Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
018: Rencana Pembunuhan


__ADS_3

“Wakil Ketua Satu dan Dua, hati-hati terhadap pemuda itu, bergeraklah setelah memastikan pemuda itu bisa kalian kalahkan.”


“Siap Ketua!” Jawab keduanya bersamaan.


Dua belas orang itu bergegas berangkat meninggalkan lembah kematian selagi hari masih gelap. Hal itu dilakukan untuk menjaga kerahasiaan markas mereka.


“Bayangan Angin … Kau ikuti dan pantau mereka. Setelah mereka berhasil menculik isteri dan puteri gubernur Feng, temui Kedua Topeng Setan agar mengambil upah dari Bangsawan Lou Jing.”


Belum sempat bayangan Angin menjawab, seekor burung merpati terbang menghampirinya dengan sebuah gulungan kertas kecil di kaki kirinya.


Setelah mengambil gulungan dari merpati yang hinggap di tangan kirinya, Bayangan Angin membaca tulisan dalam gulungan itu. Sesaat kemudian, dengan terburu-buru Ia menyerahkannya pada Ketua Dua.


“Sial … Siapa pemuda ini? Bagaimana dia bisa membuka Kotak Batu itu. Guru harus segera mengetahui hal ini.”


Sosok Ketua Dua mengajak Bayangan Angin untuk menemui Guru Sekaligus ketua Satu mereka.


Keduanya berjalan ke sebuah goa yang berada di tebing di sebelah barat Lembah Kematian. Setibanya di depan goa, Bayangan Hitam dan Ketua Dua terkesiap saat merasakan udara yang panas menerpa tubuh mereka.


Keduanya pun segera melompat mundur. Ketua Dua menyadari jika Sang Guru sedang dalam puncak meditasinya. Ia pun memilih menunda keinginannya.


Sementara Bayangan Angin diperintahkan untuk segera menyusul rombongan yang dipimpin oleh kedua wakil ketua agar membatalkan rencana sebelumnya.


Walau bergerak dengan kecepatan penuhnya, serta dirinya adalah orang tercepat di kelompoknya, namun Bayangan Angin terlambat.


Dua belas orang itu telah keluar dari Lembah Kematian. Bayangan Angin pun terpaksa melepas topeng dan seragam kelompoknya.


Aturan itu berlaku bagi semua kelompok yang mendapatkan misi dari Ketua. Bahwa mereka harus berpencar serta menyamar dan berpakaian, layaknya orang biasa.


Barulah pada malam hari mereka mengenakan seragam dan topeng saat hendak memulai aksinya.


###


“An Gege! … An Gege! Apakah Kau sudah bangun?!” Suara Qiu Ling dari balik pintu ruangan, terdengar membangunkan Chen An.


“Adik Ling … Ada apa?” Tanya Chen An setelah membuka pintu ruangannya. “Aku disuruh Ayah untuk menjemputmu, the dan hidangan lain telah disiapkan.”


“Baiklah … Tunggu sebentar ..” Chen An kembali memasuki ruangannya. Setelah mengambil pedang mengikat buntelan ke pinggangnya, Ia pun keluar dan mengikuti langkah Qiu Ling.

__ADS_1


Ketika memasuki ruang jamuan, Qiu Feng dan isterinya, Rao Ji segera berdiri menyambutnya dengan hangat. Begitupun dengan Luan Hu dan Qiu Fang.


Saat jamuan berlangsung, Qiu Feng maupun Rao Ji beberapa kali memergoki puteri mereka sedang mencuri pandang ke arah Chen An.


Keduanya pun memaklumi ketertarikan Qiu Ling pada Chen An yang memang berwajah tampan itu. Hanya saja, waktu untuk keduanya bisa saling mengenal lebih jauh, sangatlah terbatas.


Hal itu karena Qiu Feng teringat jika Chen An akan berkelana mencari Gurunya Fei Long. Selain itu, Chen An juga berencana untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya yang berada di wilayah Kekaisaran Jian.


Setelah jamuan makan di pagi hari itu selesai, Qiu Feng lalu mengutarakan keinginannya kepada Chen An.


“An’er … Bolehkah Paman minta tolong sesuatu padamu?” Sesaat Chen An terdiam. “Jika aku bisa melakukannya, tentu saja Aku akan membantu Paman.”


Qiu Feng lalu menceritakan jika pagi ini, Ia telah mengirim utusan untuk menemui Guru Luan Hu dan beberapa orang Kakak seperguruannya.


Utusan itu membawa pesan bahwa Qiu Feng meminta pertolongan kepada mereka, untuk menjaga keamanan keluarganya. Hal ini dilakukan setelah Ia mengetahui jika Kelompok Topeng Baja mengincar dirinya.


“Kemungkinan besar, besok siang mereka baru tiba di kota Shanzui. An’er bisakah kau menunda rencanamu untuk mencari Sesepuh Fei? Aku ingin Kau menginap semalam lagi disini. Bagaimana?’


Merasakan ketakutan Qiu Feng pada suaranya, tanpa berpikir dua kali, Chen An segera menyanggupinya. Wajah murung Qiu Feng berubah ceria, demikian juga dengan yang lainnya terutama Qiu Ling.


“An Gege … Bagaimana kalau siang ini, kita jalan-jalan di kota Shanzui? Akan Ku ajak kau ke sebuah tempat yang indah.”


“Tidak … Eh maksudku jangan sekarang Adik Ling. Situasi sedang tidak menentu, bagaimana jika nanti Kau Ku ajari sebuah jurus pedang yang hebat. Apakah Kau bersedia?”


Sesaat wajah Qiu Ling cemberut, namun setelah Chen An selesai dengan kata-katanya, wajahnya pun kembali ceria.


“Benarkah An Gege … Baiklah Aku mau. Ayo segera kita mulai sekarang.” Qiu Ling berdiri dan menarik tangan Chen An yang segera permisi kepada Qiu Feng dan lainnya.


“Aaah Puteri kita terlihat sangat senang sekali Feng Gege … Semoga kemampuan beladirinya meningkat setelah ini.”


Rao Ji berkata dengan menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia menyadari betapa sedihnya Qiu Ling, saat besok Chen An pergi meninggalkan kota Shanzui.


Chen An dan Qiu Ling tiba di halaman belakang, tempat dimana Ia dan Qiu Fang sering berlatih bersama.


“An Gege … Jurus pedang apa yang akan kau ajarkan padaku? Apakah gerakannya banyak?” Tanya Qiu Ling penasaran.


“Gerakannya tidak banyak, namun cukup rumit untuk dilakukan. Jurus ini bernama Jurus Pedang Angin. Apakah kau telah mempelajari perubahan tenaga dalam?”

__ADS_1


Qiu Ling sedikit lemas mendengar perkataan Chen An. “Belum An Gege … Apakah itu syarat utamanya?” Tanya Qiu Ling was-was.


Chen An menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal. Ia pun memutuskan untuk terlebih dahulu mengajari Qiu Ling bagaimana cara mengubah tenaga dalam menjadi energi angin.


Butuh satu jam bagi Qiu Ling yang berada pada tingkat pendekar Ahli Tahap Menengah, untuk benar-benar menguasai perubahan tenaga dalam.


Penguasaannya berada pada Tingkat Ahli, yaitu tingkatan kedua dalam hal penguasaan suatu jurus atau teknik. Hal itu bisa dicapai Qiu Ling, karena sebelumnya ia telah mempelajari hal tersebut. Namun penguasaannya masih sangat dasar.


Menyadari jumlah lingkaran tenaga dalam Qiu Ling masih sedikit, Chen An tidak berharap banyak pada gadis yang delapan tahun lalu dikenalnya itu.


Chen An lalu memperagakan gerakan jurus Pedang Angin dan meminta Qiu Ling memperhatikannya dengan cermat agar bisa menghapal seluruh gerakannya.


“Jurus Pedang yang hebat! … Saudara An … Maukan kau mengajari aku juga, teknik Pedang Angin ini?” Tanya Qiu Fang yang baru tiba di halaman belakang, saat Chen An telah separuhnya memperagakan jurus itu.


“Tentu saja Kakak Fang … “


“Tidak! Tidak boleh !! Fang Gege … Pergilah … Jangan ganggu latihanku!”


Qiu Ling memotong kalimat Chen An dan mendorong Qiu Fang untuk pergi menjauh. Qiu Fang hanya bisa menuruti kemauan adiknya yang sangat keras saat memiliki kemauan.


Qiu Fang hanya melihat dari jauh, sementara Qiu Ling diminta oleh Chen An untuk mempraktikkan ingatannya tentang jurus pedang dari Kitab Dewa itu.


Hanya sepuluh persen gerakan itu berhasil dihafal oleh Qiu Ling. Chen An pun memperagakan ulang gerakan itu hingga beberapa kali.


Setelah matahari berada di puncaknya hari, Qiu Ling akhirnya berhasil menghapal seluruh gerakan jurus tersebut. Ia bahkan sempat bisa mengeluarkan angin dari pedangnya.


Angin berbentuk pedang yang bentuknya terlihat tidak beraturan itu, hancur saat menghantam salah satu pohon di dekat mereka.


Chen An hanya tersenyum tipis, Jurus Pedang Angin seharusnya menggunakan energi qi untuk menghasilkan daya hancur yang luar biasa.


Melihat Qiu Ling yang merasa tak yakin akan kehebatan jurus Pedang Angin, Chen An lalu memintanya untuk melihat jurus tersebut dimainkan dengan kekuatan penuh.


BLAAARRR


Luan Hu yang baru datang dan hendak menyampaikan sebuah informasi darurat yang baru saja Ia dapatkan, seketika matanya terbelalak lebar.


Hal yang sama terjadi pada Qiu Ling dan Qiu Fang yang mulutnya ternganga lebar. Mereka hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


“Paman Hu … Sepertinya ada sesuatu yang penting yang hendak kau sampaikan?” Tanya Chen An setelah tadi Ia sempat melihat langkahnya yang terburu-buru.


########


__ADS_2