Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
005: Mengangkat Murid


__ADS_3

Pagi hari setelah malam serangan terhadap sekte Tangan Suci terjadi, suasana sekte itu itu kembali menjadi hening.


Hanya asap dan api yang menyala terang menghiasi lembah Xhansi, tempat di mana Sekte Tangan Suci berdiri sejak lebih dari seratus tahun lalu.


Api itu membakar habis seluruh bangunan sekte Tangan Suci dan merobohkannya setelah menjadi arang dan puing-puing hitam.


Ribuan jasad lelaki dan perempuan serta jasad anak-anak, tergeletak dalam genangan darah yang menebarkan bau anyir ke seluruh udara di lembah itu.


Seorang Kakek sedang menatap seluruh bangunan itu dari atas sebuah tebing dengan rasa sesal di hatinya.


Ia terlambat mendatangi Sekte Tangan Suci untuk menemui Ketua Sekte itu yang diketahuinya Chen Bun.


Ia mengambil sebuah kitab usang dari balik jubahnya. Kitab bertuliskan Kitab Dewa itu, Ia peroleh dari Yuan Shi. Pelindung Sekte Tangan Suci yang telah tewas di puncak Gunung Huashan.


“Maafkan Aku saudara Shi, Aku terlambat mendatangi Sektemu. Aku tak memahami isi kitab ini dan ingin ku kembalikan saja pada adik seperguruanmu yang ternyata telah tewas bersama isterinya.”


Kakek yang ternyata Fei Long itu, baru saja selesai memeriksa seluruh bagian yang telah hangus. Tidak satu orang Ia temui masih hidup, setelah hampir setengah jam Ia mengelilingi wilayah sekte itu.


Ia memutuskan akan meninggalkan tempat tersebut, namun sebuah jeritan bocah terdengar memanggil ayah dan Ibunya.


Fei Long terkejut saat melihat ke arah sumber suara. “ Sepertinya bocah itu Putera Ketua Chen Bun?”


Fei Long segera melesat mendekati bocah yang menangis memanggil ayah dan ibu sambil memeluk jasad Ibunya dan ayahnya secara bergantian dan memintanya bangun.


Namun Chen Bun dan Chi Lin tentu saja tidak bereaksi. Bocah yang dipanggil Chen An oleh Chen Bun beberapa jam lalu itu, terkejut saat melihat kedatangan Fei Long yang seolah turun dari langit.


Chen An segera berdiri dan mata bocah itu menatap marah kepada Fei Long yang tertegun melihat bocah berwajah tampan itu, menatap demikian padanya.


“Kenapa kau membunuh kedua orang tuaku!” Fei Long terkejut saat mendengar bocah itu berkata seperti itu padanya sambil berteriak keras.


Ia pun akhirnya memaklumi bahwa bocah itu menduga demikian karena hanya dirinyalah yang berada di situ.

__ADS_1


“Nak .. Aku bukan pembunuh ayah dan ibu mu, aku adalah teman ayah dan kakek Yuan Shi. Siapa namamu?” Fei Long berkata dengan lembut kepada Chen An.


Chen An terdiam, Ia tidak tahu harus percaya atau tidak mendengar perkataan kakek yang berpakaian lusuh itu.


Namun tidak mendapati adanya darah dan kakek itu tidak terlihat habis bertarung, membuat Chen An menjawab pertanyaan Fei Long.


“Namaku Chen An Kek … Kakek siapa? Dan mengapa Kakek kemari?“


Mendengar hal itu, Fei Long tersenyum lebar, ada secercah harapan membersit dalam hatinya saat melihat kecerdasan yang ditunjukan Chen An.


“Panggil Aku Kakek Fei Atau Kakek Long. Aku kesini untuk menemui Ayahmu untuk mengembalikan kitab ini. Ternyata Aku terlambat. Kitab ini adalah kitab yang hebat. Kau Ikutlah denganku dan akan kuajari kau jurus-jurus ku dan juga jurus dalam kitab itu. Bagaimana?”


Chen An terdiam, Ia terlihat bingung akan perkataan Fei Long. Ia memandang kedua jasad orang tuanya dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.


“Kakek Aku ingin memakamkan jasad kedua orang tuaku terlebih dahulu. Bolehkah?” Tanya Chen An.


“Tentu saja boleh mengapa tidak? Dimana Kau ingin menggali makam bagi mereka?” Tanya Fei Long.


“Baiklah tunggu di sini sebentar.” Fei Long berkata seraya melesat ke arah yang ditunjukan oleh Chen An.


Setengah jam kemudian, Fei Long telah kembali dan lalu dengan tenaga dalamnya mengangkat jasad Chen Bun dan Chi Lin. Hal itu membuat mata Chen An melotot lebar melihatnya. Terlihat kekaguman di mata bocah itu dengan apa yang terjadi di depan matanya.


Ia berdecak sambil melangkah dengan sedih menatap jasad kedua orang tuanya yang sedang melayang satu meter dari tanah dan bergerak seiring langkah kaki Fei Long.


Tak berapa lama kemudian mereka beruda telah sampai di pemakaman tersebut. Terlihat dua lubang telah tergali dengan kedalaman lebih dari satu meter.


Chen An berusaha menahan air matanya, namun hal itu gagal Ia lakukan saat tanah mulai bergerak menutupi jasad ayah dan Ibunya.


Tanah itu bergerak oleh kekuatan tenaga dalam Fei Long yang akhirnya duduk setelah pemakaman selesai dilakukan.


Setelah menandai makam kedua orang tuanya dengan batu, Chen An segera bersujud tiga kali di depan makam itu sebelum Ia berdiri.

__ADS_1


“Kakek Long … Apakah kakek bersedia menerimaku menjadi murid kakek?” Tanya Chen An sesaat kemudian.


“Tentu saja Aku akan menjadikanmu murid keduaku … “ Fei Long pun tersenyum saat melihat Chen An telah bersujud sebelum Ia menyelesaikan kalimatnya.


Setelah bersujud sebanyak tiga kali di hadapan Fei Long, Chen An berdiri dan kepalanya segera dielus oleh Fei Long.


“An’er … Guru memutuskan untuk membawamu ke selatan, ke tempat tinggal mendiang Kakek Gurumu. Di sana banyak kitab dan juga sumberdaya yang melimpah.”


“Baik Guru … Murid akan ikut guru kemanapun Guru pergi.” Jawab Chen An.


“Eh Jangan begitu!” Fei Long segera berkata yang membuat Chen An menjadi bengong dan bertanya-tanya dalam benaknya.


“Nanti Guru mau pergi buang air besar apa kau juga mau mengikuti guru Hah!? Kau suka mengintip ya?” Fei Long kumat lagi gilanya.


Ia pun tertawa terbahak-bahak karena rasa senang yang berlebihan, mendapatkan satu orang murid yang menurutnya adalah bocah yang sangat jenius.


Chen An hanya bengong saja, Ia menatap heran saat melihat Fei Long mulai menari-nari yang tak lama kemudian, gerakannya berubah menjadi aneh.


Namun beberapa saat kemudian Fei Long duduk dan menangis tersedu-sedu. Hal itu membuat Chen An bertambah kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.


“Ada Apa dengan guru? Mengapa Ia bertingkah seperti orang gila?” Chen An bertanya dalam benaknya.


Entah apa yang menyebabkan Fei Long bersikap begitu, hanya beberapa orang saja yang tahu mengapa Ia bersikap demikian.


Setelah hampir setengah jam menangis, Fei Long terlihat telah kembali normal sama seperti saat pertama kalinya bertemu dengan Chen An.


“Ah … Maafkan Guru An’er. Eh apakah kau tahu julukan yang diberikan oleh dunia persilatan kepada Kakek?” Fei Long bertanya yang kemudian Ia jawab sendiri setelah melihat Chen An menggelengkan kepalanya.


“Kakek dijuluki Pendekar Gila Sakti karena kakek sering bertingkah seperti orang gila.” Fei Long tertawa setelah Ia berkata demikian.


Chen an akhirnya mulai mengerti, mengapa gurunya bersikap demikian. Walau dirinya mendapati kenyataan bahwa sang Guru bisa dibilang setengah gila, Ia tidak akan goyah untuk akan selalu menghormatinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2