Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
065: Penjelasan Chen An


__ADS_3

“An’er … Terimalah Kitab Dewa yang asli ini. Kakek harap Kau bisa mempelajari seluruh teknik milik sembilan Dewa terkuat di Alam Semesta ini.”


Zhang San menyerahkan sebuah kitab yang sangat tebal. Kitab itu Ia ambil dari sebuah ruang rahasia berbentuk kubus yang berada di dinding ruangan pribadinya, di balik sebuah lukisan dirinya.


Chen An menerima kitab itu dengan tangan bergetar. Ia tak ingin percaya jika Kitab Dewa yang asli, kini berada di tangannya.


Saat membuka lembar pertama, sesuatu terjadi di luar dugaan. Chen An tak menduga jika akan ada seberkas energi melesat dan menerpa wajahnya dengan sangat kuat, yang membuat Ia terjatuh tak sadarkan diri.


Hal itu mengejutkan Thio San dan terutama Zhang San sendiri. Secepat kilat, Thio San mencengkeram leher Zhang San. “Apa yang kau lakukan! Mengapa ada energi yang menghantam dan kitab itu bisa melayang sendiri?!”


Zhang San tak kuasa bergerak sedikit pun apalagi untuk berbicara. Nyawanya nyaris melayang jika saja tidak terjadi sesuatu yang membuat mata keduanya membelalak lebar.


Thio San melempar tubuh Zhang San yang berhenti setelah membentur dinding. Ia segera melesat untuk mendekati tubuh Chen An yang tiba-tiba terangkat ke udara.


Namun, langkah Thio San harus terhenti karena energi yang sangat kuat, tiba-tiba memancar dari Kitab Dewa.


Setelah membuat tubuh Thio San terlempar membentur dinding, energi itu bergerak menyelimuti tubuh Chen An. Yang terjadi kemudian, membuat mata Zhang San dan Thio San tidak berkedip.


Lembar demi lembar halaman dari Kitab Dewa itu, perlahan terbuka sendiri dan hancur menjadi butiran energi yang bergerak perlahan dan tanpa henti, memasuki tubuh Chen An. Hingga akhirnya kejadian itu berhenti, setelah hanya tersisa kulit sampulnya saja.


Saat Kulit Sampul kitab Dewa itu jatuh ke lantai, hal tak terduga kembali terjadi.


Klontang!


Suara besi yang beradu dengan ubin lantai, terdengar keras. Zhang San terkejut saat mendapati kulit sampul Kitab Dewa, telah berubah menjadi sebuah pedang yang berwarna keemasan dan melesatkan petir kecil, sesaat setelah membentur lantai.


Baik Zhang San maupun Thio San, tak ada yang berani bergerak sedikitpun. Keduanya seringkali saling tatap, sebelum kembali mengalihkan pandangan ke tubuh Chen An yang perlahan turun ke lantai.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Kitab Dewa itu raib dan berubah menjadi energi?” Dalam benaknya, Thio San bertanya-tanya.


Pertanyaan yang sama juga dimiliki oleh Zhang San. Keduanya masih diam dan hanya bisa menatap Chen An yang masih belum tersadar dari pingsannya.


Beberapa waktu kemudian, Chen An tersadar dan lantas berdiri seraya menatap kedua orang kakek, yang tengah menatapnya dengan raut wajah yang terlihat heran.


“Guru! … Kakek! … Mengapa melihat diriku seperti itu?” Tanya Chen An sambil meraba wajahnya.


Kedua orang Kakek itu masih terdiam. Dalam benaknya, mereka sedang bertanya tentang simbol cahaya berbentuk bintang yang tadi sempat terlihat sesaat di kening pemuda itu, sebelum akhirnya raib.


“Simbol bintang di kening Chen Cen tadi, sempat memancarkan Aura yang nyaman dan juga mengintimidasi yang sangat kuat, hampir serupa dengan Aura yang dimiliki oleh Sosok Bertubuh Cahaya milik Ayah Mei Lin.”

__ADS_1


Thio San berkata demikian dalam benaknya, dan menatap Chen An yang tengah mengambil Pedang berbilah emas dari lantai.


Saat tangan Chen An menyentuh gagang pedang berbilah emas itu, seketika ratusan kilatan petir kecil menyelimuti tangan dan merambat ke sekujur tubuhnya.


“Chen Cen …!”


“An’er ...!”


Thio San dan Zhang San berteriak bersamaan karena rasa khawatir mereka, saat tubuh Chen An bergetar hebat setelah terselimuti ratusan petir kecil.


Kedua Kakek itu menghela nafas lega, setelah melihat seluruh kilatan petir raib dan senyum terkembang di bibir Chen An.


“Chen Cen … Apakah Kau baik-baik saja? Apa sebenarnya yang telah terjadi?!” Thio bertanya seraya melangkah mendekati muridnya, demikian juga dengan Zhang San.


“Itu … Maafkan Aku Guru, Kakek Zhang. Aku tak bisa menceritakan apa yang baru saja terjadi. Yang pasti, Kitab Dewa telah menyatu dengan tubuhku. Semua teknik yang ada di dalamnya telah melekat dengan ingatanku.”


Wajah Thio San terlihat masih penasaran, bagaimana hal itu bisa terjadi pada Chen An tetapi tidak terjadi pada Zhang San saat Kakek itu menyentuh Kitab Dewa hingga berkali-kali.


Namun mendengar ucapan Chen An, Thio San lebih memilih memendam pertanyaan itu dalam benaknya. Apalagi di saat bersamaan, terdengar langkah beberapa orang mendekati ruang pribadi Guru Agung Kekaisaran Wei itu.


“Siapa di luar!?”


Mendengar itu, Zhang San segera membuka pintu, namun saat menoleh untuk mempersilakan Thio San dan Chen An melangkah keluar terlebih dahulu, mata Zhang San membelalak lebar.


@


“Chen Cen, Bagaimana Kau melakukannya?” Thio San bertanya setelah mereka berada lima Li jauhnya dari Ibukota Weihu.


Thio San tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, saat tadi Chen An mengajaknya keluar dari ruang pribadi Zhang San, tepat ketika pintu telah terbuka.


Tubuh Zhang San, Chu Bei dan Jenderal Guan Hu serta tiga orang prajurit lainnya, terlihat berhenti bergerak seperti sebuah patung.


Saat tiba di luar bangunan besar milik Zhang San, Thio San melihat tidak ada satupun orang atau hewan yang bergerak. Bahkan angin pun berhenti berhembus.


“Itu tadi teknik milik Dewa Angin Guru. Saat Guru nanti telah berada di Ranah Dewa Abadi, Aku akan memberitahu Guru bagaimana menggunakan teknik itu. Selain itu, aku menghindari pertemuan dengan yang Mulia Kaisar Wei ” Jawab Chen An santai, tidak memperdulikan wajah terkejut yang Thio San tunjukkan.


“Ranah Dewa Abadi?! Chen Cen … jelaskan semua yang kau alami pada guru! Di mulai sejak Kau menghilang sesaat setelah kau memberikan Cincin Ruang itu sampai Kau terbangun dari pingsan mu tadi!”


Thio San yang memendam banyak rasa penasaran sedari tadi, berkata tegas kepada Chen An yang hanya tersenyum saja mendengarnya.

__ADS_1


“Saat Aku baru menyerahkan Cincin milik Paman Guru Tan Hu, Mei Lin menarik tubuhku ke dunia Jiwa miliknya.” Chen An melambatkan sedikit laju terbang mereka yang sedang menuju ke Kota Zhaodong.


Chen lalu menjelaskan bahwa Dunia Jiwa milik Mei Lin berbeda dengan Dunia Jiwa yang dimiliki oleh Dewa dan Dewi Dunia Langit. Hal itu karena Ia terlahir dari dua Ras manusia yang berbeda.


Dunia Jiwa Mei Lin, bisa mengubah dimensi waktu menjadi lebih cepat atau lebih lambat dari Dimensi Dunia Bawah atau Dunia nyata lainnya. Itulah Keistimewaan Dunia Jiwa Mei Lin, yang bahkan Dewa Pun tidak bisa melakukannya.


“Di dalam Dunia Jiwa Mei Lin, Aku berkultivasi untuk menyerap seluruh energi dari tiga buah Apel Langit selama enam bulan lamanya. Kini kualitas tulang dan ototku meningkat menjadi Kualitas Tulang Berlian Dewa. Tapi karena hal itu pula.. “


Chen An terdiam sejenak, wajahnya terlihat sedih. Namun, Ia terus melanjutkan penjelasannya.


Setelah kualitas tulangnya meningkat menjadi Tulang Berlian Dewa, Akhirnya Mei Lin yang selama ini bertugas menjaga Mustika Bintang yang dipenuhi oleh energi alam yang sangat murni, memutuskan untuk mengakhiri tugasnya.


Setelah membuat seluruh energi dalam Mustika Bintang menyatu dengan tulang dan otot tubuh Chen An, keberadaan Roh Mei Lin sudah tidak lagi diperbolehkan di dunia ini.


Ia harus kembali ke Tubuh Kasarnya yang berada di Dunia Sembilan Benua. Namun, Roh Rambut Merah tetap berada di dalam bilah Pedang Bintang Merah.


Ia masih mendapat tugas dari Ayah Mei Lin, untuk mencari Kitab Raja Iblis yang dicuri dari ruang rahasia di Istana Kekaisaran Langit, hampir seribu tahun yang lalu.


Selain itu, Roh Rambut Merah mendapat tugas lain yaitu membantu Chen An saat Ia nanti berada di Dunia Sembilan Benua untuk sebuah tugas yang hingga saat ini, belum Chen An ketahui apa tugasnya itu.


“Kitab Raja Iblis …? Aku pernah sekali mendengar tentang Kitab Iblis. Kurang lebih lima ratus tahun lalu. Namun apakah kitab itu adalah Kitab Raja Iblis atau bukan, Aku tidak bisa memastikannya.”


Chen An segera menghentikan laju melayangnya. “Guru … Dimanakah atau sekte apa yang memiliki kitab Iblis itu?”


Dahi Thio San mengerut, mencoba mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi ratusan tahun lalu.


“Seingatku, yang memiliki kitab itu, seseorang pendekar yang senjata andalannya sebuah tongkat berwarna merah darah. Dia Berjuluk Pendekar Tongkat Darah.”


“Pendekar Tongkat Darah? Baru sekali ini Aku mendengarnya. Jadi … Kitab Raja Iblis itu, bisa jadi berada di dunia bawah ini, bukankah begitu Guru?”


“Aku setuju dengan mu, tapi satu hal yang harus kau ingat. Guruku yang pernah bertarung dengan Thianceng mengatakan jika sosok itu, memiliki kekuatan dan teknik yang kejam seperti Iblis, dari mana Ia mempelajari teknik itu, harus kita selidiki juga bukan?”


Chen An menganggukkan kepalanya, Ia sedang mencoba menganalisa apakah Kitab Iblis di dunia bawah ini adalah benda yang sama dengan Kitab Raja Iblis yang sedang dicari oleh Roh Rambut Merah.


Mereka kembali melayang ke kota Zhaodong dengan cepat. Hal itu karena keduanya merasakan ada aura besar yang sedang menuju ke kota tersebut.


“Chen Cen … Kau masih berhutang penjelasan tentang apa yang tadi terjadi di Ruangannya Si Zhang San.” Thio San berkata seraya mengejar Chen an yang telah melesat lebih dulu.


@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2