
Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Chen An menyetujui permintaan Mei Lin. Sebuah pengorbanan besar seorang murid sebagai wujud bakti kepada Gurunya.
Suara Mei Lin terdengar sangat senang, Ia bukan saja menjelaskan tiga kalimat yang tidak dimengerti oleh Chen An maupun Thio San.
Dengan kemampuannya, Ia memberikan gambaran tentang gerakan jurus Tapak Murka Naga yang pernah Ia lihat di dunia asalnya.
Chen An bukan hanya terpana dengan gerakan jurus itu, Ia juga terpana melihat sosok yang memainkan jurus tersebut. Seorang pria yang memiliki dua tanduk di kepalanya, tanduk yang terlihat seperti tanduk seekor rusa sepanjang satu jengkal tangan orang dewasa.
Beberapa kali Mei Lin mengulang gambaran tersebut. ”Bagaimana? Apakah Kau sudah bisa memahami semuanya?”Tanyanya dengan suara yang lembut.
“Terimakasih Nona Lin, Aku sudah bisa memahaminya. Aku akan mencoba mempraktikannya.” Chen An lalu mulai mencoba gerakan demi gerakan sesuai dengan teori serta gambaran yang diberikan oleh Mei Lin.
Melihat gerakan yang begitu rumit dan bervariasi, membuat Thio San mengurungkan niatnya untuk menguasai jurus tersebut.
Chen An terus berlatih tanpa henti. Thio San yang pernah melihat gurunya bertarung dengan jurus itu, sesekali memberikan arahan berdasar ingatannya, saat Chen An melakukan gerakan yang menurutnya kurang tepat.
Hingga malam tiba, Chen An masih terus berlatih untuk dapat menguasai tahap akhir dari jurus Tapak Murka Naga tersebut. Saat berhasil menguasainya, Mei Lin tertawa keras di kepala Chen An.
Hal itu karena bentuk ular yang keluar dari tapak Chen An tidak berbentuk seperti seekor ular naga. Chen An terus mencoba kembali seluruh gerakan jurus itu dari awal hingga akhir. Puluhan kali Chen An melakukan hal itu hingga pagi pun tiba.
BUMMM
Thio San melesat ke udara, saat Chen An melepaskan serangan energi dari tapaknya yang terlihat belum terkendali, namun serangan itu berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sejak pertama Chen An mengeluarkan energi tapak berbentuk seekor ular.
“Guru Aku berhasil!” Chen An berteriak seraya menatap gurunya yang sedang terpana dengan efek serangan dari jurus tersebut.
Chen An baru menyadari jika dalam radius seratus meter darinya, pepohonan menjadi tumbang dan terlihat hangus seolah baru saja terbakar oleh api besar.
“Chen Cen … Syukurlah Kau berhasil menguasai jurus itu, bahkan kekuatannya dua kali lipat lebih kuat dari yang Kakek Gurumu tunjukkan. Kau pasti lelah bukan, telan pil ini untuk memulihkan tenagamu!”
Chen An menerima pil berwarna kuning keemasan sebesar ujung kelingkingnya. Setelah menelannya, Chen An merasakan luapan energi berpusar di dalam perutnya. Ia segera bermeditasi untuk menyerap energi tersebut.
Saat baru membuka matanya, Chen An dikejutkan oleh aura samar yang Ia kenali sebagai aura kekuatan Tan Hu. “Sepertinya Tan Hu sudah memulai serangannya.”
Thio San melesat ke udara diikuti oleh Chen An yang segera berada di sampingnya. “Apakah Guru juga merasakan aura lain yang cukup kuat?” Tanya Chen An yang tubuhnya kini telah kembali bugar seperti sedia kala.
“Setelah kau hancurkan dantian murid Tan Hu itu, seharusnya hanya kita bertiga saja yang memiliki energi qi di Dunia Bawah ini. Siapa pemilik aura ini? Apakah seseorang dari Dunia Atas? Tapi kekuatannya tidak akan cukup untuk mengalahkan Adik Tan. Ayo kita ke sana!”
Keduanya melesat ke arah Barat Laut dengan kecepatan penuh. Rasa penasaran menyelimuti hati mereka tentang siapa pemilik aura kekuatan itu.
“Ah Ibukota Weihu sedang diserang!” Thio San akhirnya mengetahui di mana tempat kedua aura itu berasal, saat telah berjarak satu Kilometer lagi dari ibukota Kekaisaran Wei.
Dari ketinggian seratus meter di udara, keduanya bisa melihat sekitar dua puluh ribu orang lebih, tengah bertarung di Sisi Timur Benteng Kota Weihu.
“Chen Cen! … Para prajurit akan mati sia-sia jika terus melawan ribuan pendekar itu. Kau bantu mereka! Aku akan membantu sosok yang melawan adik Tan!”
Tanpa menunggu jawaban Chen An, Thio San melesat ke sisi selatan tembok benteng Kota Weihu, di mana dua orang sedang bertarung di udara.
__ADS_1
Kedatangan Thio San, membuat kedua orang itu berhenti bertarung. “Dia bukan lawanmu Adik Tan!”
“Thio San … Jangan ikut campur! Biarkan Aku menghabisinya dulu, jika kau ingin bertarung lagi denganku !” Tan Hu terlihat kesal dengan kedatangan Thio San.
Sementara Kakek yang menjadi lawan Tan Hu, mengerutkan dahinya. Ia tak menduga ada sosok lain yang bisa melayang seperti dirinya.
Thio San hanya tersenyum tipis. “Tentu saja Aku tak Akan membiarkanmu melakukan hal itu!” Thio San melesat dengan sangat cepat seraya melepaskan tendangan ke arah Tan Hu.
Pertarungan dua saudara seperguruan itu, segera terjadi dengan kecepatan yang semakin lama semakin meningkat. Sehingga sosok Kakek yang melihatnya terpana takjub.
“Siapa mereka sebenarnya? Apakah orang-orang dari Dunia Atas sebagaimana yang disebut dalam catatan kuno milik guru?”
Sosok kakek itu bernama Zhang San, Sang Guru Agung Kekaisaran. Sosok yang disebut sebagai Jagoan Nomor Satu Dunia Persilatan Kekaisaran Wei.
Dari arah timur benteng Kota Weihu, terdengar pekik kematian silih berganti, diantara dentingan senjata mereka yang sedang bertarung.
“Kau bantu saja pemuda itu, Dia muridku!”
Zhang San yang kembali dikejutkan oleh sosok pemuda yang sedang melayang di udara, segera melesat ke arah dimana Chen An berada, setelah Ia mendengar teriakan Thio San.
Kedatangan Chen An yang segera melepaskan Aura membunuhnya, membuat semua orang menghentikan pertarungan mereka.
Kedua belah pihak, saling menjauhi satu sama lain, hingga jarak diantara mereka terpaut lebih dari sepuluh meter. Terlihat jumlah prajurit Kekaisaran Wei, tiga kali lipat lebih banyak dari jumlah pendekar yang menyerang.
Namun, ribuan mayat yang tergeletak, didominasi oleh mayat prajurit Kekaisaran Wei. Hal itu membuat Jenderal Guan Hu, Panglima Perang Kekaisaran Wei, memutuskan untuk menarik mundur pasukannya.
Melihat posisi yang seperti itu, Chen An segera mengerahkan separuh kekuatanya untuk menggunakan jurus dari Teknik Dewa Bumi.
“Pemuda itu…” Chu Bei yang berada di atas tembok benteng Kota Weihu, menelan ludahnya. Dia sudah menyadari Chen An menyembunyikan kekuatannya, saat mereka bertarung di kota Zhaodong.
Apa yang dilakukan oleh Chen An tadi, bukan saja membuat Chu Bei terperangah. Bahkan Zhang San sangat terkejut setelah mengenali Teknik yang Chen An gunakan.
“Teknik Dewa Bumi?! Bagaimana dia menguasai teknik dari Kitab Dewa?”
Belum sempat Zhang San menemukan jawaban, Ia kembali dikejutkan dengan jurus lain yang dikenalinya sebagai jurus milik Pendekar Gila Tapak Sakti, Jurus Hujan Seribu Pedang.
Jerit kematian segera membahana, saat ribuan energi pedang melesat dari Bilah Pedang Bintang Merah. Semua orang di atas benteng, menatap ngeri ka arah ribuan mayat yang tergeletak bermandikan darah.
Setelah serangan Jurus Hujan Seribu Pedang berhenti, terlihat dua puluh orang lebih yang masih bertahan hidup. Chen An mengerutkan dahinya, menyadari mereka yang selamat dari serangannya, berada di Tingkat Pendekar Langit Tahap Akhir.
Melihat ribuan anak buah mereka telah tewas oleh serangan satu orang, membuat kedua puluh orang pendekar tingkat langit itu menatap jerih ke arah Chen An.
“Tidak mungkin kita bisa menang melawan Sesepuh Zhang San dan Pemuda itu. Ayo kita pergi dari sini.” Sosok yang berbicara adalah Zhi Hung, yang segera melesat diikuti oleh Zheng Yin.
Kedua Ketua Sekte itu tahu persis akan kemampuan yang dimiliki oleh Chen An. Melawannya adalah sebuah kebodohan.
Keduanya melesat ke arah utara, berniat melompati tembok tanah yang berada seratus meter lagi dari tempat mereka berada.
__ADS_1
Saat kedua orang itu hendak, melompati tembok tanah setinggi sepuluh meter, dengan cepat Chen An menggerakkan kedua tangannya. Tembok Tanah itu bergerak naik hingga setinggi dua puluh meter.
“APA!”
Kedua orang itu mati langkah, karena tidak menduga tembok itu tiba-tiba berubah tingginya. Keduanya terpaksa bersalto di udara, untuk mengurangi derasnya laju tubuh mereka yang bergerak turun dengan cepat.
“Sial … !” Zhi Hung memaki kesal.
Sementara dua puluh orang Ketua Sekte lain, dan beberapa Tetua mereka yang masih hidup, berhenti dari larinya.
Mereka akan mengikuti jejak Zhi Hung dan Zheng Yin. Namun melihat ketinggian tembok tanah yang tidak bisa mereka lompati lagi, mereka pun mengurungkan niatnya.
“Apa yang harus kita lakukan?!”
“Apa kita akan mati tanpa perlawanan?!”
“Aku tak mau menyerah! Ayo Kita lawan saja mereka!”
Suara beberapa orang ketua sekte yang putus asa itu mencapai kebulatan tekad. Jika harus mati, mereka tak ingin mati sebagai seorang tawanan.
Melihat Chen An dan Zhang San yang melayang mendekati mereka, para ketua Sekte segera bersiap. “Turunlah kalian jika memang ingin bertarung dengan kami!”
Zhi Hung yang berteriak keras, mencoba menepis rasa jerihnya.
“Siapa yang ingin bertarung dengan kalian? Aku ingin menghukum mati kalian semua.”
Chen An segera mengangkat kedua tangannya ke udara dan kemudian memunculkan puluhan tombak tanah tepat di tempat mereka berada.
ARGGGH
AARGGH
Jerit kematian terdengar dari beberapa Tetua Sekte yang terlambat menghindari serangan itu. Mereka tewas dengan tubuh tertusuk tombak tanah, tepat di pangkal paha mereka.
Zhang San mengenali jurus itu, namun Ia belum mampu menguasai Teknik Dewa Bumi dari Kitab Dewa dengan sempurna, membuatnya penasaran, siapa sebenarnya pemuda jenius itu.
Tersisa belasan Ketua Sekte yang selamat dari serangan mematikan itu. Chen An memutuskan untuk bertarung secara langsung dengan mereka. Ia pun melesat turun dan mengalirkan energi qi ke bilah pedang Bintang Merah.
Para Ketua Sekte segera mengepung Chen An, kecuali Zhi Hung dan Zheng Yin. Keduanya sedang menunggu kesempatan untuk bisa menghancurkan tembok tanah dengan gabungan kekuatan mereka.
Saat pertarungan dimulai, kedua orang itu melesat ke arah tembok tanah seraya mengalirkan seluruh tenaga dalam mereka ke arah ke dua kepalan tangan.
BLAAR
BLAAR
Dua serangan tinju bersarang di tempat yang sama itu, berhasil membuat tembok tanah berlubang besar. Keduanya akan segera melesat keluar, namun langkah mereka terhenti, karena melihat Chen An Telah berada di depan mereka.
__ADS_1
Saat menoleh ke belakang mereka tertegun karena dari belasan Ketua Sekte rekan mereka, tidak ada satupun yang masih berdiri tegak. Semuanya tergeletak bersimbah darah.
@@@@@