Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
063: Sang Pembantai


__ADS_3

“Makhluk berambut aneh …. Berani sekali Kau melawanku?! Menyingkirlah sebelum kemarahanku membakar dirimu.”


Rambut Merah hanya terkekeh mendengar ucapan Iblis Hati Tan Hu. “Hahahaha…. Ingin Membakar diriku? Tak Kusangka Bangsa Iblis ada juga yang bisa melucu seperti dirimu.”


“Kau....!”


Iblis Hati Tan Hu terlihat murka, Ia segera membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan Api yang sangat panas ke arah Rambut Merah yang tetap tak bergeming dari tempatnya berada.


Lesatan api itu begitu cepat dan Kuat menghantam tubuh Roh Rambut Merah. Namun yang terjadi membuat Iblis Hati Tan Hu menggeram heran.


“Api mu kurang besar! Seharusnya sebesar ini!” Ucap Roh Rambut Merah seraya melepaskan setengah kekuatannya.


WUSSSHH


Kobaran api sangat besar dan memancarkan hawa yang amat panas, segera menyelimuti tubuh Roh Rambut Merah.


Bahkan Thio San harus membuat perisai pelindung, agar hawa panas itu tidak membakar jubahnya dan jubah Zhang San yang masih belum tersadar dari pingsannya.


“Siapa Kau sebenarnya?!” Iblis Hati Tan Hu mulai terlihat gentar melihat hal tersebut.”Aku? Aku adalah makhluk yang punya hobi mengambil nyawa makhluk seperti dirimu. Hahahahaha …”


Saat suara tawanya masih menggema, Tubuh Roh Rambut Merah berkelebat dengan sangat cepat, lalu memberikan tendangan yang menghantam dagu Iblis Hati, sehingga tubuhnya terpental jauh ke udara.


Belum sempat menguasai dirinya, sebuah pukulan keras menghantam kepalanya. Tubuh Iblis Hati Tan Hu meluncur deras dan menghantam tanah dengan sangat kuat.


BUUMM


Tanah berlubang hingga puluhan meter dalamnya. Debu tanah beterbangan ke udara dan menutupi pandangan mata, sehingga Chen An tidak bisa melihat apa yang selanjutnya terjadi. Hanya suara benda terpukul saja yang Ia dengar.


BAGH BUGH


PLAK PLAK


Roh Rambut Merah segera melesat dan menghajar bertubi-tubi tubuh Iblis Hati Tan Hu. Hal itu membuat makhluk bangsa Iblis itu, meraung kesakitan hingga tanpa sadar meledakkan seluruh energi Iblis yang dimilikinya!”

__ADS_1


Ledakan energi itu mementalkan tubuh Roh Rambut Merah yang segera bisa menguasai dirinya dengan cepat. “Boleh juga kekuatan Iblis Satu ini.”


Setelah berkata demikian, Roh Rambut Merah menutup mata, lalu Ia membaca sebuah mantera. Sesaat kemudian, dari langit di atasnya, melesat sebuah tombak pedang yang berkilau kuning keemasan.


Tombak Pedang itu berhenti tepat di depannya dan segera Ia genggam gagangnya. Bersamaan dengan itu, menderu sebuah serangan dari bawah.


Sebuah golok besar mengarah ke tubuh besar Roh Rambut Merah yang segera mengayunkan Tombak Golok di tangannya.


JEDAAARRR


Petir besar menggelegar, sebagai hasil dari benturan dua bilah senjata hebat itu. Satu dari dua Kilatan besar, menghantam Perisai Pelindung Kota Weihu, namun kembali terpental dan lenyap di angkasa.


Sementara satu kilatan lain, meratakan sebuah bukit yang berjarak satu Li dari tempat mereka berada saat ini.


Benturan demi benturan berulang kali terjadi, membuat wilayah selatan Ibukota Weihu Porak-poranda akibat lesatan energi nyasar kedua senjata itu.


“Hanya segini saja kemampuan, sepertinya Aku harus segera mengakhiri pertarungan ini.” Tubuh Roh Rambut Merah hilang dari pandangan mata.


Sebagai gantinya terlihat pusaran Api berbentuk bola yang mengurung Iblis Hati Tan Hu yang terlambat menyadari, siapa sosok yang di lawannya.


Iblis Hati Tan Hu tak lagi sempat berkata untuk meminta pengampunan. Karena dari dinding bola api itu, melesat ribuan panah api, yang mengarah kepadanya.


Hanya jerit melengking yang terdengar dari mulut Iblis Hati Tan Hu, saat tubuhnya tertembus ribuan anak panah api tersebut. Sementara Thio San dan Chen An sedang tercengang, menatap sosok bertubuh api yang tingginya mencapai seratus meter.


Sosok itu sedang mengecilkan bola api yang tadi mengurung Iblis Hati Tan Hu. Setelah bola api itu menjadi sekepalan tangannya, Ia pun melemparkannya ke angkasa.


Saat bola api itu tidak terlihat lagi, tiba-tiba ledakan besar terlihat di tempat yang sangat jauh di angkasa raya. Namun Api dari ledakan itu seketika menghilang, terhisap ke sebuah Lubang Hitam berukuran raksasa yang tiba-tiba muncul di angkasa.


Sesaat kemudian, Sosok setinggi seratus meter itu, tiba-tiba menghilang dan tubuh Roh Rambut Merah kini muncul kembali di dekat Chen An.


“Lagi-lagi lubang hitam itu muncul. Ah! Aku lupa menanyakan Pada Tuan Penguasa. Apa sebenarnya Lubang Hitam yang selalu muncul setiap Aku habis membunuh Makhluk dari Bangsa Iblis?” Roh Rambut Merah bertanya dalam benaknya, sebelum Ia melesat kembali masuk melalui lingkaran cahaya di belakang kepala Chen An.


Di sisi yang lain, sesuatu sedang terjadi pada Tan Hu. Tubuhnya sedang menggigil hebat, erangannya berubah menjadi teriakan tertahan, seolah merasakan sakit yang teramat sangat.

__ADS_1


Thio San yang baru saja membuat Zhang San tersadar dari pingsannya, segera melesat hendak mendekati tubuh adik seperguruannya itu. “Adik Tan …!”


“Guru … Apa yang akan guru lakukan?!” Tanya Chen An.


“Dia sedang kesakitan, karena kematian Iblis Hatinya itu telah menghancurkan setengah bagian dari jantungnya. Hal ini membuat Kultivasi Adik Tan Hu sedang dalam proses menurun satu tingkat hingga Ke Ranah Dewa Level Enam.”


“Bukankah ini kesempatan bagus bagi Guru untuk mengakhiri hidupnya dan membalas dendam atas kematian kakek Guru?” Tanya Chen An dengan wajah yang heran.


“Apakah Guru tak tega untuk melakukan hal itu?” Tanya Chen An setelah terdiam sejenak. “Aku … Aku … Kau benar Chen Cen. Aku tak tega untuk menghabisinya. Kau saja yang mengeksekusi dia.”


Thio San membalikkan badannya. Ia tak ingin melihat bagaimana tubuh Adik Seperguruannya itu meledak menjadi kabut darah, saat Chen An mengibaskan tangannya.


BOOOM


Suara tubuh yang meledak, membuat mata Thio San berkaca-kaca. Ia pun kembali teringat masa kecilnya, saat bermain dan belajar bersama Tan Hu hingga mereka tumbuh menjadi pemuda dewasa.


“Hidup adalah pilihan, setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing yang akan kan menentukan bagaimana hasil akhir atas pilihan yang telah Kau pilih.”


Terngiang kembali pesan Sang Guru, saat Ia dan Tan Hu akan berpetualang bersama. Kini Thio San baru memahami pesan Sang Guru, setelah kematian Tan Hu atas konsekuensinya yang memilih berada di jalan ketidakbenaran.


Suasana menjadi hening, Thio San masih dalam posisi membelakangi Chen An yang baru saja mengambil cincin ruang Tan Hu dan membuatnya melayang ke hadapan Sang Guru.


Thio San segera mengambil Cincin Ruang itu. Setelah memeriksanya, Ia segera memindahkan benda-benda yang menurutnya tak diperlukan oleh Qiu Fang, murid keduanya yang akan mewarisi Cincin Ruang warisan Tan Hu.


Saat membalikkan badannya untuk berbicara kepada Chen An, Thio San terkejut karena tidak lagi melihat tubuh murid pertamanya itu.


Walau telah mengedarkan kekuatan indera spiritualnya, namun Ia tidak bisa merasakan keberadaan Chen An. Zhang San yang melihat Thio San kebingungan, segera mendatangi kakek yang tak dikenalinya itu.


“Apakah Tuan mencari pemuda itu?” Thio San mengangguk. “Apakah Kau melihat ke arah mana dia pergi?”


Zhang San menggeleng. “Aku hanya melihat cahaya pelangi bersinar menyilaukan seperti sinar matahari yang memancar dari lingkaran di belakang kepalanya. Sedetik kemudian cahaya itu menghilang dan tubuh pemuda itu raib entah kemana.”


Keterangan Zhang San membuat Thio San mengerutkan dahinya. “Cahaya Pelangi? Jangan-jangan …? “ Thio San pun menjadi khawatir setelah mendengar ucapan Zhang San.

__ADS_1


@@@@@@


__ADS_2