
Chen An tidak ingin berlama- lama ditempat itu. Dirinya harus segera kembali ke Ibukota Jianchang, untuk memastikan jika Putera Mahkota telah benar-benar aman.
Ia pun membakar tubuh Bayangan Angin dengan teknik dari Dewa Api. Karena tingginya suhu api dari qi Chen An, proses itu berlangsung kurang dari sepuluh menit.
Chen An melesat ke udara, Ia mengedarkan pandangannya untuk memastikan bahwa Yuan Bei memang sudah tidak berada di tempat itu lagi. Setelah yakin, Ia pun melesat cepat ke arah Kota Jianchang.
“Dia tidak mengetahui keberadaanku. Pemuda bernama Chen An ini, siapa dia sebenarnya? Kekuatannya semakin hari semakin meningkat. Sepertinya Aku harus kembali dulu ke Dunia Sembilan Benua.”
Sosok pemuda misterius itu, mengeluarkan benda bulat sebesar telur puyuh, sebuah kristal yang kemudian Ia taruh di tanah. Ia memejamkan mata, menyebutkan nama Dunia Sembilan Benua lalu menginjak kristal itu hingga pecah.
Setelah pecah, kristal itu menyebarkan butiran bercahaya putih yang bergerak menyelimuti tubuh pemuda misterius itu. Sesaat kemudian, butiran cahaya itu melesat ke udara dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menghilang dalam sekejap.
@
Setibanya di kota Jianchang, Chen An mengamati istana Kekaisaran Jian dari atas. Terlihat Istana telah kembali dijaga oleh orang-orang yang berseragam prajurit Kekaisaran.
“Sepertinya sudah tidak ada lagi orang-orang dari kalangan pendekar yang berada di istana. Sebaiknya Aku mencari di mana markas Sekte Tongkat Hitam berada dan menghancurkannya.”
Chen An akan segera melesat ke arah timur, namun telinganya yang tajam tiba-tiba mendengar suara denting senjata yang beradu dari sebuah bangunan besar.
Chen An segera melesat turun dan berhenti di sebuah jendela lalu perlahan mengintip ke dalam ruangan bangunan itu.
“Jenderal Chang! Menyerahlah … dan serahkan Putera Mahkota padaku!” Suara bentakan terdengar dari seorang pria seraya menghunuskan pedangnya kepada Jenderal Chang Bin.
“Pangeran ke Dua … Maafkan Hamba. Hamba sudah berjanji pada Yang Mulia Kaisar untuk menjaga Putera Mahkota dengan mempertaruhkan nyawa Hamba.”
Sosok yang dipanggil Pangeran ke Dua adalah seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun. Ia adalah adik Kaisar Jiang Feng namun berbeda Ibu. Pria itu bernama Jiang He.
Jiang He datang ke istana bersama lima orang pendekar Tingkat Langit tahap puncak yang merupakan pendekar aliran hitam.
“Jenderal Chang! Apakah Kau pikir anak sekecil itu pantas menjadi seorang Kaisar? Bukankah Aku yang jauh lebih pantas dengan jabatan itu?”
Jiang He berusaha memperovokasi Jenderal Chang Bin yang tetap kukuh pada janjinya untuk melindungi Putera Mahkota Jiang Fu yang sedang berada dibelakangnya dengan tubuh yang gemetar.
__ADS_1
Jiang He terlihat gusar. Ia memerintahkan satu dari lima orang pendekar yang menjadi pengawal pribadinya untuk menghabisi Jenderal Chang Bin.
Tebasan Pedang lawan, hampir beradu dengan pedang di tangan Jenderal Chang Bin. Namun sesuatu terjadi yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut heran.
Tubuh orang itu tersentak menjauh oleh pedangnya sendiri yang tiba-tiba berbalik arah menyerangnya. Saat genggaman pada gagang pedang dilepaskannya, Ia terkesiap.
Pedang itu masih tetap berada di udara, bahkan bilahnya meliuk-liuk bagai seorang perempuan yang sedang menari. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkesima melihatnya.
ARGGHHH!!
Hal mengerikan terjadi sesaat kemudian, ketika tiba-tiba pedang itu melesat bagai kilat. Pemilik pedang terjatuh ke lantai seraya memegangi lehernya yang telah berlubang mengucurkan darah dengan deras.
“Apa!”
“Siapa Kau! Keluarlah!”
Salah satu dari empat orang pengawal Jiang He, berteriak seraya mencabut pedangnya. Tiga orang lain yang tadi terkejut, segera mencabut senjata masing-masing dan bergerak melindungi Jiang He.
BRAAKKK
“Pedang Kematian … Biar Aku membantu dirimu!” Satu orang yang berada di dekat Jiang He melompat mendekati pria yang dikenal di Dunia Persilatan Kekaisaran Jian sebagai Pendekar Pedang Kematian.
“Apa Aku terlihat perlu bantuanmu Tangan Besi?” Pendekar Pedang Kematian mendengus kesal.
“Kurasa begitu, dia bukan pendekar biasa. Apa Kau bisa merasakan keberadaan bocah ini, sebelum dia muncul?” Tanya Pendekar Tangan Besi.
Pedang Kematian hanya terdiam. Ia segera mengalirkan tujuh puluh persen tenaga dalamnya, ketika Chen An telah berada dua meter dari tempat mereka berdiri.
“Tuan Pendekar ..!”
Jenderal Chang Bin yang tadi berwajah pucat, kini terlihat gembira setelah melihat kehadiran Chen An. Secercah harapan untuk tetap hidup yang tadi sempat buram, kini kembali menjadi terang.
“Siapa Kau Bocah!? Mengapa mencampuri urusan kami Hah!” Tangan Besi membentak Chen An. “Pergilah … jika tidak ingin mati muda di tempat ini!” Pedang Kematian pun ikut membentak Chen An.
__ADS_1
Chen An hanya menyeringai sinis. “Mati muda? Bagaimana jika kalian saja yang minggat dari Istana ini daripada mati muda enggak, mati tua juga enggak.”
Wajah keduanya mengelam mendengar ucapan Chen An yang kemudian tersenyum mengejek. Keduanya segera melesatkan serangan ke titik vital di tubuh Chen An.
“Apa!”
Namun mata keduanya melotot lebar sedetik kemudian. Pedang dan Tinju yang begitu kuat, tertahan saat berjarak beberapa sentimeter dari tubuh Chen An.
Pandangan mata keduanya menjadi gelap seiring tubuh yang menggelosoh jatuh ke lantai. Dari mulut keduanya mengalir darah kehitaman, yang menunjukkan jika mereka mengalami luka dalam yang sangat parah.
“Hah!”
“Bagaimana …!”
Kedua orang lainnya, tercengang dengan mulut yang terbuka lebar. Mereka tidak melihat serangan pemuda itu.
Keduanya hanya melihat pemuda itu mendorong ujung pedang milik Pendekar Pedang Kematian dan mendorong kepalan tinju dari Si Tangan Besi.
Menyadari pemuda di depannya bukan pendekar kaleng-kaleng,keduanya saling bertatapan sebelum akhirnya melesat pergi dari tempat tersebut.
Namun niat meninggalkan tempat itu, sudah terbaca oleh Chen An, Ia hanya menggerakkan jarinya dan kedua pendekar yang hendak melompat keluar melalui jendela itu, tersungkur dengan leher yang nyaris putus, akibat tertebas Pedang Angin dari Teknik Dewa Angin dalam Kitab Dewa.
Wajah Jiang He pun seketika memucat dengan tubuhnya bergetar hebat, membuat lututnya menjadi lemas yang memaksanya jatuh terduduk.
“Jenderal Chang … Nasib orang ini Aku serahkan padamu! Aku harus memastikan jika tidak ada lagi pendekar aliran hitam yang mengancam Paman dan Putera Mahkota di Istana ini”
Belum sempat Jenderal Chang Bin membuka mulutnya, Chen An telah melesat pergi dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata Sang Jenderal.
Dengan kecepatan geraknya, Chen An menelusuri setiap sudut ruangan di Bangunan Istana yang jumlahnya, belasan itu dan semuanya berukuran sangat besar.
Saat telah selesai dan tidak menemukan satu pun pendekar di dalam istana, Chen An memutuskan untuk meninggalkan Istana Kekaisaran Jian.
Ia melesat ke arah timur dengan kecepatan tinggi. Tujuannya adalah mendatangi Markas Sekte Tongkat Hitam dan mencari Kitab Raja Iblis yang disembunyikan oleh Hong Qi.
__ADS_1
@@@@@