
Kesedihan Leng Xue terganggu oleh teriakan seorang perempuan yang sedang dikejar oleh beberapa pria seraya tertawa. Lima orang itu, berhasil mengepung perempuan yang pakaiannya telah robek di beberapa bagian.
Cui Lan yang sangat geram, segera melesat turun. Sesaat kemudian, tubuh kelima pria itu jatuh dengan leher berlubang karena tertusuk jari Cui Lan yang dirasuki oleh Roh Phoenix Api.
“Cepat pergi dan sembunyi!”
Cui Lan berkata demikian karena merasakan kehadiran belasan orang lain. Mereka adalah anggota Sekte Pedang Bayangan yang sedang menyisir tempat tersebut.
Melihat beberapa orang yang berseragam sama dengan mereka tergeletak di tanah, sontak mereka segera mengepung Cui Lan.
“Apakah Kau yang membunuh mereka?!” Cui Lan menyeringai sambil menatap tajam ke arah orang yang berbicara. “Benar, Kau ingin menyusul mereka bukan?”
Cui Lan berkelebat dengan cepat, leher orang yang tadi bertanya, telah berada dalam cengkeramannya sedetik kemudian. Hal itu membuat rekannya yang lain terkesiap dan menjadi ketakutan, apalagi saat mendengar suara leher yang patah.
“Penyusup!”
“Ada Musuh!”
Mereka berlarian ke dua arah berbeda seraya berteriak keras untuk memanggil rekan-rekan mereka.
Chen An segera melesat turun, menghadang tujuh orang lain yang tidak dikejar oleh Cui Lan. Setelah mendaratkan komandan Leng Xue, Chen An berkelebat menyerang ke tujuh orang itu.
Komandan Leng Xue hanya menelan ludah saat melihat ke tujuh orang itu tewas, hanya dengan satu kali serangan saja. Padahal ke tujuh orang itu, setidaknya Pendekar Ahli tahap Puncak.
Di lain sisi, Cui Lan telah selesai membantai delapan orang yang berniat melarikan diri darinya. Di saat bersamaan, melesat dari atap sebuah bangunan, tiga orang yang memiliki peringan tubuh tinggi.
Selang beberapa saat kemudian, terdengar puluhan orang berlarian mendekati tempat mereka. “Ternyata masih ada tikus yang masih hidup di kota ini. Siapa Kalian?”
Sosok itu bertanya bertepatan dengan Chen An dan Komandan Leng Xue tiba di sisi Cui Lan yang masih dirasuki oleh Roh Phoenix Api.
“Oh ternyata Komandan Leng Xue. Sepertinya Kau mencari Isteri dan anakmu yang kau tinggalkan demi menyelamatkan gubernur Lin Dong?”
Komandan Leng Xue terkejut mendengar perkataan sosok itu. “Di mana isteri dan Anakku? Katakan!”
“Hahahaha … Isterimu ada di ruang pribadiku. Sayang sekali Aku belum berhasil menyentuhnya setelah memisahkan dia dari Puteramu.”
Komandan Leng Xue mencabut pedangnya dan melesat menyerang pria yang baru saja selesai berbicara itu.
Namun serangan itu berhasil dihindari dengan mudah, bahkan serangan balik dari lawannya membuat Komandan Pasukan Kota Suzhao itu harus mencium tanah.
“Dengan kemampuan mu itu Kau ingin membunuhku? Kau terlalu percaya diri Komandan. Seharusnya Kau meminta bantuan kedua Temanmu itu untuk mengeroyokku. Hahahaha…”
Gelak tawanya disambut oleh dua orang rekannya. Di saat bersamaan, puluhan orang berseragam Sekte Pedang Bayangan Hitam, telah menutup kedua jalan mereka.
Komandan Leng Xue bangkit sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. Chen An segera mendekati Komandan Leng Xue. “Apakah Anda baik-baik saja komandan? Biar Aku yang mengurus mereka.”
Chen An melangkah santai ke depan pria itu. “Bocah … Apa maksudmu berdiri di depanku seperti ini? Kau ingin bertarung denganku? Hahahaha …yang benar saja.”
Chen An hanya tersenyum tipis mendengar ucapan pria di depannya. “Aku ke sini hanya ingin membunuh kalian. Itu saja” Ucap Chen An seraya melepaskan Aura membunuh yang membuat ketiga orang itu tersentak kaget.
“Bocah ini…? Bagaimana dia bisa memiliki Aura membunuh sepekat ini?” Sosok Pria yang tadi berbicara, segera memerintahkan dua orang rekannya untuk mencabut senjata mereka.
“Bocah Apa Kau tahu sedang berhadapan dengan Siapa? Kami bertiga adalah Tiga Hantu Malam, Tetua bagian keamanan Sekte Pedang Bayangan.” Chen An hanya menyipitkan matanya.
“Kalau begitu, biarkan Aku membuat kalian menjadi hantu sungguhan.” Chen An bergerak dengan kecepatan yang membuat ketiga Hantu Malam itu tercekat.
__ADS_1
Di saat bersamaan, Cui Lan dan komandan Leng Xue mulai menyerang puluhan orang yang mengepung mereka.
DUAGH!
Belum sempat Ketiga Hantu malam itu menyusun formasi serangan, salah satu diantara mereka terjungkal dengan darah menyembur dari mulutnya.
Kedua rekannya tak sempat untuk terkejut lagi, karena Chen An segera melesatkan serangan mematikan kepada keduanya.
PRAKK
BUGHHH
Dua orang itu sama sekali tidak bisa mengimbangi kecepatan gerakan Chen An bahkan sekedar untuk melihat serangannya pun, mereka tak mampu.
Salah satu dari keduanya tewas dengan kepala yang retak. Sementara sosok yang tadi berbicara merendahkan Chen An, jatuh terduduk dengan wajah yang pucat pasi. Karena tenaga dalamnya telah Chen An musnahkan.
Beberapa saat kemudian, terlihat Cui Lan dan Komandan Leng Xue telah selesai menghabisi puluhan orang lawan mereka. Keduanya berjalan ke arah Chen An seraya membersihkan bilah pedangnya.
“Komandan Xue … Silakan habisi dia, karena telah mencoba menodai kehormatan keluargamu!” Komandan Leng Xue tertegun sejenak, Ia terlihat sedikit ragu.
Setelah Chen An mengatakan jika pria itu tidak lagi memiliki tenaga dalam, Ia tak ragu lagi mendekat lalu menebaskan pedangnya tepat ke arah leher pria itu yang sudah tak mampu bergerak, karena terkena totokan Chen An.
Bau Anyir darah, telah memenuhi udara di jalanan utama kota Suzhao yang telah porak-poranda. “Komandan, dimana kira-kira markas mereka? Kita harus membasmi habis para penjahat ini, agar kota Suzhao bisa tenang dan damai lagi.”
“Mungkin mereka menjadikan Balaikota sebagai Markas Utama, Tuan Chen.” Leng Xue pun menjadi petunjuk arah bagi Chen An Cui Lan yang telah mengambil alih kembali kesadarannya Roh Phoenix Api.
Setibanya di Balaikota, mereka mendapati tempat tersebut dalam keadaan sepi. Tak satupun Anggota Sekte Pedang Bayangan yang terlihat di sana.
“Apakah Ada tempat lain yang mungkin menjadi markas mereka. Seperti bangunan yang lebih megah dari Balaikota ini.” Tanya Chen An.
Komandan Leng Xue melompat ke atap sebuah bangunan, Chen An dan Cui Lan mengikuti langkah Komandan Leng Xue yang memilih jalan melalui atap-atap bangunan di kota itu.
Ketiganya pun tiba di kediaman Gubernur Lin Dong dalam waktu kurang dari lima menit. Dari atap sebuah bangunan, mereka bisa melihat jika kediaman Gubernur Kota Suzhao itu, kini menjadi markas Sekte Pedang Bayangan.
Terlihat puluhan orang menjaga di sekeliling bangunan itu. Chen An lalu melesat turun bersama Cui Lan. Sedang Komandan Leng Xue memantau situasi dan akan menyusup untuk membebaskan isterinya.
“Siapa Kalian!”
Seorang penjaga bertanya dengan suara keras, hal itu membuat penjaga yang lain mengetahui kehadiran keduanya.
“Penyusup!”
“Ada Musuh!”
Dalam sekejap, halaman kediaman Gubernur Lin Dong telah dipenuhi oleh Anggota Sekte Pedang Bayangan dengan senjata di tangan.
“Siapa yang berani menyusup ke wilayah Sekte Pedang Bayangan!” Suara seorang Kakek berjubah hitam dengan pedang tanpa sarung, melesat dan berhenti tiga meter di depan Chen An.
Dari gerakan yang ditunjukkan, Chen An bisa mengetahui jika Sosok di depannya memiliki kemampuan di Tingkat Pendekar Langit Tahap Menengah.
“Apakah Kau Ketua Sekte Pedang Bayangan?” Tanya Chen An menatap tajam sosok kakek di depannya.
“Aku Si Lidah Pedang, Tetua Satu Sekte Pedang Bayangan. Ada Apa Kau mencari Ketua Kami?” Dengan congkaknya, Tetua Satu Sekte Pedang Bayangan Berkata dengan mata yang liar, saat Ia menatap Cui Lan.
“Jadi Ketua Kalian tidak berada di Kota ini? Sayang sekali… Aku tidak bisa membunuhnya hari ini bersama kalian.” Selesai berkata demikian, Chen An segera melesat dengan sebuah tendangan yang mengarah ke kepala Si Lidah Pedang.
__ADS_1
Serangan cepat itu bisa dihindari oleh Tetua Satu, walau tubuhnya harus terjajar akibat angin serangan yang sangat kuat. Ia melompat menjauhi Chen An.
Mengetahui Chen An bukan pendekar biasa, Ia segera mencabut pedangnya yang bercabang dua dan memiliki dua ujung. Ia segera mengerahkan delapan puluh persen tenaga dalamnya dan mengalirkan ke dalam bilah pedang.
Chen An sejenak tertegun, melihat dari bilah pedang lawan memancar aura roh yang kuat. Namun Ia segera melesat, menyambut serangan Tetua Satu yang telah melompat menyerangnya.
“Apa!”
Chen An terkejut, namun Ia berhasil menghindari tebasan dua bilah pedang yang berubah memanjang dan bergerak begitu lentur.
Chen An segera mengeluarkan pedang Bintang Merah. Tetua Satu sempat terkejut melihatnya, namun Ia kembali melesatkan serangan dengan pedang pusakanya yang bisa memanjang dan bergerak seperti lidah.
“Terimalah Jurus Lidah Kematian!”
Chen An segera menebaskan pedang dan membuat angin pedang yang menghantam kedua bilah pedang lawan. Benturan itu, membuat Tetua Satu terjajar mundur.
Ia menggeram marah lalu melompat ke udara dan melesatkan serangan ke arah kepala dan kaki Chen An. Serangan cepat itu berhasil Chen An hindari dan Ia melesat dengan kecepatan yang membuat Tetua Satu mati langkah.
CRASSSHH
Leher Tetua Satu tertebas pedang Chen An. Hanya satu detik Ia berdiri, tubuhnya pun jatuh seiring nyawanya yang melayang.
Hal itu membuat seluruh anggota Sekte Pedang Bayangan menjadi pucat, mereka berhamburan lari ke segala penjuru. Namun Chen An tidak melepaskan begitu saja.
Ia melompat ke udara dan melepaskan serangan Angin Pedang berjumlah ratusan buah. Jerit kematian terdengar dari Anggota Sekte Pedang Bayangan yang mencoba melarikan diri.
Tersisa sekitar lima orang yang tak berani bergerak sedikitpun. Wajah mereka terlihat pucat dengan tubuh yang bergetar hebat.
“Katakan dimana Ketua Kalian berada saat ini!”Tanya Chen An seraya melepaskan Aura membunuh yang membuat kelima orang itu berlutut.
“Ketua sedang menuju Ibu…”
JLEEEB
Sosok pria yang tadi hendak berbicara, tak bisa melanjutkan perkataannya, karena salah satu rekannya telah menusuk dada punggungnya hingga tembus ke dada kirinya.
Chen An pun menjadi geram, Ia mengibaskan tangan kanannya, membuat tubuh kelima orang itu terlempar hingga membentur tembok dengan sangat keras.
PRAAAKK
Suara kepala yang pecah karena benturan itu, membuat kelimanya tewas seketika. Chen An melangkah ke arah Tetua Satu dan mengambil pedangnya yang bercabang dua.
Setelah menyimpan Pedang itu ke dalam Cincin Ruangnya, Chen An melihat ke arah di mana Komandan Leng Xue berada.
Namun Komandan Pasukan Kota Suzhao itu, keluar dari sebuah pintu kediaman Gubernur Lin Dong, dengan memapah seorang perempuan yang tak lain adalah isterinya.
“Tuan Chen … Terimakasih telah menyelamatkan Isteriku dan membebaskan kota ini dari belenggu Sekte Pedang Bayangan.” Leng Xue berlutut dengan kedua tangan di depan dadanya.
“Tidak Komandan Xue … Kota ini masih belum sepenuhnya bebas. Ketua sekte Pedang Bayangan sedang menuju Ibukota Kekaisaran, sepertinya akan segera terjadi kekacauan di Ibukota.”
Chen An lalu menjelaskan rencananya, Ia dan Cui Lan akan kembali ke kota Zhaodong dan memberi situasi di kota ini kepada seratus lebih prajurit Kota Suzhao agar kembali ke kota ini.
Leng Xue pun setuju untuk tinggal seraya menunggu prajuritnya tiba. Chen An dan Cui Lan segera melesat ke udara, setelah berpamitan kepada Komandan Leng Xue dan Isterinya.
@@@@@
__ADS_1