Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
020: 1 VS 7


__ADS_3

Ini adalah kali pertamanya Ia akan melawan seorang Pendekar Langit. Namun bukan hanya satu orang, melainkan tujuh orang sekaligus.


Muncul sedikit kegamangan Chen An, saat Ia berhasil menghindari serangan cepat dan mematikan dari sosok wakil Ketua ke Satu itu. Angin dari tendangannya saja, terasa begitu kuat.


“Ternyata sekuat ini pendekar di Puncak Tingkat Langit. Aku harus hati-hati.”


Belum sempat Chen An memutuskan menggunakan jurus apa untuk menghadapi lawannya, serangan cepat yang terduga dari Wakil Ketua Dua, hampir saja gagal Chen An hindari.


Chen An segera menjadi waspada, ia segera mengalirkan seratus kristal qi di kedua telapak tangannya. Dua lawan dari arah yang berbeda itu, berniat menyerangnya secara bersamaan.


“Kasihan sekali bocah itu, harus mati muda di tangan kedua Wakil Ketua..”


“Benar …. Sangat disayangkan sekali semuda dan sekuat itu akan segera mati…”


Dua dari empat orang anggota Kelompok Langit Dua yang memiliki kemampuan di Tingkat Pendekar Langit Tahap Menengah, berbincang dengan santainya.


“Sepertinya Ketua Dua terlalu berlebihan menilai tinggi kekuatan pemuda ini. seharusnya Cukup Kelompok Bumi Saja yang dikirim untuk misi ini…”


Bayangan Angin berkata demikian dalam benaknya, Ia melihat ke arah Kota Shanzui yang masih terlihat tenang. “Sepertinya Delapan orang anggota Kelompok Langit Dua, belum bergerak. Tidak terdengar kegaduhan sedikit pun dari sana.”


DUAAGGH BUUUKK


AARGGH …. AARGGH


Bayangan Angin terkesiap saat mendengar jeritan kedua Wakil Ketua Kelompok Topeng baja. Matanya melotot lebar melihat ke arah pertarungan mereka bertiga, yang diterangi oleh sinar bulan purnama.


Kedua wakil ketua itu terlihat memuntahkan darah segar akibat serangan Chen An yang tidak mereka duga sama sekali.


Saat keduanya melesat ke arah Chen An, dengan cepat pemuda itu menggerakkan kedua tangannya ke udara.


Tanah yang berada di bawah tubuh kedua wakil ketua itu, tiba-tiba melepaskan sebuah bongkahan berbentuk kepalan tangan sebatas siku.


Kepalan tangan dari tanah itu, bergerak sangat cepat menghantam perut kedua Wakil Ketua yang tidak menyangka akan diserang dengan cara yang belum mereka temui sebelumnya.


Keduanya pun terpental ke udara dan kembali jatuh membentur tanah dengan kesadaran yang nyaris hilang. Sementara empat anggota Kelompok Langit Dua, terbelalak dengan mulut yang terbuka.


“Bocah itu tidak berpindah sejengkal pun dari tempatnya semula, tapi mengapa Kedua Wakil Ketua terjatuh dan muntah darah?”

__ADS_1


“Benar … Apa sebenarnya yang terjadi.” Rekannya yang lain menyahuti.


Mereka terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, sehingga tidak melihat kedua bongkahan tanah yang berbentuk kepalan tangan sebatas siku itu, kembali masuk ke dalam tanah.


Kedua wakil ketua itu segera bangkit melompat menjauh Chen An, Keduanya mengambil sebutir pil dari balik jubah mereka dan segera menelannya.


Beberapa detik setelah menelan pil itu, luka dalam mereka mulai berkurang rasa sakitnya. Hal itu membuat Chen An menyipitkan matanya.


“Aura Tenaga dalam mereka kembali meningkat, Pil macam apa yang mereka minum…. Jangan-jangan …”


Chen An segera bersiaga kembali, saat kedua orang Wakil Ketua itu mencabut senjata mereka. Wakil Ketua Satu, mencabut Tombak Perak di pinggangnya.


Tombak Sepanjang satu meter itu, tiba-tiba memanjang menjadi dua kali lipat dari panjang sebelumnya.


Sementara Wakil Ketua Dua mencabut pedangnya yang bernama Pedang Giok Merah. Bilah pedang berwarna merah itu, segera menjadi terang saat dialiri tenaga dalam yang sangat besar.


“Keduanya sudah mencabut senjata? Sepertinya mereka mendapatkan lawan yang hebat kali ini.”


Seingat Bayangan Angin, baru di misi kali ini saja, Ia melihat keduanya menggunakan senjata mereka.


Tentu saja Bayangan Angin terkejut setelah mendengar perkataan Wakil Ketua Satu. Menyadari situasi yang sepertinya genting, Bayangan Angin pun segera mencabut Kipas Api Neraka miliknya.


Melihat Tiga orang lawan mengepungnya dengan senjata mereka, Chen An segera mencabut Pedang Kristal Siluman dari balik punggungnya.


Ketiga orang Pendekar Langit Tahap Puncak itu, secara bersamaan melesat ke arah Chen An yang segera saja melompat tinggi di udara setinggi sepuluh meter.


Dengan cepat Chen An berbalik dan melepaskan serangan dengan jurus Hujan Seribu Pedang.


Dari pedang Chen An yang ditebaskan beberapa kali, melesat puluhan energi pedang yang menderu cepat ke arah ketiga orang itu.


Ketiganya segera berlompatan ke sana kemari, menghindari puluhan energi pedang yang meledak setelah menyentuh tanah.


Kepanikan merasuki hati ketiganya, melihat kedahsyatan serangan yang bertubi-tubi yang Chen An lepaskan.


“Cepat Bantu Kami!”


Wakil Ketua Satu berteriak ke arah empat orang yang sedang merasa takjub, dengan apa yang terjadi di depan mereka.

__ADS_1


Dengan cepat, empat orang itu segera mencabut senjata dan melepaskan serangan berupa energi pedang ke arah Chen An.


Chen An yang sempat melihat serangan ke empat orang itu, segera bersalto di udara untuk menghindarinya.


Karena hal tersebut, jurus Hujan Seribu Pedang terhenti yang membuat Ketiga orang lainnya, segera melompat menjauh dan melepaskan serangan jarak jauh dengan tenaga dalam mereka.


Serangan bertubi-tubi dari tujuh orang pendekar langit, cukup merepotkan Chen An yang masih mentah pengalaman bertarungnya.


Serangan ke tujuh orang itu baru berhenti saat mereka merasakan aura membunuh yang sangat kuat, terpancar dari tubuh Chen An.


Aura itu Chen An dapatkan dengan membunuh ribuan siluman, selama Ia berada d Hutan Siluman.


Aura membunuh itu muncul karena Chen An begitu marah, lengan jubahnya telah terkena sambaran api dari Kipas Api Neraka milik Bayangan Angin.


Chen segera mengalirkan seratus dari sekitar dua ratus Kristal Qi yang tersisa di tubuhnya. Pedang Kristal Siluman, terlihat menyala kemerahan.


“Hati-hati … Pemuda ini sepertinya akan melepaskan serangan yang sangat kuat. Gunakan kekuatan penuh kalian.”


Walau berkata demikian, Bayangan Angin sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk melarikan diri dari tempat tersebut, jika situasinya memungkinkan.


Tujuh Aura berkekuatan besar, berbenturan di udara, aura ketujuh orang itu berhasil menekan aura kekuatan Chen An.


Jurus kedua dari Teknik Dewa Bumi telah selesai Ia persiapkan. Saat ketujuh lawannya melepaskan serangan dengan energi secara bersamaan, Chen An berteriak keras.


Pedang di tangan Chen An melepaskan puluhan energi pedang ke arah serangan energi lawan untuk menahan serangan tersebut.


Sementara tangan kirinya melepaskan Jurus Kedua Teknik Dewa Bumi, Jurus Pedang Bumi.


Tanpa disadari oleh ketujuh pendekar langit itu, tanah di sekitar mereka mulai bergerak perlahan, lalu membentuk puluhan pedang tanah yang runcing.


BUUUM


Suara ledakan menggelegar disertai kilauan cahaya seolah sedang terjadi badai petir yang besar di tepi hutan tersebut. Teriakan kesakitan, terdengar dari keempat Pendekar langit Tahap Menengah yang jatuh terduduk.


Akibat benturan energi itu, dada mereka menjadi sakit dan terasa sangat sesak. Dua orang yang terlemah, langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.


#######

__ADS_1


__ADS_2