@@@@@@


__ADS_2