
“Indentitas? Semacam apakah itu Tuan?” Penjaga itu terlihat heran mendengar pertanyaan Chen An. “Sebesar ini kau tidak tahu plakat identitas? Siapa namamu dan dari mana Kau berasal?”
Chen An lalu menyebutkan namanya dan mengatakan bahwa selama ini ia hidup di dalam hutan, sehingga tidak mengetahui apapun tentang plakat identitas tersebut.
“Jika tak memiliki identitas, kau tak boleh masuk ke dalam Kota Shanzui ini!” Seorang penjaga lain berkata seraya melirik pedang di punggung Chen An.
“Anak muda, Kau bisa membuat plakat Identitas di kota ini dengan membayar dua puluh lima keping perak? Apakah kau punya uang sebanyak itu?”
Chen An tertegun mendengar jumlah yang disebutkan oleh penjaga tersebut. Uang yang ditinggalkan oleh Gurunya sebagai bekal perjalanannya, hanya berjumlah dua puluh keping perak saja.
Melihat Chen An menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan tadi, penjaga tersebut lantas mengatakan bahwa Ia akan membuatkan Identitas untuk Chen An dan sebagai bayarannya, Ia meminta Pedang di Punggung pemuda itu.
“Maaf Tuan … Pedang ini adalah warisan Guruku, Aku juga tidak punya uang untuk membuat identitas tersebut. Aku membatalkan niatku untuk memasuki kota ini.”
Chen An segera berbalik dan melangkah menjauhi gerbang kota Shanzui. Ia memutuskan untuk menunggu malam tiba dan menunggu di balik tebing berjarak dua ratus meter dari gerbang kota tersebut.
Chen An berencana memasuki kota Shanzui dengan melompati tembok pagar kota setinggi enam meter itu, saat hari telah menjadi gelap.
Satu jam kemudian, hari telah benar-benar gelap. Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, Chen An melesat ke udara dan melayang melewati tembok kota, tanpa satupun prajurit penjaga gerbang yang melihatnya.
Setelah mendarat di sebuah atap bangunan yang tinggi dan memastikan tempat tersebut benar-benar sepi, Chen An lalu melompat turun dan berjalan menyusuri jalan utama kota Shanzui yang telah ramai.
Chen An terus menyusuri jalanan kota Shanzui, untuk mencari sebuah kedai dan penginapan. Ia tidak memperdulikan tatapan kagum beberapa gadis, yang tertegun memandang wajah tampannya.
Akhirnya Chen An menemukan sebuah kedai yang segera Ia masuki. Ia pun lantas memesan hidangan dan terlihat kebingungan saat pelayan kedai itu, bertanya apakah Ia akan memesan arak atau tidak.
“Baiklah, araknya satu kendi saja.” Jawab Chen An dengan cepat. Pelayan pun pergi dan beberapa saat kemudian kembali membawa hidangan dan arak yang Chen an pesan.
Malam telah semakin larut saat Chen An keluar dari kedai dalam keadaan setengah mabuk. Ia berniat untuk mencari sebuah penginapan yang disebutkan oleh pelayan kedai itu. Namun, tiba-tiba saja terdengar bunyi tanda bahaya dari gerbang utara.
Suara tanda bahaya itu, disertai teriakan yang mengatakan bahwa kelompok perampok berjumlah ratusan orang, sedang berusaha menerobos Gerbang Utara Kota Shanzui.
Sontak terjadi kepanikan di jalanan kota itu, para penduduk dan pedagang segera membereskan dagangan dengan panik dan lalu berlari meninggalkan jalan tersebut.
Di saat bersamaan, sekelompok prajurit memacu kuda mereka ke arah gerbang utara. Jumlahnya sekitar lima puluh orang.
__ADS_1
Kelompok itu dipimpin oleh seorang komandan yang berusia sekitar empat puluhan tahun. Dan sempat melihat sekilas ke arah Chen An.
Sementara puluhan penduduk masih berlari ke sana kemari, sambil berteriak ketakutan dan menyebut nama kelompok Perampok Serigala Hitam yang datang menyerang kota mereka.
“Perampok Serigala Hitam?! Bukankah mereka yang dulu menyerang kelompok pedagang Tuan Qiu Feng?” Chen An yang teringat akan kelompok perampok tersebut, lantas melesat dengan peringan tubuhnya ke arah utara.
Ia melompati atap- atap bangunan dan akhirnya melesat ke udara tanpa menyadari seseorang yang juga sedang bergerak dengan peringan tubuhnya, terkejut melihat apa yang Chen An lakukan.
“Mustahil! Tidak mungkin!” Sosok itu berhenti dari larinya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Ia lihat.
Namun saat mendengar suara pertempuran, Ia pun bergegas melesat dengan peringan tubuhnya ke arah gerbang utara.
Setibanya di gerbang utara, Ia kembali dikejutkan dengan apa yang terjadi di hadapannya.
“Siapa pemuda ini? Kemampuannya sangat tinggi sekali!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya dari belakang. “Tuan Muda Qiu Fang … Anda telah tiba disini rupanya.”
Pemuda yang berusia dua puluhan tahun itu, segera memberi salam dan menyapa komandan prajurit, yang tertegun saat melihat ke arah dimana Chen An sedang membantai para anggota kelompok perampok Serigala Hitam.
“Komandan Chao … Apakah anda mengenali pemuda itu?” Tanya Qiu Fang kepada Komandan Chao yang tengah terpana dengan aksi Chen An.
Ia dengan cepat Ia menghabisi beberapa orang dengan jurus Tinju Si Gila tanpa mengurangi tenaganya sedikitpun.
Setiap orang yang terkena serangan cepat Chen An, pasti muntah darah atau kepalanya pecah terhantam tinjunya. Mereka jatuh ke tanah dan tak akan pernah bangkit lagi untuk selamanya.
Setidaknya telah lima puluh orang lebih telah Chen An habisi, sebelum akhirnya terdengar teriakan keras dari pemimpin kelompok perampok tersebut.
“Mundur! Semuanya mundur!”
Anggota Kelompok Serigala Hitam pun berlarian mundur, dengan wajah yang terlihat jerih.
Suara itu berasal dari seorang pria bertubuh besar dan tinggi, berusia sekitar lima puluhan tahun. Ia melompat dari kudanya dan melangkah perlahan ke arah Chen An dengan golok besar di bahu kanannya.
“Siapa Kau anak muda? Apakah kau sudah bosan hidup hingga berani melawan Kelompok Serigala Hitam.” Sosok itu membentak Chen An dengan kemarahan yang menggelegak, mendapati puluhan anak buahnya telah tergeletak tewas.
“Bukankah itu Meng Chu?!” Komandan Chao berkata dengan suara bergetar. Qiu Fang menelan ludahnya saat mengenali sosok pemimpin perampok itu.
__ADS_1
“Benar Komandan, kali ini Dia sendiri yang memimpin penyerangan. Pemuda itu dalam bahaya besar. Kita harus membantunya Komandan.”
Qiu Fang mencabut pedang di pinggangnya, mengusir rasa jerih saat mengetahui kedatangan Sosok Meng Chu yang sangat ditakuti karena kemampuan beladirinya yang tinggi.
“Tuan Muda jangan gegabah, Meng Chu sangat kuat dan kemampuannya sangat tinggi. Kita harus segera pergi dari tempat ini.” Komandan Chao menahan Qiu Fang yang terlihat marah, setelah mendengar ucapan komandan prajurit penjaga Kota Shanzui tersebut.
Sementara itu, di depan Gerbang Utara, Chen An hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Meng Chu.
“Aku bukan siapa-siapa dan belum bosan hidup. Tapi sepertinya Paman yang sudah bosan hidup dengan menyerang Kota kecil ini.”
“Kurang Ajar!”
Meng Chu terlihat sangat marah mendengar ucapan Chen An. Ia segera menebaskan Golok besar sepanjang satu setengah meter itu dengan sangat cepat ke arah kepala Chen An.
“Apa!!”
“Hah.!!!”
Komandan Chao dan Qiu Fang, terbelalak lebar melihat apa yang terjadi di depannya. Mereka tidak menduga sama sekali, jika Meng Chu akan dikalahkan dengan hanya satu kali serangan saja.
Tubuh Besar Meng Chu ambruk ke tanah dengan kepala yang terpisah dari badannya. Semua anggota perampok Serigala Hitam hanya diam terpana, seolah tak percaya apa yang baru mereka lihat.
“Bagaimana bisa … “
“Kapan Ia mencabut pedangnya?”
“Ketua yang menyerang kenapa dia yang mati?”
“Ketua telah tewas….”
“Ayo pergi dari sini…!”
“Ayo pergi …!”
*****
__ADS_1