Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
050: Tulang Berlian


__ADS_3


“Dimana ini?” Saat membuka matanya, Chen An mendapati dirinya sedang berada di sebuah tempat yang seluruh ruangnya berwarna putih. Ruangan yang tidak memiliki batas sama sekali.


Chen An merasakan tubuhnya sangat segar dan terasa nyaman. Berbeda dengan sebelumnya dimana rasa sakit yang amat sangat, Ia rasakan di sekujur tubuhnya.


“Kau berada di Alam Jiwa Mustika Bintang.” Suara lembut seorang perempuan, membuat Chen An tersentak seraya mengedarkan pandangannya ke delapan penjuru Angin.


“Siapa Kau? Tunjukkan dirimu!”


“Adauuuw”


“Yang sopan dong kalau bicara dengan perempuan, apalagi yang secantik Aku.”


Chen An tentu saja terkejut bukan kepalang, mendapati telinganya telah berada dalam cubitan seorang gadis yang wajahnya begitu cantik sempurna.


Keharuman yang menyejukkan jiwa, membuat Chen An hanya bisa terpana dengan mulut terbuka, sebelum tersadar dan bergerak menjauhinya.


“Siapa Nona sebenarnya? Dan tempat apa ini?” Chen An bertanya setelah Ia berhasil menguasai diri dari ketakjubannya. Seumur hidup, baru kali ini Ia melihat keindahan yang sangat memukau mata.


Seorang gadis yang terlihat seusia dengan Cui Lan, mengenakan gaun seputih salju yang begitu ketat, memperlihatkan lekuk pinggang yang ramping dengan dada yang membusung besar.


“Aku … Panggil saja Aku Mei Lin. Kita saat ini berada di dalam Ruang Jiwa Mustika Bintang yang telah menyatu dengan tubuhmu.”


“Ruang Jiwa Mustika Bintang?! Aku tidak mengerti maksud Anda Nona Lin. Tolong jelaskan padaku, apa sebenarnya Mustika Bintang itu.”


“Sepertinya kau baru melihat perempuan dengan dada sebesar ini ya? … Matamu terus saja melihat ke arah sini.”


Alih-alih menegur Chen An, Mei Lin justru membuat Chen An menjadi kaku, karena harus melihat hal indah saat dua gundukan besar itu berada dalam cengkeraman kedua telapak tangannya.

__ADS_1


“Nona Lin … Tolong jangan siksa aku dengan berlaku seperti itu.” Ucap Chen An sambil mengalihkan pandangan dan mencoba mengatur pernafasannya yang mulai memburu.


Dengan langkah gemulai dan mata yang genit, Mei Lin mendekati Chen An. “Kau pemuda yang tampan, tapi sayang dahimu sering berkerut, senyum pun jarang. Senyum dikit dong …. Biar gadis cantik di depan mu bisa terpikat olehmu..”


Chen An menghindari jemari Mei Lin yang hendak memegang dagunya dan membalikkan tubuhnya dengan cepat.


“Hah!” Chen An kembali dikejutkan, karena ternyata Mei Lin telah berada di depannya, tanpa Ia tahu kapan gadis itu bergerak.


”Kau tak mau melihatku apakah Kau takut jatuh Cinta padaku? Tenanglah … Walau Kau tampan, Kau bukan typeku.”


Ucap Mei Lin sambil memainkan jari tangan, memainkan beberapa helai rambutnya yang hitam legam.


Chen An hanya bisa menggerutu dalam hatinya. “Nona Lin… Aku tak ada waktu untuk omong kosong seperti ini, Aku ingin kembali ke …”


Dalam hitungan kurang dari sedetik, jari telunjuk Mei Lin telah berada di bibir Chen An. Hal itu membuat Chen An tak bisa menyelesaikan perkataannya.


“Lihatlah di sana.” Setelah Mei Lin menjentikan jarinya, Ia menunjuk ke sebuah arah di mana telah muncul sesosok makhluk yang membuat Chen An tercengang.


“Perempuan Iblis … Lepaskan Aku!” Teriak sosok aneh itu. Senyum Mei Lin seketika menghilang berganti seringai yang membuat Chen An bergidik melihatnya.


Sesat kemudian, dari bola mata Mei Lin melesat sebuah cahaya putih yang membuat tubuh manusia itu berubah kembali menjadi angin.


Raungan kesakitan, terdengar sangat kuat memenuhi Ruang Jiwa Mustika Bintang. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Mei Lin menjentikkan jarinya, dan makhluk tersebut lenyap dari pandangan mata mereka.


“Ah waktuku telah habis… Lain kali saja kita ngobrol lagi, ya Tampan.” Mei Lin tersenyum sangat manis, sebelum akhirnya menyentuh kening Chen An yang membuat kesadaran pemuda itu menghilang.


“Ahh … Apa yang terjadi?” Chen An tersadar dan mendapati dirinya telah kembali berada di atas bukit tempat Ia berlatih membuat Formasi Segel Langit.


Chen An melompat bangkit. Ia baru tersadar jika seluruh jubahnya telah berubah warna menjadi hitam terkena lendir yang berbau sangat busuk.

__ADS_1


Lendir hitam itu melekat hampir di sekujur tubuhnya. “Apa yang terjadi dengan tubuhku? Lendir apa ini?” Chen An kebingungan sendiri, apalagi setelah Ia melesat ke udara, merasakan tubuhnya menjadi begitu segar dan terasa lebih ringan.


Chen An melayang rendah untuk mencari sebuah tempat yang bisa Ia gunakan untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian, di sisi selatan bukit itu, Chen An menemukan sebuah sungai kecil yang airnya cukup jernih, meski bebatuan hitam berada di sepanjang aliran air sungai selebar dua meter itu.


Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti jubahnya, Chen An duduk di atas sebuah batu hitam. Memandangi suasana di sekitarnya yang telah terang oleh sinar matahari pagi.


“Apa sebenarnya yang terjadi dengan tubuhku?” Chen An duduk bermeditasi, Ia ingin melihat kualitas tulang dan ototnya. Beberapa saat kemudian, Chen An tersentak, seolah ada sesuatu yang mengejutkan dirinya.


“Kualitas tulang dan otot macam apa ini? Kualitas tulang ini jauh lebih kuat dari Tulang Baja Tua sekalipun. Bagaimana bisa begini?”


Chen An pernah memeriksa kualitas tulang Gurunya Fei Long yang tulangnya memiliki Kualitas Tulang Baja Tua. Namun tulang yang dimilikinya saat ini, jauh lebih keras dibandingkan dengan tulang yang dimiliki oleh gurunya.


Chen An ingin memeriksa lebih lanjut kualitas tulang serta otot tubuhnya dengan mengakses ingatan Xiang Long. Ia cukup terkejut saat mengetahui bahwa kualitas tulangnya saat ini berada di Kualitas Tulang Berlian.


“Yang benar saja, Kualitas Tulang seperti ini hanya bisa dimiliki oleh orang yang telah berkultivasi selama puluhan tahun dengan menghabiskan banyak sumber daya. Bagaimana Aku bisa mendapatkan Kualitas tulang setinggi ini?”


Chen An menjadi kebingungan sendiri dengan kondisi tubuhnya saat ini. Ia kemudian teringat akan mimpinya, sesaat sebelum tersadar tadi.


“Siapa Mei Lin ini sebenarnya, Ia gadis yang genit namun sangat kejam. Ahhh kenapa sentuhan itu seolah nyata.” Chen An baru teringat saat merasakan kelembutan jemari tangan gadis dalam mimpinya itu.


Chen An ingin terus mencari tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Namun Ia merasakan dua Aura besar, mendatangi kota Zhaodong dari utara.


“Aura ini salah satunya milik pemuda yang mengetahui namaku saat malam itu. Siapa pemilik Aura yang lebih besar ini. Ah Jangan-jangan …?”


Chen An terkesiap saat menemukan kemungkinan jika kedua orang itu adalah Tan Hu dan pemuda yang pernah Ia temui di Rumah Hiburan Teratai Ungu.


Di sebuah tempat lain, di bagian selatan Hutan Siluman. Thio San yang sedang duduk berkultivasi, segera membuka matanya saat merasakan Aura Energi Tan Hu.

__ADS_1


“Ratusan tahun Aku mencarimu, Akhirnya Kau berani menunjukkan keberadaan mu. Adik Tan.”


@@@@@


__ADS_2