Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
004: Sekte Tangan Suci diserang


__ADS_3

Suasana Sekte Tangan Suci saat malam baru saja berganti, terlihat sudah hening. Kebanyakan anggotanya telah memasuki ruangannya masing- masing.


Jumlah bangunan yang ada hampir seribu buah, dimana terdapat bangunan khusus untuk para anggota yang telah berumah tangga dan juga para anggota perempuan.


Sekte yang besar itu, terlihat seperti sebuah kota kecil. Ada dua gerbang utama untuk memasuki Sekte yang terletak di Lembah Xhansi itu.


Satu Gerbang berada di Timur dan satu Gerbang berada di barat. Dari Gerbang Timur itulah seribu orang lebih anggota Sekte Tongkat Iblisbergerak untuk memulai penyerangan mereka.


Suasana seketika menjadi riuh saat dengan percaya dirinya, Sekte Tongkat Iblis menerjang masuk melalui gerbang timur dan membantai semua penjaganya.


Serangan mendadak di waktu yang tidak terduga itu, tentu saja membuat panik para anggota Sekte Tangan Suci. Namun begitu tidak mudah juga bagi Sekte Tongkat Iblis untuk meraih kemenangan.


Pertarungan pun terjadi di banyak tempat di bangunan Sekte Tangan Suci. Anggota sekte itu bertarung dengan keadaan panik. Suara jerit kematian dan anyir darah segera mengisi udara malam di Lembah Xhansi.


Chen Bun terlihat sedang bertarung melawan beberapa Tetua Sekte Tongkat Iblis , sementara Hong Qi dan Cheng Kun masih terlihat berada atas atap sebuah bangunan.


“Kakak … Aku akan menghadapi Si Chen Bun itu, kalau dibiarkan kelima Tetua kita akan terbunuh olehnya.” Cheng Kun berkata seraya mencabut Pedang di punggungnya.


“Pergilah, jangan memaksakan diri dan segera mundur jika kau merasa tidak bisa mengalahkannya.” Hong Qi berkata seperti itu untuk mengingatkan Cheng Kun yang terkadang lupa diri karena ambisinya.


Cheng Kun menganggukkan kepalanya, Ia segera melesat ke arah Chen Bun yang sedang berjibaku dengan Lima orang tetua Sekte Tongkat Iblis .


“Mundur … Kalian cari dan tangkap Isteri dan anaknya! Biar aku menghadapinya.” Suara Teriakan Cheng Kun datang bersama dengan serangan tebasan pedangnya ke arah kepala Chen Bun.


Chen Bun tentu saja terkesiap saat mendengar perkataan Cheng Kun. Musuh bebuyutannya dalam dunia persilatan dan juga Dunia Percintaan itu.


“Licik sekali sekali Kau Cheng Kun!” Chen Bun membentaknya setelah Ia berhasil menangkis serangan Cheng Kun itu.


Kelima Tetua Sekte Tongkat Iblisitu, segera mundur dan berpencar ke arah bangunan besar yang tak jauh berada dari tempat itu.


Wajah Chen Bun menjadi semakin gusar, Ia tidak menduga sama sekali jika sektenya akan diserang secara mendadak di saat Sang Pelindung Sekte yang juga adalah Kakak seperguruannya, belum kembali dari Gunung Huashan.


Cheng Kun dan Chen Bun bertarung dengan sangat hebat, sebuah luka sudah tertoreh di tubuh Cheng Kun akibat tebasan pedang lawannya.

__ADS_1


Kemampuan Chen Bun sedikit di atas Kemampuan yang dimiliki oleh Cheng Kun yang berada di Tingkat Pendekar Langit tahap Dasar. Sedangkan Chen Bun baru saja memasuki tahap Menengah di Tingkat Pendekar Langit.


Konsentrasi Chen Bun seketika buyar saat mendengar teriakan Isterinya yang sedang bertarung dengan salah satu Tetua Sekte yang tadi diperintahkan oleh Cheng Kun.


Chen Bun segera melesat ke arah dimana Isterinya berada, hal itu tentu saja tidak dibiarkan oleh Cheng Kun yang semakin bersemangat setelah melihat Chi Lin, perempuan yang Ia cintai selama ini.


Dendamnya atas pernikahan mereka berdua kembali menggelegak. Membuat Aura membunuhnya memancar kuat seiring tenaga dalamnya yang kian menguat.


Chen Bun segera beradu Punggung dengan isterinya saat empat Tetua Lain dan Cheng Kun mengepung mereka.


“Bagaimana An’er? Dengan siapa Ia sekarang?” Chen Bun berbisik kepada Chi Lin. “Ia berada di tempat rahasia itu.” Chi Lin pun berbisik saat menjawab pertanyaan Suaminya.


Chen Bun dan Chi Lin sama-sama menyadari jika situasi mereka dalam keadaan yang buruk. Puluhan anggota sekte mereka telah bergelimpangan tak bernyawa.


Cheng Kun kembali menyerang Chen Bun dengan jurus terkuat miliknya, sementara dua tetua Sekte yang lain, menyerang Chi Lin yang kemampuannya berada di tingkat Pendekar Bumi tahap Dasar.


Tiga orang tetua membantu Cheng Kun menghadapi Ketua Sekte Tangan Suci Itu. Chen Bun benar-benar murka. Ia segera mengerahkan kekuatan penuhnya.


Cheng Kun terkesiap melihat hal itu dan menarik mundur serangannya. Ia sangat tahu kehebatan jurus yang akan digunakan oleh lawannya.


“Murka Tangan Suci! Hati-hatilah kalian!” Cheng Kun berteriak memberi peringatan kepada ketiga tetua sektenya yang segera melompat mundur sesaat kemudian.


Ia pun segera bersiap dengan Jurus Pedang Membelah Gunung. Sementara ketiga Tetua Sekte segera bersiap dengan jurus andalan mereka.


“Serang!” Cheng Kun memberi aba-aba, empat orang segera bergerak bersamaan menerjang Chen Bun.


Chen Bun masih terlihat tenang menangkis dengan menebaskan pedangnya dan kadang melakukan serangan dengan tinju dari jurus Murka Tangan Suci.


Namun serangan dari Cheng Kun dan ketiga Tetua sekte itu terlalu kuat untuk dihadapi oleh Chen Bun yang konsentrasinya terbagi karena melihat Chi Lin mulai terdesak.


Seringnya melihat ke arah Chi Lin dengan konsentrasi yang terbagi, membuat luka mulai tertoreh di tubuh Chen Bun.


Pertukaran serangan lima orang yang bertarung itu telah memasuki ratusan kali, saat akhirnya sebuah pukulan telak Chen Bun menghantam kepala satu orang tetua Sekte yang membuat kepalanya pecah.

__ADS_1


Namun di saat yang sama Cheng Kun berhasil menusukkan pedangnya tepat di dada kiri Chen Bun.


Chen Bun yang sudah tertusuk itu, segera berbalik dan melesatkan tinjunya tepat ke arah dada Cheng Kun.


Tubuh Cheng Kun terpental dengan darah yang menyembur dari mulutnya. Kesadarannya menghilang saat tubuhnya menyentuh tanah.


Di saat bersamaan dua pedang dari tetua sekte yang berada ditingkat Pendekar Bumi tahap akhir itu, menusuk tubuh Ketua Sekte Tangan Suci Itu hingga tumbang.


Melihat kondisi suaminya yang telah roboh, Chi Lin pun berteriak histeris, Ia pun mengamuk membab1 buta menyerang kedua lawannya.


Namun kedua lawannya yang berada ditingkat yang sama dengannya itu, berhasil merobohkan Chi Lin dengan sebuah pukulan yang mendarat di punggungnya.


Tubuh Chi Lin terlempar dan jatuh satu meter di samping Chen Bun yang sedang sekarat dengan mulut yang berlumuran darah.


“Bun Gege … Bun Gege …” Chi Lin segera beringsut mendekati suaminya, setelah selesai memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Ia hanya terkena pukulan lawan yang memang telah diperintahkan oleh Cheng Kun untuk menangkap Chi Lin dalam keadaan hidup.


“Maafkan Aku … tidak bisa…melindungimu lagi … Aku … Sang ngat mencin..taimu … Lin’er … AARRGH.”


Di saat-saat terakhirnya, Chen Bun masih meminta maaf. Chi Lin berteriak dan menangis keras saat merasakan pegangan tangan suaminya melemah dan terkulai lepas.


“Tangkap Perempuan Itu!” Cheng Kun berteriak setelah Ia tersadar dan berhasil meredam sedikit rasa sakit di dadanya.


Namun diluar dugaan Cheng Kun, Chi Lin melakukan tindakan yang sangat mengiris hati Cheng Kun.


“TIDAAAAKKK!!” Cheng Kun berteriak keras saat melihat Kepala Chi Lin jatuh tepat di atas dada suaminya, hal itu terjadi karena Chi Lin menggorok lehernya sendiri.


Perempuan itu lebih memilih mati bersama lelaki yang dicintainya daripada harus dipaksa hidup bersama lelaki yang telah membunuh suaminya.


Di detik-detik terakhirnya, Chi Lin meminta maaf kepada puteranya yang baru berusia delapan tahun dan sedang bersembunyi di sebuah tempat rahasia.


***

__ADS_1


__ADS_2