Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
053: Kekalahan Yuan Bei


__ADS_3

“Aaah itu?” Tan Hu terlihat cemas, karena merasakan aura yang memancar dari tubuh Yuan Bei mulai melemah.


Setelah diperhatikan dengan seksama, terlihat ujung pedang Chen An menancap beberapa centimeter di dada kiri Yuan Bei. Sedang ujung pedang Yuan Bei merobek jubah Chen An.


HIAAH


Dengan berteriak keras, Chen An menarik pedangnya dan juga merebut paksa Pedang Yuan Bei. Hal itu membuat telapak tangan kiri Yuan Bei menjadi terluka.


Asap hitam segera melesat keluar dari tubuh Yuan Bei dan memasuki pedang berbilah hitam itu. Chen An segera memasukkan pedang Elang Hitam ke dalam cincin ruangnya.


“Sepertinya Kau tak butuh bantuan ku lagi, Chen Cen … Rambut Merah! Ayo kita masak burung Elang itu.” Perkataan Mei Lin membuat tubuh Roh Raja Elang Hitam gemetar hebat, saat Ia mengenali siapa yang baru saja berbicara.


Sesaat kemudian, bilah Pedang Bintang Merah kembali memutih, menandakan roh penghuni pedang telah menarik seluruh kekuatannya.


Chen An menatap Yuan Bei yang telah mendapatkan kembali kesadarannya dan baru saja selesai menghentikan pendarahan di tangan dan dada kirinya yang terluka. Ia menatap marah kepada Chen An.


“Chen An! Kau harus mati di tanganku!”


Bongkahan tanah di bawah tubuh Chen An bergerak ke atas, membentuk puluhan tombak sepanjang satu meter. Yuan Bei lalu mengangkat kedua tangannya, membuat puluhan tombak dari tanah itu melesat ke udara.


Tak Ingin gegabah, Chen An melepaskan jurus Tendangan Angin. Hembusan energi seperti angin, melesat dari kaki Chen An. Menghadang puluhan tombak tanah dan membuatnya meledak keras saat mereka bersentuhan.


Namun hal tak terduga dilakukan oleh Yuan Bei. Ia melepaskan jurus Tendangan Angin yang tak sempat Chen An hindari lagi.


BLAAARRR


Terdengar ledakan keras saat energi itu menyentuh tubuh Chen An. Pemuda itu terpental beberapa meter, namun terlihat tidak mengalami luka sedikitpun.


Sesaat Yuan Bei terkesima, tidak percaya jika serangan kuatnya, tak mampu membunuh Chen An sekalipun telah terhantam dengan sangat telak. Bahkan pemuda itu tidak terluka sama sekali, hanya jubahnya kini menjadi compang camping.


“Tidak mungkin! Serangan Bei’er tadi seharusnya meledakkan tubuh bocah itu menjadi debu.” Tan Hu terlihat terkejut mendapati Chen An masih di udara dan terlihat baik-baik saja.


“Apa yang terjadi dengan tubuhku, aku tidak merasakan sakit yang berarti walau terkena serangan yang bisa menghancurkan batu sebesar rumah.”


Chen An mengalihkan pandangan ke arah Yuan Bei yang telah mengeluarkan sebilah pedang lain.


“Jurus Pedang Angin!”


Yuan Bei mengangkat pedang ke atas kepala dengan kedua tangannya. Sesaat kemudian Angin bergulung dari bilah pedang dan saat ditebaskan ke arah Chen An, puluhan bilah pedang Angin melesat dengan kecepatan tinggi.


Chen An mengangkat tangannya, dengan menggunakan Teknik Dewa Bumi, Ia membuat tembok tanah dan mementalkan semua serangan Pedang Angin Yuan Bei.


“Kau …!” Yuan Bei terlihat sangat kesal. Lalu Ia menggerakkan kedua tangannya dengan cepat. Sesaat kemudian, terdengar suara bergemuruh dari bawah.


“Teknik Dewa Bumi bisa digunakan untuk membuat makhluk sebesar ini?”


Chen An terheran-heran mengetahui Yuan Bei bisa membuat sesosok manusia setinggi tiga puluh meter lebih berbahan tanah dan bebatuan di sekitar tempat itu.

__ADS_1


WHUSSSS


Walau tubuh makhluk tanah itu sangat besar, namun Ia mampu bergerak sangat cepat, yang membuat Chen An kerepotan menghindari tinju dan pukulan yang datang bertubi-tubi padanya.


Chen An bergerak menjauhi makhluk itu, sebelum akhirnya melesat sangat cepat dan berhenti saat Ia tiba di dada makhluk tersebut.


BUMMM!


Chen An mengalirkan energi qi dalam jumlah besar, sebelum meledakkan sosok raksasa dari tanah itu. Benturan dua energi itu, membuat Yuan Bei memuntahkan darah segar.


Sedang Chen An terlempar belasan meter, namun tidak mengalami cidera sedikitpun. Ia kembali melesat cepat dan telah berada di depan Yuan Bei.


BUGH


HOEEEK


Pandangan mata Yuan Bei hampir menjadi gelap, setelah Ia menyemburkan darah dari mulutnya, karena hantaman telak Chen An yang tepat di perutnya.


Mata Yuan Bei terbelalak saat tiba-tiba Ia merasa lemas, tubuhnya menjadi lunglai dan posisi melayangnya tak dapat lagi Ia pertahankan, tubuhnya pun meluncur deras ke tanah.


“Bei’er!”


Tan Hu terkesiap, Ia akan melesat untuk menolong muridnya itu, namun Thio San menghadang langkahnya dan memberinya sebuah tendangan yang sangat kuat. Tan Hu terpaksa menangkisnya, pertarungan kedua saudara seperguruan itu pun kembali terjadi.


Saat beberapa meter lagi tubuh Yuan Bei menghantam tanah, Chen An tiba-tiba muncul di dekatnya dan menyambar tubuh pemuda yang pernah menyelamatkan dirinya saat dulu terseret arus sungai.


“Kau! … “


“Kakak Bei … Maafkan aku yang terpaksa menghancurkan dantian mu. Kau dulu pernah menyelamatkan nyawaku dari derasnya arus sungai. Saat ini, Aku membayarnya dan mulai hari ini, Aku tak berhutang apapun padamu.”


Yuan Bei terdiam, andai saja Ia tidak di tolong oleh Chen An, mungkin saat ini Ia tengah meregang nyawa. Tidak lagi memiliki energi qi, membuat kekuatan Yuan Bei menurun drastis.


Ia kini berada di Tingkat Pendekar Langit Tahap Dasar. Tentu saja bukan lawan sepadan bagi Chen An.


“Kakak Bei … Pergilah… dan kembalilah ke jalan kebenaran yang telah Kakek Yuan Shi ajarkan kepada Kita semua.” Tanpa menunggu jawaban dari Yuan Bei, Chen An melesat ke udara, karena melihat Gurunya sedang terdesak hebat.


Yuan Bei hanya bisa menggeram marah, namun tak berdaya untuk melakukan sesuatu seperti sebelumnya. Ia hanya bisa menatap ke arah di mana Chen An sedang menahan tubuh gurunya yang terhempas jauh dari Tan Hu.


Thio San hampir kehilangan kesadarannya setelah lawan melepaskan Jurus Tinju Angin yang gagal Ia hindari. Beruntung Chen An segera mengalirkan energi qi-nya yang mengandung kekuatan Mustika Bintang.


Energi yang sangat menyejukkan itu, membuat luka dalam Tan Hu sembuh dengan sangat cepat, apalagi di dukung oleh tubuhnya yang istimewa.


Hal lain yang mengejutkan adalah Thio San tiba-tiba merasakan gerbang level ke Enam Ranah Semi Abadinya mulai bergetar. “Chen Cen … Bisakah kau alirkan lebih banyak lagi energi qi-mu?”


Walau heran melihat tubuh Sang Guru bergetar, Chen An tak bertanya lebih lanjut, Ia segera menyentuh punggung gurunya dan mengalirkan sejumlah besar qi.


AARGGGHHHHHH

__ADS_1


Thio San menjerit keras, Chen An terpental puluhan meter saat ledakan energi yang sangat kuat, memancar dari tubuh Gurunya yang telah berhasil membuka gerbang Level Enam Ranah Dewa Semi Abadi.


Tan Hu terkesima dengan apa yang dilihatnya. “Bagaimana dia bisa membuka Gerbang Level Enam dengan waktu sesingkat itu? Apa yang tadi dilakukan oleh bocah itu?”


Tan Hu tak memiliki kesempatan untuk mencari jawabannya. Hal itu karena Thio San telah bergerak dan melayangkan tamparan sangat cepat dan kuat ke pipi Tan Hu.


Tubuh Tan Hu terlempar puluhan meter dengan mata membelalak lebar. Tak ingin percaya dengan perubahan kecepatan Thio San setelah membuka gerbang level ke enam.


BUGH


DUUAGGHH


Kembali tubuh Tan Hu terlempar ke atas dengan rasa sakit luar biasa di punggung dan perutnya akibat terpukul dan terkena tendangan Thio San.


“Murid Durhaka terimalah kematianmu!” Thio San melepaskan Sebuah bola energi besar dari kedua tangannya yang terangkat ke udara dengan telapaknya yang terbuka.


Bola energi yang awalnya berukuran sebesar kepala itu, dengan cepat berubah membesar hingga puluhan kali lipat, saat semakin dekat dengan tubuh Tan Hu yang sedang meluncur deras.


BLAAAMMM


Di udara, terlihat sebuah ledakan besar disertai suara menggelegar yang sangat keras. Tanah pun berguncang hebat membuat pepohonan tumbang mencapai radius lebih dari dua ratus meter.


Angin dari ledakan itu, mematahkan ranting dan daun-daun hingga jarak satu kilometer jauhnya dari pusat ledakan. Namun, Chen An tak bergeming sedikitpun dari tempat di mana Ia berada.


“Inikah Kekuatan Level Enam Ranah Dewa Semi Abadi?” Chen An terlihat kagum dengan kekuatan baru Sang Guru. Namun Sesaat kemudian Chen An tercekat.


“Aura ini … Mengapa jauh lebih kuat dari yang pernah ku rasakan?” Chen An segera waspada saat merasakan aura Roh Raja Yakut yang pernah merasuki tubuh Zhi Hung, terpancar kuat beberapa kali lipat dari sebelumnya.


Setelah seluruh asap dari ledakan serangan energi Thio San sirna, terlihat sosok Tan Hu yang berdiri dengan kapak besar di bahunya, sedang menatap tajam ke arah Chen An.


Aura mencekam memancar kuat dari tubuh Tan Hu yang telah dirasuki oleh Roh Raja Yakut. Thio San hanya terdiam heran, saat tubuh adik seperguruannya itu melayang turun mendekati Chen An.


Saat tubuh Tan Hu berada diantara dirinya dan Chen An. Thio San pun menyadari jika adik seperguruannya itu telah dirasuki oleh Rok Kapak besar yang sedang dipegangnya.


“Bocah … Suruh keluar Si Rambut Merah, aku akan membunuhnya.” Raja Yakut berkata yang membuat Tan Hu meradang marah. “Kau harus membunuh si Tua Thio San, bukan bocah ini.”


“Diamlah bodoh! Bocah ini jauh lebih berbahaya daripada si tua itu. Diam saja, jangan banyak bicara Kau!” Raja Yakut membentak dengan suara yang terdengar kesal.


Sementara Chen An telah mengeluarkan Pedang Bintang Merah dari Cincin Ruangnya. Hal itu membuat Roh Rambut Merah mendengus kesal di dalam kepala Chen An.


“Kau mengganggu kesenangan kami saja bocah. Cepat Kau tangkap Roh Si Raja Batu Hitam Putih itu. Aku ingin Sekali menghajarnya hingga benar-benar menjadi roh sejati.”


“Kesenangan? Roh Sejati? Apa…” Chen An tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya, karena Roh Raja Yakut telah melesat mengayunkan Kapak Iblis yang tadi berada di bahu Tan Hu.


Kecepatan yang ditunjukkan oleh Tan Hu mengejutkan Thio San, Ia menelan ludahnya karena dirinya belum tentu mampu menghindari serangan secepat itu, seperti yang telah dilakukan oleh Chen An.


“Boleh juga Kau bocah!” Raja Yakut menyeringai, mendapati serangan cepat da mematikan darinya bisa dengan mudah dihindari oleh pemuda itu.

__ADS_1


@@@@@


__ADS_2