Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
026: Sosok Di Dalam Goa


__ADS_3

SRIIING SRIING


Chen An terkesiap, tidak menduga jika dua buah senjata rahasia, menyambut dirinya yang sedang melesat tepat setelah dua meter melewati mulut goa.


“Hah …”


Lagi-lagi Chen An terkesiap. Dua buah senjata rahasia itu ditangkap dengan mudah oleh Thio San, yang bergerak bagai kilat, seolah muncul dari ruang hampa.


Tubuh Thio San kembali menghilang. Sesaat kemudian, dari dalam goa terdengar jeritan perempuan meminta ampun, yang membuat dahi Chen An berkerut.


Ia kembali melesat cepat memasuki goa dan menatap bingung dengan apa yang dilihatnya.


Sang Guru sedang mengangkat tubuh seorang perempuan paruh baya yang cantik dengan mencengkeram lehernya. Sementara seorang gadis cantik, sedang bersujud memohon kepada Thio San untuk melepaskan ibunya.


“Guru mohon lepaskan Nyonya ini.”


Chen An yang tidak tega melihat itu perempuan itu tersengal-sengal hampir kehabisan nafas, segera berkata demikian pada gurunya.


Thio San terlihat kesal, namun Ia melepaskan cengkeraman tangannya yang membuat perempuan itu jatuh terduduk, dengan terengah-engah.


“Chen Cen … Sikapmu yang bermurah hati pada lawan, sekalipun itu perempuan, akan membuat dirimu sendiri bisa celaka! Ingat baik-baik pesan guru ini.”


Thio San lalu mengalihkan pandangannya ke arah dua makhluk bernama perempuan itu, yang sedang bersujud padanya.


“Seharusnya Kau mati karena berani menyerang muridku dengan senjata rahasia tak berguna ini!”


Thio San meremas dua buah jarum perak, sepanjang jengkalan tangan orang dewasa itu dan membuatnya hancur menjadi debu.


Wajah kedua perempuan itu menjadi semakin pucat, melihat hal luar biasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


“Ampuni Kami Sesepuh, Kami kira Sesepuh tadi adalah orang-orang yang mengejar dan hendak membunuh kami.” Perempuan paruh baya itu, mencoba menjelaskan situasinya.


Chen An yang melihat perempuan itu terluka dan bibirnya dipenuhi darah yang keluar dari dalam mulutnya, segera mengeluarkan sebuah kain berupa sapu tangan untuk diberikan kepada perempuan itu.


“Nyonya … bersihkan wajah anda dengan kain ini.” Chen An mengulurkan sapu tangan itu. Sementara mata si gadis melotot lebar melihat sapu tangan tersebut.

__ADS_1


“Sapu tangan ini ….?” Si gadis berdesis yang membuat heran Sang ibu yang sedang menyeka darah di bagian dagunya. “Lan’er … Ada apa dengan sapu tangan ini?”


Setelah selesai menyeka dagunya, Sang Ibu segera membuka lipatan kain sapu tangan berwarna merah muda itu. Ia pun tertegun saat mengenali sapu tangan itu ternyata hasil rajutannya sendiri.


“Anak muda, dari mana kau mendapatkan Sapu tangan buatan ku ini?” Kini Chen An yang tersentak kaget mendengar ucapan perempuan yang tengah memandangnya dengan tajam.


“Itu …” Chen An menelan ludahnya, Ia lalu menarik lengan jubah kirinya dan menunjukkan bekas luka yang Ia dapatkan, saat menolong seorang anak perempuan delapan tahun lalu dari serangan orang bertopeng.


“Kakak Chen? … Benarkah ini dirimu?” Chen An mengangguk dan tersenyum manis pada gadis tercantik yang pernah Ia lihat selama enam belas tahun hidupnya. Gadis yang tak lain adalah Cui Lan.


“Benar Adik Lan … Aku Chen An. Kita pernah bertemu delapan tahun lalu. Apa yang terjadi? Dimana Paman Cui San …?”


HOEK


“Ibu!!”


“Nyonya Shi Ying!”


Cui Lan segera meraih bahu sang ibu yang kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Wajah cantik ibunya terlihat semakin memucat, karena luka dalam yang dialaminya.


“Chen Cen …. Perempuan ini sepertinya terluka parah oleh sejenis racun dingin. Hidupnya mungkin tinggal beberapa jam lagi jika ….”


“Guru!.... “ Chen An terlihat kesal mendengar gurunya berkata yang membuat Cui Lan kembali menangis histeris.


“Ibu … Bertahanlah! Jangan tinggalkan Aku! Ibu! …. Ibu!” Cui Lan menjerit melihat ibunya terkulai lemas tak sadarkan diri.


“Guru … Ku mohon padamu untuk mengobati Luka Nyonya Shi Ying …Aku yakin dengan kemampuan Alkemis yang guru miliki, guru bisa mengobatinya.” Chen An tiba-tiba duduk berlutut di hadapan Sang Guru yang hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


“Nak Gadis … Apakah Kau tahu di bagian tubuh yang mana, Ibumu terhantam oleh serangan lawannya?”


Cui Lan terlihat ragu sejenak, namun dengan cepat Ia menjawab jika di bagian punggung Sang Ibu telah terhantam serangan tapak dengan sangat kuat.


“Kenapa Guru menggaruk kepala?” Tanya Chen An melihat sikap gurunya. “Racun dingin itu harus dikeluarkan dari tempat dari mana Ia dimasukkan. Chen Cen … Sebaiknya kau keluar dulu.”


Walau tak begitu memahami mengapa Ia disuruh keluar, Chen An pun segera melangkah keluar goa tersebut. Hari telah pagi saat Chen An tiba di luar goa.

__ADS_1


“Sesuatu yang buruk sepertinya terjadi dengan Paman Cui San. Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka?” Chen An segera duduk di atas sebuah batu, tempat di mana Ia sering beristirahat sedang berlatih dengan Gurunya Fei Long.


“Di mana Guru Fei berada saat ini? Mengapa Ia membunuh murid-murid Sesepuh Pang Hu dan Shao Jie?”


Chen An menarik nafas dalam-dalam. Baru saja beberapa hari Ia meninggalkan Hutan Siluman, berbagai masalah telah datang menghampirinya.


Chen An menarik nafas panjang seraya menatap mulut goa, menunggu Sang Guru selesai mengobati nyonya Shi Ying. Lima menit telah berlalu. Namun sang Guru belum keluar juga.


Beberapa saat kemudian, Sang Guru terlihat keluar dari dalam goa. Chen An segera berdiri dan menanyakan bagaimana kondisi Nyonya Shi Ying saat ini.


“Racun Dingin itu telah aku tarik keluar semua. Ia sedang istirahat setelah meminum Pil Bunga Krisan Emas. Ia akan pulih dan jauh lebih sehat dari sebelumnya.”


Thio San menatap langit dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Hal itu membuat Chen An merasa sedikit heran dan terus menatap Sang Guru.


Sementara Thio San sendiri, sedang asik dengan benaknya, membayangkan kembali punggung Shi Ying yang terbuka lebar di depannya.


Kulit punggung seputih salju dan selembut giok milik perempuan itu, adalah kulit punggung pertama yang Ia lihat dan Ia sentuh selama sembilan ratus tahun hidupnya.


Ia masih penasaran dengan lonjakan energi aneh yang menjalari tubuhnya, setelah Ia melihat dan menyentuh kulit punggung Shi Ying.


“Chen Cen … Apakah Kau pernah melihat dan menyentuh kulit punggung perempuan?” Chen An menggeleng pelan. Walau dalam ingatan Xiang Long sekalipun, Ia tidak pernah melihatnya.


“Apakah ini pertama kalinya Guru melihat dan menyentuh bagian punggung perempuan?” Thio San mengangguk pelan.


“Benar Chen Cen … Ratusan tahun aku mempelajari tentang pengobatan. Aku baru tahu ada energi hebat seperti ini yang mampu menggetarkan jiwa dan salah satu organ tubuhku. Apakah Kau tahu energi macam apa itu?”


Thio San berharap mendapat jawaban dari Chen An yang memiliki ingatan Xiang Long.


“Guru saja tidak tahu, apalagi Aku. Nanti Aku tanyakan pada Adik Lan … Apakah Ibunya memiliki sebuah mustika yang tertanam di punggungnya.” Jawab Chen An.


“Bagus … Beritahu Guru jika kau telah mendapatkan ….”


Thio San menghentikan ucapannya, lalu mengalihkan pandangan ke sebuah arah. “Chen Cen …. Aku ingin melihat sejauh mana kau memguasai jurus-jurusmu sendiri. Jangan beri ampun satu pun dari mereka.”


Chen An dibuat bingung dengan perkataan Sang Guru. “Mengapa Guru berkata seperti itu?”

__ADS_1


#######


__ADS_2