Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
055: Permasalahan Masa Lalu


__ADS_3

Lebih dari dua puluh tahun lalu, dalam pengembaraannya mencari Tan Hu, Thio San tiba di sebuah sungai dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah dahan pohon.


Sungai besar tersebut tidak jauh dari sebuah desa kecil yang dihuni kurang dari seribu orang. Banyak penduduk yang menjadikan sungai itu sebagai tempat untuk mencuci sekaligus mandi.


Baru saja Thio San hendak memejamkan mata, terdengar teriakan seorang penduduk karena melihat mayat yang terseret arus sungai. Thio San segera melesat dan mengangkat jasad yang tak lain adalah tubuh Nenek Obat.


Di tangan kanan Nenek itu, terlihat sebuah gelang melingkar. Gelang yang dikenali oleh Thio San, milik seseorang yang pernah menjadi temannya lebih dari seratus tahun lalu.


Menyadari bahwa nenek tersebut masih bernafas walau tubuhnya terluka parah, Thio San segera menghentikan pendarahan dan mengobati luka itu dengan kemampuan pengobatannya.


Setelah mengobati dan menghentikan pendarahan pada luka-lukanya, Thio San lalu meminta satu dari tiga wanita yang berteriak tadi, untuk mengganti gaun nenek tersebut dengan gaun yang masih kering, yang diberikan oleh satu wanita lainnya.


Sementara Thio San melesat ke arah hulu sungai untuk memeriksa situasinya. Ia melayang tinggi dan di kejauhan melihat sekelompok orang yang menunggangi kuda sedang menyisir sungai tersebut.


Menyadari hal itu, Thio San kembali ke tempat Nenek Obat yang telah selesai di gantikan gaunnya. Thio San meminta ketiga wanita itu untuk kembali ke desa mereka secepatnya dan merahasiakan tentang menemukan seseorang di sungai itu.


Setelah ketiga wanita itu pergi, lima orang berkuda datang. Mereka adalah pendekar yang memburu Nenek tersebut. Namun Thio San membunuh kelima orang itu dengan satu kali serangan saja.


Menyadari nenek yang ditolongnya sedang dalam buruan sekelompok orang, Thio San lalu membawa Tubuh Nenek Obat melayang tanpa Ia menyentuhnya.


Saat berada di sebuah hutan, Thio San melihat sebuah goa dan membawa tubuh Nenek Obat itu masuk ke dalamnya. Ia menyegel mulut goa agar binatang ataupun orang tak bisa memasukinya.


Satu jam kemudian, Nenek obat tersadar dari pingsannya. Ia terkejut mendapati dirinya berada di dalam sebuah ruangan yang remang-remang bersama dengan seorang kakek yang tidak Ia kenali.


Saat menyadari gaunnya telah berganti, Nenek Obat menduga jika kakek itu yang menggantinya, Ia pun menjadi marah kepada Thio San.


Walau Thio San sudah menjelaskan berulangkali, tetap saja Nenek Obat tidak percaya dan terus mengomel. Hal itu membuat Thio San kesal dan melesat pergi meninggalkan goa itu.


Setelah tiga hari, Thio San baru teringat jika Ia belum membuka segel yang menutup mulut goa. Ia bergegas kembali ke goa dan membuka segel tersebut.


Nenek Obat keluar dengan wajah yang dipenuhi kemarahan. Tak ingin berdebat, Thio San melesat pergi yang tak mampu dikejar oleh Nenek Obat yang berada di Tingkat Pendekar Langit Tahap Dasar.


“Hahahaha … Guru … Nenek Obat pasti menduga jika Guru melihat tubuh polosnya, lalu sengaja mengurung dirinya di dalam goa selama tiga hari tiga malam.” Ucap Chen An setelah gurunya selesai bercerita.


Thio San hanya tersenyum tipis, matanya menatap tembok kota Zhaodong yang berjarak kurang dari satu kilometer lagi di depan mereka.


Kedua orang itu melayang di ketinggian lebih dari seratus meter dari tanah, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat keberadaan mereka.


Dari ketinggian itu, Chen An bisa melihat sekelompok orang sedang memacu kudanya dengan cepat ke arah kota Zhaodong.


“Guru, menurutmu mereka yang datang itu kawan atau lawan?” Tanya Chen An. Thio San hanya diam seraya menatap ratusan orang berkuda itu.


“Kita akan tahu setelah mereka tiba di depan Gerbang Kota.”Jawab Thio San seraya melayang ke arah atas gerbang Timur Kota Zhaodong.


Sementara pasukan penjaga gerbang yang berada di atas gapura pintu gerbang, segera bersiaga saat melihat kelompok berkuda itu. Mereka adalah gabungan dari pendekar Biro Pengawalan dan prajurit Kota Suzhao.


Saat jarak mereka kurang dari seratus meter lagi, ketua penjaga gerbang terkesiap melihat beberapa orang mengenakan jubah bergambar tengkorak putih.

__ADS_1


Mengetahui yang datang adalah mereka yang kemarin menyerang Kota Suzhao, ketua penjaga gerbang itu segera memberi perintah untuk membunyikan lonceng tanda bahaya.


Suara lonceng menggema di seluruh kota, membuat para penduduk berlarian untuk mengamankan diri dengan memasuki bangunan di dekat mereka.


Suara lonceng, membuat terkejut Qiu Ling dan Qiu Fang, yang baru saja selesai mendengar cerita dari Neneknya tentang masalah dirinya dan Guru Chen An.


Lonceng itu membuat keduanya teringat akan peristiwa yang menimpa kota mereka beberapa hari lalu. Tubuh keduanya bergetar menahan kemarahan dan ketakutan di saat yang bersamaan.


Sang Nenek yang memahami situasi kedua cucunya itu, segera mengajak keduanya keluar untuk membantu yang lainnya. Dengan cara itu, Ia ingin mengobati trauma kedua cucunya atas tragedi yang dialami oleh Ayah dan Ibu mereka.


Di halaman Kediaman Bangsawan Hao, Shi Ying dan puterinya Cui Lan, terlihat meninggalkan gapura dan melesat ke arah timur bersama Gao Shu ,Ketua Biro Pengawalan Elang Putih dan puluhan anak buahnya.


Saat Nenek obat dan kedua cucunya tiba di Gerbang Timur, suasana menegangkan telah menyambut mereka.


Karena seorang tua yang berkemampuan Pendekar Langit Tahap Puncak, sedang berbicara lantang pada mereka semua.


“Cepat buka gerbang kota ini! Dan serahkan komandan pasukan kota Suzhao serta pasukannya pada kami. Cepat! Jangan membuatku marah. Kalian akan kuampuni jika menyerah. Jika Tidak… Jangan salahkan kami berbuat kejam pada kalian dan penduduk kota ini.”


Leng Xue, Komandan Pasukan Kota Suzhao terlihat cemas. Ada rasa takut melanda dirinya, mengingat betapa kejamnya kelompok mereka saat menyerang Kota Suzhao.


Suasana hening itu, segera terpecahkan oleh teriakan Nenek Obat yang melesat dengan selendang yang ujungnya terdapat belati tajam.


“Lang Bao!... Sembarangan sekali Kau bicara!” Sosok Kakek yang baru saja berbicara mengerutkan dahinya, mendengar bentakan dari Nenek Obat.


“ Du Tiannyi ! … Hahahaha sudah lama Aku mencarimu Nenek Peot! Akhirnya Kau datang untuk menyerahkan nyawamu.” Sosok dipanggil Lang Bao justru tertawa senang setelah mengetahui siapa yang baru saja membentaknya.


Tetua Satu Sekte Tengkorak Putih bernama Lang Ju itu segera melompat ke hadapan Nenek Obat Du Tiannyi yang telah berada Diluar tembok pagar Kota Zhaodong.


Dari gerakan peringan tubuhnya yang tak kalah tinggi dari Nenek Obat, menunjukkan jika Lang Jing bukan lawan ringan bagi Nenek tersebut.


Ketegangan terlihat pada wajah mereka yang berada atas gapura dan tembok pagar Kota Zhaodong. Hanya Cui Lan yang wajahnya dihiasi oleh senyuman.


Hal itu membuat Qiu Ling menjadi kesal melihatnya. “Kau tersenyum di saat seperti ini? Apakah Kau sedang meremehkan kekuatan Nenekku?”


Senyum Cui Lan menghilang. “Siapa yang meremehkan nenek mu? Aku sedang tersenyum karena hal lain. Apakah itu menjadi masalah buatmu?” Cui Lan mencibirkan bibirnya.


Qiu Ling menjadi kesal, Ia berniat untuk menjawab, namun suara teriakan Sang Nenek terdengar kuat, membuatnya segera mengalihkan perhatiannya.


Nenek Obat melepaskan serangan ke arah Lang Jing dengan menggunakan dua buah selendang yang ujungnya memiliki belati tajam.


Lang Jing dengan mudah menghindarinya, namun Ia terkejut saat mendapati ujung belati berbelok arah dan mengejarnya. Satu belati berhasil hindari dengan mudah, satu belati yang lain, Ia tangkis dengan pedang.


Pertukaran serangan segera terjadi dengan cepat. Dua orang pendekar di Tingkat Langit Tahap Menengah itu, mengerahkan seluruh kekuatannya agar dapat segera menjatuhkan lawannya.


Nafas semua orang tertahan saat sebuah serangan tipuan dari Lang Jing, gagal diantisipasi oleh Nenek Obat. Sebuah sabetan pedang, nyaris saja mengenai leher Nenek Obat jika saja Ia tidak segera menarik mundur tubuhnya.


Sayangnya, saat Ia bergerak mundur, justru bergerak ke arah Lang Bao yang segera mencabut pedangnya dan melesat menusukkan pedang itu.

__ADS_1


“Nenek Awas!” Qiu Ling dan Qiu Fang berteriak bersamaan. Namun Nenek Obat tidak menduga serangan dari Lang Bao yang berniat membokongnya itu.


TRAAANNGG


DUAGHH


AARGGGHH


“Cih… Laki-laki macam apa kau berani membokong seorang perempuan yang sedang bertarung satu lawan satu!”


Sosok Thio San tiba-tiba muncul sambil meludah ke arah Lang Bao yang tergeletak di tanah akibat terkena tendangannya.


Lang Bao masih belum bisa bicara, karena rasa sesak di dadanya. Sementara Lang Jing dan Nenek Obat menghentikan pertarungan mereka.


Lang Jing segera melesat menghampiri sang Kakak yang telah terduduk di tanah. Dari sudut bibir Ketua Sekte Tengkorak Putih itu, terlihat darah yang masih mengalir. Lang Jing segera mengalirkan tenaga dalamnya untuk menghentikan pendarahan tersebut.


“Kakak … Telanlah Pil Embun Bulan milikku ini.” Lang Bao segera menelan pil tersebut. Dan segera duduk bermeditasi untuk menyerap khaisatnya.


Lang Jing berdiri dan menatap Thio San dengan kemarahan yang memuncak. “Siapa Kau berani berurusan dengan melawan Sekte Tengkorak Putih!” Ia berkata sambil menghunuskan pedang ke arah Thio San.


Wajah Thio San seketika berubah, melihat ada senjata terhunus ke arah wajahnya. Apa yang terjadi kemudian, membuat semua orang tercengang.


Dalam waktu kurang dari satu detik, Telapak tangan kanan Lang Jing telah berada dalam genggaman tangan kiri Thio San. Sementara tangan kanannya mematahkan pedang tersebut seperti mematahkan sebuah ranting kayu.


Kreepp


Leher Lang Jing telah berada dalam genggaman tangan Thio San.”Ketahuilah, tidak pernah ada orang yang bisa hidup setelah menghunuskan senjata ke arahku.”


KREEEKK


Mata Lang Jing membelalak lebar, Ia tewas dengan mata melotot lebar dan leher yang patah. Lang Bao baru saja selesai memulihkan lukanya, saat tubuh Lang Jing dilempar ke depannya.


“Jing’er!!!!”


Tubuh Lang Bao gemetar melihat kematian adiknya yang begitu cepat. Sementara ratusan anggota Sekte Tengkorak Putih menjadi pucat dan segera memacu kudanya untuk meninggalkan tempat tersebut.


BEERRRRRRR!


Suara gemuruh tanah yang bergerak, terdengar dari sekeliling mereka. Sesaat kemudian terbentuk tembok tinggi yang mengurung mereka semua.


Mata semua orang tercengang melihatnya, kecuali Lang Bao yang baru saja menelan Pil Darah Iblis, setelah Ia menyadari kekuatan Kakek di depannya itu.


Tubuh Ketua Sekte Tengkorak Putih itu bergetar dan matanya berubah menjadi merah seperti darah.


“Lagi-lagi Pil Darah Iblis” Thio San berkata lirih sebelum Ia melesat ke arah Lang Bao.


@@@@@

__ADS_1


__ADS_2