
“Kau …! Oh Begitu rupanya.”
Untuk sesaat sosok tersebut sempat keheranan. Namun setelah melihat mata Chen An yang memancarkan sinar putih, Ia mengerti mengapa pemuda itu bisa melihat dirinya.
“Siapa Kau? Mengapa mengintai Kami sejak tadi?!” Tanya Chen An dengan sikap penuh waspada.
“Aku kebetulan saja melintasi tempat ini, tak sengaja melihat kalian bertiga sedang bertikai. Lalu Aku berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Apakah itu sebuah kesalahanmu?”
Pertanyaan Sosok itu membuat Chen An tersedak nafasnya sendiri. “Bukan tentang salah atau benar, tetapi caramu yang melihat kami dengan menyembunyikan keberadaan mu, itu membuat ku curiga.”
“Oh begitu… Tapi kecurigaan mu tak ada gunanya, karena Aku tak berniat untuk ikut campur masalah kalian. Selamat tinggal dan sampai jumpa lagi.”
Kali ini Chen An yang terbelalak matanya, saat melihat tubuh sosok itu berubah menjadi asap hitam yang sesaat kemudian raib tak meninggalkan jejak sedikitpun.
Chen An berniat mencari keberadaan sosok itu, namun serangan dari Cai Lung telah kembali datang dengan cepat. Chen An yang sedang ingin mencari sosok tadi, segera melesatkan serangan balik yang tak diduga sama sekali oleh Cai Lung.
BOMMM
Tubuh Cai Lung meledak dan menjadi kabut darah, setelah punggungnya terkena Jurus Tapak Murka Naga. Chen An yang merasakan Aura Sosok tadi telah berada beberapa Li darinya, segera melesat untuk mengejarnya.
Namun secepat apapun Chen An bergerak, Ia tidak bisa mengejar sosok tersebut yang mampu berpindah dengan sangat cepat, di luar kecepatan Chen An, walau Ia telah berada di Ranah Dewa Abadi.
“Siapa Pemuda tadi? Kekuatannya sama denganku, di Ranah Dewa Abadi, tapi kecepatan yang Ia miliki begitu tinggi, kecepatan bagai kecepatan seorang Dewa.”
Chen An yang akhirnya memutuskan untuk berhenti mengejarnya, terdiam mematung hingga beberapa waktu. Sesaat kemudian, Thio San datang dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Guru … Ada Apa? Kenapa Guru seperti itu?” Chen An bertanya dengan wajah yang sangat heran.
__ADS_1
“Chen Cen … Kau harus … melepaskan orang yang Kau kejar tadi.” Thio San berhasil menyelesaikan kalimatnya, dengan nafas yang perlahan mulai kembali teratur.
“Guru … Kenapa Guru berkata seperti itu? Apa yang terjadi pada Guru?” Chen An begitu penasaran akan sikap gurunya yang terlihat seperti orang yang ketakutan.
Setelah beberapa kali menghela nafas, Thio San lalu menunjukkan lehernya bagian belakang. Chen An tersentak kaget saat melihat ada bekas tiga buah jari berukuran besar dan panjang berwarna hitam, di tengkuk Sang Guru.
“Guru! Siapa yang berani melakukan ini?!” Thio San berbalik dan menenangkan Chen An yang terlihat sangat marah.
“Chen Cen … Guru nyaris saja mati oleh makhluk bertubuh seperti asap hitam. Dia memintaku untuk memperingatkan dirimu, agar tidak mengejar dirinya.”
“Apa!” Chen An tidak menduga sama sekali jika pengejarannya tadi, telah membuat Sang Guru berada dalam bahaya besar yang nyaris merenggut nyawanya.
“Chen Cen Kenapa Kau menatap Guru seperti itu?” Chen An masih diam. “Guru … mengapa Aku merasa Kau bukanlah Guruku! Siapa Kau sebenarnya!?”
Chen An kembali melepaskan Aura di Ranah Dewa Abadi dan memunculkan lingkaran cahaya di belakang kepalanya. Di luar dugaan, Thio San tertawa terbahak-bahak seraya bertepuk tangan.
“Hebat! Hebat … Kau bisa mengetahui jika yang sedang berbicara ini bukan lah Gurumu yang sebenarnya. Tapi tubuh ini adalah tubuh asli guru mu, Aku hanya meminjamnya sebentar untuk memberi peringatan padamu. Jangan Lagi mengejarku, percayalah Aku bisa membunuh Gurumu dalam satu serangan saja!”
“Hahahaha… Lihatlah situasinya. Kau tidak sedang dalam posisi untuk membuat penawaran. Aku tidak akan menjawab siapa Aku, tapi Aku beritahu Kau, bahwa Aku berasal dari Dunia Sembilan Benua. Ingat baik-baik! jangan lagi mengejarku!”
Setelah berkata demikian, dari kepala Thio San melesat segumpal asap hitam yang sedetik kemudian raib seperti tertiup Angin.
Tubuh Thio San terkulai lemas dan akan menghantam sebuah batu besar di tanah, jika saja Chen An tidak segera melesat untuk meraihnya.
“Guru !” Chen An tersentak kaget saat menyadari dantian milik gurunya telah hancur. “Makhluk Sialan! Akan kubalas kau berkali-kali lipat!!”
Chen An berteriak sangat keras. Ia meraung marah mendapati Sang Guru yang kulit tubuhnya kini perlahan-lahan mulai mengkeriput.
__ADS_1
“Tidak! Guru sadarlah!” Chen An berusaha membangunkan Gurunya dengan mengalirkan energi qi yang berasal dari energi Mustika Bintang.
Dalam kepanikannya itu, Chen An teringat akan sesuatu yang membuatnya segera menjadi tenang. Ia teringat bahwa energi dari Mustika Bintang dapat mengobati luka separah apapun, selama makhluk itu masih bernafas.
Chen An segera melesat turun ke atas sebuah batu besar. Setelah membuat tubuh Sang Guru mengambang di udara dengan posisi terbalik, kepala berada di bawah, Chen An lantas Duduk bermeditasi.
“Semoga Teknik Dewa Obat ini bisa memperbaiki kerusakan Dantian milik Guru.”
Chen An segera mengakses ingatan teknik pengobatan Dewa Obat dan mulai mempraktikannya secara hati-hati. Karena ini pertama kalinya Ia melakukan sebuah pengobatan, Chen An beberapa kali harus berpikir dengan keras.
Setelah membuat Posisi Sang Guru seperti sedang duduk bermeditasi, Chen An melesatkan beberapa Totokan dan melepaskan energi besar melalui tapaknya yang mendarat di punggung Thio San.
Tubuh Thio San tersentak bersamaan dengan rohnya yang melesat keluar dari raganya. Setelah melihat Roh Sang Guru tidak berada di tubuhnya, Chen An melepaskan energi Mustika Bintang melalui keningnya.
Di kening Chen An, muncul cahaya putih berbentuk bintang yang melesatkan energi tepat mengenai tengkuk Thio San. Proses itu berlangsung beberapa jam, hingga siang berubah menjadi malam.
Keringat Chen An bercucuran, Ia merasa ada sebuah kesalahan pada salah satu langkah pengobatannya. Hal itu membuatnya menjadi gugup. Beruntung dengan cepat Chen An mendapatkan solusinya.
Perlahan-lahan Kulit tubuh Thio San mengencang kembali. Chen An menahan nafas karena rasa gembiranya melihat dantian Sang Guru perlahan terbentuk kembali.
Dalam proses ini, Chen An bisa melihat bagian dalam organ tubuh manusia. Ia sempat takjub saat melihat pusaka Sang Guru yang berukuran tidak normal, terjuntai diantara dua pangkal pahanya.
“Bagaimana Guru bisa memiliki Pusaka sebesar ini Ya?… Tapi apa gunanya memiliki pusaka besar kalau tidak pernah digunakan sama sekali.” Gumam Chen An seraya tersenyum tipis.
Satu jam kemudian, Dantian Thio San telah kembali menjadi normal bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Chen An juga menaikkan kualitas tulang dan otot Sang Guru dari Tulang dan Otot Berlian Muda menjadi Tulang Berlian Tua.
__ADS_1
Saat-saat terakhir dari proses pengobatan itu akhirnya tiba. Namun Chen An terkesiap saat menyadari Aura Iblis yang begitu banyak, telah mengepungnya.
@@@@@