Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
036: Keputusan Chen An


__ADS_3

Walau menghadapi dua orang yang berkemampuan tinggi, nyatanya Roh Phoenix Api Putih berhasil mengimbangi kedua pemuda itu.


Bahkan kedua lawannya terpaksa melesat menjauh, saat Ia berteriak keras disusul dengan berkobarnya api putih di tubuh gadis yang Ia rasuki.


Dalam sekejap dinding bangunan dari kayu itu, mulai terbakar dan semakin membesar seiring dengan semakin besarnya kobaran Api di tubuh gadis tersebut.


Semua orang menjadi panik dan berlarian meninggalkan gedung yang dalam sekejap telah terbakar setengah bagiannya. Sementara Yuan Bei dan Chen An terlihat bingung menghadapi situasi di depan mereka.


“Bagaimana melawannya? Kita tidak bisa mendekati dia, api putih di tubuhnya terlalu panas bagi kulit kita, sekalipun telah dilindungi dengan energi qi.” Yuan Bei berkata seolah Chen an adalah temannya sendiri.


Di saat bersamaan, terdengar suitan dari Bayangan Angin yang mengajak Yuan Bei untuk segera pergi. Karena tugas mencari informasi tentang siapa yang membawa Pedang Nirwana, telah mereka dapatkan.


Saat Chen An hendak bertanya dari mana Yuan Bei mengetahui namanya, tiba-tiba pemuda itu melayang dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


Kini hanya Chen An sendirian yang menghadapi kemarahan Roh Phoenix Putih yang memang sedari tadi mengincar dirinya.


“Satu-satunya cara ku menghadapi dia, hanya dengan menggunakan Teknik Dewa Bumi. Aku harus memancingnya menjauh dari tempat ini.”


Karena akan menggunakan unsur tanah untuk meredam hawa panas api tersebut, Chen An segera melayang ke arah barat dengan cepat.


Phoenix Api Putih kali ini tidak membiarkan pemuda itu lolos darinya. Ia juga melayang dengan tubuh yang berkobar api putih, mengejar Chen An dengan sangat cepat.


Hal itu membuat seluruh orang yang melihat mereka sedari tadi, menjadi terpana. Hao Jie dan kedua rekannya yang selamat, menjadi pucat saat teringat jika tadi telah memperdaya pemuda yang terlihat lugu dan dianggap bodoh itu.


Daerah di barat kota Zhaodong itu, adalah tanah pertanian yang masih belum ditanami. Di tempat itulah, Chen An membiarkan dirinya terkejar oleh Roh Phoenix Api.


“Mau kemana kau bocah! Percuma kau lari, Aku akan terus memburu mu kemana pun kau pergi.” Roh Phoenix Api lantas menebaskan pedang Nirwana ke arah Chen An.


Api putih berbentuk pedang melengkung sepanjang lima meter, melesat sangat cepat hendak membelah tubuh Chen An. Namun Chen An telah bersiap lebih dulu.


Sebuah kepalan tangan raksasa tiba-tiba melesat tak kalah cepat dan menghadang laju pedang energi berukuran sangat besar itu.


BLAAARRR


“APA!”


Nyaris saja tubuh Chen An terbelah menjadi dua bagian, jika sedikit saja Ia menurunkan kewaspadaannya. Beruntung Chen An bisa menghindari tebasan pedang tersebut.


Namun hal yang tidak diduga Chen An terjadi, Tubuh Cui Lan muncul dari atas kepalanya seraya menebaskan pedang Nirwana dengan sangat cepat.


Mustahil bagi Chen An untuk menghindari serangan cepat itu. Tubuhnya dipastikan akan terbelah dua, jika saja tidak terjadi hal yang di luar dugaan.

__ADS_1


Pedang Bintang Merah, tiba-tiba melesat keluar dari Cincin Ruang, tanpa Chen An berniat mengambilnya. Pedang Itu dengan kecepatan luar biasa, menahan tebasan Pedang Nirwana.


TRAANNGGGG !


AARGGGGGHHH!


AMPUUUUNNN NDORO!


Roh Phoenix Api menjerit keras, sesaat setelah benturan kedua senjata itu terjadi.


Chen An melebarkan mata, melihat energi berbentuk spiral berwarna merah, tiba-tiba muncul dari bilah pedangnya.


Dengan kecepatan bagai kilat, spiral energi itu melesat dan mengurung tubuh Cui Lan yang membuat Roh Phoenix Api menjerit kesakitan.


Tak kuasa menahan sakit di tubuh rohnya, Ratu Beast Dunia Atas itu memutuskan keluar dari tubuh Cui Lan dan kembali ke dalam Pedang Nirwana.


Namun Spiral energi itu terus mengejarnya, sehingga bilah Pedang Nirwana saat ini diselimuti oleh energi berwarna semerah darah yang berbentuk spiral.


“Apa ini??! Dimana Aku?!”


Chen An kembali ditakjubkan oleh situasi yang ada di depan matanya.


“Apakah kau ingin Roh mu Aku musnahkan?! Sehingga Kau tak akan terlahir kembali di jagad semesta ini!“


Sontak Chen An membalikkan badan, saat mendengar perkataan tegas seorang pria yang sangat berwibawa. Awalnya Ia merasa kata-kata itu ditujukan padanya, membuat tubuhnya seketika bergetar hebat.


Namun, saat melihat seekor burung Phoenix raksasa yang tubuhnya dipenuhi oleh kobaran api putih dan seorang pria yang membelakangi dirinya, Chen An pun segera menarik nafas lega.


“Ampuni Hamba Yang Mulia! Hamba telah berbuat kesalahan besar. Mohon pengampunannya sekali lagi.”


Pria berjubah putih itu hanya diam, menatap tajam Ratu Beast Burung Phoenix Api itu, dengan benak yang sedang berpikir keras.


“Apakah Aku harus memusnahkan rohnya? Sedang kekuatan Api Putih yang Ia miliki, mungkin bisa berguna bagi kami suatu hari nanti.”


Pria itu berbalik menghadap ke arah Chen An yang masih bertanya-tanya di mana Ia berada saat ini. “Kau saja yang memutuskan apakah Ia harus ku musnahkan atau tidak.”


Tentu saja Chen An kebingungan setelah mendengar perkataan sosok pria yang wajahnya masih terlihat muda, namun seluruh rambutnya berwarna merah.


“Mengapa Aku Tuan? … Dan dimanakah Aku berada saat ini?” Tanya Chen An. “Kau berada di dalam Dimensi Pedang Nirwana, tempat dimana Roh Phoenix Api itu disegel oleh pembuat pedang ini atas petunjukku.”


Pria itu terlihat terburu-buru sehingga meminta Chen An untuk segera menjawab, pertanyaannya tadi.

__ADS_1


Roh Phoenix Api Putih yang menyadari eksistensinya di alam semesta, kini berada di tangan pemuda yang tadi ingin Ia bunuh, segera memohon kepada Chen An.


“Ku mohon padamu, jangan musnahkan Aku! Aku akan patuh dan mengabdi kepada mu selama hidupku. Ku Mohon…?”


Roh Phoenix Api terisak-isak. Masih ada tiga hal yang ingin Ia lakukan setelah dirinya nanti bereinkarnasi .


Namun jika rohnya dimusnahkan saat ini, maka Ia tidak akan pernah bisa bereinkarnasi untuk selamanya.


Hal itulah yang membuatnya memilih tersegel di dalam Pedang Nirwana selama seribu tahun lagi dan mengabdi pada sosok yang menyelamatkannya.


“Kau sangat kuat, jika Aku tidak memusnahkan rohmu saat ini, bisa saja kau akan kembali membunuhi manusia termasuk diriku. Karena kekuatanmu jauh di atas kekuatanku dan juga Guru Keduaku.” Jawab Chen An setelah Ia berpikir beberapa waktu.


Tubuh Roh Phoenix Api seketika menjadi lunglai, mendengar keputusan yang diambil oleh Chen An.


Demi mempertahankan eksistensinya, Ia pun memutuskan memberitahu pemuda itu sebuah cara, yang paling tidak ingin dilakukan oleh Beast manapun. Yaitu Kontrak Darah.”


Dengan melakukan Kontrak Darah, maka Beast atau Roh Beast, akan terikat satu sama lainnya, dengan manusia yang melakukan Kontrak Darah tersebut.


Apabila manusia itu binasa, maka Beast juga akan ikut binasa. Begitu pun sebaliknya. Sedangkan untuk Roh Beast, Ia akan musnah dari dunia Roh dan tidak akan pernah bisa bereinkarnasi untuk selamanya.


Mendengar hal itu, wajah Chen An seketika berubah. Ia pun menarik kembali keputusannya untuk memusnahkan Roh Phoenix Api Putih.


“Aku ingin Kau melakukan Kontrak Darah dengan gadis yang kau rasuki tadi. Bagaimana? Apakah Kau menerima keputusan ini?”


Chen An mengambil keputusan ini, karena Ia teringat akan kondisi Cui Lan yang sedang diburu oleh Kelompok Topeng Baja.


Dengan adanya Kontrak Darah antara Cui Lan dengan Roh Phoenix itu, maka Cui Lan akan terlindungi oleh kekuatan Phoenix Api yang sangat dahsyat itu.


Dengan cepat, Roh Phoenix Api Putih menjawab dengan suara yang terdengar sangat girang.


“Baiklah jika itu yang kalian inginkan.”


Sosok Pria berambut merah menjentikan jarinya. Sesaat kemudian, muncul cahaya terang menyilaukan yang perlahan berubah menjadi sosok Roh Cui Lan.


Karena Phoenix Api sudah dalam wujud roh, maka Kontrak Darah yang dilakukan, harus sama-sama dalam wujud roh.


Sesaat kemudian, darah dari tubuh Roh Cui Lan dan Roh Phoenix Api Putih bersatu. Perpaduan darah roh itu, menimbulkan guncangan hebat serta cahaya yang menyilauan mata Chen An, sehingga Ia pun terpaksa memejamkan matanya.


Saat membuka kembali matanya, Chen An merasakan hangatnya sinar mentari menerpa wajahnya. Dan Ia terkejut mendapati dirinya sedang dalam keadaan yang sulit Ia pahami.


#######

__ADS_1


__ADS_2