
Setelah Cui Lan mengambil alih kendali atas tubuhnya, Ia mengajak Chen An memasuki kota Zhaodong. Perutnya sudah terasa sangat lapar.
Suasana di dalam kota terlihat lengang. Jalanan terlihat kotor oleh abu akibat terbakarnya bangunan Rumah Hiburan Teratai Biru yang terjadi semalam.
Bekas pertempuran, terlihat disepanjang jalan utama kota tersebut. Keduanya menyadari jika puluhan pasang mata, sedang mengawasi mereka.
“Sepertinya semua toko dan kedai tutup, apa sebenarnya yang terjadi di kota ini?” Cui Lan yang sedang mencari kedai, terlihat kesal karena tidak mendapatkan satupun kedai yang buka.
Setelah satu kilometer memasuki kota, keduanya tiba di depan sebuah bangunan yang megah, Chen An tak sengaja membaca tulisan “Bangsawan Hao” di atas gerbang pagar bangunan tersebut.
“Mungkin kita bisa mendapatkan informasi jika masuk ke dalam rumah bangsawan Hao ini.” Cui Lan mengangguk dan mengikuti langkah Chen An.
Namun Chen An menghentikan langkahnya, Ia bisa merasakan jika belasan orang mendekati mereka dari atap bangunan.
“Keluarlah! Aku sudah tahu keberadaan kalian!” Chen An berkata demikian, karena tidak merasakan aura membunuh dari belasan orang itu.
Sesaat kemudian, muncul lima belas orang mengenakan jubah yang sama persis. Chen An akhirnya mengetahui jika mereka berasal dari Biro Pengawalan Kota Zhaodong.
Kedua belah pihak saling menatap satu sama lain.
“Ah Saudara Chen Cen … Syukurlah ternyata yang datang adalah Anda.”
Hao Jie yang mengenali suara Chen An saat berteriak tadi, sempat mengintip sebelum akhirnya keluar setelah yakin dugaannya benar.
“Tuan Muda mengenali mereka?” Tanya salah satu dari lima belas orang pendekar yang sepertinya adalah Pimpinan dari Biro Pengawalan Kota Zhaodong.
Hao Jie mengangguk dan mengajak Chen An memasuki kediaman Ayahnya. Setibanya di dalam ruangan besar itu, terlihat seseorang Pria tua yang sedang murung.
Pria itu bernama Hao Yan, Ayah Hao Jie sekaligus salah satu bangsawan yang berpengaruh besar di Kota Zhaodong. Di dekat Hao Yan, duduk seorang pria yang mengenakan seragam prajurit dengan kain perban di pundak kirinya.
“Ayah … Ini Chen An, teman ku yang menolongku semalam ketika …” Hao Jie tertegun saat menatap wajah Cui Lan serta gaun yang digunakan gadis tersebut.
Chen An hanya tertawa kecil, sementara Hao Yan terlihat mengangguk dan melihat pemuda itu sekilas saja, lalu menyuruhnya untuk duduk.
__ADS_1
Sikap seorang bangsawan yang seperti inilah yang membuat Chen An enggan untuk berteman dengan mereka. Namun karena ingin mengetahui apa yang terjadi di Kota ini, Chen An menahan kekesalannya.
“Saudara Jie apa yang terjadi dengan Kota Zhaodong?” Hao Jie yang sudah mengetahui kehebatan Chen An, dengan penuh harap bercerita tentang kejadian tadi pagi.
“Ratusan pendekar datang memasuki kota ini dan membunuh semua prajurit serta komandan dan gubernur Kota Zhaidong. Kota ini sekarang dalam kekuasaan mereka.”
Hao Jie juga menjelaskan bahwa saat ini hanya Wakil Komandan Prajurit penjaga kota saja yang masih hidup. Ratusan pendekar itu, sekarang menguasai bangunan Balaikota.
Yang tidak mereka duga adalah kelompok yang mengelola Rumah Hiburan Teratai Ungu, ternyata adalah para pendekar yang satu kelompok dengan mereka yang menyerang Kota Zhaodong.
“Begitu rupanya. Pantas saja semua prajurit penjaga gerbang berada di tingkat Pendekar Raja dan Pendekar Bumi. Rupanya mereka dari kelompok pendekar.” Wajah Wakil Komandan Pasukan, terlihat terkejut mendengar ucapan Chen An.
“Anak muda, bagaimana Kau bisa memasuki kota ini?” Chen An tersenyum tipis.”Aku telah membunuh mereka semua Paman, juga tiga orang Pendekar Langit yang sepertinya adalah pemimpin mereka.”
“Apa!” Wakil Komandan itu terlihat kaget hingga berdiri dari duduknya. “Benarkah yang Kau katakan itu anak muda?” Sulit baginya untuk percaya dengan apa yang Chen An ucapkan.
“Suruh pemilik bangunan ini Keluar!”
Saat Chen An hendak menjawab, terdengar bentakan keras di depan bangunan itu.
Chen An dan Cui Lan segera melesat keluar. Wakil Komandan terkesiap melihat kecepatan gerak kedua muda-mudi itu.
”Mereka berdua bukan pendekar biasa, ada harapan kami bisa bertahan hidup disini.” Ia segera mencabut pedang di pinggangnya, dan melangkah keluar dengan waspada.
“Apa!?”
Setibanya di pintu, Ia mengintip keluar dan mendapati Chen An dan Chui Lan, tengah membantai belasan orang yang mendatangi kediaman Bangsawan Hao.
Ia bergegas keluar beberapa saat kemudian, ketika melihat semua orang yang datang telah tergeletak bersimbah darah. “Wakil Komandan! Jangan tinggalkan kami!”
“Tenanglah Tuan Hao, semua penyerang telah dibinasakan oleh kedua anak muda itu.”
Setelah berkata demikian, Wakil Komandan pun keluar meninggalkan Hao Yan yang tertegun mendengarnya. Ia menatap Hao Jie dan meminta penjelasan dari puteranya.
__ADS_1
Wakil Komandan segera menghampiri Chen An. Pemuda itu sedang membersihkan Jubah Biru yang Ia kenakan dari percikan darah para penyerangnya.
“Pendekar Muda … Bolehkah Aku minta tolong padamu?” Chen An menganggukkan kepalanya. “Pertolongan apa Paman?”
Wakil Komandan lalu menjelaskan, jika Ia harus kembali ke balai kota untuk memberi kabar ke ibukota Kekaisaran, menggunakan Merpati Pos yang berada di tempat itu. Pesan yang akan berisi tentang apa yang terjadi di Kota Zhaodong saat ini.
“Baiklah Paman … Kami akan mengantar paman ke sana.” Jawab Chen An sambil melirik ke arah Cui Lan, yang merengut karena menahan rasa laparnya.
“Kita selesaikan dulu permasalahan di kota ini, baru kita mencari makan.” Chen An menyadari, jika Cui Lan sudah dua malam tidak mengisi perutnya. Hal yang pastinya tidak biasa dilakukan oleh seorang Puteri Ketua Sekte.
Cui Lan hanya bisa mengangguk pelan, menahan kekesalannya.
Saat hendak melangkah meninggalkan tempat tersebut, Hao Yan dan Hao Jie keluar dengan tergopoh-gopoh. “Pendekar Muda … Tunggu sebentar! “
Sikap Bangsawan itu berubah drastis setelah Ia mengetahui kemampuan beladiri Chen An. Ia meminta pemuda itu untuk singgah dan menginap di rumahnya.
“Tuan Hao … Ada hal penting yang harus kita lakukan lebih dahulu. Kami akan ke Balaikota untuk mengirim informasi ke Ibukota Kekaisaran.”
Wakil Komandan yang menanggapi perkataan Hao Yan. Akhirnya Hao Yan memanggil Isteri dan dua orang puterinya yang keduanya adalah adik Hao Jie. Mereka akan ikut ke Balaikota.
Yang dilakukan oleh Hao Yan adalah hal yang wajar, mengingat jika tetap berada di rumah, mereka akan kembali di datangi oleh para pendekar yang menguasai Kota tersebut.
Chen An, Cui Lan dan Wakil Komandan bersama dengan Hao Yan dan keluarga serta belasan pengawalnya, segera berangkat menuju ke Balaikota.
BUUUM!
Saat seratus meter lagi dari bangunan Balaikota, terdengar ledakan keras yang membuat rombongan itu mendadak berhenti dengan wajah yang menunjukkan ketakutan.
Ledakan itu berasal dari gerbang Timur Kota Zhaodong. Sesaat Chen An terdiam, lalu memutuskan untuk menuju ke arah Balaikota.
Hal itu membuat Wakil Komandan heran, karena Chen An tidak ingin mengetahui apa yang tengah terjadi di gerbang timur yang berjarak lima ratus meter lagi dari tempat mereka berada.
“Tidak perlu melihat siapa yang menyerang mereka. Kita urus saja mereka yang ada di balai Kota.” Jawab Chen An santai.
__ADS_1
@@@@@@@@